"Bibi aku mohon... buka pintunya, diluar sangat dingin bi.." ujar Abrie dengan raut wajah sedih. Namun Desi tak peduli apapun yang di lontarkan oleh Abrie.
"Itu hukuman untukmu karena kau telah membuat aku dan paman mu bertengkar tadi pagi!" Balas Desi dari dalam.
Abrie merasa bersalah, mengapa dia harus di bela oleh paman nya? Itu menjadi masalah baginya!
"Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku telfon paman, paman pasti sibuk dengan pekerjaan nya, bahkan paman pulang besok pagi"
Abrie duduk di kursi teras, merasakan angin sejuk yang melewati kulit tubuhnya. "Disini benar-benar sangat dingin"
Abrie mendengar suara kenop pintu yang terbuka, muncul tubuh Daniel disitu.
"Ayo masuk, Ibu sudah tidur." Ajak Daniel. Abrie melongo, tidak percaya Daniel seperhatian itu!
"Lalu? Jika ibumu tahu esok pagi aku tidak ada disini bagaimana?" Tanya Abrie, Daniel mendekat kearahnya, "Besok kau harus lebih dulu bangun sebelum ibu bangun, dan pura-pura lah tidur disini"
"Tapi.." , "Tapi apa lagi? Ayo cepat. Aku sedang berbaik hati denganmu, jangan sampai aku berubah fikiran!"
Abrie pun mengangguk patuh. Daripada ia harus tidur di luar dan akan jatuh sakit? Nanti malah di katain beban dan tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kau mau aku buatkan teh hangat Niel? Um yeah.. sebagai tanda terima kasih ku padamu" ucap Abrie di depan pintu kamar mereka.
Daniel menggeleng, "Kau masuk lah dulu, dan bersihkan badanmu. Aku akan segera kembali"
Abrie hanya mengangkat bahu dan masuk kedalam kamar. "Hari ini sangat melelahkan bagiku."
Abrie pun menuju kamar mandi dan membersihkan badannya. Ia mendengar suara pintu yang terbuka, lalu tertutup kembali. "Mungkin itu Daniel" lirih nya.
Tak lama Abrie pun keluar kamar mandi hanya menggunakan kaos oversize dan celana hanya se paha.
Kini ia sedang fokus mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil berwarna putih.
"Minumlah" pinta Daniel. Abrie mendongak, melihat wajah Daniel lalu berganti menatap meja di atas nya terisi dua cangkir teh hangat.
"Kau membuat nya untukku?" Tanya Abrie sembari duduk di sebelah Daniel.
Daniel menggeleng, "Aku membuat untukku sendiri, namun aku merasa kasihan padamu, mangkanya sekalian saja aku buatkan untukmu."
Abrie tersenyum, "Terimakasih".
Daniel tak menjawab, namun fokus dengan ponsel nya. Abrie mencoba mengintip namun mendapat lirikan tajam dari Daniel.
"Kenapa kau masih disini? Sana tidur." Perintah Daniel, Abrie memanyunkan bibirnya.
"Aku tidak bisa tidur.." balas Abrie lirih. Daniel menghela nafas berat, ia pun meletakkan ponsel nya ke sembarang tempat, dan fokus kepada Abrie.
"Kau besok akan susah bangun jika tidak tidur sekarang."
"Kau benar.. tapi aku belum ngantuk, sungguh"
"Lalu? Apa kau mau di marahi oleh ibu besok? Bisa saja kau diusir dari sini payah!"
"Kau ini ya!! Jaga bicaramu, aku pastikan besok aku bisa bangun pagi, lagipula aku sudah terbiasa bangun pagi.. eum kau tenang saja"
Daniel pun menggendong Abrie keatas ranjang nya. Menidurkan badan Abrie sedikit ke tengah, dan Daniel bersandar di headboard ranjang Abrie.
"Tidurlah, aku temani" ucap Daniel sembari memasang selimut agar menutupi setengah badan mereka.
Abrie memposisikan dirinya agar setara dengan Daniel. Daniel merangkul tubuh itu.
"Apa aku boleh bertanya kepada mu Niel?" Ucap Abrie, Daniel tak menjawab itu.
"Mengapa ibumu sangat... Membenci ku?"
Daniel membeku, ia tak tahu apa yang harus di jawabnya. "Kau memikirkan hal itu?" Abrie mengangguk.
"Lupakan, itu akan membuat mu sakit."
"Aku merasa, aku sangat beban disini.. maaf kan aku"
Daniel mengelus-elus rambut Abrie dengan lembut, mereka saling diam tak ada yang berbicara.
"Bagaimana dengan harimu hari ini?" Tanya Daniel, masih dengan mengelus-elus rambut Abrie.
"Kau tahu? Aku hari ini sangat senang sekaligus lelah" ujar Abrie yang memulai menceritakan harinya.
"Hum? Kau akan cerita kepada ku atau hanya diam?"
"Aku tadi makan banyak sekali, dan tidur sangat nyenyak. Aku ingin seperti itu setiap hari, namun sepertinya mustahil, itu benar kan?"
"Tidurlah Brie, aku akan selalu menjaga mu, seperti ayahku menjagamu"
Daniel melihat wajah Abrie, "Ternyata sudah tidur" lirihnya.
Daniel pun membenarkan posisi Abrie dengan hati-hati, ia akan kembali ke ranjang nya sendiri.
Namun sebelum itu, Daniel mencium kening Abrie lumayan lama, "Andai kita bukan sepupu, mungkin aku akan menikahi mu" batin Daniel.
Daniel pun mematikan lampu nya dan tidur dengan pulas. Disisi lain, Abrie ternyata belum tidur, dia membuka matanya saat mengetahui Daniel sudah tertidur pulas.
"Daniel mencium ku? Apa Daniel menyimpan rasa dengan ku? Ya tuhan, masalah apalagi ini!!" Batin Abrie frustasi. Bagaimana bisa dia di sukai oleh sepupu nya sendiri? Sangat mustahil!!
Abrie memang menyayangi Daniel, namun itu hanya sebatas saudara, tidak lebih!
"Apa aku kabur saja dari rumah? Tapi.. aku tidak ada uang sama sekali untuk mencari tempat tinggal, bahkan pekerjaan saja aku tidak punya"
"Tapi... Mungkin ini jalan yang terbaik. Aku akan menggunakan kartu kredit dari tuan itu. Maafkan aku, aku terpaksa menggunakan nya, jika aku sudah ada uang, aku berjanji akan menggantinya, namun di cicil dulu" .
Tanpa berfikir panjang Abrie turun dari ranjang nya dan memasukkan semua pakaiannya kedalam koper.
Ia berjalan berjinjit jinjit layaknya maling agar tidak ketahuan. Huft, untung bisa kabur, hahaha.
"Jadi aku akan pergi kemana? Ini sudah larut malam, tidak mungkin aku pergi ke rumah Shifa, pasti Daniel akan mencari kesana." Ujar nya sendiri
"Hm.. baiklah, aku akan berjalan dahulu dan mencari mesin ATM agar aku bisa ambil uang nya, tidak mungkin aku naik taxi membayar nya dengan kartu kredit"
"TAPI DIMANA?? ASTAGAA JARAK NYA SANGAT JAUH DARI SINII!!!" Abrie merasa frustasi sekali, mengapa dia selalu berada di posisi yang tidak enak? Kapan dia bisa merasakan hal yang enak, contoh nya memiliki banyak uang.
"Semoga aku bertemu dengan duda kaya raya" batin nya setelah itu langsung berjalan dengan menggeret koper nya yang sangat berat itu.
****
Sesampainya Edgar dan Enzi di kediaman ayahnya mereka berdua pun keluar dari mobil dan berjalan menuju Mansion besar tersebut.
'Di pikir pikir lumayan lama juga aku tidak kemari' Edgar pun melangkah masuk kedalam rumah tersebut.
Banyak sekali asisten rumah tangga dan juga penjaga yang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Dimana Ayahku?" Tanya Edgar langsung. "Kamu tanya Saya? Saya tanya siapa?" Balas Enzi dengan raut wajah mengejek. Edgar menatap nya datar, dalam hati mengumpat ingin menonjok wajah adik tirinya itu.
"Langsung saja ke ruang keluarga, disana pasti ada Ayah dan juga Ibu" ujar Enzi. Edgar mengangguk dan berjalan menuju
ruang keluarga.
Sedangkan Enzi berjalan menjauh dari Edgar, ia masuk ke kamar nya sendiri untuk membersihkan badannya.