Mesin mobil hyundai IONIQ 6 itu berdengung halus menyusuri ramainya jalan kota Jakarta. Sedan listrik warna hitam bergaya coupe, atau sering diberi julukan Electrified Streamliner, memang mobil yang lagi banyak dicari saat ini. Siluet bodi yang aerodinamis dan halus, memungkinkannya membelah angin dengan koefisien gesek sangat rendah di angka 0,21, membuat penumpangnya serasa nyaman ketika berkendara.
Belum lagi dengan desain interiornya yang mengusung konsep kabin cocoon. Interior yang menonjolkan gaya lounge yang luas dan futuristis. Dilengkapi sepasang layar instrumen dan head unit berukuran 12,3 inci yang menyatu di dasbor. Mobil inididukung konsol tengah Universal Island yang bisa digeser hingga 140mm.
Dua kata untuk mobil ini. Mewah dan berkelas.
Dan Leo adalah salah satu pria yang sangat suka dengan kemewahan mobil seperti itu.
Di balik kemudi, Leo mengemudi dengan kedua tangan mantap menggenggam setir. Wajahnya datar seperti biasa. Tatapannya lurus ke depan, seolah tidak ada apa pun di dunia yang mampu mengalihkan perhatiannya.
Sementara itu, di kursi penumpang. Lala menopang dagu dengan sebelah tangan. Matanya yang bulat terus memperhatikan Leo. Bibirnya juga tak bisa berhenti menyunggingkan senyum senangnya.
"Hmm..." Leo melirik sekilas. "Kenapa?"
"Nggak."
"Kalau nggak, berhenti menatapku!"
Lala malah tersenyum jahil. "Aku cuma lagi mikir. Bagaimana caranya Tuhan bisa menciptakan pria yang sangat tampang ini."
Gak ada tanggapan.
"Apakah Kakak terbuat dari bahan yang sama seperti para pria pada umumnya? Atau Kakak terbuat dari bahan spesial?"
"Sepertinya, setiap hari pikiranmu bukannya mulai normal tapi malah semakin menjadi-jadi." Leo yang sudah biasa menghadapi ke-absurd-an Lala hanya menggeleng pasrah.
"Tapi Kak Leo suka kan?"
Leo mendengus pelan. "Nggak penting."
"Ih... masa sih? Tapi aku suka Kakak lho."
Leo tidak menjawab.
Lala menggeser tubuhnya sedikit mendekat. "Kakak tahu nggak?"
"Apa lagi?" kesabaran Leo mulai turun sepuluh persen. Sedikit menyesal tadi dia menawarkan tumpangan untuk Lala yang akan berangkat kerja, setelah makan siang di rumahnya.
"Kalau aku jadi pacar Kakak, tiap hari aku gak bakal lepas dari menatap wajah tampan itu."
"Sudah biasa."
"Tapi ini berbeda. Jika aku jadi pacar Kak Leo, tatapanku pasti akan aku selingi dengan menyentuh wajah Kakak. Mengelus pipi, meraba janggut, mengusap bibir, menyentuh mata, menjamah leher, dan ...." Gemas, Lala membayangkan dengan menyentuh bagian bagian wajahnya sendiri, tersenyum kegirangan.
Tanpa Lala sadari, wajah Leo ikut memanas.
Memang, walau mereka kenal sejak dulu, dan Lala begitu tergila-gila padanya, tapi Leo sangat amat jarang bersentuhan fisik. Kalau seumpama sentuhan fisikpun, selalu Lala yang menyentuh, sedangkan Leo hanya berdiam diri saja.
"Lalu, kalau aku nggak mau?"
"Aku cubit pipi Kakak"
Leo akhirnya menoleh sebentar. "Berisik." Namun, sudut bibirnya bergerak sangat tipis sebelum kembali menatap jalan. Dari dulu, walau Leo selalu mengeluh dengan kecerewetan Lala, tapi diam-diam, pria itu juga menyukai kebisingannya. Berisik yang dia suka.
Lala menangkap senyum kilat Leo. "Heh! Tadi kakak senyum?"
"Nggak."
"Aku lihat."
"Salah lihat."
"Cie... malu." Lala bener-bener kesenengan
Leo menghela napas panjang. "Fokus duduk yang benar."
"Bosan."
"Tidur!"
"Nggak mau." Jika ada manusia terngeyel di dunia, maka Lala adalah salah satunya. "Aku maunya ganggu Kakak."
"Bukannya itu memang hobimu?"
Lala terkikik. "Berarti Kakak hafal aku."
"Kita kenal gak setahun dua tahun. Aku kenal kamu sejak kamu masih kecil." Leo mengingatkan.
"Sudah selama itu, tapi kapan Kakak akan jatuh cinta padaku?"
Tak ada jawaban.
Beberapa detik berlalu hanya diisi suara mesin mobil.
Leo tahu, Lala pasti kecewa dengan sikapnya. Tapi pria itu hanya diam.
"Kak!" Lala kembali membuka suara.
"Hm."
"Kalau aku tiba-tiba hilang, Kakak bakal nyariin aku nggak?"
"Nggak."
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Lala langsung cemberut. Kecewa untuk kedua kalinya. "Oh ya? Kejam."
Leo tetap menatap jalan.
Beberapa saat kemudian ia menambahkan dengan suara pelan. "Karena sebelum hilang, pasti sudah kutarik pulang." Entah kenapa cowok itu gak tega melihat Lala kembali kecewa.
Lala membeku. Matanya membesar. Cewek itu sangat hapal, pria disampingnya sangat kaku ketika digoda. Kata-katanya lebih untuk sering mendorongnya menjauh, tapi entah kenapa tiba-yiba isa jawab romatis. Tentu saja gadis itu langsung melambung tinggi. "Kakak mulai sayang aku?"
"Gak." Leo sedikit kelabakan dengan pertanyaan dadakan Lala.
"Terus itu ...?"
"Nggak."
"Itu namanya sayang." Lala nyengir.
Leo langsung menggeleng. "Kebanyakan baca novel."
Lala menutup mulut sambil tertawa kecil. "Padahal Kakak seperhatian itu, kenapa harus jaim sih?"."
"Nggak."
"Kakak selalu aja bilang nggak."
"Soalnya memang nggak."
Mobil berhenti di lampu merah.
Tanpa berkata apa-apa, Leo mengambil botol air mineral di tempat penyimpanan tengah lalu menyodorkannya ke arah Lala. "Minum!"
Lala berkedip. "Aku nggak minta."
"Kamu sudah terlalu banyak bicara. Anggap saja ini sebagai pelumas."
Lala menerima botol itu sambil tersenyum lebar. "Katanya nggak perhatian?"
Leo langsung menoleh ke depan lagi.
"Biar nggak cerewet."
"Hehehe..."
Lala sengaja meminum air itu perlahan sambil terus menatap Leo.
"Kakak lucu ya." Lala terkikik. "Selalu saja bilang nggak nggak nggak. Kadang omongannya malah nyakitin. Tapi perhatiannya juga gak kalah besar." Gadis itu tertawa kecil. "Kakak tsundere ya?"
"Apa itu?"
"Orang yang mulutnya jutek, tapi hatinya lembut."
Leo mendesah. "Kebanyakan baca komik."
"Kak Leo kan memang seperti itu. Selalu dan selalu saja menolakku. Tapi dibalik itu, juga sangat perhatian padaku. Gak kebanyakan ngomong tapi selalu berbuat sesuatu untukku. Seperti waktu pas ulang tahunku kemrin, Kakak ..." Ucapan Lala terputus.
Tiba-tiba Leo sudah menangkap belakang kepala Lala. Memaksa wajah Lala mendekat padanya dan menatapnya dalam. "Diam atau aku cium?"
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
Empat detik
Lima detik
"Cium."
Jawaban Lala membuat mata Leo melebar, dan langsung melepaskan kepala gadis itu. Gugup, Leo langsung menatap ke depan lagi.
Sedangkan Lala memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan rona wajahnya yang sangat merah. Selain itu, juga menyembunyikan senyumnya tak kunjung hilang.
Setelah itu, keduanya sama-sama terdiam. hingga sampai ke tempat tujuan Tak ada lagi yang berbicara. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bye, Kak!" Lala pamit dan pergi begitu saja keluar dari mobil. Dia gak sanggup menatap wajah Leo lagi setelah menantang cium. Baginya, itu adalah godaan terparahnya.
Leo pun juga tak menahan Lala, setelah melihat Lala masuk ke gedung tempatnya bekerja, cowok itu langsung melesat pergi.
Langkah Lala begitu riang, senyumnya tak lepas dari wajahnya, tingkahnya benar-benar seperti anak remaja yang barus kasmaran.
Bruk!
Karena gak fokus berjalan, gadis itu malah menabrak seseorang dan membuat beberapa barangnya jatuh berceceran di lantai.
"Ah, maaf!" Lala segera memunguti barang-barangnya. Salah juga tadi dia lupa gak menutup resleting tas hingaa barangnya bisa berjatuhan.
Seseorang yang tadi ditabraknya menolong emngambil barang-barang.
"Terima kasih!" Lala menatap seseorang yang ditabraknya sekaligus yang menolongnya. Seorang pria. "Maaf sudah mengganggu perjalanan, Anda. Silahkan dilanjut!" Tanpa memperdulikan cowok itu lagi, Lala langsung melesat pergi.
Tapi cowok yang ditabrak tadi malah bengong menatap punggung Lala. "Bukankah dia cewek yang di bandara?" Tanyanya pada dirinya sendiri. "Kenapa sikapnya bisa berubah dratis?" Aditya, cowok yang ditabrak Lala heran dengan perubahan sikap gadis itu, tanpa tahu kalau itu adalah kembaran gadis yang merayunya saat di bandara.
Dan dari titik inilah, banyak kesalahpahaman, cemburu, rasa suka yang mulai tumbuh dan persaingan akan dimulai.