Pernah tidak kau merasakan dadamu tiba-tiba sesak? Seperti ada ribuan jarum kecul yang menusuk di dalam sana. Kau tahu penyebabnya—tapi kau berpura-pura tidak tahu dan bungkam. Kini, Aera tengah berada di posisi itu. Diberikan harapan lalu membuatnya sedikit lagi jatuh, kemudian dipatahkan hatinya. Ternyata dia salah menduga. Ternyata, Taehyung belum menaruh seluruh hati untuknya.
Taehyung masih mencintai wanita itu. Sedangkan, Aera tidak berhak marah. Sadar diri jika dia bukan siapa-siapa.
Melihatnya sendiri saat Taehyung duduk sendirian di taman, memegang sebuah syal berwarna putih. Tentu saja, Aera bisa menebak jika itu bukan syal pria, dari rajutannya bahkan Aera begitu tahu itu adalah syal milik wanita—untuk melanjutkan kalimat praduga di dalam hatinya pun Aera tidak sanggup. Hatinya terasa patah.
Entah mengapa—Aera semakin merasa bahwa Taehyung tidak di takdirkan untuknya. Dia merasa sangat jauh. Pun tak diijinkan masuk ke hati vampire itu. Hatinya masih lah milik oranglain.
Sebenarnya ada apa denganku? Mengapa aku begitu berharap padanya?
Hati Aera berusara putus asa. Dia berbalik badan, ingin pergi dari sana. Tetapi sialnya tak sengaja menabrak d**a Jungkook yang membawa nampan berisi dua gelas air. Aera tidak mau peduli—untuk apa air yang dibawa Jungkook. "M-maaf aku tidak melihat---,"
"Tidak apa-apa." Jungkook menyela seraya tersenyum manis. "Sedang apa kau disini? Hari sudah petang. Kau harus mempersiapkan dirimu nanti malam."
"Ah, y-ya ak-aku hanya ingin mencari udara segar." Aera yang menjawab terbata-bata pun membuat Jungkook curiga.
Lalu matanya melihat ke arah belakang. Mengernyitkan dahi memperhatikan Taehyung yang masih duduk di taman rumah mereka. "Kau—tidak sedang diam-diam menguntit hyung bukan?"
"Tidak!" Aera spontan memekik dan itu mengalihkan perhatian Taehyung.
Si Kim itu menoleh saat mendengar suara Aera. Ingin segera menghampiri tapi dia memilih tetap duduk—tak acuh. Tidak tahu ada apa dengan hatinya? Mengapa seperti dilanda gundah dan kebingungan begini?
"Ya sudah kalau tidak jangan berteriak dong!" seru Jungkook, tertawa kecil. Senang menggoda Aera yang tampak terkejut. "Kuberi tahu ya. Hyung itu sebenarnya tidak sulit di dapatkan asal kau mau berusaha."
"M-memangnya aku mau mendapatkan dia?!" ketus, Aera. Memutar bola matanya. "Aku dan dia terikat karena ingin melakukan ritual, Jungkook."
"Ya tapi yang kulihat kau berharap padanya?" Jungkook menaikkan satu alisnya, sengaja sekali menyudutkan Aera. "Mungkin dia terlihat belum melupakan Lanna. Tapi kusarankan jangan menyerah dan juga kalau kau berubah pikiran. Aku siap menjadi pengganti hyung untukmu."
"Apa-apaan!"
Setelah puas menggoda Aera. Jungkook berlalu pergi, tak lupa mengedipkan matanya. Sungguh suasana hati Aera makin buruk karena pria itu.
*****
Jantungnya berdebar keras sekali. Padahal mereka belum memulai ritualnya. Namun, Aera sudah lebih dulu cemas. Tak bisa membayangkan—bagaimana ritual pertama itu dilakukan? Yang jelas belum red moon dan Aera diserang rasa cemas berlebihan. Hari pun belum memasuki waktu tengah malam. Ia masih bisa bernapas lega. Walaupun tetap nanti jam satu dini hari, Aera akan mempersiapkan dirinya.
Wanita itu menggigit kukunya, memikirkan sesuatu, berjalan mondar-mandir di kamar. Sesekali juga mengacak rambutnya. Frustasi sendiri.
"Kau kenapa?"
Hampir-hampir jantung Aera berpindah ke perut ketika mendengar suara Taehyung menyapa, serta kehadirannya yang muncul di samping Aera.
"Bisakah kau datang mengetuk pintu? Kau mengagetkanku! Kau bukan hantu, bodoh!"
Taehyung berdecak. "Apa kau lupa aku ini vampire? Untuk apa punya kekuatan jika tidak kupakai!"
"Tapi setidaknya bersikaplah seperti manusia!"
"Dan aku bukan manusia!"
"Ya—uh lepas!" Aera terkejut bukan kepalang saat tangan Taehyung melingkar di pinggangnya.
Dia tidak bisa bernapas. Ditatap begitu dekat dengan kedua bola mata merah itu. Tanpa sadar, Aera meneguk ludahnya. Tangannya yang lemas perlahan mendorong d**a Taehyung.
Berkata seperti tikus terjepit. "Menjauhlah."
"Kau ini cerewet juga. Aku kemari karena ingin bicara sesuatu denganmu." ujar Taehyung, perlahan ia melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Aera. Sebab memahami situasi Aera yang terlihat takut.
Jemari Aera bergerak gugup, meremas jemarinya sendiri, tak berani melihat Taehyung yang sejak tadi memandanginya.
"Aera, kau ini kenapa? Lihat aku saat aku bicara."
"Aku tidak bisa!" dia memekik lagi. "Tidak bisa." lalu berujar kembali dengan suara kecil.
Taehyung merekam semua keanehan Aera. Sayang, dia tidak bisa menebak apa yang Aera rasakan sekarang. Kalau saja dia punya keahlian membaca pikiran seperti Namjoon, atau membaca emosi seperti Yoongi. Taehyung tak perlu lagi repot-repot bertanya.
Mengembuskan napas beratnya, Taehyung mengalah. Tangannya terulur menggenggam tangan Aera, sontak mengundang debar jantung dan Aera makin terkejut. Katakan, Aera berlebihan—itu benar adanya.
"Kalau menatap saja tidak mau. Bagaimana nanti melakukan ritual red moon? Apa saat melakukannya kau juga tidak mau menatapku?"
Sumpah demi apapun. Jantungnya berdebar semakin keras. Kim Taehyung—dasar kau vampire sial! Untuk apa kau menanyakan itu sekarang! Maki Aera dalam hatinya.
"Apakah harus saling bertatapan?" tanya Aera balik.
"Tidak juga. Tapi aku mau kau menatapku. Aku mau kau melihat aku yang bergerak di atasmu." bisik Taehyung di telinga Aera. Seketika Aera melangkah mundur. "Vampire m***m! Menjauh dariku!"
Si Kim itu tertawa. Senang sekali melihat wajah Aera yang berubah semerah tomat. Dia tidak pernah tertawa selepas ini. Dan hatinya merasa ringan, karena Aera. Atau karena—Taehyung mulai membuka hati. Membuktikan kata-katanya kemarin.
Jika benar—dia sungguh menginginkan Aera.
Aera sendiri tidak mengerti. Mengapa ia dengan mudahnya luluh? Melupakan begitu saja, Taehyung yang sempat melukai hatinya.
"Taehyung, aku juga mau bicara."
"Apa? Katakan." ujar Taehyung, ia maju satu langkah lebih dekat dengan Aera.
Berusaha menormalkan degup jantungnya, Aera menarik napas dalam—mendongak menatap Taehyung yang lebih tinggi darinya. "Jangan membuatku berharap dengan mengingat kata-katamu. Aku tidak mau menjadi seseorang yang ada tapi tidak pernah kau lihat."
"Aera, apa maksudmu?" dahi Taehyung berkerut samar. "Aku tidak pernah memperlakukanmu seperti itu."
"Tidak pernah tapi kau membuat diriku merasakannya." lirih Aera. "Aku rasa, aku yang terlalu berharap banyak. Sudah jelas hubungan kita hanya pasangan sementara."
"Sial, Aera jelaskan kenapa? Aku tidak bisa membaca pikiranmu!" Taehyung meninggikan suaranya.
Kedua tangannya memegangi pundak Aera. Saat itu Taehyung bisa melihat, satu titik air mata yang terjatuh disana. Aera menangis untuk pertama kali di hadapannya. Wanita yang keras kepala dan sering membuatnya kesal. Menangis karena dirinya.
"Kim Aera, katakan. Apa kesalahan yang kuperbuat?" Taehyung melembut, jemarinya menyentuh pipi Aera. "Walaupun aku tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bisa melihat jika kau marah. Apa karena aku tidak menemanimu ke perpustakaan hari ini?
Apa karena aku tidak menciummu? Ayo, katakan."
Aera kembali melihat mata Taehyung. Dia mengulas senyuman getirnya. "Tidak semuanya. Tidak ada yang perlu aku katakan, Tae."
"Kau mau kugigit?" ancam Taehyung kesal. "Jangan membuatku marah, Aera. Beberapa jam lagi kita melakukan ritual pertama. Aku tidak tenang!"
Haruskah Aera menjelaskan? Daripada menjelaskan wanita itu tersenyum lagi, tangannya pun ikut menyentuh pipi Taehyung, memberinya usapan lembut. "Seharusnya aku tidak usah melibatkan perasaanku lebih jauh. Itu hanya menyakitiku. Karena aku tidak pernah ada di hatimu."
Detik itu pun Taehyung tersadar. Pupil mata merahnya sedikit melebar bersamaan dengan Aera yang berjalan meninggalkannya. Taehyung memaku di tempat. Untuk mengejar Aera pun ia rasanya tak bisa. Atau lebih tepatnya dia takut Aera terluka.
Kendati ia terlambat mengejar, akhirnya Taehyung berjalan keluar mengikuti Aera. Disana dia melihat Aera yang berada di pelukan adiknya—Jeon Jungkook, memeluk dengan tangan yang menepuk punggung Aera. Sebagian hati Taehyung tidak rela. Hanya mampu mengepalkan tangan dan bergumam dalam hati.
"Maafkan aku Aera. Kau mungkin belum ada di hatiku. Bodohnya, aku tidak akan membiarkanmu jatuh di pelukan oranglain. Tidak sekalipun."
[]