"Selamat siang Bu" sapa Abrie kepada wanita paruh baya yang sedang menata bunga di rak depan toko tersebut, wanita itu memperhatikan Abrie dengan seksama
"Abrie? Kenapa kau bisa datang se-siang ini?" Tanyanya sambil terus menata bunga tersebut. "Maafkan saya bu, bus yang akan saya tumpangi mengalami keterlambatan datang jadinya saya harus menunggunya lebih lama" jelas Abrie sembari sedikit membungkukkan badannya
Wanita tersebut menghela nafas dan kemudian berdiri, "Baiklah brie masuklah, dan segera bekerja ya" ujarnya dengan nada lembut kemudian tersenyum dan pergi meninggalkan Abrie
Abrie menghela nafas lega dan kemudian membungkukkan kembali badannya, "TERIMAKASIH BU AUDREYYY" serunya kemudian berlari kecil mengikuti Audrey masuk kedalam toko bunga itu.
Selang beberapa saat setelah keramaian pembeli di toko, Audrey melepaskan apronnya kemudian
mengambil tasnya. Abrie yang melihat Audrey seperti akan pergi pun sontak bertanya,
"Apakah bu Audrey akan kembali pulang?" Tanyanya. "Tidak brie, aku akan pergi mencari makan untuk kita berdua, kau belum makan kan?". Abrie pun sontak menganggukkan kepala.
Audrey yang melihat itu pun tersenyum dan mengangguk, "Apa tidak sebaiknya saya saja yang beli makanan Bu? Ibu disini saja. Lagipula di luar sangat panas"
Audrey menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu brie kau di toko saja, aku titip toko ya" ucapnya kemudian pergi meninggalkan Abrie sendiri.
Abrie pun duduk di depan meja kasir dan merenung, "Bagaimana ya kira-kira kabar Paman?" Gumamnya, "Apa Paman mencari ku selama ini?"
Abrie terus menerus merenung, berfikir bahwa yang ia lakukan adalah salah. Apalagi kabur tanpa pamit dengan Paman nya itu.
Di depan terdengar suara mobil parkir yang membuat lamunan Abrie hancur. "Bu Audrey? Cepat sekali" batin Abrie.
Saat pintu terbuka, ternyata bukan Audrey yang dilihat Abrie, melainkan seorang pria gagah dengan pakaian formal nya.
"Selamat siang Nona." Ujar nya, "Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Abrie tanpa bertele-tele. "Ah ya, aku ingin mencari bunga untuk kekasih ku, menurut mu bunga mana yang cocok untuknya?"
"Sebelum nya, bunga apa yang di sukai oleh kekasih mu? Dan warna apa?" Tanya Abrie. Pria itu seperti tengah sibuk berfikir, "Aku kurang tahu, karena aku baru menjalani hubungan ini" ujar pria itu, "Apa kau ada saran?" Lanjutnya.
"Bagaimana jika kau memberinya bunga Juliet Rose?" Tanya Abrie, "Seperti apa bunga itu?" Balas pria itu.
Abrie pun keluar dari area meja kasir dan berjalan menuju tempat bunga yang dia maksud. Pria itu melihat tubuh Abrie seksama dari bawah hingga atas, "Sangat seksi" batin pria itu.
Pria itu berjalan mendekat kearah Abrie, dan meletakkan kepala nya di bahu Abrie, sontak Abrie menghindar.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" Tanya Abrie sedikit panik. Pria itu tersenyum, "Aku... menyukai tubuhmu" balas nya sembari melihat kembali tubuh Abrie dengan seksama. Abrie menelan ludah susah. "Kau jangan macam-macam denganku!" Tegas Abrie.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu" ujar pria itu, namun dengan mendekat kearah Abrie. Abrie berjalan mundur terus menerus hingga menabrak rak bunga.
Bunga-bunga itu banyak yang berjatuhan dan terinjak oleh Abrie. "Pergi kau! Atau aku akan berteriak." Ancam Abrie.
Pria itu berhenti dari langkah nya dan menaikkan kedua bahunya, "Baiklah aku akan pergi, senang melihat tubuh seksimu itu" ujar pria itu lalu keluar dari toko bunga milik Audrey.
Abrie langsung jongkok dan mengambil beberapa bunga yang jatuh dan rusak. "Bagaimana ini? Bagaimana jika bu Audrey menyuruhku mengganti semua? Semua harga bunga ini sangat mahal" ujar Abrie panik.
Abrie mengambil semua bunga, dan menata nya kembali, kecuali yang sudah terinjak oleh nya. Tiba-tiba pintu toko terbuka dan muncul sosok Audrey disana.
Audrey melihat bunga yang di pegang oleh Abrie langsung berlari mendekati Abrie dan mengambil bunga itu dari Abrie. "Kenapa dengan semua bunga ku Brie??!?!" Tanya Audrey dengan nada keras
Abrie tak menjawab, abrie masih syok dengan kejadian barusan yang dia alami. "ABRIE JAWAB PERTANYAANKU!!" Tanya Audrey kembali. Abrie mulai meneteskan air mata nya
"Bu a-aku tidak sengaja" ujar Abrie sesenggukan. Audrey menghela nafas berat, "Sebaiknya kau pulang. Sepertinya kau kelelahan" ujar Audrey dan berjalan membuang bunga yang ia bawa.
"T-tapi bu, ini a-ada penyebabnya" ujar Abrie lagi. "Kau pulang saja, aku hari ini cukup kecewa denganmu brie" balas Audrey, lalu pergi masuk kedalam ruangan nya.
Abrie menunduk. "Kenapa kejadian seperti ini terjadi kepadaku??" Batin Abrie
****
"Hari ini adalah hari sidang ke empat ku dengan Edrea, namun aku belum mengabari Ibu" gumam Edgar yang kini tengah asik bersantai di taman dekat kantor nya.
Edgar melihat jam tangan nya, pukul satu siang. Pukul dua siang ia harus pergi ke tempat pengadilan. "Sebaiknya aku menelfon Ricko dan juga yang lain agar hadir di sana. Hmm... apa aku ajak Ibu Tiri juga? Setidaknya ia pengganti hadir nya ibuku" ujar nya sendiri.
"Yeah... daripada orang itu sendirian di rumah karena Ayah juga sedang ada meeting di luar kota, lebih baik aku ajak saja dia"
****
"Sialan. Aku benar-benar akan cerai dari Edgar. Kira-kira apakah Ibu mengetahui tentang ini? Ku rasa tidak. Saat persidangan saat itu yang hadir hanyalah tangan kanan Edgar dan juga teman-teman nya" ujar Edrea yang tengah sibuk berdandan di depan kaca.
"Apa aku telfon ibu saja? Tapi jika aku salah menerka bagaimana? Aku sangat malu" ujar nya kembali, "jika aku bisa mengambil hati Ibu dan juga Ayah, pasti mereka akan berusaha mempersatukan kami kembali"
Disisi lain, adik Edrea, Darley mengintip dari sisi pintu. "Apa aku boleh masuk Kak?" Tanya nya. Edrea menyadari keberadaan adiknya, "Masuklah Dar" ujar nya.
Darley masuk dan duduk di kasur empuk milik Edrea, Darley menatap sekeliling kamar Edrea, "Hari ini persidangan mu dengan Kak Edgar kan kak?" Tanya Darley lagi, Edrea hanya mengangguk dan fokus menata rambut nya.
"Andai saja dulu kakak tidak berkhianat dan tidak meninggalkan kak Edgar, mungkin sekarang hidup kita enak dan tidak kesusahan seperti ini"
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Jadi kau menyalahkan ku Dar?"
"Menurut kakak saja. Ini memang salah kak Edrea kan? Jika saja itu tidak terjadi, mungkin untuk makan saja kita tidak kesusahan. Saran ku setelah ini, jual saja rumah kita, dan tinggal di rumah sederhana, lalu menghabiskan sisa uang nya untuk bertahan hidup"
"Dar? Aku ada ide untuk itu, kau tenang saja. Meskipun aku cerai dengan Edgar, aku pastikan kita tetap hidup enak"
"Bagaimana caranya? Aku tidak ingin melakukan hal licik. Jika saja aku bisa memilih, lebih baik aku tinggal bersama Kak Edgar. Kak Edgar sudah baik dengan kita, namun kau sia-sia kan begitu saja"
"Hei! Berhenti menyalahkan aku, disaat seperti ini saja, kau selalu menyalahkan aku. Dasar adik tidak tahu diri!"
"Memang kau yang salah. Lalu harus salahkan siapa lagi? Kau ini wanita aneh. Pantas saja kak Edgar meninggalkan mu"
Edrea benar benar menghembuskan nafas berat, terlihat sekali ia menahan emosi nya agar tidak memarahi adik semata wayangnya itu.
Meskipun Darley sangat berbeda pemikiran dengan Edrea, tetap saja. Edrea selalu menyayangi adiknya, karena hanya Darley yang dia punya saat ini.
"Kau bersiaplah. Kita akan berangkat sekarang, satu jam lagi persidangan dimulai."
Darley tak menjawab, dan hanya mengangguk lalu beranjak dari kasur Edrea, keluar tanpa menatap Edrea sedikitpun.