Andai ada sedikit saja harapan untuknya. Mungkin, Aera akan melarikan diri sekarang. Dia muak melihat semua kekacauan yang dilakukan wanita berambut oranye itu—katanya dia sepupu Aera. Benarkah demikian? Faktanya, Aera sendiri tidak pernah tahu asal usul keluarganya dan bagaimana dia sendiri terlahir sebagai penyihir.
Mengetahui saat ini dirinya tengah diculik—Aera tetap tenang, duduk di pinggiran ranjang seraya memandangi figur si wanita dengan raut wajah bingungnya. Ingin bertanya tetapi Aera menyimpan pertanyaan itu di dalam kepalanya. Pun yakin benar jika si wanita tidak mungkin menjawab pertanyaannya dengan mudah.
"Maaf jika kau merasa tidak nyaman dan bingung dengan apa yang aku lakukan." dia menghela napas, menatap Aera melalui matanya, dengan lembut. "Tapi percaya padaku. Kau hanya di manfaatkan, Aera. Aku tidak mau satu-satunya keluargaku dijadikan b***k vampire sialan itu. Dan maaf juga karena aku terlambat menemukanmu selama ini. Aku tidak mau mengganggu kau yang berusaha menjalani kehidupan barumu."
Entah harus bereaksi seperti apa ketika ia mendengar penuturan wanita itu. Yang jelas, dari semua yang dikatakannya—terlihat bahwa memang ada kekhawatiran disana.
"Jika kau tidak mau menggangguku. Lalu mengapa sekarang kau tiba-tiba datang? Seharusnya kau tidak usah peduli padaku." jawab Aera dingin. "Karena aku takkan mungkin tahu ternyata diriku masih mempunyai keluarga."
"Ya, mengapa?" dia tersenyum sendu. "Karena aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya. Aku tidak bisa membiarkan mereka bebas. Jangan pernah sekalipun kau berpikir—kau mau membantu dia."
Wajah cantik Aera semakin cemas, perlahan ia mundur. Spontan karena ketakutan. "Dan kau jangan seenaknya mengatur hidupku. Ini jalan kehidupanku dan kau tidak berhak mengatur apalagi mengubahnya!"
"Kau orang baru yang sok tahu tentangku. Aku mau pulang!" Aera jengah, tak ragu lagi ia berteriak membuat si wanita oranye serba salah.
Kemudian dia melangkah mengambil sesuatu di laci meja. Memberikan sebuah kotak kayu berwarna putih pada Aera. "Kuantarkan kau pulang kembali ke rumahmu. Buka kotak ini nanti di rumah. Aku sudah memberimu peringatan, Aera. Kalau kau tetap keras kepala ingin membantu vampire itu. Silahkan saja dan jangan menyesal.
Semua jawaban yang kau cari ada di dalam kotak itu."
Tersenyum dan mengusap rambut Aera, dia berkata. "Sudah lama saat kita terakhir kali bertemu. Kalau kau sungguh lupa, aku Luxe. Kau sering memanggilku Luc." tawa kecil serta senyuman hangat Luxe cukup membawa Aera ke dimensi lain.
Seperti ada memori yang terputar samar di kepalanya. Kini, Aera bisa menyimpulkan. Luxe benarlah keluarganya. Orang pertama yang menolak Aera membantu para vampire itu. Hingga detik ini pun, Aera tidak bisa menjawab atas apa yang dirasakannya. Mengapa ia begitu ingin membantu Kim Taehyung?
*****
Dapat dipastikan kalau lah Jeon Jungkook tidak ada. Maka Taehyung akan berubah menjadi vampire kejam dan mengamuk tidak jelas sebab Aera hilang. Jungkook rupanya bisa di andalkan. Dengan kemampuan yang ia punya. Dahulu, Jungkook sangat dekat dengan Ibunya. Ibu yang telah membesarkan Jungkook ketika saat kecil dia ditemukan di tengah hutan—bayi kecil yang dibuang oleh orangtuanya. Wajar jika Jungkook dekat sekali dan menyayangi Ibu. Ada ikatan yang membuatnya nyaman dan merasa di sayangi. Dan, kejadian buruk menimpa keluarga mereka sehingga Ibu tiada. Itu mengapa Jungkook sekarang lebih berusaha menguasai kemampuan yang ia miliki—ingin terbebas dari kutukan ini dan membalaskan seluruh amarahnya. Tentu, tidak ada yang tahu mengenai niat terpendam pria itu. Cukup ia sendiri yang memendamnya. Karena, Jungkook lelah berpura-pura tenang.
Sedangkan, Taehyung yang berjalan di sebelahnya beberapa kali mengembuskan napas—gelisah, cemas, marah bercampur menjadi satu. Jungkook setidaknya memahami perasaan kacau Taehyung. Dia pernah berada di posisi itu—ketika kehilangan Ibu.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan petunjuk? Kita sudah tiga jam berjalan, Jeon. Apa tidak bisa menggunakan kekuatan alami kita saja?" Taehyung berkata sebal. "Untuk apa punya tapi tidak digunakan. Merepotkan sekali."
"Bisa. Tapi itu sulit, hyung. Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku sekaligus. Aku tidak seperti kau yang hebat." jawab Jungkook tak kalah sebalnya. "Jalan duluan kalau malas menungguku. Aku baru sedikit mencium aroma Aera yang tertinggal di sekitar sini. Kurasa, arahnya dari sana." jari telunjuknya mengarah ke belakang. "Itu arah jalan pulang."
"Sial! Dia itu diculik atau mempermainkanku?!" Taehyung menggeram semakin kesal. Mengacak helai rambut cokelatnya. "Ada petunjuk lain?"
"Hanya itu sejauh ini."
"Menurutmu apa dia pulang? Kau bisa membaca kilas memori bukan?" ujar Taehyung, bertanya memastikan.
"Tapi aku butuh tangannya." memutar bola mata malas, Jungkook menarik tangan Taehyung. "Sudah, kita pulang. Aku berpikir dia benar-benar pulang, hyung. Kalau pun ragu, pinjam batu kristal milik Seokjin hyung."
"Aku saja tidak tahu batu aneh itu fungsinya apa!" suasana hati Taehyung buruk sekali. Wajahnya itu bahkan mengalahkan ekspresi datar Yoongi saking sebalnya. Begitu masam dan kesal.
Jungkook diam-diam terkikik geli melihat Taehyung menendang batu kerikil berserakan di tanah. "Ya sudah, ayo. Tapi berburu sebentar mau tidak?"
"Aku diet darah hewan." menyahut ketus, Taehyung bersedekap d**a. "Aku maunya darah murni. Sudah jangan cerewet, banyak tingkah ini dan itu!"
Sabar, Jeon. Jungkook menyuarakan isi hatinya. "Dasar vampire labil!"
*****
Dalam perjalanan pulang, Jungkook seketika berhenti. "Hyung! Tunggu sebentar!"
"Astaga kenapa lagi?"
"Aera dalam bahaya." Jungkook menunjukkan raut wajah bingung. "Aku melihatnya bersama wanita oranye itu dihadang vampire lain."
Jungkook memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, meskipun penglihatannya bersifat tidak sementara. Ia hanya dapat melihat hal-hal yang telah diputuskan. Bila keputusan dari orang bersangkutan berubah, maka penglihata Jungkoom pun akan berubah. Dan sepertinya, ini benar baru saja terjadi.
"Dimana?" Taehyung bertanya dengan suaranya yang khawatir. "Apa terlihat jelas?"
"Dua puluh kilometer dari tempat kita sekarang."
"Tunggu apalagi! Cepat!"
Kebiasaan atau nalurinya berubah secepat itu, pikir Jungkook. Langsung tanpa kata lagi, Taehyung melangkah cepat bagai hembusan angin.
Penglihatan Jungkook benar adanya—disisi lain Aera dan Luxe tengah dihadang tiga vampire. Satu wanita dan dua pria. Wanita berambut merah itu tersenyum sinis. "Oh kau rupanya penyihir itu?"
"Bagaimana Taehyung dan keluarganya? Betah dijadikan b***k?"
Luxe bersiap menyerang, mengepalkan tangannya. Tetapi, Aera menahan, memegang tangan wanita itu. Dia tidak mau menyerang vampire ini jika si vampire tidak memancing keributan. Padahal jelas, vampire ini berniat buruk.
"Kau siapa? Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
Dia tertawa mengejek. "Aku bertanya karena aku takkan membiarkan kau melakukan ritual red moon. Mereka semua pantas mati."
Pada akhirnya, Taehyung datang bersama Jungkook. Dugaannya benar ketiga vampire ini adalah utusan Volturi. Dia segera berdiri di sebelah Aera. "Berani kau menyentuhnya, kubuat kau menjadi debu dan tidak bisa melihat indahnya dunia lagi."
Aera begitu terkejut melihat sosok itu. Rahang tegas, hidung mancung dan mata merah yang menyala—Aera melihat keindahan Taehyung, membuatnya sejenak terpana. Oh sial. Ini bahkan bukan waktu yang tepat menikmati wajah tampan Taehyung.
Akan tetapi disana Jungkook yang paling tahu bahwa Taehyung tidak bisa melawan vampire berambut merah itu. Kekuatan mereka sama. Mampu menyakiti musuh tanpa melakukan apa-apa, cukup menatap dengan mata merahnya. Vampire itu bernama Jane. Sialnya, Jane begitu ahli mengendalikan kekuatannya dibandingkan Taehyung.
Dalam benak, Jungkook sedikit khawatir. Dia dapat melihat tadi—Taehyung kalah dalam penglihatannya. Jungkook tidak ingin menyampaikan itu, karena takut Taehyung semakin tak bisa mengendalikan semuanya.
Terlebih, Jane di masa lalu pernah menjadi musuh bebuyutan Taehyung, karena si Kim itu membunuh kekasih Jane.
"Kau takut dia terluka?" Jane tertawa meremehkan dan menghampiri Aera. "Dia manis, Taehyung. Kau pintar memilih. Sayang si manis ini bersifat sementara dalam hidupmu. Penyihir yang malang."
"Diam! Kau membuang waktuku, Jane. Jangan membawa masalah di masa lalu. Dia tidak ada kaitannya dengan masalah kau dan aku!"
"Tidak ada katamu? Kau membunuh kekasihku. Dan dia adalah pasanganmu. Aku mau kau merasakan kehilangan yang sama sepertiku!" Jane menatap Aera dengan marah, tapi sebelum si merah itu menyerang. Aera lebih dulu mengeluarkan kekuatannya dari tangan—menyerang Jane hingga dia mengerang kesakitan.
Well, Aera sadar. Cepat atau lambat, Jane pulih. Namun itu cukup untuk melindungi dirinya sendiri. "Taehyung, pergi sekarang!"
"Kau gila ya? Kau dalam bahaya!"
"Apa urusanmu?!"
"Tentu saja kau urusanku! Kau pasanganku, Aera!"
Pasanganku, pasanganku—sial berdengung di telinga Aera berkali-kali.
Pun Luxe yang berada di belakang Aera, ikut membantu. Dengan melumpuhkan dua vampire sisanya.
"Hyung, bawa Aera pergi. Aku akan mengurus setan-setan ini."
"Sendirian? Kau cari mati?" Taehyung segera menarik tangan Jungkook. "Biarkan mereka. Terserah pengecut atau bukan. Kita harus pulang sekarang juga."
*****
Dalam hitungan detik, Seokjin tahu jika saat ini Taehyung sangat khawatir. Dia sebelumnya tak pernah melihat Taehyung menaruh perhatian pada siapapun. Apa benar adiknya itu jatuh cinta?
Disatu sisi tampak Namjoon dan Yoongi, duduk sambil berdiskusi mengenal hal yang baru terjadi. "Kita belum memberi tahu ini pada Volturi. Agaknya, mereka marah." Namjoon membuka suara, memijat pelipisnya.
"Hyung belum pergi kesana? Menjelaskan kita akan segera melakukan ritual red moon?" Yoongi bertanya pada Seokjin. Yang ditanyai pun menggeleng. "Belum. Aku rasa belum saatnya. Aku tidak menyangka dia tahu dan mengirim Jane untuk menggertak kita."
"Kalau begitu kau harus lakukan sesuatu, hyung." Namjoon menambahkan, "Aku tidak mau keadaan makin buruk. Besok kita sudah memulai ritual pertama."
"Sebelum, Aera dan Taehyung melakukan itu di---," sejujurnya Namjoon kaku membahas ini. Entah berlebihan atau apa. Tetapi, Taehyung disana cepat menyahut. "Apa susahnya tinggal membuka baju dan bercinta? Bedanya, itu dilakukan karena ritual." bibirnya berucap santai. "Aku juga tidak yakin apakah dia bisa mengimbangiku? Aku takut ranjang patah dan Aera pingsan."
Ah, untung saja Aera tidak ada disini. Kalau ada bisa-bisa penyihir cantik itu memukul mulut m***m Taehyung.
"Ini bukan lelucon, Tae." Yoongi menatap Taehyung sebal. "Kau tidak hanya bercinta dengannya. Bukan semata bersenang-senang. Kau mengklaim dia saat red moon. Lagipula aku bingung kenapa harus seperti itu caranya?"
"Kalau ada cara lain aku juga malas menyuruh Taehyung melakukan itu, bodoh." Seokjin sejak tadi sudah ikut kesal. "Sayangnya hanya itu caranya. Aku tidak mengerti jelasnya kenapa."
"Sudahlah. Aku menikmatinya." Taehyung terkekeh. "Aku belum pernah merasakan sensasi bercinta saat red moon. Apa menyenangkan?" membayangkan itu saja Taehyung tertawa.
"Apa yang tidak menyenangkan?" Namjoon memutar bola mata. "Kau dan s**********n wanita itu adalah dosa yang suka sekali kau kerjakan. Di antara kami. Kau paling suka mencari manusia, kau tiduri lalu kau bunuh. Memangsa dan memanfaatkan kelemahan adalah keahlian lainmu, Kim.
Aku harap kau tidak lengah kali ini. Lakukan yang terbaik."
Taehyung berpikir keras. Penasaran apa yang akan terjadi setelah ia melakukan ritual itu? Dan penasaran prosesnya bagaimana? Ataukah seperti biasa? Atau ada hal istimewa? Banyak sekali dugaannya. Sampai sebuah suara mengejutkan perhatian para vampire yang berkumpul itu.
"T-tuan... Nona Kim pingsan."
*****
Yoongi memeriksa denyut nadi Aera. Pun entahlah mengapa ia tampak mirip seorang dokter?
"Tidak usah cemas." seolah menebak Taehyung, Yoongi berkata. "Dia tidak apa-apa. Mungkin karena waktunya sebentar lagi datang."
"Maksud, hyung. Dia setress atau bagaimana?"
"Dia memikirkan banyak hal. Salah satunya itu. Dia takut mengecewakanmu." selain bisa menyembuhkan, Yoongi juga bisa membaca emosi seseorang. "Kau dan Seokjin hyung. Buatkan Aera satu gelas darah yang di campur darahmu."
"Dia bukan vampire, hyung."
"Ikuti saja aku, apa selama ini aku pernah salah?" Yoongi menantang dan Taehyung tak bisa menjawab apa-apa.
Satu menit setelahnya, Aera sadar. Matanya bertemu pandang dengan Taehyung. "Kau disini?"
"Aku disini karena mengkhawatirkanmu. Apa sudah membaik?"
Benarkah ini Taehyung?
Dan, lemah lembut sekali?
Aera jadi merasa salah tingkah lalu secepat itu mengumpulkan kesadarannya. "Ya, aku baik."
"Bagus. Kau harus mulai menata pikiranmu karena besok kita sudah melakukan ritual pertama."
"A-apa? Besok?" Aera terkejut. "Bukankah dua hari lagi?"
"Besok full moon. Ada ritual khusus." jawab Taehyung seadanya. "Kau tidak sabar ingin bercinta denganku?"
Terdiam, membeku—pipi Aera berubah merah. Memanas. Sialan! Bisa-bisanya Taehyung bertanya hal yang tidak mau Aera tanyakan.
"Daripada tidak sabar aku lebih ingin tahu—apa yang bisa terjadi nanti?" tanya Aera.
Sepertinya, Taehyung melemahkan jantung Aera hari ini. Sebab, kalimat pria itu membuat Aera berdebar. Dan perasaan itu mulai tumbuh. Perasaan yang Aera hindari. Hadir di antara keduanya. Pun tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi setelah red moon. Walaupun begitu—Aera senang bersama Taehyung.
"Sama. Aku berharap setelah ritual itu dilakukan. Ada keajaiban untukmu. Mungkin aku pernah bilang—penyihir dan vampire tidak bisa bersatu.
Boleh aku tarik ucapanku? Aku menginginkan kita bersatu, Aera. Aku ingin kau menjadi pasangan terakhirku. Hanya denganku."
[]