"Apa ada yang harus aku ketahui?" Yani menghampiri Leo yang akan naik mobil untuk pulang. "Kukira kamu datang ke sini untuk menemuiku. Apa aku salah?"
Leo megurungkan tangannya yang hampir membuka pintu mobil. Berbalik dan tersenyum menatap wanita yang pernah jadi cinta pertamanya semasa kecil. "Aku datang untuk makan, Kakak." Wajah tampan itu tersenyum dengan enteng. "Tapi aku sedikit kecewa karena ternyata aku makan makanan masakan Lili, bukan masakan Kakak." Sekarang wajah tersenyum tadi berubah agak cemberut.
"Gak usah mengelak. Apa yang kamu bicarakan dengan Ariel di ruang kerja? Jangan bilang, laporan yang seharusnya aku terima malah kamu berikan pada suamiku?"
Leo tertawa, "Kakak gak usah terlalu khawatir, Lili baik-baik saja. Percayalah! Aku janji, selama aku mengawasinya, dia pasti baik-baik saja."
"Aku percaya janjimu, tapi sebenarnya, aku kurang percaya dengan laporanmu selama ini." Yani bersikeras.
Leo kembali tersenyum tenang. Memang selama ini Leo aktif memberikan laporan beserta foto-foto Lili sejak Yani meminta bantuannya untuk melinndungi Lilli. Cuma laporanny agak sepenuhnya kebenaran. Selama kondisi Lili aman dan terkendali, Leo memberikan laporan sesuai lapangan. Tapi saat keadaan Lilli sedang tak baik-baik saja, seperti saat gadis itu kesulitan ketika kuliah di Swiss, Leo tidak pernah melaporkan.
Selama ini, kondisi 'tak baik-baik' nya Lili hanya sebatas digoda anak cowok, pernah bertemu dengan preman, atau ketika dia di diskotik dengan teman-temannya untuk bermain. Semua , kondisi yang 'kurang baik' itu, hanyalah sebatas wajar. Makanya dia tidak pernah mempermasalahkannya. Tapi kemarin, saat di bandara, ada pria misterius yang mengawasi gerak gerik Lili dengan sangat ketat.
Awalnya, ketika anak buah Leo yang disuruhnya untuk mengawasi dan melindungi Lili turun dari pesawat bersamaan, detektif swasta itu melihat sesuatu yang ganjal saat menunggu Lili yang masih di dalam kamar mandi setelah mengalami jet lag.
Dia melihat seorang pria misterius mengawasi pintu kamar mandi cewek di bandara, seperti dirinya. Cuma bedanya pria itu mengawasi dengan kamera di tangan .
Insting detektif curiganya, meningkat pesat. Walau belum tentu yang diawasi adalah Lili, Detektif itu semakin waspada.
Benar juga, ketika Lili keluar dari kamar mandi, pria misterius itu mengikutinya dengan perlahan dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Tak buang waktu, sang Detektif memencet ponselnya cepat, menempelkan ke pipi. "Kirim bantuan, target dalam situasi bahaya tingkat dua."
Setelah memberi komando, Si Detektif mengambil kacamata dalam saku jas, memakainya. Membuka jas, dan langsung membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah terdekat.
Didalam jas tadi, berangkap kaos polos. Kaos yang sebelumnya dimasukkan ke dalam celana loose pants, dikeluarkan, hingga menampilkan looks yang yang lebih santai dalam gayanya. Dalam perjalanan mengikuti pria misterius yang masih saja mengamati Lili, dia melihat topi yang tergeletak begitu saja di kursi bandara, di dekat topi ada cowok yang sibuk bermain hp membelakangi topi.
Dengan gerakan cepat dan lincah, si detektif mengambil topi begitu saja dan memakainya. Gerakannya sangat halus sampai si empunya topi tidak sadar bahwa milliknya hilang.
Di dekat pintu keluar bandara, Lili berhenti, dengan sedikit kesusahan mengambil ponsel dalam saku.
"Baru bangun kamu?" suara gadis itu menggelegar marah menelepon.
.....
"Enak ya Lo ngorok sedangkan gua nungguin Lo ampe lumutan di sini."
.....
"Gak, tahun depan." Wajah cantiknya terlihat semakin kesal.
.....
"Kalau bukan saudara, gua bunuh juga Lo."
Setelah bercakap beberapa menit setelahnya, gadis itu kembali memasukkan ponsel ke dalam saku dan terlihat seperti mencari tempat duduk.
Masih dengan mata yang tak lepas dari target serta pengikutnya, Si detektif terus mengawsi dengan sangat teliti. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling dengan tingkah seperti sedang mencari penjemput.
"Satu, dua , tiga, empat." gumamnya berbisik.
Si detektif agak kaget dan sedikit takut karena sadar, ternyata ini bukan bahaya level dua, ini bahaya level satu. Dugaan target dalam posisi resiko penculikaan.
Ekor mata kanannya menangkap gerakan dua pria yang mencurigakan semakin mendekat. Sedangkan dua yang lainnya keluar dari gedung bandara. Kecurigaan detektif, dua yang keluar itu, pastinya menyiapkan akomodasi untuk kabur begitu rencana mereka berhasil.
Sedangkan satu pria misterus yang sejak tadi dalam pengawasan, mulai berjalan mendekat dengan tempo yang lebih cepat. Bersamaan dengan kecepatan jalannya, tangan pria itu juga merogoh sesuatu dalam sakunya.
Bius? Batin detektif kalut. Sial!
Si detektif juga berjalan semakin cepat, berusaha menghalangi penculikan yang akan terjadi di depannya.
Tapi ketika jarak antara target dan musuh tinggal dua atau tiga langkah saja, seseorang yang lain menarik target, memeluknya hingga si pria jahat mengurungkan niat. Pria itu tetap berjalan tapi melewati Lili yang sedang dipeluk seorang cowok lain. tangan yang hampir mengeluarkan sesuatu dari saku, diurungkan. Dan hanya melewati begitu saja.
Si detektif mulai memelankan langkahkanya, walau matanya tetap fokus mengamati.
"Che-Chef Aditya?" Pekik gadis itu begitu senang melihat siapa yang menarik dan memeluknya.
Bahaya nol. detektif menilai kadar bahaya cowok baru itu.
"Elang di posisi." suara masuk ke alat di telinga si detektif.
"Harimau di posisi."
"Ular di posisi."
"Singa di posisi."
Tangan kanan detektif terangkat, memencet tombol di alat yang terpasang di telinganya. "Singa. Harimau. Awasi target!
Elang. Awasi setiap mobil yang keluar dari bandara!
Ular! Cari, temukan dan tangkap dua pria. Satu jaket denim, syal cream dileher menutupi sebagian besar wajah dan jas abu dengan bekas luka sayatan melebar di tangan kiri."
Merasa Lili pasti akan aman di dekat cowok itu, serta rekannya sudah datang untuk ganti mengawasi, Detektif kembali mencari pria misterius dengan matanya.
Ketemu.
Kakinya melangkah dengan cepat mengejar si pria misterius, berusaha menangkapnya. Tapi terlambat.
Sebuah mobil menjemput si pria ketika baru saja keluar dari gedung bandara.
"B 1278 XXX" Suara Elang kembali masuk ke telinga Detektif.
Sang Detektif menatap puncak gedung di dekat bandara. Terlihat seseorang sedang mengawasi dengan teropong di tangan. "Lacak!" Titah sang detektif.
"Baik."
"Jaket denim tertangkap." Suara Ular membuat air muka detektif yang tadinya kesal berubah lega.
"Selain Harimau, semua kembali ke markas!"
"Baik." Elang, ular, singa menjawab bersamaan.
Kembali pada Leo dan Yani.
Itulah kenapa Leo tidak menceritakan bahaya yang hampir di alami Lili dan malah melaporkannya pada Ariel. Karena jika Yani mengetahuinya, bisa dipastikan wanita itu pasti akan lebih nekat berbuat sesuatu umtuk melindungi putrinya. Bisa saja Yani nekat untuk meminta bantuan ayahnya juga. Dan Leo gak mau itu.
Tapi, jika Ariel yang tahu, Selaku papanya Lili, dia pasti berusaha melindungi putrinya tapi dengan cara yang lebih realistis dan pastinya tidak akan meminta bantuan pada ayahnya, atau kakaknya, Daffa. Itulah siasat Leo.
Leo kembali tersenyum tenang. "Kakak meragukanku?"
Yani tak menjawab, hanya menatap Leo dengan serius. Wanita itu sangat percaya, ada yang disembunyikan cowok itu.
Sebenarnya bisa saja Yani meminta bantuan Daffa, kakak Leo. Toh, Daffa pasti tidak akan menolak permintaannya.
Tapi Yani juga ragu dengan Daffa, karena sifat kakak beradik itu tidaklah berbeda. Jika ada sesuatu yang kiranya berbahaya, Daffa pun juga tidak akan memberitahunya seperti Leo saat ini. Makanya dia tidak meminta bantuan Daffa. Pikiran Yani serasa mau meledak mengkhawatirkan sang putri.
Leo sangat paham dengan raut wajah Yani saat ini. Terpancar jelas kekhawatiran wanita itu.
Diambilnya tangan Yani, menggenggamnya, mengarahkan ke dekat bibir dan mencium punggung tangan wanita bersuami itu."Kakak, tenanglah! Jangan khawatir. Bagiku Lili sudah seperti adikku sendiri. Dan aku tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi padanya. Percayalah padaku!" matanya menatap Yani lembut. "Walaupun sebenarnya aku lebih suka menganggapnya anak, tapi pasti kakak marah." akhirnya keluarlah godaan si brondong.
Yani tertawa. Wajah yang menekuk takut tadi itu kini sudah hilang.
"MAMA!"
Kaget tapi juga sangat paham dengan teriakan cemburu ini, Yani langsung menarik tangannya dari genggaman Leo.
Lala, gadis yang berteriak, berjalan dengan langkah yang dihentak-hentakkan, merajuk. Gadis itu selalu kesal setiap cowok pujaannya bersama dengan mamanya.
"Kak Leo menggoda Mama lagi?" Tuduhnya ngambek.
"Seperti yang kamu lihat." Dan Leo pun tak mau repot-repot menyembunyikan.
Ikut kesal, Yani menepuk bahu Leo keras. Dan sedetik kemudian wanita itu mengelus punggung putrinya menenangkan. "Bukan begitu, Sayang. Leo hanya bercanda."
"Tapi tadi Lala lihat, dia," menuding Leo," mencium tangan Mama."
"Itu hanya salam pamit aja, Sayang. Seperti ketika kamu salaman cium tangan Mama, pamitan sama Mama saat mau berangkat pergi."
"Gak tuh." Elak Leo.
"Mamaaaa ..."
Ariel hanya menatap tingkah polah ketiganya dari balkon kamar. Tangannya dari tadi menempelkan hp dipipi. Seperti sedang mendengarkan sesuatu.
"Oke kerjakan sesuai rencana." Hanya itu yang dokter itu ucapkan, setelah itu menjauhkan hp dari wajah. Matanya tak lepas dari Leo dan segala gerak geriknya.
"Jika kamu bukan anak dari orang itu, mungkin aku gak akan menghalangi putriku menyukaimu." gumamnya sebelum masuk ke dalam kamar.
Sedangkan di bawah, di depan rumah, tampak ketiganya masih terlihat becanda. Tapi disela-sela candaan itu, Leo sempat tersenyum mencurigakan sambil melirik arah balkon yang sudah kosong. Tempat Ariel mengawasinya.