Malam turun dengan tenang, tetapi ketenangan itu sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan yang memenuhi ruang kerja Leo.
Ruangan luas di lantai paling atas gedung perusahaan itu hanya diterangi cahaya lampu berwarna kuning hangat. Tirai hitam menutupi seluruh dinding kaca sehingga pemandangan kota tidak terlihat. Di atas meja besar berbahan kayu jati, beberapa foto hasil penyelidikan, sebuah map tebal, dan sebuah tablet elektronik tersusun rapi.
Leo berdiri membelakangi pintu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tatapannya tertuju pada foto seorang pria yang kini sudah menjadi mayat.
Pintu ruang kerja terbuka.
Ariel masuk tanpa banyak bicara.
Usianya memang sudah tidak muda lagi, tetapi wajahnya masih menunjukkan ketegasan yang sulit ditandingi. Aura tenang seorang kepala keluarga begitu terasa. Begitu melihat Leo berdiri di depan papan investigasi, Ariel langsung memahami bahwa pembicaraan malam ini bukan sekadar obrolan biasa.
"Ada perkembangan?" tanya Ariel pelan.
"Ada." Leo mengangguk.
Ia mengambil sebuah foto dan menyerahkannya kepada Ariel. "Ini pria yang membuntuti Lala beberapa hari lalu."
Ariel mengamati foto itu beberapa detik. "Sudah dipastikan identitasnya?"
Leo menggeleng. "Belum. Sidik jarinya tidak muncul di database mana pun. Wajahnya juga tidak dikenali sistem pengenal wajah."
Ariel mengangkat alis. "Itu sudah aneh."
"Yang lebih aneh lagi..." Leo membuka map lain. Di dalamnya terdapat beberapa foto hasil autopsi. "Aku menemukan sesuatu yang tidak biasa."
Ariel duduk lalu membuka foto-foto tersebut. Beberapa detik kemudian dahinya langsung berkerut. "Ini..."
Leo mengangguk pelan. "Benar. Pria itu ditanami bom di dalam giginya."
Ariel memandangi foto rahang pria misterius yang sudah dibedah. Di balik salah satu giginya yang kini sudah hancur beserta mulutnya, terdapat bekas kecil yang dibuat sangat rapi. Ruang tempat bom beserta seluruh isi mulutnya kini kosong. Namun bekas pecahannya masih terlihat jelas.
Leo berkata pelan. "Dokter forensik menyimpulkan ada bom kecil yang ditanam permanen di dalam giginya."
Ariel menatap Leo. "Bom?"
"Bukan sekadar bom." Leo mengambil laporan forensik. "Ledakan mikro."
Ariel terdiam.
"Ketika dia hampir membuka mulut..." Leo mengingat kembali kejadian di gudang. "Pria itu sudah tidak sanggup menahan rasa sakit dan juga ancaman terhadap keluarganya. Ia mulai membuka mulut. Bibirnya bergetar. Hampir saja menyebut sebuah nama. Namun sedetik kemudian... Buummm..... Ledakan kecil terjadi dari dalam mulutnya. Tidak keras. Tetapi cukup menghancurkan rongga mulut, rahang, dan sebagian otaknya. Pria itu langsung tewas di tempat. Tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk diselamatkan."
Ariel mengembuskan napas panjang. "Profesional."
"Ya."Leo mengangguk. "Dan kejam. Bahkan lebih profesional an kejam daripada kebanyakan organisasi yang pernah kutemui."
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa saat kemudian Ariel berkata pelan. "Orang seperti ini bukan preman. Bukan pembunuh bayaran kelas bawah. Bukan pula mata-mata amatiran."
"Dia dilatih agar lebih memilih mati daripada membocorkan informasi." Leo menyambung
Ariel mengangguk. "Dan seseorang rela mengeluarkan biaya sangat besar hanya untuk memastikan satu orang tidak pernah berbicara."
Leo berjalan perlahan menuju papan investigasi. Ia menempelkan foto Lala saat bersamanya di tengah papan. Di sampingnya terdapat foto pria misterius. Lalu beberapa foto kendaraan yang sempat mengikuti mobil mereka.
Leo menyilangkan tangan. "Pertanyaannya sekarang... Kenapa targetnya Lala?"
Ariel ikut berdiri. Tatapannya tertuju pada foto putri sulungnya. Sorot matanya berubah lembut sesaat.
"Lala tidak pernah terlibat urusan dunia hitam. Tidak pernah punya musuh. Tidak pernah menyakiti siapa pun."
Leo mengangguk. "Itulah yang membuatku khawatir. Bisa jadi... Mereka tidak mengincar Lala."
Ariel menoleh. "Maksudmu?"
"Mereka mengincar Anda, Tuan."
Ariel diam.
Leo melanjutkan.
"Atau... Orang tuaku."
Ucapan itu membuat suasana kembali membeku.
Kedua pria itu sama-sama memahami satu kenyataan. Musuh lama memang belum tentu sudah menghilang. Kadang mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
Leo menarik napas panjang. "Aku sudah memikirkan banyak kemungkinan. Lawan bisnis. Organisasi lama. Dendam keluarga. Semuanya masih mungkin. Tapi ada satu hal yang menggangguku."
Ariel menatapnya.
Leo berkata pelan. "Apakah Tuan punya musuh pribadi?"
Ariel tampak bingung. Musuh?"
Leo mengangguk. "Selain musuh yang berhubungan dengan ayahku. Musuh yang hanya berkaitan dengan Anda."
Ariel mengernyit. "Aku sudah lama meninggalkan masa lalu."
Leo belum menyerah. "Masa lalu tidak selalu meninggalkan kita."
Kalimat itu membuat Ariel terdiam cukup lama. Ia berjalan perlahan menuju jendela. Walaupun tirai tertutup, seolah ia sedang memandang jauh ke masa puluhan tahun silam.
Leo tidak menyela.
Ia tahu Ariel sedang mengingat sesuatu. Setelah beberapa menit, Ariel tertawa kecil."Tahu tidak? Waktu muda dulu aku memang bukan pria baik-baik."
Leo tersenyum tipis. "Itu sudah sering kulihat."
Ariel menghela napas. "Aku terkenal sebagai pemain wanita. Dari kota ke kota. Dari kampus ke kampus. Bahkan sebelum bertemu Yani... Aku benar-benar tidak bisa diam."
Leo menyandarkan tubuh di meja. "Berapa banyak mantan?"
Ariel mengangkat kedua tangan. "Jangan tanya."
Leo terkekeh pelan. "Ratusan?"
"Mungkin."
"Ah ... Kasian Kak Yani harus dapat bekas dari banyak wanita." Leo menggeleng sambil tertawa kecil.
Ariel ikut tersenyum. "Kamu benar. Tidak ada pembelaan. Tapi setelah menikah... Hidupku berubah total."
"itu aku percaya." Leo mengangguk.
Keheningan kembali hadir. Namun kali ini lebih ringan.
Beberapa saat kemudian Leo kembali bertanya. "Selama menjadi pemain wanita, pernah ada seseorang yang benar-benar membenci Anda?"
Senyum Ariel perlahan menghilang.Ia mulai berpikir serius. Satu demi satu wajah dari masa lalunya bermunculan.
Teman.
Saingan.
Wanita yang pernah dekat.
Orang tua mereka.
Pria-pria yang pernah cemburu.
Semua datang silih berganti dalam ingatannya.
Lima menit berlalu.
Ariel masih belum berbicara.
Leo menunggu dengan sabar.
Akhirnya Ariel menggeleng. "Kalau sekadar pria yang pernah marah karena pacarnya dekat denganku... Banyak."
Leo mengangguk.
"Tapi mereka hanya emosi sesaat. Tidak mungkin menyimpan dendam sampai puluhan tahun."
Leo tetap diam.
Ariel kembali berpikir. Ada beberapa wanita yang pernah menangis karena dirinya. Ada yang marah. Ada yang membencinya.
Namun setelah bertahun-tahun... Sebagian besar sudah menikah. Punya keluarga. Melanjutkan hidup. Sulit membayangkan salah satu dari mereka membangun organisasi profesional hanya demi balas dendam.
"Tidak masuk akal."
Leo bertanya pelan. "Yakin?"
Ariel mengangguk perlahan. "Aku benar-benar tidak menemukan nama. Bahkan kalau ada yang sakit hati sekalipun, tidak mungkin sampai menggunakan orang dengan bom peledak di dalam gigi."
Leo mengusap dagunya. "Itu juga yang kupikirkan. Teknologi seperti itu bukan sesuatu yang bisa dimiliki sembarang orang. Butuh uang. Butuh ahli bedah. Butuh organisasi. Butuh pelatihan. Semua itu menunjukkan satu kesimpulan. Lawan mereka berada pada level yang jauh di atas kriminal biasa."
Leo menatap kembali foto pria misterius. "Kalau begitu... Kita harus mulai dari organisasi, bukan dari individu."
Ariel mengangguk. "Dan selama kita belum tahu siapa mereka, Lala dan Lili tidak boleh berjalan sendirian."
"Itu sudah kulakukan." Leo langsung menjawab tegas. "Dua tim pengawal bergantian mengikuti mereka. Secara diam-diam."
Ariel tersenyum tipis. "Terima kasih."
Leo menggeleng. "Mereka sudah seperti keluargaku sendiri. Itu bukan bantuan. Itu kewajibanku. Lagi pula yang utama, aku melakukan itu untuk Kak Yani."
Ucapan itu membuat Ariel menepuk pelan bahu Leo. "Kalau musuh memang datang, kita hadapi bersama."
Leo mengangguk mantap. Tatapannya kembali tajam. "Dan kali ini... Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh siapa pun yang ada di keluarga ini."
Di luar gedung, langit malam tampak gelap tanpa bintang. Angin bertiup pelan, seolah membawa firasat bahwa ancaman yang mereka hadapi baru saja dimulai. Kematian pria misterius bukanlah akhir dari penyelidikan, melainkan pintu menuju konspirasi yang jauh lebih besar—konspirasi yang perlahan mulai mengincar keluarga mereka dari balik bayang-bayang.
Terlihat foto Lala yang diambil si pria misterius, yang dipajang untuk acuan penyelidikan. Tampak gadis itu tersenyum sangat manis, dan didalam foto itu juga tampak Leo yang menatap Lala dengan penuh kasih sayang.