Kepalaku terasa nyeri, berdenyut begitu kuat. Jantungku berdebar dan rasanya bisa berhenti berdetak kapan saja. Butuh perjuangan keras untuk membuka mata, membiarkan cahaya masuk. Oh, tapi rasanya ini lebih baik. Kurasa mimpiku begitu buruk sampai-sampai efeknya sebegini dahsyatnya begitu bangun.
“Ah, akhirnya kau sadar. Syukurlah.”
Seorang wanita tua dengan rambut putih—ah, bukan, itu warna perak—berdiri dari kursi yang ada di dekat tempatku tidur kemudian tersenyum ramah. Dia mengambil mangkuk kecil di meja yang berisikan air, membawanya dan menyodorkannya ke arahku.
“Minumlah dulu. Ini akan membantu penyembuhan kakimu yang lecet.”
Banyak pertanyaan yang membuncah di kepalaku, ingin segera meletus melalui bibir. Namun aku tidak melakukannya. Pikiranku menuntunku untuk tidak banyak bicara. Memperhatikan sekitar akan lebih berguna ketimbang melakukan hal gegabah yang tidak terencana.
Kerajaan Bulan selalu mengajarkan penduduknya untuk bertindak berdasarkan rencana. Kira-kira yang terjadi sekarang termasuk rencana Ayah dan Ibu bukan, ya?
Agak sulit sekarang untuk membayangkan Ayah sebagai penduduk Kerajaan Bulan. Sangat. Segala hal yang terpapar dalam ingatanku justru mengenyahkan hal-hal yang sebelumnya kukira sebagai ciri penduduk Kerajaan Bulan bagi Ayah.
Ayah itu penduduk Kerajaan Matahari. Setidaknya begitu hipotesis yang bisa kuambil.
Aku memandangi wanita tua yang membantuku untuk minum. Dia terlihat baik, terlihat tua dengan kerutan di wajah yang alami, dan mata biru gelapnya mirip terasa familier. Mata Ayah. Mataku.
“Kau aman kok. Tenang saja,” dia bersuara dengan lembut, menjawab pertanyaan yang belum kutanyakan, “kemarin sore seorang warga mengantarmu dan bilang dia menemukanmu pingsan di seberang Sungai Gerhana.”
Kuharap laki-laki itu juga cerita alasan kenapa aku pingsan. Meski tidak sepenuhnya, tapi api yang dia hasilkan jelas menjadi salah satu faktornya. Siapa namanya, ya? Victor?
“Aku Eleanor Oriane. Tapi kurasa kau bisa memanggilku ‘Nenek’.” Kalimat itu menjawab pertanyaanku yang lain. Wah. Aku curiga jangan-jangan dia bisa baca pikiran. Kalau begitu aku tidak bisa merasa begitu aman. “Aku yakin namamu Alrisha. Theo berjanji akan menamai anaknya begitu.”
Aku tahu panggilan itu. nama panggilan Ayah. Ketika Eleanor—oke, Nenek—menyebutkan namanya, aku bisa merasakan panggilan itu tertuju pada anak laki-laki yang jahil yang suka berpetualang. Dan Nenek merindukannya. Aku pun begitu. Aku sangat merindukannya. Aku ingin melihat Ayah sekarang.
“Kau pasti lapar. Tunggu di sini, makanan akan datang sebentar lagi,” kata Nenek. Tangannya bergerak untuk menyentuh tanganku, terasa lembut dan hangat.
Sebelum Nenek keluar dari kamar, aku akhirnya mengeluarkan suara. “Nek.”
Nenek langsung berbalik. “Ya?”
“Apa ini di Kerajaan Matahari?” Suaraku nampaknya bergetar, namun Nenek kelihatannya tidak begitu menghiraukannya, masih tersenyum.
Tidak ada jawaban ya atau tidak yang keluar dari mulutnya. Tapi senyumnya melebar, seakan mencoba meyakinkanku akan sesuatu yang dia ucapkan.
“Nenek janji, kau akan aman, Alrisha. Sekarang ini rumahmu.” Kemudian Nenek pergi, menutup pintu kamar dan meninggalkanku sendiri.
Ini memang rumah. Ini rumah Nenek. Nenekku. Seorang penduduk Kerajaan Matahari. Meski berbahaya, aku rasa aku bisa aman. Yang Nenek ucapkan memperoleh kepercayaanku, walaupun aku tidak bisa percaya sepenuhnya.
Karena ada satu hal yang salah. Nenek bilang ini rumah. Tapi bagiku, rumahku adalah Ayah dan Ibu. Dan mereka tidak ada di sini.
Hanya ada aku, dan banyak hal yang tidak kuketahui.
*
Membiasakan diri dengan kediaman Oriane jelas bukan hal yang mudah. Mulai dari makanan, pakaian, hingga keadaan. Semuanya benar-benar berbeda.
Aku butuh waktu hampir satu jam setelah makan untuk bersiap-siap. Di Kerajaan Bulan, bajunya lebih lebar, dan rasanya sejuk meskipun tebal. Tapi di sini, pakaiannya banyak yang digunakan dengan cara diikat. Aku sempat meminta pakaian biasa ketika salah satu pelayan—Nenek bilang begitu—membawakanku gaun berwarna kelabu kebiruan. Namun pelayannya bilang begitulah pakaian biasa. Yah, jika dilihat dari pelayannya, pakaiannya terbilang keren sih.
Aku harus terbiasa memakai gaun dengan ikatan yang cukup kuat di pinggang, dengan pita yang membuatku merasa ada sesuatu yang menempel di punggung. Entah ini hanya kediaman Klan Oriane atau klan yang lain juga begitu, tapi rumah ini luas. Bisa 5 kali lebih besar dibanding rumahku di Kerajaan Bulan.
Kerajaan Matahari dipenuhi dengan penduduk kaya raya atau bagaimana, sih?
Butuh beberapa menit, mungkin hampir satu jam, untuk menyiapkan diri dan keluar dengan pakaian yang... oke, kurang nyaman untukku. Dan setelahnya Nenek membantuku untuk berkeliling di area rumah, yang setelah berkeliling aku menyimpulkan bahwa ini bukan rumah. Tapi kastil.
Hanya ada Nenek dan pelayan hari ini, karena katanya cucu-cucunya dan anaknya yang lain tengah bertugas sejak dua hari yang lalu. Dan sebenarnya aku bersyukur akan hal itu, karena aku tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan banyak orang. Aku belum pernah bertemu dengan keluarga Ayah sebelumnya.
Ayah bilang, keluarganya jauh sekali. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa “jauh” yang dia maksud itu beda kerajaan. Dan itu jelas melanggar hukum.
Jika Ayah berasal dari Kerajaan Matahari, lalu bagaimana dia bisa bertemu Ibu, menikah, kemudian berkeluarga dan... punya aku?
“Coba ikut Nenek,” kata Nenek tiba-tiba, membuatku menoleh ke arahnya. Dia berjalan lebih dulu dan aku hanya bisa mengekori dari belakang. Nenek berjalan lurus, masuk ke ruangan besar yang sebelumnya dia sebut sebagai perpustakaan pribadi keluarga.
Kami hanya masuk sekilas, tapi aku bisa menangkap ada satu pintu yang tertutup, menyamar seolah itu hanyalah dinding yang diukir. Tapi aku punya pintu yang begitu juga di rumah. Dan Ayah yang membuatnya.
Nenek mendorong pintu itu, dengan mudahnya terbuka. Tanpa perlu disuruh, aku sudah mengikuti Nenek dan masuk ke dalam. Hanya dalam beberapa detik aku sudah takjub. Ini jelas ruang rahasia. Ada sofa, piano, dan meja kerja. Beberapa foto raksasa dalam pigura kayu terpajang rapi sepanjang dinding. Piagam-piagam berderet di meja, dan ada satu tongkat emas dengan tinggi setengah dari badanku terkurung dalam kotak kaca transparan yang begitu bersih.
“Semua ini milik ayahmu, Risha.” Nenek berjalan ke arah salah satu foto besar dan memandanginya dengan senyum penuh kebanggaan. Bahkan tanpa perlu mendekat, aku tahu foto siapa yang dia pandangi. Foto Ayah. Wajahnya benar-benar Ayah, meski aku harus mengabaikan jubah berwarna merah yang Ayah kenakan untuk bisa benar-benar mengenalinya.
Ayah kelihatan gagah. Ayah kelihatan bukan Ayah. Ini bukan Ayah yang kukenal, tapi Panglima Theodore Oriane, sosok yang tidak pernah aku lihat, namun jelas aku ketahui. Ini Ayah yang sebenarnya. Ini Ayah yang dulu.
“Dia meninggalkan semua ini dan memilih untuk menyamar demi ibumu,” kata Nenek. Ada nada kecewa yang cukup kentara dari suaranya, membuat perhatianku kini tertuju pada Nenek, namun aku tidak berpindah tempat.
“Kenapa tidak larang Ayah?” tanyaku pelan, takut jika pertanyaan itu terlalu sensitif. Aku sedang di tanah orang, dan bersikap baik jelas sebuah keharusan jika tidak ingin mati.
Kukira Nenek akan marah, tapi tidak. Dia justru tersenyum lembut. “Karena cinta.”
Jawaban itu singkat, dan rasanya aku tidak dapat menerimanya. Cinta. Suka. Hati. Perasaan. Itu sesuatu yang aku ketahui, tapi tidak bisa aku terima. Jika ditilik dari gelar Ayah yang seorang panglima, dia tidak seharusnya meninggalkan itu dan melakukan hal beresiko demi cinta.
Semua orang pun tahu Kerajaan Matahari dan Kerajaan Bulan seharusnya tidak terhubung pada apapun. dan sebuah hubungan jelas hal yang amat terlarang. Tapi Ayah dan Ibu melanggarnya, dan itu terbukti dengan kehadiranku.
Aku seharusnya tidak ada.
“Baru kali pertama Theodore punya niat sebesar itu sampai rela melepas semuanya,” ujar Nenek, dia memandangiku dengan sorot mata yang seolah berkata aku-tahu-kau-penasaran-Alrisha. “Dia anakku, dan aku tahu dilarang atau tidak pun, dia tetap akan begitu.”
Kali ini aku bukan bicara pada Nenek. Bukan pada wanita tua, tetapi pada seorang ibu yang berusaha untuk menceritakan anaknya.
“Lagi pula, aku bersyukur. Theodore dan Clarice jelas diberkati dengan adanya dirimu.” Nenek kemudian melangkah mendekat ke arahku, dan tangannya bergerak untuk mengelus pundakku. “Ayahmu itu orang yang kuat. Dia mendapat gelar panglima bukan tanpa alasan.”
Aku juga ingin berpikir begitu. Tapi sulit rasanya untuk mempercayainya, karena aku belum pernah melihat Ayah yang tangguh seperti di foto. Aku tidak pernah melihat Ayah yang merupakan penduduk Kerajaan Matahari, seorang panglima yang berani melepas semuanya demi sebuah cinta. Yang aku hanya Ayah yang lucu, Ayah yang terkadang menyebalkan, dan Ayah yang hidupnya misterius.
“Untuk saat ini, kau harus menjadi seperti penduduk Kerajaan Matahari. Kerajaan Bulan pasti memburumu.” Nenek menepuk pundakku untuk yang terakhir kalinya. “Nenek akan menjagamu, tapi kau harus bekerjasama, oke?”
Aku tahu tidak ada pilihan lain selain mengiakan, tapi aku tidak ingin menjawab lebih dulu. “Aku harus apa, Nek?”
“Belajar menjadi penduduk Kerajaan Matahari,” balas Nenek. Aku sudah memperkirakan aku akan diberikan buku bertumpuk, karena mungkin Nenek tahu penduduk Kerajaan Bulan terbiasa dengan buku. Tapi, nyatanya aku salah.
“Kau akan belajar langsung, Alrisha. Persiapkan dirimu.”
*
Aku jelas sudah kelimpungan dengan semua hal-hal baru dari Kerajaan Matahari. Batinku menjerit, tapi mulutku tidak sepakat dengan hal itu. Jadi aku hanya bisa diam dan mengikuti arahan. Yang tidak kusangka, arahan Nenek justru membawaku ke tempat yang jelas paling berbahaya.
Kerajaan Matahari. Tidak, ini benar-benar kerajaan-nya. Nenek bilang Klan Oriane sudah menjadi pengajar dan pelatih, dan beberapa saudaraku ada di sini. Saudara yang sama sekali tidak kukenal, tentu saja.
Hampir satu jam aku hanya bisa mengikuti Nenek, sebisa mungkin tidak menghiraukan tatapan beberapa orang yang ada di dalam wilayah kerajaan. Yang aku sadari, ada beberapa perbedaan antara aku dan mereka. Yang paling mencolok adalah rambut. Meski di Kerajaan Bulan aku termasuk gadis dengan rambut yang cukup terang, di sini rambutku paling gelap. Tapi Nenek menenangkanku dengan, “Ada pangeran yang rambutnya sama sepertimu. Jangan khawatir.”
Tujuanku datang ke sini memang mencoba melajar. Nenek bilang sesuatu bisa dengan cepat kupelajari dengan melihatnya secara langsung. Ini yang Nenek bilang belajar pada ahlinya. Sayangnya, ini bukan masalah belajar pada siapa. Tapi ini soal otak. Otakku.
Karena Nenek harus mulai mengajar, akhirnya aku ditinggalkan di taman sendirian.
“Taman ini sepi, jadi santai saja. Kau bisa mengamati dari sini. Nenek akan selesai 1 jam lagi.”
Dan 1 jam itu terasa lama. Apalagi jika aku menunggu. Pernah dengar teori waktu akan terasa lebih lama jika ditunggu? Itu nyata, percayalah. Paling tidak, menurutku begitu.
Aku beruntung karena Nenek benar, di sini sepi, tapi tidak benar-benar kosong. Beberapa orang lalu lalang, berjalan dengan anggun seolah pakaian-pakaian mereka tidak berpengaruh apa-apa, sementara di sini tanganku diam-diam memegangi pita di belakang gaun, ingin rasanya mencopotnya kalau bisa.
Menit demi menit berlalu dengan orang yang bergantian lewat, kelihatan terlalu sibuk untuk menyadari bahwa ada seorang gadis dari kerajaan seberang yang memandangi mereka diam-diam. Aku pikir, semua orang tidak mempedulikanku, hingga akhirnya seseorang berlari cepat dan berhenti. Dia satu-satunya yang melihatku.
“Hei, kau!”
Teriakan itu membuatku tersentak, buru-buru aku alihkan pandanganku ke arah lain, tapi dia sudah lebih dulu berlari mendekat. Seorang laki-laki dengan pakaian bagus yang agak berantakan. Aku berusaha untuk menghindari tatapannya, tapi dia justru menarik tanganku tiba-tiba, memaksaku untuk berdiri. Dan tanpa aba-aba apapun, dia membawaku berlari.
“Kau sedang santai, kan? Ayo ikut aku.”
Tangannya awalnya menarik lenganku, menyeretku untuk mengikuti tempo larinya yang terlalu cepat untuk kuikuti. Aku payah dalam hal begini, dan lagi, aku capek berlari. Sepatu yang cukup tinggi ini menambah kesulitan untuk berlari. Dan seolah belum cukup merepotkan, beberapa orang di belakang tiba-tiba muncul dan berlari mengejar kami.
Bukan kami. Tapi dia. Dia yang menyeretku.
Sesaat kupandangi dia dari belakang—karena aku memang dibelakangnya. Laki-laki ini rambutnya cokelat gelap, namun mengkilap seperti karamel. Sama seperti rambutku.
“Ada pangeran yang rambutnya sama sepertimu.”
Suara Nenek seketika bergema di kepalaku. Dan ketika aku baru mau bertanya sementara kakiku mau tak mau ikut berlari, bisa kudengar teriakan orang-orang di belakang.
“Pangeran Jordanius!”
“Astaga, Pangeran!”
“Pangeran Jordanius! Kau harus mengikuti kelas!”
Sebentar. Sebentar. Yang menyeretku ini... pangeran? []