Sejak pukul delapan pagi, lantai tiga sebuah studio komersial sudah dipenuhi aktivitas. Suara orang berbicara saling bersahutan, roda-roda stand lighting bergeser di atas lantai, sementara beberapa kru mondar-mandir membawa properti.
Hari itu Lala menjadi model utama untuk sebuah iklan brand alat pembuat kopi premium. Konsep yang diangkat adalah suasana pagi hangat pasangan muda di rumah modern. Set dapur dibuat sangat mewah. Kabinet kayu berwarna cokelat muda berpadu dengan meja marmer putih, dihiasi tanaman hijau kecil di setiap sudut. Sebuah jendela besar memancarkan cahaya matahari buatan dari lampu HMI berukuran raksasa sehingga ruangan tampak seperti benar-benar berada di pagi hari.
Di tengah dapur berdiri mesin kopi terbaru dari brand tersebut. Bodinya berwarna hitam doff dengan sentuhan emas, terlihat elegan. Di sampingnya berjajar biji kopi, cangkir keramik, gelas kaca, s**u segar, hingga beberapa croissant sebagai pelengkap.
Belasan kru bekerja di posisinya masing-masing.
Fotografer mengecek framing.
Sutradara iklan mengawasi monitor.
Penata cahaya sibuk mengatur sudut lampu.
Penata rias sesekali datang membetulkan rambut Lala.
Wardrobe memastikan tidak ada lipatan pada pakaian.
Sementara asisten produksi terus menghitung jadwal agar semua selesai tepat waktu.
Lala sendiri mengenakan blouse putih lengan panjang dipadukan rok cokelat muda. Rambut panjangnya dibuat bergelombang ringan. Makeup tipis membuat wajahnya terlihat segar seperti baru bangun tidur.
"Aku kelihatan seperti istri idaman belum?" candanya sambil tersenyum.
Beberapa kru tertawa.
"Kalau terlalu cantik nanti produknya kalah perhatian," sahut fotografer.
"Halah... rayuan kru itu sudah template."
Semua kembali tertawa.
Suasana syuting memang selalu menyenangkan ketika Lala hadir. Gadis itu mudah bergaul sehingga hampir semua kru menyukainya.
Di sisi studio, dua pria berpakaian kasual tampak sibuk memperhatikan keadaan sekitar. Mereka terlihat seperti kru biasa, tetapi sebenarnya adalah anak buah Leo yang ditugaskan menjaga Lala secara diam-diam.
Salah satunya berbicara pelan melalui earphone.
"Area aman."
"Akses pintu timur aman."
"Tidak ada orang mencurigakan."
Mereka tidak pernah jauh dari Lala.
Perintah Leo sangat jelas.
"Jangan biarkan dia lepas dari pengawasan sedetik pun."
---
Syuting dimulai.
Adegan pertama memperlihatkan pemeran pria yang berperan sebagai suami sedang menggiling biji kopi.
Suara mesin grinder memenuhi ruangan.
Kemudian kamera mengambil close-up air panas yang mengalir melewati bubuk kopi.
Asap tipis mengepul.
Aroma kopi langsung memenuhi studio.
"Bagus..."
"Cut."
Berlanjut ke adegan berikutnya.
Pemeran pria menuangkan kopi ke dalam dua cangkir.
Lala masuk ke frame sambil tersenyum hangat.
Ia berdiri di samping pemeran pria.
Keduanya saling bertatapan.
Lalu pemeran pria menyerahkan secangkir kopi.
"Action."
Lala menerima cangkir itu dengan lembut.
Ia meniup permukaan kopi perlahan.
Kamera melakukan close-up.
Lala meminum seteguk kecil.
Ekspresinya berubah puas.
Senyumnya mengembang.
Persis seperti yang diinginkan sutradara.
"Bagus..."
"Hold!"
Sutradara meminta pengambilan dari sudut berbeda.
Semua kru kembali mengatur posisi.
Lampu-lampu besar digeser beberapa sentimeter.
Boom kamera berpindah.
Operator steadicam mengambil posisi.
Tak ada seorang pun menyadari bahwa salah satu baut pengunci lighting besar di atas area syuting mulai mengendur.
Lampu itu beratnya puluhan kilogram.
Ia tergantung tepat di atas posisi Lala.
---
"Rolling!"
"Action!"
Lala kembali mengangkat cangkir.
Pemeran pria memandangnya sambil tersenyum.
Saat itulah—
KRAAAK...
Suara logam bergesekan terdengar pelan.
Salah seorang kru lighting menoleh.
Matanya langsung membesar.
"Lampunya!"
Belum sempat siapa pun bereaksi—
BRAKKK!
Stand lighting raksasa itu tiba-tiba miring.
Lampu besar mulai jatuh tepat ke arah kepala Lala.
"LALAAA!!"
Refleks.
Pemeran pria langsung menarik tubuh Lala sekuat tenaga.
Lala kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya jatuh ke pelukan lawan mainnya.
Lampu besar menghantam meja dapur.
DUAAARR!
Meja properti hancur.
Cangkir-cangkir pecah berserakan.
Kopi panas yang masih berada di tangan Lala tumpah mengenai bagian depan bajunya.
"Ah!"
Lala meringis.
Untungnya kopi itu sudah tidak terlalu panas.
Namun noda cokelat memenuhi blouse putih yang dikenakannya.
Studio mendadak kacau.
"Matikan listrik!"
"Cek semua!"
"Ambulans perlu dipanggil?"
"Lala, kamu tidak apa-apa?"
Pemeran pria masih memegang bahu Lala.
"Kamu terluka?"
Lala menggeleng.
"Aku cuma kaget."
Anak buah Leo langsung menghampiri.
"Nona, ada yang sakit?"
"Nggak kok."
Sutradara menghela napas panjang.
"Syuting dihentikan dulu."
---
Penata rias membawa Lala menuju ruang ganti.
Sayangnya noda kopi sudah telanjur meresap.
"Aduh... susah hilangnya."
Lala melihat bajunya.
"Ya sudah. Aku coba bersihkan di toilet saja."
"Oke, kami siapkan baju cadangan."
Lala mengangguk.
Ia membawa tas kecil berisi perlengkapan makeup menuju toilet wanita.
Dua pengawal Leo tetap berjaga.
Satu berdiri di dekat pintu toilet.
Satu lagi menjaga lorong.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Mereka masih tenang.
Mungkin Lala sedang membersihkan noda dan merapikan makeup.
Empat puluh menit.
Salah satu pengawal mulai mengetuk pelan.
"Nona Lala?"
Tidak ada jawaban.
Mungkin suara hair dryer menutupi.
Satu jam.
Lorong mulai sepi.
Pengawal kembali mengetuk.
"Nona?"
Tetap sunyi.
Mereka saling berpandangan.
"Biasanya nggak selama ini."
"Coba telepon."
Nomor Lala dihubungi.
Terdengar nada sambung.
Namun tidak diangkat.
Pengawal mulai merasa tidak enak.
Ia menekan headset.
"Status?"
"Tidak ada pergerakan."
"Lala belum keluar."
"Sudah satu jam."
Suasana langsung berubah tegang.
Mereka tahu prosedur.
Jika objek tidak dapat dipastikan kondisinya dalam waktu lama...
Kode Merah.
Tanpa ragu salah satu dari mereka mengirim pesan singkat ke grup pengawal.
KODE MERAH.
Target tidak merespons.
---
Di sisi lain kota.
Leo sedang memimpin rapat.
Beberapa manajer sedang mempresentasikan laporan.
Ponsel Leo bergetar.
Ia hanya melirik sekilas.
Namun begitu membaca tulisan KODE MERAH, wajahnya langsung berubah.
Ruangan mendadak sunyi.
Leo berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.
"Batalkan rapat."
"Tuan?"
Leo bahkan tidak menjawab.
Ia sudah berjalan keluar.
Langkahnya semakin cepat.
Hampir berlari.
Anak buahnya yang memahami arti kode itu langsung mengikuti.
"Tuan, mobil sudah siap."
Leo masuk ke mobil tanpa berkata apa pun.
"Gas."
Supir langsung menginjak pedal.
Mobil melesat keluar basement.
---
Di sepanjang perjalanan, Leo sama sekali tidak bisa duduk tenang.
Tangannya mengepal begitu kuat.
Tatapannya terus tertuju ke ponsel.
Belum ada kabar baru.
Ia menghubungi ketua pengawal.
"Apa situasinya?"
"Belum ada respons, Tuan."
"Sudah dicek?"
"Pintu toilet terkunci."
Leo memejamkan mata sesaat.
Jantungnya berdetak semakin keras.
Berbagai kemungkinan buruk memenuhi pikirannya.
Apalagi beberapa hari terakhir mereka memang menyadari ada pihak misterius yang mengincar Lala dan Lili.
Bagaimana jika musuh berhasil menyusup?
Bagaimana jika semua insiden lighting tadi bukan kecelakaan?
Bagaimana jika...
Leo menggertakkan giginya.
"Lebih cepat."
Supir mengangguk.
Mobil melaju kencang membelah jalanan.
---
Kurang dari dua puluh menit kemudian mobil berhenti mendadak di depan studio.
Leo bahkan tidak menunggu pintu dibukakan.
Ia turun sambil berlari.
Seluruh kru yang melihatnya langsung memberi jalan.
"Tuan Leo..."
Leo tidak menjawab.
"Toilet!"
"Sebelah sana!"
Leo berlari menyusuri lorong.
Dua pengawal sudah menunggu.
"Masih belum keluar?"
"Belum, Tuan."
Leo mencoba membuka pintu.
Terkunci.
"Lala!"
Tidak ada jawaban.
"LALA!"
Sunyi.
Wajah Leo berubah pucat.
Ia mundur satu langkah.
"Semua menjauh."
Pengawal langsung mundur.
Leo menarik napas.
Lalu—
BRAAKK!
Satu tendangan keras menghantam pintu.
Belum terbuka.
Tendangan kedua.
DUARR!
Kunci pintu langsung patah.
Pintu terbuka lebar.
Semua orang menahan napas.
Leo masuk terlebih dahulu.
"Lala!"
Di dalam, Lala tampak terduduk di bangku dekat wastafel. Di sampingnya ada pakaian yang sedang dicuci. Ponselnya tergeletak di dalam tas dengan mode senyap, sehingga ia sama sekali tidak mendengar panggilan maupun ketukan dari luar. Karena syuting dihentikan, ia memutuskan membersihkan noda kopi sendiri sambil menunggu baju cadangan dikeringkan dengan pengering tangan. Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Saat melihat pintu jebol dan Leo berdiri dengan napas memburu, mata Lala membulat.
"Leo?"
Belum sempat ia berdiri.
Leo sudah menghampirinya.
Tanpa memedulikan orang-orang yang menyaksikan dari luar.
Ia langsung memeluk Lala erat.
Sangat erat.
Lala bisa merasakan tubuh pria itu sedikit gemetar.
"Ada apa?"
Leo tidak langsung menjawab.
Beberapa detik ia hanya memastikan Lala benar-benar ada di hadapannya.
Tidak terluka.
Tidak diculik.
Tidak menghilang.
Barulah ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi terasa tertahan.
"Kamu membuatku hampir gila."
Nada suaranya tetap rendah, tetapi penuh kelegaan.
Lala menatap wajah Leo yang biasanya selalu tenang. Kini sorot matanya dipenuhi kecemasan yang belum sepenuhnya hilang.
Lala mengusap pelan lengan Leo.
"Maaf, aku tidak tahu kenapa kamu bisa sekhawatir ini, tapi aku baik-baik saja."
Leo menatap ponsel yang masih berada di dalam tas Lala.
"Kenapa tidak dibawa?"
"Tadi aku fokus membersihkan baju... terus pengeringnya berbunyi nyaring dan lama."
Leo menggeleng pelan sambil menghela napas. "Aku pikir sesuatu terjadi."
Lala tersenyum kecil, lalu dengan kebiasaannya yang jahil berkata, "Berarti kamu memang khawatir sekali, ya?"
Leo tidak menyangkal.
Ia hanya kembali menggenggam tangan Lala, seolah memastikan gadis itu tidak akan lepas dari pandangannya lagi.
Di luar toilet, para pengawal saling bertukar pandang. Ketegangan yang sejak tadi membebani d**a mereka perlahan menghilang. Namun ketua pengawal tetap memberi instruksi dengan suara pelan.
"Mulai hari ini, prosedur pengamanan diperketat. Setelah insiden lighting dan kode merah ini, kita tidak boleh lengah sedikit pun."
Tak seorang pun membantah. Di benak mereka, kejadian hari itu menjadi pengingat bahwa ancaman bisa datang dalam bentuk yang tak terduga. Dan bagi Leo, satu jam tanpa kabar dari Lala terasa jauh lebih lama daripada waktu itu sendiri. Selama Lala masih menjadi sasaran musuh yang belum diketahui identitasnya, ia bersumpah tidak akan membiarkan satu celah pun mengancam keselamatan gadis yang paling ingin ia lindungi.