"Kalian semua sudah siap?" tanya Ares kepada para anak buah nya. Kini mereka semua tengah berkumpul di markas yang biasa tempat mengurung para manusia manusia munafik disitu.
"Peledak sudah di aktif kan?" Tanya Ares kembali. "Sudah Bos. Semua sesuai dengan kemauan Bos" jawab salah satu anak buah Ares, Ziko.
"Bagus. Aku minta hal ini jangan di anggap sepele. Karena ini perintah dari Tuan Edgar. Bukan hanya aku yang mati jika ini gagal, namun kalian pun akan mati di tangan Tuan Edgar." jelas Ares
"Baik Bos. Kami akan melaksanakan dengan baik, tanpa ada yang tersisa sedikitpun" ujar Ziko. Ares mengangguk percaya mendengar itu
"Jika semua sudah siap, kalian segera pergi ke pelabuhan, dan menjauh sekitar 10 meter dari bahan peledak itu, atau kalian akan ikut mati" jelas Ares kembali.
Semua pun pergi meninggalkan Ares di tempat. Tersisa Ares, Ricko dan juga Elang disana.
Ricko keluar dengan wajah yang sangat murung dan malas, sedangkan Elang tertawa terbahak bahak melihat wajah Ricko yang seperti itu.
"Kalian pasangan yang sangat serasi" puji Ares menahan tawa nya. "Terima kasih banyak atas pujiannya" balas Elang.
"APA TIDAK ADA BAJU PENYAMARAN YANG LAIN?!?! KENAPA HARUS AKU YANG MENGGUNAKAN BAJU WANITA SEPERTI INI??" Teriak Ricko kesal
Elang dan juga Ares tertawa sekali melihat Ricko dari bawah hingga atas, memang sangat cocok Ricko menjadi wanita.
menggunakan rok panjang dan juga baju oversize yang menutupi lengan kekar nya, juga menggunakan wig rambut panjang berwarna kemerahan, serta make up yang jelas sekali seperti wanita.
bayangkan saja, jika kau adalah Ares dan juga Elang, kau akan tertawa seperti itu.
Sedangkan Elang yang menjadi lelaki nya, dengan jas hitam dan juga wig rambut berwarna putih plus memakai topi agar wig tidak gampang jatuh, make up ala ala kakek kakek hits jaman sekarang.
"Ini hanya sementara, kau jangan mengeluh" ujar Ares, "Jingin mingilih! Enak saja bilang seperti itu, jika kau jadi aku, kau pasti mengeluh juga, payah." ucap Ricko kesal
"Ini tas untuk kalian berdua, disitu sudah lengkap. Ada beberapa pistol dan peluru serta yang lainnya. Jika kalian butuh, kalian bisa menggunakan alat alat yang ada di tas ini" jelas Ares sembari memberikan 2 koper lumayan besar ukuran nya.
"Aku akan memantau sekitar 1km dari sana bersama Dellon dan beberapa anak buah ku" ujar Ares
"Kenapa tidak menggunakan anak buah Edgar juga? Anak buah ku, anak buah Ricko, dan anak buah mu sudah terpakai semua. Bukannya kita kekurangan orang?" tanya Elang
Ares berdahak lirih, "Aku tidak ingin melibatkan anak buah Edgar, terutama Edgar. Kita memang kekurangan, namun ada anak buah Dellon yang siap membantu" balas Ares, Ricko dan Elang mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Jika seperti itu, aku dan Ricko pergi dulu, kau hati-hati" pamit Elang. Ares mengangguk, "Kalian juga hati-hati. Dan ingat jaga jarak dari peledak itu minimal 10 meter" balas Ares.
"Aku belum tua, aku ingat itu" ujar Ricko, "Kau ingatkan saja pak tua ini" lanjutnya. Elang membuang muka malas, sedangkan Ares tertawa kecil melihat wajah Elang yang terlihat sekali menahan emosi.
****
"Semua sudah di posisi masing-masing?" tanya Dellon kepada Ares, Ares mengangguk dan fokus dengan laptop nya.
"Lihatlah, titik merah ini adalah sasaran kita, dan mereka tepat berdiri di bagian peledak itu. Ini sangat sempurna" ujar Ares senang, begitu juga dengan Dellon yang mendengar nya ikut senang.
"Jika peledak itu sudah meledak, akan terjadi keramaian, dan kita sulit melihat posisi mereka. Apakah kau tidak memikirkan itu?" tanya Dellon
"Ricko dan Elang tidak sebodoh itu. Mereka pasti tahu apa yang harus mereka lakukan di situasi seperti itu" balas Ares, Dellon mengangguk paham
"Tidak salah bekerja dengan Edgar, si Mafia paling kaya raya se dunia. Namun jika membuat kesalahan sedikitpun, nyawa taruhan nya" batin Dellon merinding sendiri
"Perkiraan transaksi itu akan dilakukan 5 menit lagi, aku harap mereka semua sudah siap" ujar Ares
Dellon mengangguk anggukkan kepala, ini bukan tugasnya, namun ia di seret seret dalam masalah ini.
Dellon hanya bisa berpasrah diri kepada tuhan agar dia tetap selamat dalam misi ini.
Disisi lain, Ricko dan juga Elang sudah tepat berada di dekat para anak buah mafia itu, "Penjagaan nya sungguh ketat" ujar Ricko dalam hati.
"Kita harus mencari tempat persembunyian, setelah peledak itu meledak, langsung saja menembak ke arah target meskipun itu lumayan sulit di lihat karena banyak nya asap" ucap Ricko, Elang mengangguk.
Mereka berdua pun akhirnya berjalan santai layaknya Anak dan juga Kakek, karena penyamaran nya yang sangat tidak masuk akal.
Namun meskipun begitu, keberadaan mereka berdua tidak di anggap ancaman oleh para anak buah mafia itu, berarti misi penyamaran berhasil.
Mereka sudah menunggu hampir 3 menit an, sebentar lagi peledak itu akan meledak. Ricko dan Elang saling menatap, lalu berpencar begitu saja.
Ziko melihat itu merasa kebingungan, "segampang itu mereka komunikasi?" Heran nya. Namun Ziko tidak pikir panjang, ia tetap berada di tempat hingga peledak itu meledak.
"Dalam hitungan, three, two, one, bom" ujar Ricko. Dan sesuai hitungan peledak itu meledak, semua orang panik berlarian dan berteriak panik.
"Dasar orang-orang lemah. Berisik sekali!" Malas Ricko, Ricko melepas high heels nya, karena sulit untuk berlari.
DOR DOR DORR
Banyak sekali suara-suara tembakan yang membuat orang orang semakin panik. Ricko menembak beberapa anak buah Mafia itu tepat di kepala dan juga d**a.
Meskipun banyak asap, mata Ricko sangat tajam.
Begitupun dengan Elang yang menembak beberapa anak buah mafia itu tepat pada kaki dan juga 'kelamin' itu. Tidak terbayang betapa sakitnya...
"Hahahaha, mati kau anjing!" Ujar Elang senang.
Sedangkan mafia itu, Frans sibuk bersembunyi dan mencoba menyalakan handphone nya. "Sialan. Disaat seperti ini, sinyal malah hilang." Kesal Frans.
"Ricko, Frans bersembunyi tak jauh dari keberadaan mu, sepertinya dia mencoba menghubungi seseorang, cepat bunuh dia" pinta Ares di telfon.
Ricko segera mencari keberadaan Frans di sekeliling. Ketemu!
"Bocah tengil. Mencoba untuk menghubungi seseorang?" Ujar Ricko yang membuat Frans terkejut dan tak sengaja menjatuhkan handphone nya.
"Siapa kau??!!" Tanya Frans dan menyodorkan pistol tepat di wajah Ricko. Ricko memasang wajah yang sangat-sangat tenang.
"b******k. Apa dia tidak takut mati??!?!" Batin Frans. "Aku adalah asisten pribadi Tuan Edgar. Kau pasti mengenali nya bukan?" Ujar Ricko.
Frans semakin terkejut dan panas dingin. Yang Frans tahu, Mafia paling kejam adalah Edgar. "Mengapa dia bisa tahu jika aku melakukan transaksi disini?" Batin Frans
"Mengapa kau menghancurkan semua nya??" Tanya Frans, Ricko berjalan mendekat kearah Frans, dan mengambil pistol yang di pegang Frans lalu di buang ke sembarang tempat begitu saja
"Aku tahu, kau dan para mafia lain bekerja sama agar bisnis Tuan Edgar hancur bukan? Sayangnya, kau salah musuh" ujar Ricko
Benar. Frans menyadari hal itu, dia salah musuh. Sudah tahu jika Edgar adalah Mafia paling kejam dan licik, namun dia tetap ingin menghancurkan bisnis nya, bodoh!
"Tenang, aku tidak akan membunuh mu, asal kau menuruti perintahku" ucap Ricko.
Frans merasa di injak-injak harga dirinya. Ia mencoba memukul wajah Ricko namun dengan sigap Ricko menangkisnya.
"Lebih baik aku mati daripada harus menuruti perintah mu!!" Ujar Frans tegas. Ricko menatap dengan smirk puas.
Satu tangan Ricko yang masih memegang tangan Frans, dan satu nya lagi mengeluarkan pistol dari saku nya.
DOR DOR DOR
8 peluru masuk tepat di kepala dan juga jantung. Ricko melepas semua pakaian Frans, untuk menghilangkan segala bukti sidik jari nya.
"Besar juga ternyata milik nya" ujar Ricko, lalu... DOR. Ia menembak burung milik Frans, lalu pergi meninggalkan Frans disana.