Mereka bertiga dari siang sibuk menata kamar Agam supaya terasa lebih longgar, lalu tempat tidur tingkat yang baru mereka beli juga sudah terpasang.
"Astaga capek sekali. Membuatku jadi merasa lapar" Keluh Bima
"Dasar kau ini, bukannya tadi siang kau sudah makan. Badan doang kecil, makan banyak banget." Ketus Putra
"Sudahlah, ayo makan. Sekarangkan udah sore, lagian aku juga sudah mulai lapar." Ajak Agam
"Yaudah terserah. Mau makan apa kita?" Tanya Putra
"Enggak jauh dari sini ada rumah makan, kita bisa makan disana. Makanannya enak, murah lagi." Jawab Agam
"Yaudah ayokkk, perutku udah keroncongan." Kata Bima sambil berjalan keluar kamar mendahului Agam dan Putra
Merekapun pergi ke rumah makan dan mulai memesan makanan, ternyata benar makanan disini enak enak dan murah. Tapi mereka heran dengan cara makan Agam, dia makan steak menggunakan pisau dan garpu dengan sangat pelan dan begitu menikmatinya. Cara makan Agam yang seperti itu berpikiran kalau Agam sedang makan layaknya orang kaya.
"Hei, kau dari keluarga konglomerat mana? Makanmu udah seperti orang kaya aja." Tanya Bima keheranan
"Iya aneh kau gam, katanya lapar tapi makannya pelan gitu. Kita aja udah abis, tapi kau baru setengah selesai." Lanjut Putra
"Eh.. enggak, aku kalau makan emang suka kaya gini. Soalnya aku sadar aku orang miskin, jadi semua makanan harus di nikmati kelezatannya." Jawab Agam
Putra dan Bima malah kagum terhadap Agam, mereka berpikir kalau Agam orang miskin tapi selalu menghormati apapun. Lalu Agam meminta pelayan untuk membungkus sisa makanannya, dan membeli satu bungkus nasi. Putra dan Bima merasa heran, mereka berpikir mungkin makanan sisa itu untuk nya nanti malam.
Setelah keluar dari rumah makan, terlihat Agam sedang mencoba untuk menyebrang jalan. Setelah menyebrang, ia memberikan bungkusan tadi kepada seorang pengemis yang berada di pinggir jalan itu. Putra dan Bima yang melihatnya dari kejauhan merasa terharu dengan perbuatan temannya itu, meskipun dia miskin tapi dia sangat peduli kepada orang lain. Namun tanpa sepengetahuan Putra dan Bima, sebenarnya Agam memang sudah sering memberikan makanan untuk pengemis disana.
"Maaf ya pak, cuma bisa ngasih makanan sisa aku. Lain kali aku kasih yang bukan makanan sisa lagi." Ucap Agam pelan
"Tidak apa apa nak, bapak yang sangat berterimakasih. Setiap hari kamu selalu memberi makan bapak, padahal bapak bukan siapa siapa kamu." Balas pengemis
Agam hanya tersenyum lalu pamit pergi dan menyebrang jalan lagi, dia kembali ke temannya dan mengajaknya ke suatu tempat. Dijalan, tak henti hentinya Putra dan Bima memuji Agam, mereka sangat terharu dengan kelakuan Agam barusan.
Akhirnya mereka tiba di pasar malam, Agam berkata bahwa dia sering kesini supaya tak merasa kesepian. Berhubung mereka berdua ada disini, makanya Agam mengajak mereka ke tempat ini untuk bersenang senang. Mereka banyak memainkan permainan, bercanda ria tiada henti layaknya anak kecil.
Tiba tiba Agam merasa ada panggilan alam dan bilang kepada teman temannya kalau dia ingin pergi ke toilet. Mereka berdua terlalu asik bermain sehingga tak melihat ke arah mana Agam pergi.
Agam merasa lega setelah keluar dari toilet, namun baru beberapa langkah saja, ia melihat seorang wanita sedang di ganggu tiga preman, dan ternyata itu teman sekelasnya, Ariel. Agam lalu datang untuk mencoba menolongnya, layaknya anak kecil ia membawa tongkat kayu yang ia temukan sebagai senjata.
"Hei kalian, jangan ganggu dia." Kata Agam sambil berlari memegang tongkat kayu
"Kalau berani lawan aku, tapi jangan keroyokan." Lanjut Agam sembari melindungi Ariel
"HAHAHAHAHAHA HEI ANAK KECIL, LEBIH BAIK KAU PULANG DARIPADA ACAK ACAK RAMBUT PONI ANEH MU!" Ejek salah satu preman disana
"Kau minggir saja, kau itu hanya akan menghalangiku. Anak culun sepertimu mau melindungiku? Sadar diri dong, dasar empat mata jelek." Kata Ariel
Agam tak menggubrisnya dan langsung memukulkan tongkat kayu nya ke kepala salah satu preman. Alhasil malah tongkat kayunya patah, Agam kaget dan mulai takut kepada mereka. Lalu preman yang di pukul kepalanya langsung memukul Agam, pertama kalinya Agam di pukul oleh seseorang, ia merasa pusing namun tetap menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh dan terus melindungi Ariel.
Agam mulai dipukul lagi dibagian perut dan muka nya secara bertubi tubi sampai Agam lemas.
"Dasar kalian memang keterlaluan!" Ariel marah
Agam akhirnya pingsan setelah menerima semua pukulan itu, dan tanpa sepengetahuannya, Ariel mampu mengalahkan tiga preman itu. Dan mulai memanggil ambulan untuk menolong Agam yang pingsan. Agam pun dibawa ke rumah sakit
Di tengah pingsannya, Agam bermimpi bahwa dewi telah menyelamatkannya.
"Jangan pergi." Ucap Agam setengah sadar dan samar samar melihat wajah Ariel yang dia pikir adalah dewi yang telah menyelamatkannya
"Aku tak akan pergi, tidurlah. Setelah beristirahat kau akan sembuh."
Agam tersenyum dan mulai tidur kembali. Paginya ia bangun dan samar samar melihat seorang wanita ada di sampingnya.
"Apa kau yang menyelamatkanku? Kau dewi penyelamatku ya?" Tanya Agam
"Bukan sam, ini aku Amanda, kakakmu."
"Kak, kau ngapain kesini? Aku kan sudah bilang mau mandiri. Kalau kakak kesini, pasti aku kesusahan buat mandiri. Lagian siapa yang ngasih tau kakak aku ada disini?"
"Kau ini, mandiri bukan berarti kakakmu nggak boleh nengok kau. Kau abis di apain sampai babak belur begini? Untung kak Rini nggak tahu kau masuk rumah sakit, kalau dia tau bisa di kurung di rumah lagi kau."
"Tolong jangan sampai kak Rini tau aku masuk rumah sakit kak."
"Iya iya, aku juga dukung kau yang mau belajar mandiri. Lain kali hati hati, di dunia orang jahat itu banyak, enggak peduli dia wanita atau perempuan."
Tiba tiba Putra dan Bima masuk berpura pura nangis dan memegang tangan Amanda
"Terimakasih kau telah menyelamatkan teman baik kami, kami nggak tau harus balas budi dengan apa." Kata Putra
"Iyaa terimakasih sekali, kami teman baiknya malah gagal menjaga teman baik kami." Kata Bima
Mereka hanya berpura pura supaya bisa memegang tangan Amanda. Lalu Amanda melepaskan tangannya dan pamit pergi.
"Siapa dia gam? Cantik banget. Kenalin dong ke aku, mungkin saja kita jodoh." Rayu Putra
"Boleh minta nomer telefon nya gak gam?" Tanya Bima
"Kalian ini, aku aja nggak kenal siapa dia. Yang terpenting aku selamat, dan . ."
Perkataan Agam terhenti saat ia ingat dengan kejadian semalam.
"Bagaimana dengan Ariel ya?" Batin Agam
"Dan apa gam?" Tanya Bima
"Dan.. dan kata dokter aku bisa pulang, hehe."
Mereka berdua heran dengan tingkah aneh Agam, dan mereka bertiga bergegas pulang ke kos kosan. Sampai di kos kosan, Putra dan Bima bilang nanti sore mau pergi ke suatu tempat dan mengajak Agam ikut bersama mereka. Namun Agam lebih memilih untuk istirahat di kamar saja, karena badannya masih belum enakan.
Sore harinya Agam terus bertanya tanya pada dirinya sendiri, bagaimana dengan Ariel, apakah dia juga di rumah sakit, atau malah dia di culik oleh tiga preman itu. Semua pertanyaan dalam kepala Agam membuatnya merasa panik, lalu ia teringat perkataan Ariel, kalau Ariel suka pergi ke taman dan tepi sungai.
"Kalau dia baik baik saja, mungkin dia sedang disana" Gumam Agam
Bersambung . .