Setelah meninggalkan kantor Edgar pun segera menuju mobilnya dan langsung pergi menuju kediaman ayahnya
Seperjalanan ia menuju rumah ayahnya Edgar terus menerus memikirkan soal perkataan Ricko tentang wanita tua yang Ricko bantu. 'Apa wanita itu sudah dulu ditolong oleh orang lain ya?' Batin Edgar.
Joshua yang sedari tadi memperhatikan Edgar dari kaca tengah pun bertanya kepadanya. "Maaf tuan, apa ada masalah? sedari tadi saya perhatikan anda seperti sedang kebingungan" Tanya Joshua yang penasaran dengan atasannya.
"Tidak ada jos" singkatnya. Kemudian Edgar tiba tiba terikat sesuatu "Oh ya jos bukankah saat aku memberi perintah kepada Ricko untuk membantu seorang wanita yang aku tabrak kau bersama dia?".
"Ya tuan, saya bersama dengan tuan Ricko pada saat itu" jawab Joshua. "Apa kalian tidak melihat wanita muda dijalan edelweiss itu selain wanita tua yang ditolong Ricko?" tanya Edgar
"Tidak sama sekali tuan, dan yang mencari hanya tuan Ricko saya hanya diperintah untuk tetap di mobil" singkatnya.
"Maaf tuan, apa tuan tertarik dengan wanita yang tuan tabrak itu?" tanya asal Joshua yang sedari tadi memperhatikan Edgar yang terlihat antusias dengan topik pembicaraan tersebut
"Tidak sama sekali, hanya saja aku penasaran bagaimana bisa hanya ada wanita tua disitu padahal aku menghubungi Ricko 5 menit setelah meninggalkan wanita itu".
Edgar terus menerus memijit pelipisnya ia terlihat sangat kebingungan dengan kejadian kemarin. "Bukankah logikanya wanita itu pasti masih ada di sekitar daerah itu apalagi dengan kakinya yang terluka".
"Seharusnya begitu tuan" Jawab Joshua yang masih belum membuat Edgar puas
Ia terus menerus bergelut dengan otaknya, merasa makin penasaran dengan wanita yang ia temui 2 hari yang lalu. 'Semoga saja aku bisa bertemu dengan wanita itu lagi' batinnya. "Segera menuju rumah ayah jos" perintah Edgar kemudian fokus kepada hp nya kembali.
"Baik tuan".
Edgar fokus menatap jalanan agar pikiran nya tidak mengarah kepada wanita itu. Namun pandangan nya terfokus pada warung nasi goreng, yaitu makanan favorit adik tirinya, Enzi.
"Jos, kita putar balik. Aku ingin pergi ke kantor adikku, kita ke rumah ayahku setelah dari kantor Enzi." Titah Edgar. "Baik tuan"
****
Sesampainya di kantor Enzi Edgar langsung masuk dan meneliti keseluruhan isi loby gedung tersebut. 'Bentuk dan isinya tidak banyak berubah ternyata' gumamnya sambil tersenyum
Saat sedang berjalan menuju lift ia bertemu dengan seorang pria, "Maaf, apa anda tuan Edgar dewangga?" ujar pria tersebut. "Ya. Ada apa?" ketus Edgar kepada pria itu.
"Tidak tuan, hanya saja Saya baru melihat tuan lagi sejak dua tahun yang lalu, tuan penampilan nya sangat berbeda, lebih berwibawa dan tampan" balas pria itu. Edgar hanya mengangguk untuk menjawab nya.
"Apa tuan akan pergi ke ruangan Tuan Enzi?" Tanya pria itu, dan lagi-lagi hanya di balas anggukan oleh Edgar.
"Tuan bisa menaiki lift yang berada di situ, itu lift khusus orang penting, contohnya seperti tuan Edgar"
"Terima kasih, siapa namamu?" Tanya Edgar. "Deo tuan" balas nya. "Apa kau bisa memanggil sekretaris Enzi sekarang juga De?"
"Tentu tuan, akan saya panggil kan untukmu" Deo pun pergi meninggalkan Edgar, tak lama Deo datang kembali bersama Keyla di sampingnya.
Keyla menundukkan setengah badan nya, "Selamat sore tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Keyla tanpa bertele-tele.
"Ah yah, aku lupa namamu, siapa namamu?" Tanya Edgar, "Keyla tuan" balas nya.
"Oke key, aku ingin kau memberikan sebuah uang bernilai lumayan tinggi untuk Deo, kau bisa meminta transfer an lewat Sekretaris ku, bilang jika itu perintah dariku."
"Maaf tuan Edgar, untuk apa?" Tanya Deo.
"Hanya rasa terimakasih ku karena kau memberitahu ku" balas Edgar dan langsung berjalan menuju lift.
Keyla memijat kepala nya, "Mengapa di buat sangat rumit? Bahkan tuan Edgar bisa langsung meminta nomor rekening milik Deo tanpa harus menyuruh ku menghubungi sekretaris nya." Ucap Keyla lelah.
"Rezeki untukku. Lagipula dia boss, dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Aku pergi dulu, dan laksanakan tugas dari tuan Edgar" balas Deo dan langsung meninggalkan Keyla sendiri.
Saat menunggu Lift itu turun, ia hanya menatap jam tangan nya, yang menandakan hari semakin sore.
Lift itu terbuka, Edgar yang fokus dengan jam tangan nya tak sengaja menabrak tubuh wanita.
"Maaf tuan, saya tidak melihatmu" ujar wanita itu. Edgar hampir saja akan memarahi nya, namun terhenti karena wanita itu adalah wanita yang pernah ia tabrak lalu.
"Kau?" Ucap mereka bersamaan. "Mengapa kau bisa disini?" Tanya Abrie.
Edgar tak menjawab, menatap wanita itu dengan tatapan kosong. "Ah ya, aku ingin mengembalikan kartu kredit mu, tenang saja aku tidak mengambilnya sepeserpun" ucap Abrie kembali sembari sibuk mencari kartu itu di dalam tas nya.
"Apa kau bisa menepi nona? Kau menghalangi jalanku!" Ucap Edgar datar. Abrie sedikit tersentak mendengarnya, Abrie pun langsung menepi dan membiarkan Edgar masuk.
"Eh bagaimana dengan kartu kreditmu??" Tanya Abrie, "Bawa saja." Balasnya. Lalu pintu lift itu tertutup.
"Sial. Bahkan aku lupa bertanya tentang namanya.. astaga Abrieee, mengapa kau sangat bodohhh??" Celoteh nya sendiri frustasi.
"Atau aku ikuti saja dia akan pergi ke lantai mana?" Pikir Abrie. Namun ia sadar jika hari sudah petang. Bisa-bisa bibinya itu, Desi akan memarahi nya jika telat pulang ke rumah.
Abrie pun langsung berlari secepat mungkin tak peduli dengan semua tatapan orang-orang disitu.
"Nona Abrie, kau kenapa?" Tanya Keyla, membuat Abrie berhenti berlari. "Aku sedang buru-buru permisi!!" Balas Abrie ketus dan melanjutkan lari nya.
****
"Tukang sibuk, apa aku boleh masuk??" Tanya Edgar dari luar. Enzi mendengar itu, seperti familiar. Enzi pun berdiri dari tempat duduknya dan membukakan pintu.
"Kakak?" Enzi sangat senang dan langsung memeluk tubuh sang kakak dengan sangat kuat.
"Hei! Sudah lepaskan. Aku bisa sesak dan mati disini jika kau tidak melepaskan pelukannya" ucap Edgar. Enzi hanya tertawa kecil mendengar itu.
"Mari masuk kak. Kau ini sombong sekali, dua tahun tidak mampir di kantorku, dasar kau ini!!"
"Sudah lupakan. Aku sangat merindukanmu dan juga ayah.. eum yah, dan ibu tiri. Mari pulang bersama dan aku akan menginap disana"
"Kau tidak becanda kan? Tch."
"Sudah cepat atau aku akan berubah pikiran."
"Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mengambil beberapa barang-barang ku di dalam. Tunggu aku dan jangan tinggalkan aku, atau aku akan marah denganmu!"
"Bocah!"
Enzi tak menjawab dan langsung masuk kedalam ruangan nya kembali. Edgar pun berjalan dengan santai menuju lift tanpa menunggu adiknya itu.
"Dasar b******k!" Teriak Enzi yang melihat kakaknya memasuki lift. Edgar hanya tertawa terbahak bahak mendengar teriakan dari Enzi.
Enzi berlari cepat agar tidak tertinggal lift nya, dan beruntung nya, Enzi bisa masuk ke lift itu sebelum pintu lift tertutup.
Kedua pria tersebut nampaknya masih merasa canggung untuk berbicara setelah 2 tahun lamanya tidak bertemu. "Apa kehidupanmu di New York menyenangkan kak?" tanya Enzi yang berusaha mencairkan suasana
"Bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak juga" singkat Edgar. "Mengapa begitu? Oh ya kakak ipar apa kabar juga?" tanya Enzi bertubi tubi.
"Sepertinya kau sangat ingin tau tentang kehidupanku di sana, ya Zi" jawab Edgar sambil melirik kearah adiknya
"Hei, tentu saja aku ingin tau apa yang membuatmu betah di sana hingga 2 tahun tidak kembali ke Indonesia" kesal Enzi dengan jawaban kakaknya
Edgar hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya yang masih saja seperti anak kecil.
"Maaf. Aku hanya bercanda, bagaimana kabar ibu tiri?"
"Baik baik saja. Ia pernah mengatakan bahwa beliau sangat merindukanmu."
"Benarkah? Aku juga merindukannya. Namun hanya sebatas anak tiri dan ibu tiri"
"Aku muak mendengar kata tiri!!"
"Hahahah, mengapa kau kesal? Bukan kah itu hal biasa bagimu? Lagipula aku harus menyebut nya apa? Ibu tanpa tambahan tiri? Aku tidak bisa."
"Aku tidak meminta itu! Ah ya, bagaimana kabar mommy ku kak?"
"Mommy? Wah kau mengganti nama panggilannya?"
"Huum. Memanggil nya ibu sangatlah membosankan, jadi aku akan mengganti dengan panggil beliau mommy"
"Lumayan, namun itu norak."
"Kau lebih norak karena memanggil ibuku dengan sebutan ibu tiri"
"Itu kenyataan Zi" , "Tapi tidak seperti itu konsepnya!"
"Aku akan menceritakan semuanya saat kita sudah sampai di rumah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua" ujar Edgar kemudian ia pun merogoh saku celananya dan mengecek hp nya
"Ah kau selalu saja seperti itu, tidak pernah berubah" cibir Enzi yang tidak dihiraukan oleh Edgar.
Setelah itupun pintu lift terbuka kemudian dua pria tersebut pun berjalan berdampingan menuju lobi. "Ah ya Zi ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu" ucap Edgar kemudian menyimpan hp nya di saku celana
"Kau ingin bertanya apa?" singkat Enzi. "Apa kau memiliki karyawan yang masih muda sekitar umur 20-an?" tanya Edgar sambil terus berjalan
"Banyak karyawanku yang masih berumur 20-an kak, apa kau sedang mencari seseorang?" Tanya balik Enzi kepada kakaknya
'Benar juga, karyawan di perusahaan baru seperti ini pasti kebanyakan masih anak anak muda' batin Edgar
Edgar tidak menjawab lontaran pertanyaan adiknya namun malah memilih langsung memasuki mobil. "Masuklah dulu, akan ku lanjutkan pertanyaanku dijalan" ucapnya kemudian Enzi pun mengangguk dan memasuki mobil Edgar.
Seperjalanan Edgar hanya diam dan Enzi yang melihat itu pun ikut kebingungan. "Kau tidak melanjutkan pertanyaanmu tadi kak?" tanya Enzi membuka pembicaraan
"Aku bingung harus memulainya dari mana Zi"
"Bertanya saja kak, kau tidak perlu sungkan seperti itu" Ujar Enzi meyakinkan kakaknya. "Ceritanya agak panjang" . "Tidak apa cerita saja".
Edgar menghela nafasnya kemudian mulai bercerita Enzi pun terus menerus memperhatikan cerita kakaknya itu, saat pertengahan Edgar bercerita Enzi pun memotongnya
"Tunggu kak, kau bilang kau hampir menyerempet wanita muda dengan rambut terurai panjang lalu ia terluka di bagian kaki??" Tanya Enzi penasaran, namun Edgar hanya mengangguk
"Aku tidak tahu ini kebetulan atau apa namun kekasihku dua hari yang lalu juga hampir tertabrak orang dan kakinya pun terluka" ujar Enzi tidak berhenti
"Dan karakteristik wanita yang kau ceritakan sangat mirip dengan kekasihku, apa jangan jangan.." belum usai Enzi berbicara Edgar tiba tiba memotong perkataan adiknya. "Tunggu, kau memiliki kekasih Zi?" tanya Edgar kaget dengan apa yang adiknya bicarakan
"Iya". singkat Enzi
Edgar tampak tidak percaya dengan perkataan adiknya ia pun sedikit tertawa kecil. "Orang kaku sepertimu ternyata bisa mendapatkan kekasih juga ya" Ucap Edgar sambil terus tertawa menggoda
"Hei!! memangnya salah, kau yang hampir notabenenya tidak terlihat tertarik dengan manusia saja bisa memiliki istri, lantas mengapa aku tidak bisa memiliki kekasih!" kesal Enzi tidak terima kakaknya mengoloknya
Edgar hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat adiknya yang kesal hanya karna ia mengoloknya 'orang kaku'.
"Dasar b*****h, lalu bagaimana soal masalah ini? bagaimana kalau memang benar yang kau tabrak itu kekasihku??!!" ujar Enzi yang nampak masih kesal dengan kakaknya
Edgar tidak bisa berhenti tertawa melihat tingkah laku adiknya. "Hei mengapa kau semarah itu padaku, lagi pula aku sudah tanggung jawab dengan wanita itu" ujarnya
"Kalau kau memang ingin memastikannya coba tanya kekasihmu itu apa ia diberi kartu kredit oleh orang yang menabraknya, jika iya berarti memang benar kekasihmu yang aku tabrak" jelas Edgar.
"Kau juga bisa menunjukkan foto mobilku k
alau memang ia belum bisa membuatmu percaya" ucap Edgar kemudian fokus kepada hp nya
"Baiklah akan ku tanyakan kepada dia saat kami bertemu" ucap Enzi yang masih saja kesal
****