"Selamat malam semua" sapa Edgar dari kejauhan, Fredie dan Elvara menoleh ke sumber suara itu, ada Edgar disana.
Edgar tersenyum dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Sontak Fredie memeluk tubuh Edgar dengan sangat erat, melepas rasa kerinduannya yang selama dua tahun ini tidak bertemu sama sekali.
Elvara melihat itu hanya tersenyum tipis, ia juga sangat merindukan Edgar, meskipun Edgar bukan anak kandung nya sendiri.
"Bagaimana kabarmu? Mengapa kau tidak mengabari Ayah jika akan kemari?" Tanya Fredie sembari menuntun Edgar agar duduk di sofa.
"Kabarku baik. Bagaimana dengan mu Yah?" Tanya Edgar kembali, "Tentu saja Ayah baik, apalagi bertemu dengan mu sekarang, Ayah semakin jauh lebih baik" balas nya.
"Aku akan pergi ke kamar, permisi" ucap Elvara, namun Edgar menghentikan langkahnya.
"Aku ingin bicara dengan kalian, ini penting. Terutama untukmu Yah" ujar Edgar, Elvara pun menurut dan duduk di sebelah Fredie.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Fredie langsung. "Aku akan bicara jika ada Enzi juga disini" balas Edgar.
Fredie mengangguk. Fredie memanggil salah satu asisten rumah tangga nya, bernama Diana dan menyuruh nya untuk memanggil Enzi.
****
Baru saja Enzi melepas pakaian nya, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Enzi berdecih malas.
"Siapa?" ujar Enzi tanpa membuka pintu. jelas saja, yakali dia membuka pintu dengan keadaan nya yang sudah telanjang.
"Ini saya Tuan, Diana. Saya di perintahkan untuk memanggil Tuan Enzi agar segera menemui Bapak Fredie dan juga yang lain di ruang keluarga."
"Aku ingin mandi, bilang nanti aku menemui mereka" balas Enzi
"T-tapi Tuan, ini sangat darurat. Tuan harus segera kesana" ujar Diana cepat. Enzi mendengar itu langsung memakai handuk untuk menutupi burung kesayangan nya itu, lalu keluar kamar dengan berlari kencang.
Diana hanya terpaku dan menahan tawa melihat kelakuan Enzi tersebut.
sesampainya Enzi di ruang keluarga ia langsung berteriak, "Apa yang sudah terjadi???!!!" Enzi dengan wajah kebingungan sambil memegang handuk yang melingkar di pinggangnya agar tidak jatuh
Kelakuan Enzi tersebut lantas membuat seisi ruang keluarga kebingungan, Edgar yang sedang menikmati minumannya pun melihat Enzi dari atas hingga bawah dan menahan tawa nya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu kak?? apa yang terjadi, diana bilang ada keadaan darurat" ucapnya masih sibuk dengan handuk yang melingkarinya.
Edgar yang melihat itu pun lantas berdiri dari duduknya dan menyuruh adiknya tersebut untuk duduk.
"Aku ingin bicara dengan kalian. Ini soal pernikahan ku" ujar Edgar. Fredie mengernyit heran, bukan hanya Fredie, namun yang lain juga terkejut mendengar ucapan Edgar.
"Ada apa dengan pernikahan mu?" Tanya Elvara memberanikan membuka mulut.
Edgar menghela nafas, "Aku akan bercerai dengan Edrea Yah, Bu."
"Sebentar, Ayah belum paham dengan perkataan mu. Jelaskan maksud mu itu." Ujar Fredie masih tak percaya dengan ucapan Edgar, berharap dia hanya salah dengar.
"Ck. Ayah jangan memutus ucapan Kak Edgar dong, bagaimana ayah bisa paham jika di sela terus" malas Enzi. "Heh! bilang apa kau barusan?" Sarkas Fredie. Enzi menggeleng cepat. "Dasar tuli." Gumam Enzi lirih.
"Sebenarnya, selama di luar negeri dua tahun yang lalu, Edrea meninggalkan saya karena saya sempat jatuh bangkrut disana. Dan Edrea meninggalkan saya sudah satu tahun. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menceraikan Edrea" ucap Edgar.
"Jadi, kakak ipar hanya mencintai hartamu? Miris sekali hidupmu kak" ujar Enzi yang lalu di pukul oleh Elvara. "Jaga bicaramu zi" lirih Elvara. Enzi hanya memanyunkan bibir kesal. "Salah mulu" batin nya.
"Sejak kapan kau mengurus perceraian itu? Kenapa baru bilang kepada ayah?" Tanya Fredie. "Sudah lumayan lama Yah, beberapa minggu ini aku akan melaksanakan sidang ke empat dengan Edrea" balas Edgar.
"Apa ibumu sudah tahu soal ini Gar?" Tanya Elvara. Edgar menggeleng, "belum Bu. Rencananya minggu depan aku menemui nya"
"Aku ikut denganmu ya kak? Aku ingin sekali bertemu dengan mommy" ujar Enzi. Edgar hanya mengangguk sebagai jawaban. Namun Fredie menolak.
"Kau lupa? Kau itu harus pergi keluar negeri minggu depan. Jangan membuat masalah baru zi" ujar Ayah nya. Enzi ingat itu, ia langsung memasang raut wajah sedih.
"Hah yang benar? Enzi keluar negeri?" Tanya Edgar kaget, "Iya, Enzi akan menetap disana, di Amerika" jawab Elvara. Edgar mengangguk lalu memberi isyarat kepada Enzi dengan cara mengernyit kan alis nya.
Enzi menatap Edgar, lalu menjawab nya dengan menaikkan kedua bahunya. Edgar menghela nafas mengerti.
"Jika itu memang keputusan mu, Ayah perbolehkan itu. Ayah meminta maaf kepadamu gar karna sudah menjodohkan mu. Ayah tidak sudi mempunyai menantu yang hanya tergila-gila dengan harta."
"Iya Yah, lagipula saya merasa sudah tidak mencintai nya lagi. Bahkan sudah jijik jika melihat dan mengingat nya" lanjutnya, "Sementara itu aku tinggal disini, apa boleh? Rumah ku masih dalam perbaikan, menyewa hotel juga aku malas. Jika ada rumah orang tua kenapa tidak"
"Kau boleh tinggal disini, ini rumah mu juga Gar, tentu saja Ayah memperbolehkan mu untuk tidur dan tinggal bersama kami"
"Pembahasan nya sudah selesai bukan? Aku ingin mandi. Sungguh gerah!" Pamit Enzi, Edgar menimpali "Bau terasi"
Enzi ingin sekali memukul wajah kakaknya namun ia sedang berada di depan ayah dan juga ibu nya. Bisa-bisa image cool nya akan hilang begitu saja jika ia benar-benar memukul wajah kakaknya.
"Aku juga akan pergi ke kamar. Selamat malam untuk kalian berdua" pamit Edgar, dan di jawab anggukkan oleh fredie dan juga Elvara. Edgar berjalan menjauh dari hadapan mereka berdua.
"Mungkin Edgar sudah mengakui aku sebagai ibunya" batin Elvara senang.
****
"Mandi sudah, makan sudah, bersantai sudah, sibuk sudah, lalu apalagi yang harus aku lakukan sekarang?" Gumam Edgar yang bingung akan melakukan kegiatan apalagi.
"Ah aku lupa belum menghabiskan uangku hari ini" ucapnya sambil tertawa jail. "Memang susah ya jadi orang kaya." Lanjutnya.
Kini ia sedang merenungi nasibnya yang sudah tidak ada pendamping hidup. Mengapa ini terjadi di hidup nya? Dia hanya bangkrut beberapa bulan saja sudah di tinggalkan.
"Dasar wanita jalang!" kesalnya sambil mengusap kasar rambutnya, "Bila tahu akan seperti ini dulu tidak akan ku terima perjodohan itu".
"Huh dasar! membuat image ku jelek saja, yang benar saja laki-laki tampan dan kaya sepertiku menjadi duda" ujarnya sambil memanyunkan bibirnya
"Ah iya, apa Ricko sudah mengerjakan pekerjaan dengan baik.. aku penasaran, apa aku telfon saja? Ah tidak Gar! Kau harus menghabiskan waktu mu tanpa menyangkut kan pekerjaan kali ini."
"AKU HARUS APA SEKARANG???!!!!!??!!" Teriak Edgar frustasi sembari mengacak acak rambutnya.