"Ibu, aku pergi dulu, jagalah dirimu baik-baik. Aku akan merindukanmu" ucap Enzi sembari memeluk erat tubuh ibu nya. Elvara menangis mendengar ucapan anak kesayangannya itu.
"Kau juga jaga diri baik-baik. Ibu akan selalu merindukanmu" balas Elvara, dan melepas pelukannya. Mencium kening Enzi dengan lembut, mengusap air mata yang ada di pipi Enzi.
"Kak" panggil Enzi, Edgar menoleh. "Jaga ibuku, Mommy, dan juga Ayah" pinta Enzi, Edgar mengangguk. "Satu lagi, dia" lanjut Enzi.
"Jaga dirimu Zi, Selalu berikan kabar baik kepada kami, jika kau sedang emosi, jangan pecat karyawan Ayah" ujar Edgar, Enzi tertawa kecil, dan mengangguk.
"Dia? siapa yang kau maksud Zi?" tanya Elvara langsung. "Ah tidak ada bu. Aku harus pergi sekarang, ingat! Kau harus jaga dirimu baik-baik Bu" pinta Enzi, dan langsung berjalan menjauhi Elvara dan juga Edgar.
"Edgar, apa boleh ibu bertanya?" ujar Elvara. Kini mereka berdua tengah berjalan menuju mobil Edgar. Edgar pun menoleh, lalu mengangguk.
Mereka berbicara banyak hal sembari berjalan, hingga sampai di mobil. "Ibu ingin kau rahasiakan ini dari Enzi dan juga Ayahmu" ucap Elvara. Edgar mengangguk mendengar ucapan Elvara.
Mereka berdua pun memasuki mobil. "Aku akan pergi ke kantor, apa Ibu tiri mau ikut denganku?" Tanya Edgar.
"Tentu saja ibu mau. Ibu ingin melihat seperti apa kantor mu, ibu tidak pernah tahu bagaimana bentuk kantor mu." balas Elvara, Edgar mengangguk, dan langsung tancap gas menuju kantor nya.
Selama perjalanan, keduanya tidak ada yang berbicara, hanya suara suara kendaraan seperti umumnya.
****
"Selamat pagi Tuan, Nyonya besar" ucap para staf kantor sepanjang koridor kantor Edgar. Elvara merasa tersanjung dengan sambutan sambutan tersebut.
"Mereka sangat sopan" batin Elvara. Edgar dan Elvara masuk kedalam lift yang hanya khusus orang penting yang menaiki lift itu.
"Semua karyawan mu sangat sopan" ujar Elvara membuka obrolan. Namun Edgar hanya berdahak tanpa membalas topik Ibu tiri nya.
Elvara sedang melihat ruangan Edgar yang sangat besar dan mewah itu. Semua nya tertata dengan rapi dan tanpa ada debu sedikitpun setiap sisi nya.
"Ibu tiri tunggu lah disini, aku akan segera kembali." Ucap Edgar dan langsung meninggalkan Elvara di tempat. sedangkan Elvara masih kagum dengan kerapihan dan kebersihan ruangan Edgar.
"Freya, tolong kau temani Ibu tiriku di ruangan ku. Aku ingin membahas tentang projek ku dengan Ares, Ricko dan juga Elang. Ah ya, bawakan beberapa makanan dan juga minuman, yang menurut mu cocok untuk orang tua" pinta Edgar kepada Freya.
"Baik Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu" balas Freya. Edgar mengangguk. Kini ia berjalan menuju ruang meeting yang hanya di perbolehkan orang-orang penting saja yang boleh masuk.
****
"Bagaimana semuanya bisa kacau seperti ini?" tanya Edgar menahan emosi nya. Sedangkan Ares, Ricko, dan juga Elang hanya saling tatap menatap tak tahu harus berbicara apa.
Edgar menghembuskan nafasnya berat. "Aku mengandalkan kinerja kalian, kenapa kalian tidak bisa meng-handle nya dengan benar??" ujar Edgar dengan penuh emosi.
"Baru saja aku tidak berada di kantor selama sehari namun semua kacau seperti ini, bagaimana jika aku pergi ke Bali untuk menemui ibuku?!"
"Edgar kau tenanglah. Aku bisa menjelaskan semua" ucap Ares mencoba menenangkan Edgar. "Coba jelaskan kepadaku." balas Edgar sembari duduk di kursi nya.
Ares mengangguk, "Ada mafia lain yang tidak suka jika bisnis kita lancar seperti ini. Banyak sekali para mafia merasa iri dengan bisnis kita, bahkan ada yang mencoba untuk menghancurkan bisnis kita. Maka dari itu, semua jadi ka—" jelas Ares, ucapnya terputus saat Edgar langsung angkat bicara.
"Siapa orang itu?" tanya Edgar, Ares menghela nafas, dan memberi kode kepada Elang agar dia yang bergantian berbicara. Elang menaikkan satu alisnya heran, dan memberikan isyarat dari mulut, "kenapa harus aku?"
"JAWAB!!" Bentak Edgar. Elang, Ares, dan juga Ricko terkejut mendengar bentakan keras dari Edgar. "Mafia Ghani Gar" ujar Ricko langsung.
"Ghani?" tanya Edgar memastikan apakah yang ia dengar itu salah atau tidak. Ares, Elang, Ricko mengangguk bersamaan.
"Hanya Ghani?" tanya nya lagi, namun Ricko menggeleng. "Selain Ghani ada juga Mafia lain yang ingin merusak bisnis mu. Mereka iri karena yang paling banyak mendapatkan pesanan Narkoba dan juga Senjata Tajam itu bisnis mu" jelas Elang.
"Apa harus aku yang turun tangan?" tanya Edgar. Ares menggeleng, "Tidak perlu. Kita bertiga sudah menyusun beberapa strategi untuk membuat Ghani dan juga yang lain lenyap"
"Jelaskan." pinta Edgar.
"Aku mendapat bocoran bahwa akan ada transaksi di pelabuhan besok siang. Aku memerintahkan kepada para anak buah ku untuk memasang beberapa peledak disana. Jika mereka sudah melakukan transaksi, peledak itu akan dengan sendirinya meledak." jelas panjang lebar Ares.
"Mungkin ini akan memakan banyak korban yang tidak bersalah, namun ini cara yang ampuh agar mereka lenyap seketika. Aku dan juga Elang akan berada disana untuk memastikan apakah semua yang berada disana akan mati atau tidak." lanjut Ricko
"Aku juga sudah berhasil membuat anak buah ku masuk kedalam bisnis nya Ghani. Dia akan selalu memberikan update an terbaru terkait bisnis nya Ghani" jelas Elang.
"Jika rencana kalian yang ini gagal?" tanya Edgar ragu, "Kita masih memiliki rencana B dan juga C. Semua itu sudah dipastikan akan berhasil." balas Ares
"Aku tunggu kabar terbaik nya. Jika besok Mafia itu masih saja hidup. Aku yang tidak akan segan-segan yang meledakan tubuh kalian." Ancam Edgar.
"Kita pastikan, bahwa kita bisa di andalkan" balas Ares. Edgar mengangguk. Ia pun keluar ruangan mendahului mereka bertiga.
"Wuh Bgst! Bagaimana jika kita gagal?? Sialan." Ucap Elang ngos-ngosan, mendengar ancaman Edgar tadi, ia langsung menahan nafas.
"Hahaha, sudahlah. Aku yakin kita menang!" balas Ricko percaya diri. "Jangan lupa kalian harus menyamar. Karena sudah banyak para Mafia yang mengenali wajah kita" ujar Ares
Ricko dan Elang menghela nafas panjang, "Menyamar seperti apa?" tanya Elang. Ares menunjukkan senyum jahil
nya itu membuat Ricko dan Elang tidak yakin.
"Jangan yang aneh-aneh!" tegas Ricko. Ares mengangguk, "Tenang saja aku sudah siapkan pakaian yang cocok untuk kalian berdua agar kalian besok bisa berjalan-jalan tanpa di kenali" balas Ares.
Ricko menaikkan kedua bahunya pasrah, "Edgar hanya bermain-main kan dengan ancaman nya itu?" Tanya Ricko ragu. Jujur saja, ia lebih takut mati di tangan Edgar daripada di tangan orang lain.
"Ntahlah, aku juga overthingking memikirkan itu" jawab Elang.
"Edgar tidak pernah bermain-main dengan ancaman nya. Maka dari itu, kita pun jangan main-main dengan nya. Besok aku mau, kita harus berhasil." ujar Ares
"Kalaupun besok para mafia itu tidak mati karena peledak. Aku sendiri yang akan menghabisi nya" ujar Elang, Ricko menepuk bahu Elang, "Minta doa dengan Tuhan agar ucapan mu terkabul" ujar Ricko
"Mana mungkin terkabul. Kita ini pendosa, payah!" malas Elang, lalu meninggalkan Ares dan juga Ricko di dalam ruangan itu.
Ares tertawa terbahak bahak mendengar apa yang di lontarkan Elang barusan, tidak salah, namun bukan begitu konsep nya...
"Benar juga, ya Tuhan maafkan aku, dan lancarkan lah semua nya Tuhan" gumam Ricko membuat Ares semakin tertawa kencang. Ricko yang melihat ekspresi wajah Ares hanya cengingiran layak nya tak ada dosa.
****
"Ibu tiri, aku sudah selesai disini. Mau pulang?" tanya Edgar yang kini berada di tengah tengah depan pintu ruangan nya sendiri.
Elvara menoleh, begitu juga dengan Freya. "Ibu masih ingin mengobrol dengan Freya Gar" balas Elvara, Edgar membuang muka malas.
Freya melihat wajah Edgar mengerti. "Maaf Nyonya besar, namun saya harus kembali bekerja" ujar Freya membuat Elvara murung.
"Baiklah jika seperti itu. Kau bekerja lah, dan jangan mengecewakan anak ku dengan kerja mu itu" ujar Elvara, Freya mengangguk.
Freya pun pamit kepada Edgar dan juga Elvara. Edgar hanya diam tak memasang ekspresi wajah apapun di depan Freya.
"Kenapa orang ini selalu saja memasang wajah dingin nya itu?" batin Freya heran.
"Ibu masih ingin bicara denganmu mengenai perceraian mu dengan Edrea" ucap Elvara. "Aku lelah, aku ingin segera istirahat. Mari pulang"
"Hanya sebentar saja Gar"
Edgar tak kisah, ia berjalan meninggalkan Elvara disitu. Elvara hanya bisa menghela nafas pasrah, Entah sampai kapan Edgar akan bersikap dingin seperti itu kepada dirinya.
Elvara berlari kecil, mengejar langkah Edgar yang tertinggal lumayan jauh.
"Ibu tiri pulang di antar oleh supir ku. Aku tidak pulang hari ini, aku ada urusan" ucap Edgar. Mereka berdua sudah berada di depan kantor Edgar kali ini.
"Kau mau kemana?" tanya Elvara. Edgar tak menjawab, ia kembali masuk kedalam kantor nya tanpa memberikan kata sepatah pun untuk Elvara.
Para staf kantor hanya melihat Edgar dengan biasa. Mereka sudah biasa melihat sikap dingin Bos nya itu.
"Dellon. Apa dia sekarang berubah posisi nya?" tanya Edgar di dalam ruangan Dellon.
Ya, karena tugas nya sebagai detektif, Dellon pun sampai di beri ruangan pribadi dari Edgar agar lebih cepat mendapatkan informasi tentang Abrie, wanita yang tengah ia cari.
"Tidak Tuan. Nona Abrie hingga saat ini masih berada di Bali, aku sudah mengirim anak buah ku untuk kesana, mengawasi setiap gerak gerik Nona Abrie. bahkan aku memiliki beberapa foto Nona Abrie saat tengah melakukan kegiatan sehari-hari nya"
"Mana? Aku ingin melihatnya"
Dellon memberikan beberapa foto kepada Edgar. Edgar melihat nya dengan teliti. "Dia begitu cantik" gumam nya.
"Pastas saja kau menyukainya Gar" ujar Ricko yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Edgar mengangguk, tersenyum tipis, "Bawa dia kemari. Culik dia, dan bawa dia ke villa pribadi ku" perintah Edgar.
"Bukannya kau yang akan kesana, sekalian melihat Ibumu?" tanya Ricko.
"Situasi seperti ini tidak mungkin aku bertemu dengan ibuku. Aku sudah mengabarinya untuk dia yang datang kemari, dengan ponakan ku juga agar dia ada teman mengobrol nya."
"Lalu ibumu akan tinggal dimana? apa bersama ibu tirimu?"
"Tidak. Aku akan membawa nya ke villa pribadiku juga. Abrie dan Ibu akan bertemu secara langsung"
"Ide cemerlang, Tuan. Aku akan segera meme
rintahkan kepada anak buah ku untuk menyulik Nona Abrie." ujar Dellon, Edgar mengangguk. "Jangan sampai Abrie lecet sedikitpun." sarkas Edgar.