"Karena tidak ada Abrie, semua pekerjaan rumah aku yang menyelesaikan nya. Lebih baik aku mencari asisten rumah tangga saja" cibir Dessi. Samuel mendengar itu namun tak menjawab.
Samuel masih kesal dengan istrinya yang telah membuat Abrie pergi dari rumah. Jelas-jelas Kakaknya Samuel, atau ayah dari Abrie memberi amanat untuk menjaga Abrie dan menyayangi nya seperti anak nya sendiri.
Samuel hanya bisa berpasrah kepada tuhan, berharap Abrie segera di temukan dalam keadaan baik-baik saja.
"Daniel pulang" ucap pria tampan muncul dari balik pintu, Samuel tersenyum. "Kau sudah melaporkan ke polisi?" Tanya Samuel, Daniel mengangguk dan duduk di sebelah Samuel.
"Ayah berjanji akan menemani mu selalu, dan tidak akan meninggalkan mu Niel. Jadilah anak kebanggaan Ayah" Samuel sangat bangga dengan anak semata wayangnya itu, Daniel sangat diandalkan oleh Samuel nanti nya jika dia dan juga Dessi sudah tua.
"Kau harus menepati janji mu itu Yah. Daniel akan berusaha menjadi anak yang baik untuk Ayah dan juga Ibu" balas Daniel.
"Daniel, bantu ibu beres-beres rumah. Rumah ini berantakan seperti kapal pecah!" Ujar Dessi dengan nada emosi nya itu, justru Samuel melarang Daniel untuk membantu ibunya, Dessi harus merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga yang baik.
"Ah tidak Bu, aku sangat lelah, Ayah aku ke kamar dulu ya" ujar Daniel sembari mengedipkan satu mata nya kepada sang ayah, Samuel tersenyum dan memberikan jari jempol kepada Daniel.
"Dasar anak yang durhaka, di suruh membantu ibu nya malah menolak!" Kesal Dessi. "Sudah selesaikan semua pekerjaan itu, jika kau terus menerus mengomel, pekerjaan mu tidak akan selesai" balas Samuel.
****
"Semua data tentang Abrie sudah aku kirim ke email mu ya kak. Aku harap kau bisa menemukan nya" ujar Enzi sembari memasukkan pakaian nya kedalam koper.
Edgar yang tengah duduk santai di sofa panjang dekat ranjang Enzi hanya mengangguk-angguk kan kepala nya, sebagai jawaban.
"Dan jangan lupa dengan syarat yang aku berikan kepada mu" ucap Edgar datar. Enzi terhenti sejenak, melamun, lalu mengangguk. "Aku tidak akan lupa, aku percaya padamu" balas Enzi.
"Dellon sepertinya sudah menemukan titik terang tentang Abrie" batin Edgar. Edgar berdiri dari duduknya, merapikan jas yang ia kenakan, Enzi menoleh. "Mau kemana kau?" Tanya nya.
Edgar tak menjawab, ia langsung berjalan keluar kamar Enzi dengan sangat terburu-buru. "Dasar orang aneh! Di tanya bukan nya jawab, malah nyelonong begitu saja. Hahh... Mungkin pendengaran nya sudah mulai tidak berfungsi, yah maklum usia tua" celoteh Enzi sendiri.
Edgar berlari kecil menuju mobil nya, saat ia tengah membuka pintu, panggilan namanya terdengar dari telinga nya, ia menatap sekeliling, ada Elvara disana.
"Ya, kenapa?" Tanya Edgar langsung tanpa basa-basi. "Ah tidak Gar. Aku hanya ingin berbicara denganmu, apa kau ada waktu?" Edgar diam sejenak, lalu mengangguk.
Elvara tersenyum dan berjalan masuk kedalam mansion itu, diikuti oleh Edgar di belakang nya.
Mereka kini tengah duduk di tepi kolam renang, "Kapan suami ku pulang?" Tanya Elvara, Edgar mendengus. "Itu juga suami ibuku, bodoh!" Batin Edgar.
"Ayah pulang besok, saat Enzi akan berangkat ke Amerika" jawab Edgar. Elvara mengangguk paham, "Apa kau tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan adikmu Gar?" Tanya Elvara lagi.
"Tanyakan saja kepada anakmu. Mengapa kau tanya kepada ku? Aku sibuk, aku pergi dulu. Selamat tinggal ibu tiri" ucap Edgar dan berjalan meninggalkan Elvara sendiri.
"Di tanya malah nyelonong begitu saja, dimana attitude nya?" Cibir Elvara kesal karena melihat tingkah dan respon Edgar yang tak enak di dengar di telinga nya itu.
Edgar mengendarai mobil dengan kecepatan max, hingga ia tak sadar bahwa mobilnya di ikuti oleh beberapa mobil polisi, Edgar segera mengambil ponsel nya dan menelepon seseorang dari kejauhan sana.
"Bunuh semua polisi-polisi yang mengikuti ku, akan aku share lokasi nya, segera." Titahnya. Dari seberang sana menjawab, "Laksanakan Tuan!" Lalu di matikan nya telfon itu.
Tak berlangsung lama, ada tujuh mobil berwarna hitam yang mengikuti Edgar juga. Edgar smirk puas, lalu ada telfon dari ponsel nya, dengan segera ia menjawab nya.
"Di depan ada pertigaan, Tuan belok ke kanan saja" Ucap seseorang dari sana, Edgar mematikan telfon nya, dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Ada pertigaan di depan sana, ia segera belok ke kanan. Ia melihat dari spion mobil nya, tiga mobil polisi tersebut terkepung oleh tujuh mobil suruhan Edgar.
Edgar berhenti, turun dari mobil dan menatap nya dengan gembira. Disana, para orang-orang suruhan Edgar keluar dari mobil secara bersamaan, dan berlari menjauh.
"Three, two, one" ujar Edgar menghitung mundur, dan...
BOOOMMM!!!
Tujuh mobil itu meledak secara bersamaan, dan begitu juga ketiga mobil para polisi yang mengejar Edgar. Edgar tersenyum puas dengan semua itu.
Edgar mengambil ponsel yang ada di saku nya, "Pastikan polisi-polisi itu tiada, dan hilangkan semua jejak. Satu lagi, pastikan tidak ada saksi mata" suruh Edgar, lalu mematikan ponselnya.
Edgar kembali masuk kedalam mobil, dan menuju ke arah kantor nya.
****
"Darimana saja kau? Kau tidak tahu ini pukul berapa?? Jangan mentang-mentang kau owner disini, kau jadi seenaknya saja datang terlambat." Ujar Ricko kesal dengan Edgar.
Edgar hanya meringis dan memasang raut wajah tak bersalah nya, membuat Ricko ingin sekali memukul dan menghabisinya.
"Ayo ikut ke ruangan ku, ah ya ajak Elang dan juga Ares" titah Edgar, lalu berjalan mendahului Ricko. Ricko memanyunkan bibirnya kesal. "Seenaknya saja kalau menyuruh" cibirnya, "Aku mendengar ucapanmu" balas Edgar.
Ricko hanya menelan ludah susah, lalu berjalan untuk memanggil Elang dan juga Ares.
"Ada apa Gar?" Tanya Ares.
Mereka berempat sudah berada di ruang kerja Edgar. Edgar berdiri dari kursi nya, "Sepertinya aku jatuh cinta dengan wanita" ucap Edgar membuat Elang dan juga Ares terbelalak, beda dengan Ricko yang memasang wajah tidak terkejut nya itu
"Ya iyalah suka sama wanita, memangnya kau akan suka denga pria begitu?" Ujar Ricko membuat Edgar membuang muka. "Bukannya kau sedang proses cerai dengan istrimu?" Tanya Ares, "Edrea maksudku" ralat nya.
"Atau jangan-jangan kau cerai dengan Edrea karena kau selingkuh dan lebih memilih selingkuhan mu itu?" Curiga Elang, "Astagaa ngerinyaaa" ucap Ricko dengan nada dramatis nya itu.
"t***l. Aku serius, aku menyukai Abrie, kekasih Enzi" ujar Edgar, kali ini bukan hanya Elang dan Ares yang terkejut, namun Ricko juga.
"Yang benar saja?? Kau menyukai pacar adikmu sendiri?? Astaga Gar, kau ini seperti tidak ada gadis lain saja hingga pacar adikmu saja kau menyukainya??" Heran Ricko tak percaya.
"Kau bisa diam?!" Tegas Ares. Ricko memutar bola matanya malas. "Lanjutkan Gar" ucap Ares.
"Yeah, Abrie adalah wanita yang hari itu pernah aku tabrak, dan ternyata dia adalah kekasih adikku sendiri. Abrie sekarang menghilang, ntahlah hingga saat ini Enzi tidak bisa menemukan keberadaan Abrie, karena dia menghilang begitu saja."
"Enzi memintaku untuk mencarikan Abrie, karena besok Enzi harus tinggal ke Amerika, dia menitipkan Abrie kepadaku. Awalnya aku menolak, namun aku meng—iyakan hal itu, tetapi ada syarat nya"
"Syaratnya, jika aku jatuh cinta dengan Abrie, Enzi harus melepaskan Abrie untukku, hhahah kau tahu? Enzi sangat tidak rela melepaskan wanita nya itu untukku, namun dia terpaksa mengatakan iya, dia rela Abrie untukku asal Abrie bahagia"
"Aku tahu ini sangat jahat dan licik. Tapi memang ini tujuanku"
"Tidak salah bekerja dengan Tuan Edgar Emiliano Dewangga si pengusaha sukses, otaknya sangat bijak dan licik. Lalu? Apa kau akan mencari Abrie?" Tanya Elang. Edgar mengangguk.
"Dellon bilang kepadaku, jika Abrie berada di Bali saat ini, bukankah 4 hari lagi kau akan kesana Gar?" Ucap Ricko, Edgar mengangguk lagi.
"Keburu dia pergi lebih jauh lagi, mengapa kau tidak berangkat sekarang saja agar lebih cepat menemukan Abrie?" Usul Ares.
"Tidak bisa. Aku harus mengantarkan Enzi hingga bandara besok, dan menunggu ayah pulang, agar ibu tiri tidak sendirian di rumah" balas Edgar.
"Ah gampang, aku akan menemani ibu tirimu itu, lumayan lah" ujar Elang sembari menaik turunkan alis nya jahil.
"Ye sembrono! Mau juga lah" sarkas Ricko. "Ambil saja, agar ibu ku tidak feeling lonely lagi" balas Edgar. Mereka tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Edgar barusan.
"Ya sudah, lusa kau bisa berangkat kan?"
Tanya Ricko, Edgar mengangguk ragu. mungkin bisa, mungkin juga tidak. Hanya masalah waktu, pikir Edgar.
****