Edgar tengah bersantai di kursi panjang nya, menatap langit biru dan burung berkicau di pagi hari. Meskipun wajahnya terlihat tengah asik bersantai namun pikirannya tak se santai itu. Entah mengapa dia mengingat perkataan Enzi kemarin.
"Apa benar ibu tiri merindukan ku? Apa dia mulai bisa menerima ku sepenuhnya?" Gumam Edgar sendiri.
"Bagaimana kabar wanita itu? Kemarin aku lihat dia sangat baik-baik saja" lanjutnya.
"Bagaimana jika Ibu tidak mengizinkan ku cerai dari Edrea? Apa aku sanggup menerima semua itu?"
"Usahaku lumayan berantakan akhir-akhir ini. Ah b******n!"
Banyak sekali di otak Edgar yang membuat Edgar bingung harus mendahului yang mana. Edgar mengacak-acak rambut nya frustasi.
"Pagi Gar" ucap Fredie dari seberang sana, Edgar mendongak, melihat Fredie disana dengan Elvara di samping nya.
Edgar membenarkan posisi duduknya, "Kemari Yah" panggil Edgar, Fredie mengangguk.
"Enzi dimana?" Tanya Edgar, "Sedang olahraga di dalam" balas Elvara, Edgar mengangguk paham.
"Apa kau sudah sarapan Gar?" Tanya Elvara, Edgar tak menjawab, namun menatap wajah wanita itu dengan tatapan harapan.
"Edgar, kau ditanya oleh ibumu" ucap Fredie membuat Edgar sadar. "Ah ya, belum. Aku akan pergi ke kantor sekarang." Ucapnya.
"Sepagi ini?" Tanya Elvara, Edgar mengangguk. "Edgar pergi dulu" pamit Edgar dan langsung beranjak dari duduknya, meninggalkan keduanya disitu.
"Edgar masih belum bisa menerima ku sebagai ibu tiri nya ternyata" Batin Elvara,
****
"Apa kau tahu dimana Abrie, Niel?" Tanya Desi, Daniel menggeleng. "Kemana dia? Apa dia kabur?" Batin Daniel kebingungan.
"Aku ke kamar dulu Bu" pamit Daniel, Desi hanya mengangguk.
Daniel mencoba mencari Abrie di kamar nya, ia mengetuk pintu kamar mandi, berharap Abrie ada di dalam. Namun tak ada jawaban sama sekali, Daniel membuka pintu tersebut dan tidak ada seorang pun disitu.
Daniel kebingungan sekarang, melihat isi lemari Abrie, tas dan barang-barang nya tidak ada.
'Apa dia kabur dari rumah?' pikirnya.
Daniel merasa bahwa ada rasa tidak suka jika Abrie meninggalkan rumahnya, meskipun di sisi lain Daniel juga ingin Abrie bebas dari ibu nya.
Daniel menginginkan Abrie kembali. Entah mengapa Daniel merasa tidak nyaman jika Abrie tak bersamanya, apalagi dengan hal ini, Abrie kabur!
"Sial, dia benar-benar kabur!" Lirih Daniel. Daniel mengambil jaker dan juga kunci motornya.
"Ibu, aku pergi dulu. Kau jaga diri" ujar Daniel langsung berlari keluar tanpa mendengar jawaban dari Desi.
"Dasar anak tidak di untung. Aku belum bilang iya, dia sudah pergi nyelonong begitu saja!" Ketus Desi, lalu melanjutkan makannya.
Daniel fokus dengan jalanan depan. Namun pikiran nya kemana-mana.
'Bagaimana jika Abrie kenapa-kenapa?'
'Dimana dia sekarang?'
'Mengapa dia kabur dari rumah? Apa dia tidak tahan dengan perlakuan ibu?'
'Aku harus bilang apa kepada Ayah jika Ayah tahu Abrie kabur dari rumah.'
'Bagaimana jika Abrie di culik?'
'Bagaimana jika dia di bunuh dengan seseorang?'
'Lalu bagaimana jika dia di paksa menikah dengan sugar Daddy??'
Pikirannya begitu berantakan, ia tak ingin membahayakan dirinya dan juga orang lain, Daniel pun menepi dan memikirkan kemana dia akan mencari Abrie.
"Bahkan telfon dan chatku tidak di jawab dengannya. Apa dia blokir nomorku?" Pikirnya. Daniel memukul helm yang kini ia pegang.
"Bagaimana caranya aku bisa menemukan Abrie? Hum yah. Enzi, aku bisa telfon Enzi. Semoga Enzi tahu dimana keberadaan Abrie saat ini"
Saat Daniel akan menelfon Enzi, dia mengurungkan niatnya. "Jika aku memberitahu dia bahwa Abrie kabur, maka dia akan berfikir tidak-tidak tentang keluarga ku. Bukannya mendapatkan informasi, namun aku akan kena olok-olok dari nya."
"Abrie semoga kau baik-baik saja.."
Daniel pun memakai helm nya kembali, dan lanjut mencari Abrie.
****
"BAGAIMANA BISA PERTEMUAN ITU GAGAL DI TENGAH JALAN?!!"
Teriak Edgar sembari memukul meja dengan sangat keras. Bahkan gelas di sebelah nya jatuh dan pecah karena getaran meja yang ia pukul.
Elang, Ricko dan Ares hanya terdiam. Edgar jika sudah mengamuk, itu adalah petaka bagi karyawan nya.
"JAWAB AKU!" Tegasnya, Ares pun memberanikan diri untuk menjawab. "Mr. Axelrod ketahuan oleh polisi di Singapura, jadi Saya dan Elang menggagalkan pertemuan itu. Kita mencari aman Tuan"
"Bagaimana bisa dia ketahuan?? Bukan kah kita sudah atur semua dengan benar tanpa ada kesalahan sedikitpun??" Tanya Edgar tak percaya mendengar jawaban dari Ares.
"Itu benar. Kesalahan itu di buat oleh Mr. Axelrod sendiri, namun info yang Saya dapat, Mr. Axelrod dapat kabur dari kejaran polisi. Dia sekarang menjadi buronan polisi Singapura" balas Elang.
"Cari waktu yang aman dan minta pembayaran transaksi harus lunas sesuai tanggal yang sudah di tentukan. Jika dia telat lima menit saja, cari dan bakar dia hidup-hidup! jika dia sudah membayar, sekap dia agar dia tidak membocorkan semua." Perintah Edgar.
"Siap Tuan!" Ucap mereka bertiga bersamaan. Edgar duduk, memijat kepala nya. Huft, banyak sekali pikiran yang sedang ia pikirkan.
"Apa Tuan sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Elang.
"Aku sudah mengurus perceraian dengan Edrea, namun aku takut jika ibuku tidak bisa menerima itu karena Edrea menantu kesayangan nya."
"Aku akan pergi ke Bali minggu depan untuk menemui ibuku. Aku harap kalian bisa handle semua dengan baik. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi!"
"Kau tenang saja, kau bisa andalkan kami. Maaf atas keputusan ku dengan Ares tanpa meminta persetujuan mu terlebih dahulu"
Edgar mengangguk. "Kalian boleh keluar. Lanjutkan pekerjaan kalian. Ah yah Res, panggilkan Freya, suruh menunggu ku di ruangan ku"
Ares mengangguk. Mereka bertigapun keluar dari ruangan khusus pembahasan bisnis ilegal milik Edgar. Edgar menghela nafas berat, lalu keluar dari ruangan itu, tak lupa menguncinya.
Hanya mereka ber empat yang di perbolehkan masuk keruangan itu, karena ruangan itu sangatlah ruangan private
Bahkan yang tahu bisnis ilegal milik Edgar hanyalah tiga teman nya itu. Edgar sengaja menyembunyikan itu dari keluarga dan kerabatnya.
Edgar memasuki ruangan nya, dan sudah ada Freya menunggu disana. "Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
Edgar mengangguk, dan berjalan menuju kursi nya.
"Aku ingin kau mencari informasi terkait wanita beberapa hari lalu aku tabrak. Kejadian itu sekitar 3 atau 4 hari yang lalu. Berada di jalan edelweis, di pemberhentian bis 3 dekat lampu merah, kau bisa cek cctv jalanan untuk mengetahui wajah nya. Aku ingin kau mengorek informasi tentang wanita itu. Kau aku beri dua hari untuk mencari tahu itu. Jika lebih dari dua hari, gajimu aku potong 20%"
"Baik Tuan. Saya akan laksanakan, ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Jangan beritahu ini kepada siapapun kecuali Elang, Ricko dan juga Ares. Usahakan Enzi tidak mengetahui hal ini Freya!"
"Siap Tuan. Jika tidak ada lagi, Saya akan pergi mencari tahu tentang wanita itu"
"Pergilah."
Freya pun keluar dari ruangan Edgar. Kini hanya satu yang masih berada di pikiran Edgar. Bagaimana caranya agar dia bisa tahu bahwa ibu tirinya benar-benar menerimanya sebagai anaknya.
"Meskipun 80% itu adalah kekasih Enzi, namun maaf Zi. Aku tetap akan mencari tahu nya. A
pa aku tertarik dengan wanita itu?" Lirih nya sendiri.
"Sudah jam makan siang, lebih baik aku mencari cafe dekat sini"
****