Ada apa?" Sepeninggal Lili memanggil Mama dan kembarannya, Ariel bersidekap menatap Leo. Cowok itu masih berdiri tenang. "Jika sampai kamu menyuruh orangmu untuk menjemputku di Rumah Sakit saat aku masih bekerja, ini jelas bukan hal yang sepele."
"Bisakah kita bicara di tempat yang lebih private?"
Ariel berdecak. Merasa jengkel sekaligus kagum pada ketenangan anak muda di depannya.
Belum sampai Dokter paruh baya itu menjawab, sebuah suara menginterupsi.
"Papa sudah pulang?" Seorang bocah laki-laki dengan seragam sekolah SMA masuk ke dapur. Membuat kedua pria yang serius seketika bungkam.
"Ya. Barusan." Ariel menjawab datar. Menatap anak cowoknya dengan kening sedikit berkerut. "Berantem lagi?" Tanyanya ketika melihat ada plester luka dikeningnya.
"Bukankah sudah biasa?" Yazid, cowok dengan wajah tampan tapi agak slengean itu berjalan menuju meja dapur dan langsung mencomot satu tempe goreng, memakannya.
Ariel, yang notabene sebagai Dokter, menghela nafas jengkel. "Kapan kamu mulai mau cuci tangan dulu sebelum makan."
Tak menjawab, Yazid hanya menunjukkan telapak tangannya yang bersih.
"Bersih nampak dengan mata telanjang. Memangnya kamu tahu, itu juga bersih dari kuman atau nggak."
"Bukankah Papa terlalu cerewet untuk ukuran pria?"
Ketika Ariel baru saja membuka mulut untuk memarahi anaknya lagi, Yazid menyela, "Jangan memarahiku sekarang. Ada Kak Leo."
"Memangnya kenapa?"
"Aku masih punya harga diri."
"Lihatlah anak bau kencur ini, kayak tahu aja apa itu harga diri."
"Bukankah Papa ada urusan yang penting dengan Kak Leo?" Yazid mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Merasa kebawelan Papanya pasti berujung omelan. "Papa dan Kak Leo kan rival, kalian gak suka satu sama lain. Jadi, jika Papa dan Kak Leo sampai berada dalam satu ruangan , hanya berdua saja, berarti , pasti ada sesuatu yang penting kan?"
Ariel berdecak, kali ini ditujukan kepada sang putra. "Pinter juga kamu." Dan ini bukanlah pujian. Kalimat ini lebih ke cemoohan papanya pada siasat anaknya agar lepas dari omelan.
"Ayo ke ruang kerjaku." Komando Pak Dokter tanpa menoleh.
Tanpa berbicara lagi , Ariel berbalik dan mulai berjalan. Di belakangnnya Leo mengikuti dalam diam.
Di sepanjang perjalanan, Leo yang sangat hapal dengan seluk beluk dalam rumah ini tersenyum membayangkan seluruh isinya. Di setiap sudutnya, di setiap ruangannya, dan di setiap hal kecil yang tertata rapi dalam detailnya.
Leo sangat suka dengan rumah yang di desain sesuai dengan kesukaan sang nyonya rumah.
Rumah kayu dua lantai dengan garis bersih dan atap pelana, Tidak ada ornamen, tidak ada lukisan, Tidak ada hiasan dinding karya seni manapun.
Hanya ada foto-foto penghuni rumah.
Dilantai bawah, di ruang tamu terpampang foto keluarga yang begitu besar, yang hampir memenuhi separuh tembok.
Sedangkan di ruang keluarga, ada beberapa foto-foto kelulusan ketiga anaknya dari TK, SD, SMP dan seterusnya.
Jika di lantai bawah foto-fotonya didominasi dengan momen-momen formal, maka selanjutnya, di bagian lain, dindingnya dipenuhi dengan foto-foto momen tentang perjalanan keluarga itu.
Menuju ke lantai dua, di sepanjang tangga ada juga foto-foto tentang masa kecil anak-anak Yani dan Ariel. Saat si kembar masih sangat kecil, saat Yazid masih bayi. Saat ketiganya pertama kali belajar renang, saat mereka bermain lumpur-lumpuran. Saat mereka berlibur di berbagai tempat dan negara, saat Lala dan Lili mulai masuk kuliah. Saat Yazid ikut taekwondo dan masih banyak lagi foto-foto kenangan yang mengabadikan tumbuh kembang keluarga tersebut.
Masuk ke lantai dua, ruangan banyak dipenuhi dengan kamar-kamar. Kamar utama tentu saja kamar kedua orang tua yang terletak paling ujung. Kamar yang langsung dihubungkan dengan ruang kerja Ariel
Sedang kan kamar anak-anak ditata berjejer di samping kamar utama. Dengan penataan seperti itu, membuat Yani ataupun Ariel lebih mudah untuk mengecek anak-anak mereka.
"Masuk!" Ariel membuka pintu ruang kerja dan langsung masuk lebih dulu.
Leo hanya mengekor di belakang dengan diam.
"Oke. Katakan sekarang! Ada apa?" Pria itu duduk di ujung meja kerjanya dengan menatap Leo tak sabar. Gestur posisi tubuhnya, yang tidak duduk di kursi kerja, menandakan gak ingin pembicaraan ini berlangsung lama.
Leo tak menjawab, hanya menyerahkan amplop berwarna coklat pada Ariel.
Pria itu menerimanya dan langsung membukanya begitu saja. Matanya sedikit melebar melihat apa yang terpampang.
"Ada yang mengikuti Lili?" Sedikit tak percaya dengan foto-foto yang dilihatnya.
Satu foto menggambarkan seorang pria misterius dengan wajah tertutup sedang memotret Lili secara diam-diam. Foto lainnya menunjukkan pria misterius itu berjalan mendekati Lili dengan membawa sebuah suntikan. Foto Lili ketika diselamtkan seorang pemuda, dan foto saat Lili naik taksi diantar pemuda penyelamatnya.
"Ini foto saat di bandara tadi?" Ariel masih tak begitu percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hm."
"Jadi selama ini kamu memata-matai Lili?" Mata sang Papa kini ganti menatap cowok dengan sikap tenang itu. Matanya memancarkan aura semakin tak suka.
"Atas perintah Kak Yani."
Semakin kagetlah Ariel. "Istriku?"
Leo hanya mengangguk.
"Kenapa? Ah bukan." Ariel menggeleng, seperti tersadar sesuatu. "Sejak kapan? Apa sejak Lili pernah menghilang dulu waktu SMA?"
Leo kembali mengangguk.
Ariel menghela napas panjang. "Bukankah kejadian waktu itu karena Lili hanya tersesat saja?"
"Sepertinya Kak Yani tidak berpikiran seperti itu."
Lagi, Ariel menghela napas panjang. Cuma kali ini terasa lebih berat. "Baiklah. Selama kamu tidak macam-macam dengan putriku,aku tidak akan menghajarmu karena mematai-matainya."
Leo tersenyum miring. "Sebenarnya foto-foto itu seharusnya aku serahkan pada Kak Yani. Bukan ke Anda. Jadi, bukankah Anda seharusnya berterima kasih padaku?"
Ariel kembali bersidekap. "Lalu, kenapa kamu serahkan padaku?"
"Karena sepertinya Anda harus tahu."
Ariel mendengus."Aku paling benci jika keputusanmu terlihat dewasa."
"Terima kasih. Saya anggap itu sebagai pujian."
Ariel berdiri, berjalan menuju pintu melewati Leo begitu saja.
Dan seperti tadi, Leo hanya mengikutinya di belakang.
Ketika Ariel sampai depan pintu, Pria itu berhenti dan berbalik, bertatap muka lagi dengan cowok yang tak disukainya. "Satu lagi. Berhenti memanggil istriku Kakak. Dia bukan kakakmu."
"Maaf, sudah terbiasa." Dengan enteng Leo hanya megendikkan bahunya.
"Jangan bilang kamu masih suka istriku?" Agak kesal, Ariel berbalik lagi, membuka pintu dan keluar dari ruang kerja.
"Anda kan sudah tahu kalau Kak yani adalah cinta pertamaku." Leo mengikuti di belakang.
Tanpa menoleh, Ariel menunjukkan kepalan tangannya ke belakang. "Diam kamu bocah. Berhentilah bilang cinta pada istri orang."
Leo hanya tersenyum.
Ariel mulai menuruni anak-anak tangga. "Cepatlah kamu menikah. Jangan jadi sainganku terus."
"Apa Anda siap jika saya panggil Papa mertua."
Seketika Ariel berhenti menuruni tangga. Berbalik lagi melihat cowok, yang menurutnya, makin kurang ajar itu. "Awas saja jika kamu berani mendekati putriku, Lala."
"Maaf, Tuan, bukankah malah sebaliknya?"
Kalah telak, Ariel berdecak kesal. Menyadari kalau putrinyalah yang justru tergila-gila pada cowo itu.
"Ahhh terserahlah." Ariel kembali menuruni anak tangga.
"Bukankah lebih baik saya saja yang masih mengejar Kak Yani, daripada Daffa?" Merasa lucu dengan sikap pria tua yang sangat mencintai istrinya itu, sampai takut kehilangan, Leo tiba-tiba ingin menggodanya.
"Kamu sama kakakmu, Daffa, aku harap kalian tidak ada dalam kehidupan keluargaku."
Tak kuat mendengar kekesalan sang dokter, Leo tertawa.
Tanpa sepengetahuan Leo, Ariel tersenyum tipis mendengar cowok yang sangat jarang tertawa itu kelepasan.
"Kalian sudah datang?" Sebuah suara lembut dan begitu menenangkan, menyambut dua pria dengan usia beda jauh.
"Ya, Sayang." Ariel langsung memeluk dan mengecup kening istrinya.
Sedangkan Leo hanya tersenyum dan langsung duduk di salah satu kursi.
Tentu saja, Lala yang sudah ada di dapur juga, langsung menghambur mendekat ke Leo dan mengajaknya mengobrol.
Lili yang duduk di sebelah Lala dan terlihat seperti menggangu upaya kembarannya menggoda Leo.
Yazid terus menggerutu dengan tingkah kedua kakaknya.
Sedangkan Yani dan Ariel hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak.
Mereka begitu tampak bahagia. Makan bersama, mengobrol seru, saling mengolok, saling menggoda.
Tapi, apakah kebahagiaan itu akan bertahan selamanya?
Atau malahan akan mulai goyah dengan badai yang sebentar lagi menerpa?
Tampak siluet seseorang dalam kegelapan sedang mengamati keluarga yang harmonis itu. Pria dengan rokok di ujung jarinya. Tenang dan sangat santai dalam mengamati.
Tak lama, rokok yang sedari tadi dihisapnya, dibuang begitu saja padahal masih setengah. Diinjak dengan penuh tekanan dan emosi. Seakan pria itu bukan sedang menginjak rokok, melainkan seperti menginjak seseorang yang begitu dia benci.
"Tenang saja!" Gumam pria misterius. "Sebentar lagi kamu akan merasakan apa yang dulu aku rasakan. Tunggu saja!"
Setelah itu dia pergi begitu saja setelah meludah penuh kebencian.
Siapa dia?
Siapa pria penuh amarah itu?