Pintu baja ruang pertemuan itu menutup perlahan di belakang Leo.
Brak...
Suara benturan logam yang berat bergema di lorong bawah tanah yang panjang dan sunyi. Lampu-lampu LED putih yang tertanam di langit-langit memancarkan cahaya dingin, menciptakan bayangan memanjang di lantai beton yang mengilap. Aroma besi, oli, dan pendingin ruangan bercampur menjadi satu, membuat tempat itu terasa seperti bunker rahasia dibanding sebuah gedung perkantoran.
Leo berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Empat anak buahnya mengikuti dari belakang dengan langkah yang sama tenangnya. Tidak ada satu pun yang berani membuka suara. Mereka tahu dari raut wajah bos mereka bahwa isi pikirannya sedang bekerja jauh lebih keras daripada biasanya.
Sesampainya di depan lift khusus, salah seorang pengawal menekan tombol akses menggunakan kartu elektronik.
Bip.
Pintu lift terbuka.
Kelima pria itu masuk.
Begitu pintu tertutup, suasana kembali diliputi keheningan.
Leo menatap angka-angka digital yang terus bergerak naik.
Pikirannya tidak lagi berada di lift itu.
Yang terus terngiang justru ucapan Aditya beberapa menit lalu.
"Mereka bekerja bergantian."
"Mereka bukan amatir."
"Lala dan Lili sedang dipelajari."
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Jika Aditya tidak berbohong, berarti selama ini musuh bukan sekadar mengikuti si kembar secara acak. Mereka mengumpulkan pola. Kebiasaan. Waktu. Rute. Bahkan orang-orang yang berada di sekitar kedua gadis itu.
Artinya...
Musuh sedang menunggu kesempatan terbaik.
Pintu lift terbuka.
Leo langsung melangkah keluar menuju lantai parkir privat. Sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu dengan mesin yang masih menyala.
Begitu Leo duduk di kursi belakang, sopir segera menjalankan mobil.
Mobil meluncur meninggalkan gedung tanpa suara berarti.
Beberapa menit kemudian...
"Raka."
"Ya, Tuan."
Pria bertubuh kekar yang duduk di kursi depan langsung menoleh sedikit.
"Apa laporan terbaru mengenai Lala?"
"Masih seperti biasa."
"Jelaskan."
Raka membuka tablet yang sejak tadi berada di pangkuannya.
"Nona Lala menyelesaikan pemotretan pukul empat sore. Setelah itu pergi ke sebuah kafe bersama dua temannya. Sekitar pukul enam kembali ke apartemen."
Leo menggeleng pelan.
"Bukan itu."
Raka terdiam.
Leo melanjutkan.
"Aku tidak bertanya kegiatan Lala."
"Lalu?"
"Aku bertanya keadaan di sekelilingnya."
Raka langsung mengerti.
Ia mengusap layar tabletnya beberapa kali.
"Ada satu hal yang cukup aneh."
Leo mengangkat pandangan.
"Sebuah motor sport hitam beberapa kali muncul di lokasi berbeda."
"Plat nomor?"
"Palsu."
"Pengendaranya?"
"Selalu memakai helm."
Leo mengetuk sandaran kursi.
"Foto?"
Raka menggeleng.
"Belum sempat."
Leo kembali terdiam.
Musuh mulai berhati-hati.
Bahkan terlalu berhati-hati.
Tak lama kemudian mobil memasuki area gedung perusahaan milik Leo.
Gedung itu menjulang tinggi dengan dinding kaca hitam yang memantulkan langit sore.
Puluhan pegawai yang masih berada di lobi langsung menundukkan kepala ketika melihat Leo berjalan masuk.
"Selamat sore, Pak."
Leo hanya mengangguk tipis.
Langkahnya tidak berhenti sampai memasuki ruang kerja pribadi di lantai paling atas.
Ruangan itu sangat luas.
Dominasi warna hitam dan abu-abu membuat suasananya terlihat elegan sekaligus dingin. Sebuah jendela kaca setinggi tiga meter memperlihatkan pemandangan kota yang mulai dipenuhi cahaya lampu.
Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dari kayu hitam.
Leo belum sempat duduk.
"Semua kepala divisi keamanan masuk."Perintahnya singkat. Sepuluh menit."
"Baik, Tuan."
---
Tepat sembilan menit kemudian.
Delapan orang memasuki ruang rapat kecil yang berada di samping kantor Leo. Mereka duduk berjajar. Tidak ada yang berbicara.
Leo berdiri di depan layar monitor.
Klik.
Sebuah foto muncul.
Lala.
Klik.
Foto berikutnya.
Lili.
Klik.
Foto berikutnya lagi.
Pria bertopi yang pernah mereka lihat sebelumnya.
"Mulai hari ini."
Suara Leo terdengar berat.
"Prioritas keamanan berubah."
Seluruh ruangan langsung fokus.
"Lala da Lili menjadi prioritas utama. Untuk keluarga Tuan Aditya nanti akan aku serahkan pada beliau."
Salah satu manajer keamanan mengangkat tangan. mm"Apakah ancaman sudah dipastikan?"
Leo menjawab tanpa ragu. "Belum. Lalu...Aku tidak berniat menunggu sampai ancaman itu benar-benar terjadi."
Tak seorang pun membantah. Mereka mengenal Leo. Insting pria itu jarang meleset.
"Kalian akan membentuk tiga lapis pengamanan." Leo menunjuk layar. "Lapis pertama."
Muncul gambar beberapa pria. "Mereka mengikuti Lala dan Lili dari kejauhan."
Klik.
"Lapis kedua."
Gambar berganti.
"Menyamar sebagai warga biasa."
Klik.
"Lapis ketiga."
Foto rumah Lala dan Lili muncul. "Menjaga area tempat tinggal."
Salah seorang bertanya. "Apakah Nona Lala dan Nona Lili perlu diberi tahu?"
"Tidak."
Ruangan mendadak hening.
Leo melanjutkan. "Kalau dia tahu." Ia menghela napas pelan. "Mereka akan protes."
Beberapa orang tersenyum kecil. Mereka tahu sifat si kembar.
Mereka gadis itu ceria. Mandiri. Tidak suka dikekang.
Kalau sampai mengetahui dirinya dikawal diam-diam, kemungkinan besar ia justru akan berusaha kabur dari pengawasan.
"Jangan sampai dia menyadari keberadaan kalian."
"Siap."
"Jangan terlalu dekat."
"Siap."
"Jangan melakukan kontak kecuali benar-benar darurat."
"Siap."
Leo mengakhiri rapat dengan satu kalimat.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka..." Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "...kalian bertanggung jawab."
Tidak ada yang berani menatap balik.
---
Di tempat lain. Aditya baru saja memasuki kantor miliknya.
Restoran itu sudah tutup.
Lampu ruang makan dimatikan.
Yang masih menyala hanya lampu dapur.
Suara tudung hisap masih berdengung pelan.
Aroma kaldu sapi, lada hitam, dan mentega memenuhi udara.
Beberapa koki sedang membersihkan peralatan memasak.
Mereka langsung menghentikan pekerjaan ketika melihat Aditya datang.
"Chef."
Aditya hanya mengangguk.
"Ruang rapat."
Empat orang langsung mengikuti.
Berbeda dengan ruang rapat Leo yang dipenuhi layar monitor dan suasana formal, ruang rapat restoran itu sederhana.
Meja kayu panjang.
Dinding bata ekspos.
Lampu gantung berwarna kuning redup.
Namun suasananya tetap serius.
Aditya meletakkan sebuah map di atas meja.
"Lili."
Satu kata itu langsung membuat keempat orang memperhatikan.
"Mulai minggu ini."
Ia membuka beberapa foto.
"Setiap jadwal syuting."
Klik.
"Satu orang berada di area parkir."
Klik.
"Satu orang di belakang studio."
Klik.
"Satu orang lagi di dalam restoran seberang."
Salah satu bawahannya mengernyit.
"Pak."
"Ada pertanyaan?"
"Kenapa mendadak?"
Aditya terdiam beberapa saat.
Ia mengingat kembali pertemuannya dengan Leo.
Kemudian mengingat pria bertopi yang beberapa kali muncul di sekitar studio.
"Karena firasatku mengatakan..." Ia menatap mereka satu per satu. "...akan ada sesuatu yang buruk."
Tidak ada lagi yang bertanya. Mereka tahu. Aditya bukan orang yang mudah panik. Kalau sampai ia mengeluarkan perintah seperti ini, berarti situasinya memang serius.
Salah seorang bertanya pelan. "Apakah Nona Lili tahu?"
"Tidak."
"Kalau dia bertanya?"
"Katakan sedang ada pemeriksaan keamanan."
"Kalau dia tetap penasaran?"
Sudut bibir Aditya bergerak tipis. "Itu pasti."
Keempat bawahannya ikut tersenyum kecil.
Mungkin mereka semua memang baru mengenal Lili. Tapi mengikutinya beberapa hari sudah cukup untuk mengetahui karakter gadis itu Gadis itu hampir mustahil berhenti bertanya kalau rasa penasarannya muncul.
Namun senyum itu hanya bertahan sesaat. Aditya kembali menatap foto pria bertopi. Tatapannya berubah tajam.
Dalam hati ia bergumam pelan. "Kalau memang kau mengincar Lili... Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa mendekatinya."
---
Sementara itu....
Lala sedang bersantai di sofa ruang tamu sambil menikmati semangkuk es krim. Televisi menyala, tetapi perhatiannya justru tertuju pada ponsel di tangannya.
Ia sedang mengirim pesan pada Lili.
«Lala: "Besok syuting lagi?"»
Tak lama kemudian balasan masuk.
«Lili: "Gak. Sudah selesai. The end"» emot menangis.
Lala terkekeh.
«Lala: "Nyerah?"»
«Lili: "Pantang menyerah adalah jalan ninja."»
Lala sampai menggeleng sendiri.
Adiknya memang tidak pernah berubah.
Di luar rumah...
Tanpa diketahui siapa pun.
Seorang pria bertopi hitam berdiri di seberang jalan. Wajahnya tertutup masker. Di tangannya terdapat kamera dengan lensa panjang.
Klik...
Lala yang sedang tertawa di balik jendela rumah terekam jelas.
Pria itu menurunkan kameranya perlahan.
Lalu memasukkan sebuah catatan kecil ke dalam saku.
Di halaman catatan itu hanya tertulis satu kalimat pendek.
"Target A masih berada di lokasi."
Ia kemudian berjalan menjauh, menghilang di antara gelap malam.
Tanpa menyadari bahwa... dari atap gedung di seberang, sepasang teropong lain diam-diam mengikuti setiap langkahnya.