Sesampainya Agam di kelas, ia tak menemukan adanya Ariel di kelas. "Mungkin dia sudah pergi." Gumam Agam
Namun Agam teringat perkataan Putra kalau Ariel suka pergi ke perpustakaan. Lalu Agam bergegas pergi ke perpustakaan, benar saja, Ariel sedang disana, ia sedang membaca buku sambil mendengarkan musik lewat earphonenya. Entah kenapa Agam yang heran dengan Ariel, ingin berbicara dengannya walaupun dia tau kalau akhirnya dia hanya akan di ejek oleh Ariel.
Agam lalu masuk ke perpustakaan dan mencari buku yang bahkan ia pun tak mengerti harus membaca buku apa. Ia akhirnya mengambil salah satu buku yang bahkan tidak ia tahu buku apa itu, Agam pun pura pura berjalan layaknya orang aneh menuju meja Ariel.
Ariel melihatnya seperti orang aneh, tapi Ariel tak menggubris dan tetap melanjutkan membaca buku itu. Agam pun duduk di depan Ariel dengan mengangguk angguk dan senyum seperti orang aneh.
"Mau apa kau kesini? Banyak meja kosong disana!" Kata Ariel
"A.. aku hanya mau membaca buku ini, dan aku tak terbiasa membaca di meja sendirian."
Ariel tak menggubris nya dan tetap melanjutkan membaca buku nya. Sedangkan Agam berpura pura membuka buku dan kadang melirik ke arah Ariel.
Agam terkejut buku yang ia bawa ternyata buku novel berbahasa inggris, sedangkan ia tidak mahir dalam bahasa inggris. Agam memasang wajah aneh kebingungan dan terus menggaruk garuk kepalanya. Ariel tertawa kecil melihat tingkah Agam
"Hei mata empat jelek, kau itu baca novel berbahasa inggris, apa kau bisa membacanya?" Ejek Ariel
"Eh, ternyata aku salah mengambil buku." Jawab polos Agam. Ia hanya senyum senyum seperti orang aneh
Melihat tingkah Agam, Ariel pun geleng geleng kepala sembari senyum kecil.
"Kalau kau kesini buat ngajak aku makan bareng di kantin, aku menolaknya." Ucap Ariel
"Siapa bilang? Aku kesini mau baca buku kok. Cuma salah ambil aja, emang buku apa sih yang kau baca? Palingan buku cara untuk mengejek orang."
"Kau membuat mood membacaku hilang. Menjauh sana, aku mau konsentrasi disini."
"Galak banget jadi orang, aku mau liat juga dong." Kata Agam sambil pindah duduk disebelah Ariel
"Oh buku cinta cinta, apa orang sepertimu bisa merasakan jatuh cinta?" Ejek Agam
"Dasar empat mata jelek, kau pikir aku tak pernah merasakan pacaran? Kau pikir aku sama kaya kau? Udah pergi sana, menganggu saja." Gerutu Ariel
Penjaga perpustakaan yang mendengar keributan dari merekapun geram
"KALIAN JANGAN BERISIK, INI PERPUSTAKAAN BUKAN TEMPAT ORANG PACARAN."
"Liat kita dimarahi, itu semua gara gara kau." Kata Ariel
"Enak aja, suaramu itu yang terlalu besar. Jadi yang bikin berisik kan kau."
"KALIAN BERDUA KALAU TIDAK BISA DIAM MENDING KELUAR, JANGAN MENGGANGGU YANG LAIN."
Penjaga perpustakaan yang marah lalu mengusir mereka berdua dan akhirnya mereka pun keluar. Agam terus membuntuti Ariel seperti orang aneh
"Hei kau, mau kau apa sih? Pergi sana jangan ikutin aku." Umpat Ariel
Agam diam saja, memasang wajah murung anehnya dan membuat Ariel kesal.
"Ah sudahlah. Kalau kau mau makan ayo ikut aku, aku sudah mulai lapar."
Agam tersenyum dan mulai mengikuti Ariel berjalan, mereka keluar dari kampus dan menuju jembatan di dekat kampus nya. Mereka duduk di kursi, Ariel membuka tasnya dan mengeluarkan kotak bekal makan siang.
"Kenapa disini?" Tanya Agam
"Aku lebih suka di tempat terbuka, seperti taman, atau tepi sungai." jawab Ariel
Agam hanya mengangguk angguk dan berkata "ohh"
"Kau tak membeli apapun di kantin?" Tanya Ariel
Agam hanya senyum dan menggeleng kan kepalanya. Wajahnya selalu terlihat aneh
"Dasar empat mata jelek, nih aku bagi bekal ku sedikit. Gunakan tutup bekal ku ini buat tempat makannya, dan gunakan garpu ini juga."
Agam tersenyum. "Wah, mamah mu pasti yang membuat nya. Ini enak sekali, mamah mu pintar memasak ya."
"Aku yang memasaknya sendiri" balas Ariel
"Benarkah? Wah ternyata kau pintar memasak juga ya, rasanya tak kalah sama restoran bintang 5." Ucap Agam sambil memakan bekal Ariel
"Memangnya kau pernah makan di restoran bintang 5? Sampai bisa nyamain masakan ku dengan restoran bintang 5."
Agam kaget dan tersedak makanannya, ia lalu terbatuk batuk. Spontan Ariel memberinya air putih dan merasa heran.
"Bukan begitu, maksudku itu mungkin masakan mu sama enaknya seperti restoran bintang 5. Aku yang miskin ini mana mungkin pernah makan di restoran bintang 5." Jawab Agam
"Hahaha kau aneh, belum pernah makan tapi bisa bisa nya nyamain masakanku dengan restoran bintang 5." Ejek Ariel
Ariel terus tertawa melihat tingkah aneh Agam. Lalu melihat jam di handphone nya, ternyata sudah waktunya kelas mau di mulai.
"Hei udah waktunya masuk kelas, ayo pergi sebelum telat dan kena omel dosen."
"Ah iya aku lupa, bisa gawat kalau terlambat."
Merekapun berlari kembali ke kelas. Sesampainya disana, ternyata dosen sudah berada di dalam kelas. Mereka meminta ijin untuk masuk, lalu dosen mempersilahkan. Mereka menjadi sorotan mahasiswa satu kelas, dan tidak sedikit yang berbisik bisik soal mereka berdua. Ariel hanya melangkah biasa ke arah bangku nya, sedangkan Agam melangkah malu malu di belakang Ariel.
"Ternyata benar dugaanku, kau menyusul wanita tomboy itu ke perpustakaan kan?." Tanya Putra
"Pantes aja tiba tiba bertingkah aneh, ternyata ada maksud lain. Wah teman culun kita satu ini sudah mulai bisa berbohong nih, haha." Ejek Bima
Agam yang ketahuan oleh dua orang temannya itu hanya bisa diam dan malu. Tidak terlupa selalu memasang wajah aneh culun nya itu.
Kelas pun berakhir dan semua mahasiswa mulai ramai ramai keluar dari kampus. Putra, Bima, dan Agam berjalan sambil bercanda di pinggir jalan.
"Sekarang kita bertiga bisa naik bis atau taxi yang sama, karena kita berdua akan pindah ketempat kos kosan mu." Kata Putra
"Yang benar? Kenapa begitu?" Agam terkejut
"Tentu saja, sahabat sejati itu selalu bersama bukan." Kata putra
"Bukannya karena ibu kos sudah mengusir kita kan." Kata Bima dengan polosnya
"Dasar kau ini, nggak pernah bisa diajak kompromi. Jadi gini gam, berhubung tempat kos kosanmu itu besar dan punya 2 tempat tidur kan, jadi kita ikut sekamar denganmu ya. Nanti kita bertiga patungan buat bayar kos kosan nya, kan jadi lebih ringan." Bujuk Putra
"Yaudah, aku juga senang kok kalau kalian ikut ngekos disana. Aku juga ngerasa kesepian kalau tidur sendirian."
"Nah gitu dong, itu baru sahabat sejati. Untuk masalah tidur, kita ubah satu tempat tidurnya menjadi ranjang tingkat. Jadi aku dan Bima tak perlu tidur berdempetan." Lanjut Putra
"Kalau begitu kita pesan tempat tidur tingkat sekarang aja, kita bisa beli di toko dekat kos kosan ku." Kata Agam
"Tunggu apa lagi, berangkattttt." Kata Putra sambil merangkul pundak Agam dan Bima
Bersambung . .