Udara di ruang bawah tanah itu terasa lebih dingin daripada seharusnya.
Ruangan seluas kurang lebih delapan kali sepuluh meter tersebut dibangun seluruhnya dari beton bertulang. Dindingnya dilapisi panel kedap suara berwarna abu-abu gelap sehingga tidak ada gema sedikit pun. Lampu LED putih yang terpasang di langit-langit memancarkan cahaya terang namun terasa dingin, membuat setiap sudut ruangan terlihat tanpa bayangan.
Di salah satu sisi terdapat meja stainless steel panjang yang dipenuhi berbagai perlengkapan investigasi. Bukan ruang penyiksaan seperti yang sering muncul di film, melainkan ruang interogasi milik organisasi keamanan pribadi Leo. Kamera resolusi tinggi menghadap ke segala arah. Mikrofon kecil tertanam di langit-langit. Monitor besar menampilkan detak jantung, tekanan darah, dan rekaman dari berbagai sudut ruangan.
Di tengah ruangan berdiri sebuah kursi besi yang dibaut ke lantai.
Seorang pria bertubuh kekar duduk di sana dengan kedua tangan dan kakinya terikat menggunakan pengikat khusus yang kuat namun dirancang agar tidak menyebabkan cedera permanen. Wajahnya dipenuhi memar, bibirnya pecah, napasnya berat. Meski demikian, tatapannya masih tajam.
Ia adalah pria misterius yang sejak siang tadi tertangkap saat membuntuti Leo dan Lala.
Leo berdiri sekitar dua meter di depannya.
Setelan jas hitam yang dikenakannya masih rapi. Hanya saja, wajah pria itu jauh lebih dingin daripada biasanya.
Di belakang Leo berdiri beberapa orang kepercayaannya. Tidak ada yang berbicara.
Keheningan justru menjadi tekanan terbesar.
Leo membuka map tipis di tangannya. "Namamu?"
Tidak ada jawaban.
Leo mengangkat pandangan. "Kau bekerja untuk siapa?"
Pria itu hanya menatap balik tanpa berkedip.
Salah satu anak buah Leo melangkah maju. "Tuan, dia tidak bicara sejak ditangkap."
"Aku tahu." Leo mengangguk pelan. Ia kembali mendekati pria tersebut. "Aku tidak butuh semua rahasia organisasimu. Aku hanya ingin satu nama."
Tetap tidak ada jawaban.
Leo menghela napas. "Kalau begitu kita lanjut."
Interogasi berlangsung selama hampir satu jam.
Berbagai metode dilakukan untuk mematahkan keteguhan pria itu. Pertanyaan yang sama diulang dengan susunan berbeda. Bukti-bukti diletakkan di hadapannya. Rekaman kamera pengawas diputar berkali-kali. Leo bahkan menyebut beberapa nama yang diduga berkaitan dengan jaringan tersebut, berharap ada sedikit perubahan ekspresi.
Namun hasilnya nihil.
Pria itu seperti batu. Ia menolak berbicara. Bahkan ketika napasnya mulai tidak teratur, ia tetap memaksakan senyum tipis seolah mengejek semua orang di ruangan itu.
"Dia sudah dilatih," gumam salah seorang anak buah Leo.
"Bukan sekadar dilatih," jawab Leo pelan. "Dia sudah diprogram."
Semua memandang ke arah Leo.
"Orang seperti ini tahu bahwa membuka mulut berarti mati."
"Kalau begitu kita tidak akan mendapat apa-apa, Tuan?"
Leo terdiam beberapa detik. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pria misterius itu.
"Aku rasa... dia masih punya satu alasan untuk bertahan hidup."
Leo mengambil sebuah kursi, lalu duduk tepat di depan pria tersebut. Jarak mereka hanya sekitar satu meter. "Kau tahu siapa aku."
Tidak ada jawaban.
"Kau juga tahu aku bisa terus mengejarmu."
Hening.
"Aku tidak tertarik membalas dendam." Leo menyandarkan tubuhnya. "Aku hanya ingin memastikan orang yang mengirimmu tidak akan menyentuh keluargaku."
Untuk pertama kalinya, kelopak mata pria itu bergerak. Sangat kecil. Namun tidak luput dari pengamatan Leo.
"Itu dia..." Leo tersenyum tipis. "Kau bereaksi."
Pria itu kembali memasang wajah datar.
"Dia bukannya tidak bisa bicara." Leo bangkit. "Dia memilih diam."
Interogasi kembali berlanjut. Waktu terus berjalan. Jarum jam di monitor menunjukkan hampir pukul dua dini hari. Ruangan semakin sunyi. Hanya terdengar suara pendingin udara dan dengusan napas pria misterius itu.
Akhirnya Leo menghentikan semua pertanyaan. Ia mematikan monitor. Ruangan menjadi lebih redup.
"Semua keluar!"
Anak buahnya saling berpandangan. "Tapi Tuan—"
"Apa perlu aku ulangi?"
Tak ada yang berani membantah.
Beberapa detik kemudian, hanya tersisa Leo dan pria misterius itu.
"Aku tahu rasanya." Leo berdiri membelakangi. Suara Leo terdengar pelan. "Menjadi pion."
Pria itu tidak bergerak.
"Kau mempertaruhkan nyawamu, sedangkan orang yang mengirimmu mungkin sedang tidur dengan nyaman."
Masih tidak ada jawaban.
Leo kembali menoleh.
"Menurutmu... apakah dia akan menyelamatkan keluargamu jika kau mati?"
Mata pria misterius itu membesar sesaat.
Sangat singkat.
Tetapi cukup untuk Leo menangkapnya.
"Kau punya keluarga."
Pria itu menggertakkan rahang.
Leo melangkah semakin dekat.
"Aku bisa melindungi mereka."
Hening.
"Asalkan kau menyebutkan satu nama."
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik.
Belasan detik.
Lalu...
Pria itu menundukkan kepala. Napasnya mulai bergetar.
Untuk pertama kalinya sejak ditangkap, pertahanannya benar-benar runtuh. "Dia..."
Suara seraknya hampir tidak terdengar.
Leo langsung mendekat. "Siapa?"
Pria itu membuka mulut perlahan. "Namanya..."
Tiba-tiba...
Klik.
Suara sangat kecil.
Seperti bunyi logam yang saling bersentuhan.
Leo langsung membeku.
Pengalamannya membuat instingnya bekerja lebih cepat daripada pikirannya.
"Awas!"
Leo mundur secepat mungkin.
Detik berikutnya—
DUK!
Suara ledakan kecil terdengar dari dalam mulut pria itu.
Bukan ledakan besar. Tidak sampai menghancurkan ruangan. Namun cukup untuk membuat kursi besi bergetar. Kepala pria itu terkulai. Tubuhnya berhenti bergerak. Alarm monitor berbunyi nyaring.
Pintu ruangan langsung terbuka. Anak buah Leo berlari masuk.
"Tuan!"
Leo mengangkat tangan. "Jangan sentuh apa pun."
Semua langsung berhenti.
Tim medis internal datang beberapa menit kemudian. Mereka memeriksa tubuh pria itu secara cepat.
Salah seorang dokter menggeleng. "Sudah meninggal."
Ruangan kembali sunyi.
Leo menatap wajah pria tersebut cukup lama. "Dia dibungkam."
Beberapa saat kemudian, tim forensik organisasi Leo mulai melakukan pemeriksaan. Mereka bekerja sangat hati-hati.
Menggunakan kamera makro, pemindai portabel, dan alat pencitraan beresolusi tinggi, mereka memeriksa rongga mulut korban.
Sekitar lima belas menit berlalu.
Seorang ahli forensik akhirnya mengangkat kepala.
"Tuan..."
Leo mendekat.
"Ada sesuatu." Dokter menunjukkan hasil pemindaian digital. "Salah satu gigi gerahamnya bukan gigi asli."
Gambar diperbesar.
Di dalam replika gigi tersebut terlihat rongga kecil berisi rangkaian elektronik mini.
"Ini semacam kapsul mikro." Ahli foralatan elektronik ikut memperhatikan. "Bukan sekadar implan." Ia menunjuk komponen kecil di layar. "Di dalamnya terdapat sirkuit, sumber daya mikro, dan ruang yang sebelumnya berisi material peledak berdaya sangat rendah. Targetnya bukan ruangan," lanjutnya. "Melainkan memastikan pembawanya tidak dapat membocorkan informasi."
Leo menyipitkan mata. "Bagaimana cara mengaktifkannya?"
"Belum bisa dipastikan." Ia menggeleng. "Kemungkinan menggunakan mekanisme keamanan internal yang dirancang untuk aktif dalam kondisi tertentu. Organisasi seperti ini memang dikenal menggunakan teknologi yang sangat sulit dideteksi demi menjaga kerahasiaan operasi mereka."
Seluruh ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.
Leo menatap jasad pria itu.
"Jadi... Bahkan ketika dia memilih mengkhianati organisasi, mereka sudah menyiapkan cara agar dia tidak pernah sempat berbicara."
Tidak ada yang menjawab.
Semua orang memahami arti penemuan tersebut.
Musuh yang mereka hadapi bukan kelompok kriminal biasa. Mereka memiliki sumber daya, disiplin, dan teknologi yang melampaui dugaan.
Leo menutup map di tangannya. Tatapannya berubah tajam. "Hari ini kita memang kehilangan satu saksi." Ia berhenti sejenak. "Tapi kita juga mendapat satu petunjuk."
Semua menoleh kepadanya.
"Mereka takut identitas pemimpinnya diketahui." Leo melangkah menuju pintu. "Dan rasa takut itu berarti kita sudah berada sangat dekat."
Pintu baja terbuka perlahan. Leo keluar lebih dulu.
Koridor bawah tanah kembali sunyi, tetapi kali ini semua orang menyadari bahwa permainan telah berubah. Di balik bayangan, ada seseorang yang mampu membungkam anak buahnya sendiri sebelum sebuah nama sempat terucap.
Dan mulai malam itu, perburuan terhadap dalang sesungguhnya resmi dimulai.