Tak tak ak
Sreeng
Blrup blrup blrup
Berbagai suara saling bersahutan terdengar keluar dari ruang dapur. Perpaduan ritmis antara bunyi mekanis alat dapur dan proses kimiawi bahan makanan menciptakan atmosfer yang hidup dan menenangkan, mulai dari ketukan pisau yang cepat di atas telenan, desisan minyak panas hingga gemericik air mendidih.
Tangan yang cekatan memotong bahan makanan, merajang bumbu, membalok balikkan adonan dalam penggorengan, membuka kukusan. Terakhir, tangan putih mulus itu menata makanan yang disiapkannya tadi ke atas piring porselen dengan ukuran sedang.
"Apakah bisa dimakan?"
Sebuah suara yang terdengar seperti menginterupsi jerih payahnya, membuat tangan yang sedari tadi sibuk itu berhenti.
Seraut wajah yang masih berantakan menoleh, "Hai, Kak Leo" secercah senyum langsung terbit begitu matanya menatap sosok cowok yang berdiri bersandar di pintu dapur.
Cowok yang dipanggil Kak Leo itu melangkah masuk dapur, menarik kursi, dan mendudukkan dirinya di atasnya. Mencomot satu tempe goreng yang sudah tertata di meja, memakannya, "Tidak beracun kan?"
Si wajah kucel merengut kan bibir, "Kakak gak percaya dengan Chef Lili?" ungkapnya sok dramatis, "ini Chef lho."
Leo tergelak, "Siapa tahu kamu menaruh racun disini buat bunuh aku."
Lili bersidekap, memutar seluruh tubuhnya hingga menghadap Leo seratus persen, "Untuk membunuh Kakak aku gak perlu racun. Cukup membuat Kakak seharian bersama dengan Lala, kurasa itu bisa lebih ampuh"
Leo terbahak semakin keras, "Wow sepertinya itu lebih mematikan dari pada racun."
"Nah, kan." merasa menang Lili kembali berbalik, meneruskan kegiatan plating nya.
"Tuan Ariel di mana?"
"Papa?" Lili balik bertanya. Kali ini tanpa menoleh.
"Hm"
"Belum pulang masih di Rumah Sakit."
Hening. Leo tak lagi menanggapi jawaban Lili. Mulutnya masih menguyah makanan, tapi raut wajahnya terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Kak Yani?"
Lili kembali menoleh. Sebenarnya dia sudah gak kaget setiap Leo memanggil mamanya dengan sebutan 'Kak' sedangkan dengan papanya dengan panggilan 'Tuan' .Cuma kadang gadis itu merasa agak jengkel dengan panggilan yang sangat jauh berbeda itu.
Memang sih umur Lili dan lala lumayan terpaut jauh dengan Leo tapi Leo sendiri juga jarak umur dengan usia mamanya juga gak dekat.
"Sampai kapan Kakak akan memanggil Mama dengan panggilan seperti itu. Bukannya seharusnya kakak mulai belajar memanggil mama dengan panggilan ibu?"
Leo menaikkan alisnya tak mengerti, "Kenapa harus seperti itu?"
"Bukannya kakak suatu hari akan menikahi Lala?"
Tak ada jawaban.
"Kakak gak kasian sama Lala?"
Hening.
Gemas, Lala berbalik lagi melihat Leo yang hanya diam menatap ponselnya, berjalan ke arahnya dengan membawa senapan udang pedas manis yang tadi di plating. Menaruhnya di meja lalu duduk di dekat Leo. Tapi gak terlalu dekat juga. Masih ada satu kursi yang memisahkan keduanya.
"Kakak serius mau cuekin Lala terus?"
Bungkam.
Menghela nafas besar Lili kembali bertanya,"Kakak benci sama Lala?"
"Aku gak membencinya." Datar dan tanpa perasaan.
"Lalu?"
"Terlalu beresiko."
"Apanya yang beresiko?" Kali ini Lili begitu gemas dengan jawaban Leo yang menurutnya aneh. "Kalau kalian saling suka ya tinggal jadian, pacaran, lalu nikah. Gampang kan?" Gadis itu tak habis pikir dari mana sebuah hubungan cinta bisa beresiko.
"Itu pemikiran bocah kecil yang tahunya hanya main terus, beda dengan pria yang sudah matang." Sebuah suara menyela di sela-sela perdebatan Lili dan Leo.
"Papa!" Terkejut dengan suara yang familiar tapi juga membuat Lili begitu bahagia dan rindu. Bergegas cewek itu langsung berdiri dengan berlari memeluk papanya sekuat tenaga. "Papa! Papa kapan datang?" pelukannya semakin erat bersamaan dengan air mata yang menetes.
"Dari tadi, sebenarnya mau mengejutkan kamu, tapi sepertinya kalian terlibat obrolan serius, jadi sementara Papa hanya ingin menyimak saja dan melihat tanggapan dari kalian masing-masing."
"Itu menguping namanya Papa!" rajuk si anak gadis. Lili melonggarkan pelukan, mendongak dan menatap Papanya. Sinar matanya begitu terlihat jelas kerinduannya.
Ariel mengusap air mata anak gadisnya. "Itu namanya memperhatikan dan menelaah dengan seksama, Tuan putri." Dalam mata pria yang sudah mulai masuk kepala lima itu juga terlihat sangat jelas sedang menahan rindu.
Lili masih merengut, mengerucutkan bibirnya, ngambek.
Ariel hanya tertawa.
"Selamat siang, Tuan!" sapa Leo beranjak dari kursi.
Masih dengan memeluk Lili, Ariel hanya mengangguk pada Leo tanpa tersenyum, bahkan tanpa menatap pria itu.
"Aku panggil Mama sama Lala dulu ya, Pa!"
Ariel hanya mengangguk.
Secepat kilat Lili langsung keluar ruangan meninggalkan kedua pria itu.
Gadis itu dengan langkah ringan langsung menerjang kamar Lala yang sudah hampir siap dengan setelan gaunnya.
Melihat saudara kembarnya masih bersolek di depan cermin, Lili malah bersidekap menyandar di pintu, "Lo mau makan siang apa mau godain cowok orang?" kepala sedari tadi terus menggeleng melihat dress mini dengan make up cetar Lala.
"Iri bilang bos!"
"Hueekkkk!"
"Satu lagi. Kak Leo bukan cowok orang tau! Dia itu masih single. S I N G L E. Single."
Memutar bola matanya, Lili malas menanggapi gadis yang lagi mabuk kepayang karena cinta. Lili melesat keluar sambil menutup pintu dengan sedikit membantingnya.
"Braaakk!"
"Dasar nenek lampiiiirr!!"
Bodo amat, Lili tetap melenggang pergi dengan hati riang berhasil membuat Lala emosi.
Kakinya kini melangkah mendekat ke kamar orang tuanya, membuka pintu tapi kamar itu kosong.
Menelengkan kepalanya, Lili berfikir kira-kira di mana Mamanya. Satu tempat terlintas diotak gadis itu. Langsung saja Lili menuju tempat yang biasa mamanya pakai untuk menghabiskan waktu saat senggang.
Keluar dari pintu belakang rumah, tampak jelas di depannya kini rumah dengan atap dan dinding dari kaca bening, yang membiarkan sinar matahari masuk dan menyinari setiap sudut ruangan.
Lili mulai melangkah masuk ke dalam rumah kaca dan tampaklah cahaya alami dari sinar matahari membuat warna warni kelopak bunga terlihat semakin hidup dan bercahaya.
Pot-pot gantung yang berisi fuchsia atau petunia dari langit-langit, menciptakan air terjun bunga berwarna merah muda, ungu dan putih.
Rak-rak kayu atau besi yang ditata di pinggiran, menampilkan deretan anggrek yang elegan serta, begonia dan pot-pot violet Afrika semakin memperindah pemandangan.
Lantai yang sebagian kecil ditata dengan bata paving serta kerikil, dan sebagian besar ditata sedemikian rupa dengan tanah gambut yang ditanami dengan hamparan bunga tulip, anyelir, dan mawar. Berbagai bunga tersebut membentuk permadani alam yang kaya akan warna.
Terdapat juga kolam ikan yang ditata seperti sungai kecil, yang alur airnya berbelok belok mengikuti lantai paving. Ikan koi yang begitu banyaknya berenang dengan riang mengikuti aliran sungai buatan itu.
Berjalan diantara bunga-bunga itu, Lili merasa seperti berada di taman surgawi. Apalagi ketika baru masuk tadi, indera penciumannya langsung disambut dengan aroma manis bunga yang begitu memikat.
Tak ingin terlena dengan keindahan taman bunga, Lili segera mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tampak ada satu tempat dengan peneduh diatasnya, tempat yang terlindung dari lembutnya sinar matahari, di tempat itu juga ada air terjun buatan yang mengaliri sungai kecil.
Melangkah pelan ke sana, Lili mendapati mamanya sedang yoga sendirian.
Suara gemericik air, aroma manis bunga, serta udara hangat tapi juga lembab. Lili tidaklah kaget jika ini adalah tempat favorit mamanya ketik sedang sendiri.
"Ma!"
Yani menghentikan gerakannya saat akan menekuk kaki, "Iya,sayang!"
"Makan yuk!"
Yani kembali meneruskan gerakan yoga yang sempat terhenti tadi. Duduk bersimpuh di atas tumit, membungkukkan badannya ke depan hingga d**a menyentuh paha dan kening menyentuh matras. Diluruskan nya kedua lengan kedepan membuat punggungnya terasa rileks. "Leo sudah datang?" tanyanya.
"Sudah. Papa juga sudah pulang."
Agak kaget, Yani langsung menegakkan kembali tubuhnya."Papamu sudah pulang?"
"Hm." Lili mengangguk.
Yani berpikir sejenak. "Oke, sebentar lagi Mama nyusul Sayang, Mama mandi dulu ya."
"Oke."Lili pun kembali meninggalkan Mamanya yang masih merenung.
Ariel pulang lebih awal tanpa memberi kabar dulu, dan bertepatan dengan Leo di sini. Apa ini? Jangan-jangan...