Sudah dua hari Edgar menunggu info yang di dapatkan oleh Freya. Entah kenapa, selama dua hari itu ia merasa tidak tenang jika belum tahu tentang wanita yang ia tabrak.
Edgar keluar kamarnya dengan pakaian kemeja hitam dan juga jas biru sangat cocok untuk tubuhnya itu.
"Kak, kemarilah" panggil Enzi yang tengah asik duduk si ruang tengah sembari makan cemilan kesukaannya.
Edgar menoleh, lalu mengangguk.
"Ada apa?" Tanya nya. Enzi melirik kakaknya itu, dan menepuk-nepuk sofa itu, memberi isyarat agar kakak nya duduk di sebelah nya.
"Aku tidak ada waktu Zi, cepat katakan" ucap Edgar datar tanpa ekspresi.
Enzi menghela nafas malas, "Sok sibuk cuih." Cibir Enzi. Edgar memutar bola mata malas, "Aku memang sibuk, tidak mengandalkan asisten dan juga sekretaris" sindir Edgar langsung.
"Kau menyindir ku kak? Ah ya lupakan, aku tidak ingin memulainya. Aku ingin bercerita", "Aku tidak ada waktu. Cerita lain hari saja, sekarang juga aku akan pergi ke kantor" balas Edgar cepat.
"Padahal aku ingin curhat sedikit denganmu, apa itu salah? Hanya minta waktumu sebentar saja."
"Lama-lama kau ini seperti wanita, ingin dituruti selalu."
"Duduklah dan dengarkan ceritaku"
Edgar tak peduli, ia beranjak untuk pergi meninggalkan Enzi, Enzi melanjutkan ucapan nya sehingga membuat Edgar terhenti dari langkah kaki nya.
"Padahal ini tentang kekasihku."
Edgar membatin, 'Mungkin aku bisa mendapatkan informasi lewat Enzi'
Edgar berbalik badan, ia kembali ke hadapan Enzi. "Hanya sepuluh menit, kau mengerti?" Ucap Edgar.
Enzi mengangguk. "Duduklah, apa kau mau cemilan ku?" Tawarnya.
Edgar menggeleng, "Cepat." Desak Edgar, "Iya iya, kenapa sih kau itu terburu-buru" malas Enzi.
"Jadi begini, kekasihku tidak ada kabar selama dua hari ini, kontak nya tidak aktif, aku khawatir dengan nya" jelas Enzi.
"Mungkin tidak ada pulsa handphone nya, kau ini parah sekali, apa kau tidak pernah memberinya uang hm?" Ujar Edgar
"Sembarangan saja. Aku serius ini, aku harus bagaimana?"
"Kau sudah mencari tahu lewat keluarga nya?"
"Sudah. Namun keluarga nya tidak memberitahu"
Edgar mengangguk paham, ia menatap jam tangan nya, "Aku harus pergi. Waktuku tinggal sedikit, kau bisa datang ke kantor ku jika ingin lanjut bercerita"
Edgar pun langsung berdiri dan berlari keluar rumah tanpa berpamitan kepada ayah dan juga ibu nya.
"Padahal di umurnya yang sudah 30 tahun ini, dia butuh pendamping hidup, eh malah cerai" gumam Enzi tak habis pikir.
****
"Apa kamu sudah menemukan Abrie Niel?" Tanya Samuel, Daniel menggeleng sedih. "Belum Yah, atau kita lapor kepada polisi?"
Samuel menggeleng, "Ayah rasa tidak perlu. Ayah yakin Abrie sekarang baik-baik saja. Dia sedang berada di tempat yang aman untuknya. Mungkin dia butuh waktu"
Daniel pun mengangguk paham dengan perkataan ayahnya. "Ah iya Yah, dimana Ibu? Dan.. apakah kalian masih saja bertengkar?" Tanya Daniel berani tak berani.
"Sudah kau tenang saja. Ibu dan Ayah tidak bertengkar sama sekali. Kamu istirahat saja, Ayah tahu kamu lelah mencari Abrie, terimakasih nak"
"Iya Yah, lagipula Abrie sepupu Daniel, itu sudah tugas Daniel untuk menjaganya, seperti Ayah menjaga nya, tapi maaf Yah jika Daniel lalai menjaga Abrie"
Samuel tersenyum mendengar ucapan anaknya itu. Samuel menepuk pundak Daniel, "Istirahat lah"
****
"Namanya Given Gabriella D'Louis. Biasanya dia di panggil Abrie Tuan, dia berusia 24 tahun, dia tinggal bersama paman dan bibi nya, juga sepupunya." Ujar Freya panjang lebar, hanya mendapat anggukan dari Edgar, Freya pun melanjutkan ucapannya..
"Informasi yang Saya dapat, Abrie sering kali di siksa oleh Bibi nya. Mereka tinggal di dekat daerah Tuan menabrak nya selang beberapa waktu yang lalu" lanjutnya.
"Lanjut," titah Edgar. Freya mengangguk dan melanjutkan ucapan nya. "Dia terpaksa tinggal dengan paman nya, karena hanya paman nya saja kini keluarga dekat nya."
"Freya, apa kau tahu jika dia mempunyai kekasih?" Tanya Edgar. Freya terdiam, Edgar menatap Freya dan merasa ada hal yang takut dia jelaskan dari dirinya.
"Katakan saja." Paksa Edgar, Freya sedikit tersentak mendengar ucapan atasannya. "Dia dekat dengan Tuan Enzi.. Adikmu sendiri Tuan" ujar Freya lirih
Edgar sudah feeling jika itu kekasih Enzi, namun apa benar mereka berdua sepasang kekasih?
"Sekarang dimana dia?" Tanya Edgar, "Dia kabur dari rumah bibi nya Tuan. Sampai saat ini belum ada informasi yang saya temukan tentang hal itu."
"Telfon dia, namanya Dellon, dia adalah detektif, suruh dia mencari tahu dimana wanita itu berada, kau bisa membantu nya. Bilang jika itu perintah dariku" ucap Edgar sembari memberikan sebuah kertas kecil yang bertulisan beberapa angka disana.
Freya mengambil kertas itu, lalu mengangguk. "Baik tuan. Kalau begitu, saya permisi" pamit nya, Edgar tak menjawab, namun tangan nya menggambarkan untuk menyuruh Freya pergi dari ruangan nya.
****
"Ya Tuhan bagaimana ini?? Hingga saat ini aku belum menemukan Abrie. Lima hari lagi aku akan pergi ke Amerika, apa iya aku tinggalkan Abrie begitu saja?" Gumam Enzi sendu.
Enzi banyak melamun nya untuk beberapa hari ini, menunggu info dari beberapa orang suruhan nya dan juga detektif suruhan nya tidak ada hasil sama sekali.
Ingin sekali Enzi membunuh semua suruhan nya itu, karena hanya mencari seorang wanita saja tidak becus. Sangat tidak bisa di andalkan!
"AAAARRRGHHH!!!" Teriak Enzi sangat frustasi. Sekretaris Enzi terkejut mendengar teriakkan Tuan nya itu dan langsung berlari menuju ruangan Enzi.
"Tuan tidak apa?" Tanya Keyla tanpa mengetuk pintu ruangan Enzi. "Dimana sopan santun mu Key??" Tanya Enzi datar.
Keyla merenung, benar dia salah. "Maaf Tuan, Saya hanya khawatir dengan Tuan Enzi" balas Keyla lirih. "Pergi. Dan jangan ada yang masuk ke ruangan ku, kecuali aku yang menyuruhnya!" Ujar Enzi tegas. Keyla mengangguk dan menutup kembali pintu itu.
Keyla pergi ke bagian resepsionis, "Vera, sepertinya Tuan Enzi sedang emosi. Lebih baik ingatkan kepada karyawan untuk tidak menggangu nya. Dan juga, jika ada yang ingin menemui Tuan Enzi, jangan izinkan"
"Baik Bu Keyla, Saya mengerti. Terima kasih" balas Vera, Keyla mengangguk dan meninggalkan tempat itu. Sungguh detak jantung Keyla masih tidak beraturan, itu tadi memang adalah kesalahan. Bisa saja Keyla di pecat tadi oleh Enzi.
"Maaf, Tuan Enzi benar-benar tidak bisa di ganggu. Tuan bisa kembali nanti" ujar Vera tak lama saat di tinggal oleh Keyla.
"Sesibuk apa dia?" Tanya seorang pria di depan Vera saat ini. "Saya tidak bisa memberitahu Tuan, namun lebih baik Tuan pergi, dan kembali nanti"
Pria itu tidak peduli. Ia berjalan menuju lift tanpa mendengarkan ucapan Vera. "Tuan, saya mohon jangan menemui Tuan Enzi, nanti saya bisa di pecat" ujar Vera.
Pria itu berhenti sejenak dan mengatakan, "Jika kau di pecat. Kau kerja di perusahaan milikku" setelah mengucapkan itu, Pria itu melanjutkan langkah nya.
Saat sudah berada di depan pintu ruangan Enzi, pria itu mengetuk beberapa kali, namun tak ada jawaban. Pria itu mengetuk kembali, dan masih sama, tak ada jawaban.
Ia pun langsung masuk begitu saja, dan melihat Enzi tengah melamun. Wajahnya sangat kusut, pakaian yang tidak rapi, bahkan bisa di bilang, dia seperti orang gila. Pikir orang itu.
"Kau kenapa?" Tanya nya, Enzi menoleh, lalu menggeleng.
"Kenapa kau masuk kedalam ruangan ku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Dimana attitude mu hm?" Tanya Enzi dengan wajah datar nya.
Pria itu menghela nafas panjang, lalu duduk di meja Enzi. "Dimini attitid mi hm" ujar pria itu mengejek. Enzi menggeram kesal.
"Heh! Aku dari tadi sudah mengetuk pintu mu berkali-kali, hingga tangan ku rasanya perih. Kau ini, tuli atau bagaimana hah??" Ujar pria itu.
"Aku tidak dengar. Ada apa kau kemari kak?" Tanya Enzi. Edgar berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju sofa di dekat meja Enzi.
"Apa tidak ada kopi disini? Kantor macam apa ini?" Ejek Edgar. Enzi menghela nafas lelah, lalu mengambil telepon genggam nya, menekan beberapa angka disitu, "buatkan dua kopi, dan antar ke ruangan ku, cepat."
"Kau itu seperti orang gila Zi. Sebenarnya seberat apa masalahmu? Masih muda sudah banyak pikiran, miris sekali hidupmu" ejek Edgar lagi. "Kak sudah lah. Berhenti mengejekku, kau mengerti?" Ucap Enzi, Edgar menggeleng.
"Bercermin lah Zi, lihat dirimu, kau benar-benar seperti orang gila, hanya saja ada ketampanan di wajahmu" ucap Edgar kembali. Enzi tersenyum, "Aku memang tampan. Terimakasih"
"Tetapi lebih tampan aku daripada dirimu" balas Edgar. Enzi berdecih. Karena itu benar. Enzi memang tampan, namun kakaknya lebih tampan dari nya, yah hanya 11/12 dengan Edgar, itu pikirnya.
"To the point, ada apa kau kemari?" Tanya Enzi, Edgar menggeleng, "Aku akan bicara jika kopi nya sudah ada"
"Kau tinggal bilang apa susah nya? Kopi akan segera datang" , "Tidak mau. Aku hanya ingin kopi saja apa susah nya? Pelayanan disini sangat lambat"
"Arghh! kau sungguh menyebalkan kak" geram Enzi. Edgar hanya menaikkan kedua bahunya dan fokus bermain handphone nya.
Tak lama ada suara ketukan pintu dari luar, Enzi mengizinkan orang itu masuk, ternyata OB. Ia meletakkan kedua kopi itu di meja depan Edgar. "Kau bisa pergi" ucap Enzi, OB itu mengangguk dan keluar dari ruangan.
"Nah sekarang bilang, ada apa kau kemari?" Ujar Enzi, Edgar menyeruput secangkir kopi itu, lalu meletakkan kembali ke meja.
"Kopi seenak ini harus ada makanan nya. Zi, aku ingin Ubi" ucap Edgar. "Kak?? Disini tidak ada Ubi kau tau itu"
"Aku hanya ingin Ubi. Apa susah nya menuruti Kakak mu ini hum?" Enzi menghela nafas berat. Ingin sekali dia memukul wajah Edgar. "Kalau saja kau bukan kakakku. Sudah ku habisi kau" ujar Enzi.
"Tidak bisa. Aku lebih hebat darimu, justru kau dulu yang mati sebelum aku" balas Edgar. Enzi menggeram. "Baiklah ayo lawan aku" ucap Enzi sembari berdiri mendekat ke arah Edgar.
"Aku ingin Ubi, belikan dulu, baru kita bertarung" ucap Edgar. Enzi pun langsung menonjok rahang Edgar sangat keras.
"Sshh" Edgar meringis. Pancingan nya berhasil. Edgar sengaja membuat Enzi emosi dan meluapkan semua emosi nya kepada Edgar. Edgar tidak tega dengan karyawan Enzi jika mereka di marahi oleh Enzi hanya gara-gara hal sepele.
"Berani sekali kau memukulku?" Ucap Edgar dengan santai nya. "Mengapa tidak? Kita bukan saudara kandung. Tidak peduli kau siapa ku selagi kau bukan keluarga kandungku" balas Enzi.
Edgar terdiam mendengar itu. Jadi, selama ini Enzi hanya beranggapan bahwa Edgar memang bukan saudara kandung nya?
"Ayo keluar. Memukul di ruangan sempit seperti ini tidak enak. Kita duel Zi" ujar Edgar. Lalu berjalan keluar. "Halah. Kau takut kalah dengan ku kan??" Balas Enzi.
Edgar mengepalkan tangannya. Menghela nafas panjang, menoleh dan tersenyum jail, "Kau itu layak nya semut yang di injak saja sudah mati" setelah mengucapkan itu, Edgar benar-benar keluar dari ruangan Enzi.
Enzi tertawa mendengar ucapan Edgar, "Aku memukulnya?"
"Kau sangat bodoh." Ujar Enzi sendiri, dan berjalan keluar menyusul Edgar.
Sampainya di luar kantor, Enzi melihat tubuh kekar Edgar disitu.
"Kak, aku minta ma—" ucapan Enzi terhenti karena satu pukulan melesat di wajah Enzi hingga membuat Enzi meringis kesakitan.
"Tidak peduli kau siapa ku selagi kau bukan keluarga kandungku" ujar Edgar membuat Enzi terbelalak kaget.
Edgar tertawa kecil, "Jadi selama ini kau tidak pernah anggap aku ini kakak kandungmu Zi? Apa karna Ibuku merebut Ayahmu dari Ibumu hum?"
"Kak tidak seperti itu. Aku hanya... emosi" ujar Enzi lirih. Edgar mengangguk, menepuk pundak Enzi, "Aku tahu. Aku pulang dulu, sebaiknya kau pulang di antar oleh sopirmu. Pikiranmu kacau"
Enzi mengangguk. Sedangkan Edgar berjalan memasuki mobil nya, Enzi tak melihat kepergian Edgar. Semua karyawan Enzi melihat dari dalam, mendapatkan tatapan tajam dari Enzi, mereka langsung bubar kembali dengan pekerjaan
masing-masing.
Hidung dan juga bibir Enzi mengeluarkan darah lumayan banyak, ia segera masuk kedalam kantor dan menyuruh Keyla membantu nya untuk membersihkan luka nya itu.