Gedung utama milik keluarga Takur menjulang tinggi di tengah kawasan bisnis ibu kota. Seluruh dindingnya didominasi kaca berwarna biru gelap yang memantulkan cahaya matahari pagi, membuat bangunan itu tampak megah sekaligus dingin. Di depan lobi terbentang taman minimalis dengan kolam dangkal dan air mancur kecil yang mengalir tanpa henti. Beberapa pohon palem tertata simetris di sepanjang jalur masuk kendaraan, sementara petugas keamanan berpakaian rapi berjaga di setiap sudut.
Begitu memasuki lobi, kesan mewah langsung terasa. Lantai marmer putih mengilap memantulkan cahaya lampu kristal besar yang menggantung di langit-langit setinggi dua lantai. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi bunga lily memenuhi ruangan. Para pegawai berlalu-lalang dengan pakaian formal, masing-masing membawa tablet atau berkas sambil berjalan cepat.
Di lantai tiga puluh lima terdapat ruang rapat utama.
Ruangan itu didominasi warna hitam, abu-abu, dan cokelat kayu. Sebuah meja rapat sepanjang hampir sepuluh meter berdiri di tengah ruangan. Di salah satu sisi terpampang layar LED raksasa yang menampilkan grafik penjualan perusahaan. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit memperlihatkan panorama kota yang dipenuhi gedung pencakar langit.
Di ujung meja duduk Leo.
Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak sempurna tanpa satu pun lipatan. Tatapannya tenang namun tajam ketika memperhatikan presentasi salah satu manajer.
"Target kuartal ketiga naik sebelas persen, Pak," ujar Manajer Pemasaran.
Leo mengangguk singkat. "Lanjut."
Suasana rapat berlangsung serius. Tidak ada yang berani berbicara di luar topik. Semua mengetahui sifat CEO muda itu. Leo bukan orang yang banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya selalu tepat sasaran.
Baru sekitar lima belas menit rapat berlangsung ketika pintu diketuk pelan.
Tok.
Tok.
Seorang sekretaris membuka pintu sedikit.
"Maaf mengganggu, Pak Leo."
Leo mengalihkan pandangan. "Ada apa?"
"Di luar ada seseorang yang ingin bertemu."
"Siapa?"
"Lala."
Ruangan yang semula sunyi mendadak dipenuhi tatapan saling melirik antarmanajer. Nama itu sudah cukup dikenal di kantor. Banyak pegawai tahu bahwa hanya satu orang yang bisa masuk tanpa membuat CEO mereka marah.
Leo menghela napas pendek. "Suruh masuk."
Tak lama kemudian pintu terbuka lebar.
Lala muncul dengan gaun selutut berwarna krem dipadukan jaket denim tipis. Rambut panjangnya tergerai, sementara senyum cerah langsung menghiasi wajahnya ketika melihat Leo.
"Halo semuanya!"
Para manajer spontan membalas sapaan dengan senyum sopan.
Lala melambaikan tangan kecil. "Wah... serius banget, ya? Aku jadi takut."
Beberapa manajer menahan tawa.
Leo hanya memijat pelipis. "Kamu ngapain ke sini?"
Lala berjalan santai mendekat. "Ya... datang."
"Untuk?"
Lala berhenti tepat di samping kursi Leo. Ia tersenyum manis. "Kangen."
Semua orang terdiam.
Leo berkedip pelan. "Kangen?"
"Iya."
"Kita baru seminggu..."
Lala mengangkat tangan, menhentikan kalimat Leo selanjutnya dan langsung menggeleng. "Bukan baru. Sudah lebih dari seminggu."
Leo tidak menjawab.
Lala kemudian menatap seluruh peserta rapat. "Boleh pinjam bos kalian sebentar?"
Para manajer saling berpandangan.
Tidak ada yang berani menjawab.
Leo akhirnya mengembuskan napas. "Kita masih rapat."
"Oh... berarti aku duduk di sini aja." Tanpa rasa canggung, ia menarik kursi kosong lalu duduk dengan tenang. Ia mengambil sebutir permen dari tasnya. "Kalian lanjut aja. Anggap aku tanaman."
Beberapa manajer hampir tersedak menahan tawa.
Leo menatapnya datar. "Kamu mengganggu."
"Enggak kok."
"Kamu bicara."
"Aku janji, aku pasti diam."
Lima menit kemudian...
"Kak."
Leo menutup mata. "Apa?"
"Aku lapar."
"Kamu bilang diam."
"Iya... habis ini diam."
Dua menit berlalu...
"Kakak!"
"Apa lagi?"
"Kamu tambah ganteng."
Ruangan langsung hening.
Beberapa manajer buru-buru menunduk pura-pura membaca laporan.
Leo berdeham pelan. "Lanjut presentasi."
Namun Lala kembali berbicara. "Eh, Pak Manajer."
"I-iya, Mbak?"
"Bos kalian kalau kerja emang sedingin kulkas gini?"
Ruangan langsung dipenuhi tawa kecil yang segera ditahan.
Leo melirik tajam.
"Lala."
"Iya?"
"Diam."
"Oke."
Beberapa menit kemudian rapat kembali berjalan.
Tetapi setiap kali Leo sedang fokus mendengarkan laporan, Lala selalu melakukan sesuatu.
Kadang menopang dagu sambil terus memandang wajah Leo. Kadang tersenyum sendiri. Kadang memainkan ujung dasinya sebentar lalu langsung melepas ketika Leo melirik.
Leo berusaha mengabaikannya. Namun semakin diabaikan, semakin aktif gadis itu. Akhirnya Leo menutup mapnya. "Rapat selesai."
Seluruh manajer saling berpandangan bingung.
"Pak, masih ada dua agenda lagi."
"Kita lanjut besok."
Semua langsung berdiri.
"Baik, Pak."
Kurang dari satu menit, ruang rapat kembali kosong.
Kini tinggal Leo dan Lala.
Lala tersenyum lebar." Yes. Menang!"
Leo menatapnya. "Kamu sengaja."
"Iya."
"Kenapa?"
"Soalnya aku benar-benar kangen."
Leo menggeleng pelan. "Kamu itu..."
Lala mendekat sedikit. "Kalau kangen harus bilang apa?"
"Mau makan?"
"Akhirnya!" Senyum Lala langsung melebar.
Mereka keluar melalui parkiran khusus direksi.
Mobil hyundai IONIQ 6 milik Leo meluncur meninggalkan gedung perkantoran. Jalanan ibu kota cukup padat, dipenuhi kendaraan yang bergerak perlahan di antara deretan gedung tinggi, papan reklame digital, dan pepohonan yang berjajar di trotoar. Langit cerah membuat suasana siang terasa hangat, sementara suara klakson sesekali terdengar dari kejauhan.
Lala duduk di kursi penumpang sambil memandangi Leo. "Kamu tahu enggak?"
"Hm?"
"Aku suka lihat kamu nyetir."
"Bukannya apapun yang aku lakukan kamu suka?"
Lala terkikik senang. "Tapi ini ada lagi yang bikin aku suka."
Leo tetap fokus ke jalan. "Apa lagi?"
"Kalau lagi nyetir kamu enggak bisa kabur dari godaanku."
Leo tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Kamu yakin?"
"Iya."
Lala lalu pura-pura menghela napas panjang. "Sayang banget ya..."
"Apa?"
"Bos seganteng ini dinginnya kebangetan."
"Tapi masih kamu datangi terus."
"Soalnya aku keras kepala."
Leo hanya menggeleng kecil.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran bergaya modern dengan d******i kayu dan kaca. Di dalamnya terdengar alunan musik instrumental yang lembut. Aroma steak, roti panggang, dan kopi memenuhi udara. Dari jendela besar terlihat taman kecil dengan kolam ikan yang membuat suasana terasa tenang.
Mereka memilih meja di dekat jendela.
Lala terus bercerita tentang pekerjaannya, pemotretan yang baru selesai, hingga kejadian-kejadian lucu yang dialaminya. Leo lebih banyak mendengarkan, sesekali tersenyum tipis ketika mendengar tingkah konyol Lala.
Di sela makan, tanpa mereka sadari, seorang pria bertopi hitam duduk cukup jauh sambil mengangkat ponselnya beberapa kali.
Klik.
Klik.
Foto demi foto berhasil diambil.
Ketika mereka keluar dari restoran, pria itu kembali berpura-pura menelepon sambil diam-diam membidik kamera ke arah mereka.
Leo menghentikan langkahnya. Tatapannya berubah tajam.
"Ada apa?" tanya Lala.
Leo tidak langsung menjawab.
Melalui pantulan kaca toko di seberang jalan, ia melihat pria itu kembali mengangkat ponsel.
Klik.
Leo mengeluarkan ponselnya. Dengan cepat ia mengetik pesan singkat kepada tim keamanan pribadinya.
"Pria bertopi hitam, jaket abu-abu, celana jeans gelap. Tinggi sekitar 175 cm. Membuntuti kami dan mengambil foto. Tangkap diam-diam. Jangan sampai kabur."
Pesan langsung terkirim.
Leo kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak lama setelah itu, di belakang Leo dan Lala, empat pria berpakaian kasual turun dari mobil yang terparkir tak jauh dari mereka dengan tenang, menyebar ke beberapa arah.
Pria bertopi itu belum menyadari dirinya telah diawasi.
Ia kembali mengangkat ponsel.
Namun baru satu langkah mundur, seseorang menepuk bahunya.
"Permisi."
Pria itu menoleh. "Ada apa?"
Belum sempat bereaksi, dua orang lain sudah menutup jalur kaburnya. Dan yang dua lagi membekuk pria itu.
Ia panik. "Lepas!"
Pria itu berusaha mendorong salah satu anggota keamanan lalu berlari menuju gang kecil di samping gedung.
"Kejar!"
Suasana langsung berubah tegang.
Pria itu berlari secepat mungkin, menyenggol beberapa pejalan kaki dan hampir menjatuhkan gerobak minuman. Salah satu petugas keamanan mengejarnya dari belakang, sementara dua lainnya memotong jalur melalui lorong sempit.
Begitu pria itu keluar dari gang, salah satu anggota tim sudah menunggu di depan.
Pria bertopi membelok mendadak.
Namun langkahnya terlambat.
Seorang petugas melakukan sapuan kaki terukur hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling di atas aspal.
Ponselnya terpental beberapa meter.
Pria itu mencoba bangkit, tetapi dua anggota keamanan segera mengunci kedua lengannya dengan teknik bela diri tanpa pukulan berlebihan.
"Selesai."
Ponsel milik pria itu diamankan. Di dalam galeri ditemukan puluhan foto Leo dan Lala dari berbagai sudut, termasuk beberapa gambar yang diambil sejak mereka keluar dari kantor.
Ketua tim keamanan segera menghubungi Leo. "Target sudah diamankan, Pak."
"Periksa identitasnya dan cari tahu siapa yang menyuruh."
"Siap."
Leo menutup panggilan.
Lala menatapnya penasaran."Ada apa?"
"Tidak apa-apa." Leo memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jas.
"Kalau gak mau jawab, besok aku datang ke kantor lagi."
Leo menghela napas panjang. "Lala..."
"Mau jawab?" Lala sumringah.
"Jangan ganggu rapat."
"Enggak janji." Gadis itu merajuk.
Lalu keduanya pun terlibat obrolan seru. Lala yang masih merajuk karena Leo tak menjawab dan Leo yang hanya diam sambil tersenyum melihat tingkah bocah di kursi penumpang yang imut menurutnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, senyum tipis Leo terlihat jelas di wajahnya sebelum menjalankan mobil. Sementara di belakang mereka, tim keamanan terlihat memasukkan pria misterius ke dalam mobil mereka, dan berjalan mengikuti mobil sang bos.