"Astaga Enzi, kenapa dengan wajahmu? Mengapa membiru seperti ini?? Kau habis berkelahi???" Tanya Elvara panik sembari melihat semua tubuh Enzi dengan seksama.
Enzi menatap Edgar dengan senyum jail nya. Edgar menaikkan satu alisnya heran. "Aduh bu, ini sangat sakit" rengek Enzi. Elvara menatap sendu, "Bagian mana yang sakit? Siapa yang memukul wajahmu hum?"
"Kak Edgar yang sudah memukulku bu" ujar Enzi. Edgar mendengar itu langsung tersedak dengan minuman yang ia minum. "Edgar?" Ralat Elvara, takut ia salah mendengar.
Enzi mengangguk. Elvara menatap Edgar dengan raut kecurigaan. "A-aku tidak memukulnya. Tadi ada nyamuk di wajah Enzi, jadi aku memukulnya, tapi ibu tiri sungguh.. aku tidak tahu jika itu membuat wajah anak kesayangan mu ini membiru seperti itu" jelas Edgar panjang lebar.
Enzi mendengus. "Apa-apaan seperti itu? Sangat licik!" batin Enzi kesal. Edgar melihat wajah Enzi hanya bisa menahan tawa, karena tidak mungkin ia tertawa di depan ibu tiri nya, image cool nya nanti akan hilang begitu saja.
"Baiklah Gar, lain kali hati-hati" , "Kau segera membersihkan badan, dan obati luka mu. Ibu sudah mengantuk dan ingin tidur, selamat malam untuk anak-anak ibu"
Elvara meninggalkan kedua anak nya di ruang keluarga. Edgar menatap Enzi geram, dan langsung menendang junior kesayangan Enzi.
"AAAARRRGHHH" teriak Enzi. Namun Edgar langsung membungkam mulut nya. "Kau jangan teriak. Nanti ibu tiri mendengar nya" jelas Edgar.
"Sungguh kak, kau tega sekali dengan ku, junior ku kesakitan ini" ucap Enzi menahan rasa sakit nya. Edgar hanya tertawa terbahak bahak mendengar itu, kasihan sekali.
"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu Zi" pinta Edgar, namun Enzi menggeleng cepat. "Nanti kau menyakitiku lagi" balas Enzi.
Edgar mendengus, "duduk aku bilang." Tegas nya, Enzi pun mengangguk menurut dan duduk di sebelah Edgar. "Ada apa?" Tanya Enzi
"Dua hari lagi kau harus ke Amerika, itu ucap Ayah. Mau tidak mau kau harus mau Zi" jelas Edgar. Enzi menunduk. "Bagaimana dengan Abrie? Hingga saat ini aku belum menemukan nya" batin Enzi.
"Kau kepikiran dengan wanitamu?" Tanya Edgar, Enzi mengangguk. "AH YA KAK!!" Teriak antusias Enzi membuat Edgar sangat terkejut. "APA?!?!" Kesal Edgar.
"Aku ingin kau mencari kekasih ku, dan jaga dia baik-baik. Aku akan memberikan data-data tentang nya besok pagi, aku mohon dengan mu kak, turuti kemauan ku kali ini saja"
"Malas. Tadi aku ingin Ubi tidak kau berikan" elak Edgar, sebenarnya ini adalah hal yang di tunggu-tunggu oleh dirinya, Enzi menyerah kan wanita nya kepada Edgar.
Memang terlihat jahat, tapi itu tujuan Edgar. Edgar benar-benar tergila-gila pada Abrie. Meskipun itu kekasih adiknya sendiri, dia mau melakukan apapun itu agar bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Besok aku akan memberikan ubi yang sangat banyak untukmu, jika kau mau aku borong hingga yang membuat ubi itu untukmu. Ayolah kak, aku mohon"
"Tidak. Mencari seseorang itu tidak mudah Zi. Apalagi mengingat wajah kekasih mu saja aku sudah lupa. Tidak tidak, aku tidak ingin kerepotan dengan kemauan mu itu."
"AKU MOHON!! SEKALI SAJA TURUTI KEMAUAN ADIK TERSAYANG MU INI"
"Aku bilang tidak ya tidak. Lagipula, menjaga wanita yang bukan milikku itu sangat menyusahkan. Aku tidak mau itu, kau tahu aku ini seorang pengusaha sukses, jelas aku sibuk dan tidak ada waktu mengurus wanita mu"
"Gayamu selangit! Hanya di mintai itu saja mengeluh! Kau kan bisa menyuruh orang kepercayaan mu untuk menjaga Abrie jika kau tidak bersedia menjaga nya."
"AAARRRGHHHH SETRES AKU LAMA-LAMA BERDEBAT DENGAN MU!!"
"Ya sudah kalau begitu, tolong aku dan aku tidak akan merepotkan mu lagi"
"Ada syaratnya"
"Apa?"
****
"Dellon, kau sudah menemukan titik terang tentang Abrie?" Tanya Freya, Dellon menggeleng. Ricko melihat keduanya sangat dekat ingin sekali membalikkan meja yang ada di hadapannya.
"Ekhem!" Ricko sengaja berdeham agar dia menjadi pusat perhatian Freya. "Apa kalian tidak lapar hm?" Tanya Ricko
"Sebenarnya iya, namun perintah Tuan Edgar tidak bisa di tinggalkan begitu saja" balas Freya, Ricko mengangguk, membenarkan ucapan Freya.
"Tenang saja, Edgar sangat santai orang nya. Hanya saja gampang emosi, yeah mood nya random" balas Ricko, "Kau cari makan saja, sekalian untuk kita bersama, aku sangat lapar, kau juga kan Dellon?" Lanjut Ricko
Dellon mengangguk setuju. Freya pun meng-iya kan perintah Ricko, dan meninggalkan Ricko, Dellon di tempat itu.
"Kau jangan mencari kesempatan agar bisa mendekati Freya" ucap Ricko kepada Dellon. Dellon sedikit terkejut mendengarnya.
"Tidak minat sama sekali, ambil saja. Lagipula aku dan Freya hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Jangan cemburu berlebihan, alay sekali" balas Dellon, Ricko menggeram kesal.
"Aku tidak cemburu asal kau tahu! Hanya saja aku tidak ingin kau macam-macam dengan calon ku itu"
"Santai saja Ric, aku sudah bilang aku tidak minat dengan itu, ambil saja jika kau mau. Dan juga, Freya memiliki selera yang tinggi, bukan seperti aku"
"Nice, kau benar. Selera Freya adalah aku, tidak mungkin jika kau itu selera nya Freya, hahahha" ujar Ricko bangga dan tak lupa dengan tawa puas nya itu.
Dellon hanya menggeleng kepala mendengar ucapan Ricko. "Sangat terobsesi dengan Freya toh" batin nya.
Mereka pun diam cukup lumayan lama, tidak ada yang bicara ataupun bersuara, hanya terdengar suara keyboard komputer yang sedang di gunakan oleh Dellon.
"Hm, aku heran. Bagaimana bisa kau tidak menyukai wanita seperti Freya? Freya cantik, sopan, anggun, intinya perfect" ucap Ricko membuka topik obrolan lagi.
"Aku tahu Freya adalah wanita yang sangat sempurna, dan pasti banyak yang mengincar atau menginginkan Freya untuk menjadi pendamping nya. Namun aku memang benar-benar tidak minat dengan nya"
"Mengapa? Kau ini sungguh aneh. Jelas-jelas ada wanita cantik tepat di depan mata, tetapi kau tidak berminat mendekati nya"
"Justru yang aneh itu dirimu Ric. Tadi melarang ku mengambil kesempatan dalam kesempitan, sekarang kau menyuruhku berminat mendekati Freya? Mau mu itu apa"
"Ah iya. Lupakan saja jika seperti itu. Tetapi aku masih ingin tahu alasan mu tidak menyukai wanita se sempurna Freya, ya mungkin banyak yang sempurna lebih dari Freya, tapi Freya juga termasuk kategori sempurna bukan?"
"Kau benar. Freya memang termasuk kategori wanita sempurna"
Ricko mengangguk, "lalu apa alasanmu hm? Kau ini di tanya tidak menjawab"
Dellon menghela nafas panjang, "kau ingin tahu itu?" Tanya Dellon, Ricko mengangguk cepat.
"Karena aku sudah mempunyai Istri dan juga Anak" jawab Dellon. Ricko mendengar itu terbelalak dan terkejut.
Dellon melihat ekspresi wajah Ricko yang
shock itu hanya tertawa kecil, "Astaga, kenapa dia memasang wajah seperti itu." Batin Dellon.