Kerajaan Bulan juga memiliki pangeran. Dari yang aku pelajari di sekolah, ada 3 pangeran yang berasal dari Klan Oberon. Aku tidak pernah bertemu mereka secara langsung, tapi dari koran dan siaran televisi, sikap mereka begitu sopan dan penuh wibawa. Setidaknya itulah gambaran yang ingin mereka tunjukkan pada rakyat. Tapi bukan begini.
Pangeran mana yang tiba-tiba menyeret orang begitu saja?
Kurasa hanya pangeran ini. Aku bahkan meragukan status pangerannya.
Dia membawaku berlari, berbelok dan menyelip ke bangunan-bangunan yang ada di dalam kerajaan, semakin lama larinya justru semakin cepat. Kakiku terasa keram bukan main, membuatku berhenti berlari. Jordanius seketika menoleh ke belakang.
“Kenapa?”
Bisa-bisanya dia bertanya begitu. tidak ada rasa bersalah sama sekali apa?
“Aku capek,” kataku ketus. Kupegang kedua lututku dengan telapak tangan, berusaha mengatur napas yang berantakan. “Lagian kenapa kau menyeretku sih?”
“Biar aku punya alasan.”
“Hah?”
Responku justru diabaikan begitu saja. Jordanius justru menarikku lagi, membuatku tersentak. Kaki yang keram mau tak mau terseret. Hanya kali ini dia tidak berlari. Setidaknya, tidak lama. Jordanius berbelok kemudian mengajakku bersembunyi di balik tumpukan boks kayu besar yang tersusun di samping gedung. Kami berdua menunduk sementara kepala Jordanius curi-curi pandang dari sela-sela tumpukan boks. Langkah-langkah kaki berlari terdengar lewat, dan Jordanius langsung menghela napas lega.
“Akhirnya mereka pergi.” Suaranya benar-benar mencerminkan kelegaannya. Jordanius kemudian berbalik menatapku. “Nah, sekarang kita cari jalan lain. Kau tahu jalan lain untuk ke arena selain dari gerbang?”
“Arena apa?” tanyaku balik. Yang aku dapat justru tatapan kesal darinya. Harusnya kan aku yang melemparkan tatapan begitu padanya.
“Tentu saja arena paling besar. Kan hari ini ada pertandingan.” Oh, apa lagi itu? “Aku harus menontonnya, hari ini Klan Elodoro diwakili Jenderal Victor. Tapi Nyonya Oriane tidak mau aku melewatkan kelas sedikit pun, jadi aku tidak punya pilihan.”
Pangeran tukang bolos. Menarik juga. Dari dugaanku, Nyonya Oriane yang dia maksud itu Nenek. Ternyata Nenek mengajar pangeran? Sayangnya pangeran itu kabur. Sudut bibirku nyaris terangkat karena aku memikirkan sesuatu. Balas dendam. Yah, semacam itu. Aku bisa saja berdiri dari sini, tertawa padanya dan bilang bahwa aku cucu dari gurunya, memanggil orang-orang yang akan menangkapnya dan membawanya untuk belajar lagi. Kurasa itu siksaan yang cukup bagus sebagai imbalan atas kakiku yang sakit.
Namun di saat yang sama rasa penasaranku juga terpancing. Dia bilang arena, dan ada pertandingan. Kedengaran asing sekaligus menarik. Rasa penasaranku terpacu, terutama melihat pangeran ini dengan antusiasmenya, sampai rela bolos dan dikejar-kejar begitu.
Tapi kan...
“Aku tidak tahu jalan.” Satu-satunya yang aku tahu hanya jalan ke gerbang depan. Itu yang aku lewati untuk masuk ke sini. “Lagi pula susah untuk kabur sementara banyak orang pasti mengejarmu, Pangeran.”
Seketika dia menatapku tak suka. “Aku Jordanius.” Aku sempat dengar ini, beberapa orang meneriakkan nama ini saat mengejar kami sebelumnya. Kupikir itu orang lain. “Kau bisa panggil aku Jordanius,” ujarnya, “dipanggil begitu membuatku mau muntah.”
“Tapi kau kan memang pangeran,” aku membalas tak acuh. Oh, mungkin hanya dengan satu kata aku bisa membuatnya tersiksa. Setiap kali aku menyebut “pangeran”, Jordanius langsung kelihatan tak suka. Dan kali ini aku bisa mendengar dia menggeram pelan.
Kupikir dia akan marah dan pergi. Dan itu sebenarnya hal yang bagus sih. Namun dia tidak melakukan itu. Dia justru berdiri, menepuk celananya yang berdebu karena berlutut. “Namamu?”
Cara bertanya yang sopan sekali, ya. Aku menyambut uluran tangannya dan berdiri. “Risha.” Tatapannya masih tertuju padaku, seolah tengah menungguku melanjutkan. Kurasa aku lupa satu bagian. “Oriane.”
Seharusnya Alrisha. Alrisha Kale. Tapi aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku mengatakan itu. Sekarang ini aku Oriane. Aku bukan penduduk Kerajaan Bulan. Sekarang aku anak dari panglima Kerajaan Matahari, bagian dari Klan Oriane. Penduduk tetap.
Hanya dalam hitungan detik sorot matanya berubah. Jordanius pasti terkejut. Namun tak berselang lama tatapannya berubah lagi, memandangiku seolah tengah menyelidiki sesuatu.
“Oriane? Aku tidak tahu Nyonya Oriane punya cucu lain.” Tenang saja, sebelumnya aku juga tidak tahu kalau aku bagian dari Klan Oriane. “Kok Nyonya Oriane tidak cerita, ya?”
“Bagaimana dia mau cerita kalau kau kabur dari kelasnya.”
“Kau benar juga.” Anehnya dia justru menganggukkan kepalanya. Menurutku, kalimatku tadi bisa saja membuat orang marah. Tapi dia kok malah tersenyum sekarang?
Dia benar-benar pangeran bukan sih? Lebih kelihatan seperti laki-laki biasa—atau mungkin dari keluarga bangsawan—yang bodoh. Tapi dia berasal dari sini. Dari Kerajaan Matahari. Dia pasti punya kekuatan juga. Dia pangeran bodoh yang berbahaya.
Mungkin bodoh terlalu berlebihan. Karena dilihat dari dekat begini, dengan sosoknya yang berdiri tegap, ada aura tersendiri yang dia berikan. Dia tinggi, tegap, dan badannya proposional. Dia mungkin lebih tua daripada aku.
Aku mengingat gambaran laki-laki di Sungai Gerhana dan api di tangannya. Kira-kira apa yang akan Jordanius lakukan? Apa yang bisa dihasilkan tangannya? Tapi aku lebih baik tidak tahu, apalagi jika itu berpotensi untuk membuatku takut dan membunuhkan.
Cara berpikir yang konyol. Dengan menginjakkan kaki ke wilayah Kerajaan Matahari saja sudah membuatku berpotensi dibunuh.
Jordanius menggerakkan tangannya ke atas kepala, dan hanya dalam hitungan detik rambutnya yang sudah tertata ke atas berubah lembut dan jatuh, beberapa helai rambut yang cukup tebal menutupi dahinya. Itu cukup mengejutkan. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah telapak tangannya yang sempat sedikit bersinar. Itu kekuatannya?
Mataku melotot tidak percaya, namun Jordanius dengan cueknya membereskan rambutnya. Hanya dengan gaya rambut saja dia kelihatan berubah.
“Bagaimana?” tanyanya tiba-tiba. Mataku yang melotot seketika berkedip cepat.
“Apa?”
“Kau mengenalku?”
Tentu saja, aku tidak mengenalnya. Tapi aku juga tahu bukan itu yang dia maksud. Kepalaku menggeleng sebagai jawaban, dengan mata yang tertuju pada pakaiannya. “Mereka pasti akan mengenalimu. Pakaianmu juga...”
“Penyamaranmu itu payah, Jordan.”
Itu bukan suaraku. Sumpah. Suaranya berasal dari ujung sana. Tepat di belakangku. Jordanius sudah melihatnya lebih dulu, dan matanya sontak melebar. Hal itu memancingku untuk melakukan hal yang sama, menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang baru saja memotong ucapanku.
Namun aku tidak melotot. Yang ada mataku justru menyipit, menyelidiki laki-laki dengan jubah perang berwarna merah. Tidak. Tidak. Bukan jubah besi itu yang menjadi perhatianku. Tapi yang menggunakannya.
Rambut pirang terang itu terasa tidak asing, dengan tatapan datar yang sebelumnya pernah tertuju padaku. Tatapanku terus tertuju padnaya, dan begitu juga dengan orang itu. Selama nyaris lima detik kami saling bertatapan hingga dia yang lebih dulu mengeluarkan suara, tangannya terarah padaku.
“Lho, kau kan...”
“Victor?”
Jelas kami sama-sama terkejut. Tapi nampaknya bukan hanya kami. Tapi Jordanius juga. “Kok mau memanggilnya begitu sih?”
Tatapanku masih tertuju pada Victor selagi merespon Jordanius, “Memang namanya Victor, kan?”
“Kau seharusnya memanggilnya Jenderal Vic—”
“Tak apa, Jordan,” Victor tiba-tiba memotong. Kakinya melangkah mendekat hingga dia berdiri di depan kami. Lebih tepatnya di depanku. Aku harus mengangkat kepalaku untuk balik menatapnya. Entah dia memang tinggi atau jubah itu menambah tingginya. Tapi dia tinggi. Dia berbeda. Ini bukan Victor yang aku temui di Sungai Gerhana.
Apa penduduk Kerajaan Matahari punya kegemaran untuk menyamar?
“Kau sebaiknya kembali ke kelasmu. Nyonya Oriane dan yang lainnya mencarimu,” ujar Victor lagi. “Raja bisa menghukumku nanti. Adik-adikmu juga menunggumu.”
“Tapi, Vic, kan kau mau bertanding.”
Aku hanya bisa menyimak percakapan mereka. Jadi Jenderal Victor itu Victor? Laki-laki api ini seorang jenderal?
“Pertandinganku minggu depan. Kau bisa ikut menonton karena katanya Raja dan Ratu akan datang. Jadi tidak perlu kabur lagi.”
“Pangeran, di situ kau rupanya.”
Suara orang lain kali ini terdengar, tapi ini lebih familier lagi. Nenek berada di ujung gedung. Dia kelihatan terkejut karena melihat aku ikut ada di sini, bersama dengan seorang pangeran dan jenderal. Oh, tentu saja dia akan terkejut.
Nenek melangkah mendekat dengan cepat, menghampiri kami bertiga. “Kok kalian bisa di sini?”
“Ah, Nyonya Oriane.” Victor menyapa lebih dulu sambil tersenyum. Kesan dingin pada dirinya seketika lenyap. Tangannya tiba-tiba menepuk pundakku. “Tadi aku minta tolong pada cucumu untuk mencari Pangeran Jordanius. Kami menemukannya bersembunyi.”
Tangannya yang keras karena jubah perang seakan memberi kode padaku. Kuanggukkan kepalaku cepat menyetujui ucapannya. Nenek menatapku sesaat, syukurnya hanya tatapan biasa, sebelum tatapannya itu terlempar pada Jordanius.
“Pangeran, tadi Ratu mencarimu. Dia marah besar karena kau tidak ada di kelas,” ujar Nenek. Ketika melihat Jordanius yang seketika diam, rasanya aku bisa membayangkan bagaimana sosoknya. Jordanius jelas takut padanya.
Antusiasme yang sebelumnya aku lihat darinya seketika luntur, digantikan dengan kepala yang menunduk patuh melangkah mendekati Nenek. Kepala Jordanius sempat menatapku sesaat dengan tajam.
“Sebentar lagi Nenek selesai. Tunggu ya?”
Aku mengangguk, namun selanjutnya Victor yang membalas, “Aku akan menemaninya, Nyonya Oriane. Kebetulan aku sudah selesai.”
“Itu baik sekali, Victor. Terima kasih.”
Cepat sekali. Padahal aku mengira Nenek akan menolak. Tapi dia justru tersenyum seolah aku baru saja dititipkan pada penjaga bayi yang terpercaya. Sekali lagi Nenek memandangiku, dan sesuatu terdengar ke telingaku.
“Belajar dari ahlinya, Alrisha. Kau membuat perkembangan yang bagus.”
Entah bagaimana caranya suara itu bisa terdengar olehku, namun Victor hanya diam, seolah dia tidak mendengar apapun. Sementara itu Nenek tersenyum lebar, seakan dia baru saja menunjukkan satu trik padaku. Aku hampir saja melewatkan fakta bahwa Nenek juga penduduk Kerajaan Matahari. Apa tadi dia baru saja menunjukkan kekuatannya padaku?
Nenek kemudian berbalik, berjalan dan membawa Jordanius ikut dengannya, meninggalkan aku sendirian. Dengan Victor. Dengan laki-laki api dengan jubah zirah merah. Jelas Nenek mempercayakan pada seseorang yang benar-benar terpercaya.
Tenggorokanku tersekat, telingaku terasa ngilu ketika Victor bergerak. Kakinya seolah sengaja membuat bunyi berdecit untuk memancing perhatianku. Yah, dia berhasil. Senyum di wajahnya masih terukir, hanya kali ini senyum itu memberi kesan yang berbeda. Ada sesuatu yang dia coba isyaratkan.
“Jadi,” Victor mulai mengeluarkan suaranya lagi, “bagaimana kalau kita buat kesepakatan?”
“Kesepakatan apa?” Aku balik bertanya.
Tangannya yang dilapisi besi terulur ke arahku, namun dia lebih dulu menariknya. Logam berwarna merah itu seketika menyala terang, hingga tiba-tiba mencair. Sulit untuk tidak terkejut dengan itu. Bagaimanapun, aku belum terbiasa dengan kekuatan-kekuatan itu. Dan sepertinya aku tidak akan terbiasa. Logamnya mencair, dan ada bau terbakar yang ditangkap hidungku. Tapi seperti yang pertama kulihat, tangannya tidak terbakar.
Dia kembali mengulurkan tangannya yang bersih—benar-benar bersih—sambil tersenyum. “Aku Victor Elorodo. Kau bisa panggil aku Victor. Dan kau tidak bertemu denganku di Sungai Gerhana—bilang itu untuk Jordanius.”
Aku menatapnya heran, tidak mengerti. Tapi Nenek juga tahu kalau aku ditemukan di Sungai Gerhana. Olehnya. Oleh Victor yang...
Ah, mungkin Nenek tidak tahu.
Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa aku harus berbohong, hanya saja tatapan dan senyum itu membuatku menahan diri. Aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk dan menjabat tangannya.
“Risha Oriane. Aku tidak bertemu denganmu di Sungai Gerhana.”
Jika aku tidak mengatakan itu, aku tahu sesuatu tidak akan berakhir baik.
Tatapannya yang mengatakan itu. []