"Kau bilang kau akan ceritakan tentang wanita yang aku bawa ke rumah sakit, mana? Hingga saat ini kau tidak cerita kepadaku." Ketus Ricko kepada Edgar.
Saat ini, Edgar dan teman-teman nya itu tengah berkumpul di ruangan rapat. Ya, hanya bersantai.
Ada Ricko sebagai asisten pribadi luar kantor, Elang asisten pribadi dalam kantor, dan Ares asisten pribadi luar negeri. Beberapa teman Edgar memang sengaja bekerja dengan Edgar, selain pekerjaan enak, gaji juga banyak.
"Wanita? Edgar menghamili wanita?" Tanya Elang antusias. Edgar pun reflek melemparkan beberapa berkas yang sedang ia mainkan tepat di wajah Elang.
"Aku salah bicara memang nya?" Tanya Elang dengan wajah yang cemberut. "Sembarangan saja kalau ngomong." Malas Edgar.
"Kau tau Res? Edgar sungguh keterlaluan" drama Ricko pun di mulai. "Kenapa dia?" Tanya Ares langsung tanpa bertele-tele.
"Yang di beritahu hanya Ares??" Sarkas Elang kesal. "Kau tinggal mendengarkan saja apa susahnya!" Tegas Ricko.
"Emang bener ya, Pria itu selalu salah." Cibir Elang. Edgar mendengar itu hanya memutar bola mata. 'Drama akan di mulai' batinnya kuat.
"Beberapa hari yang lalu, Edgar meninggalkan wanita tua di jalanan, parah sekali bukan?" Ucap Ricko, Ares dan Elang sontak memasang wajah kaget dan menggelengkan kepala tak menyangka.
"Heh tunggu sebentar, maksud wanita tua??" Sahut Edgar tak terima dengan apa yang di bicarakan Ricko.
"Kau menyuruhku mengantarkan wanita ke rumah sakit kan?? Disana hanya ada wanita tua yang sulit berjalan. Siapa lagi kalau bukan beliau yang kau maksud??"
"Mana ada! Bukan itu yang ku maksud. Bagaimana bisa kau salah?? Yang aku maksud adalah wanita cantik dengan rambut panjang yang terurai"
"Hei bodoh! Jangan salahkan aku jika aku salah. Ini adalah salah mu sendiri, mengapa kau memberiku info yang sangat tidak masuk akal hum??!"
Ares pun menyela perdebatan mereka berdua. "Bagaimana Ric?" Tanya nya.
"Dia menyuruh ku datang ke jalan edelweiss didekat pemberhentian bus 3, dan mencari seorang wanita yang sedang membawa barang belanjaan dengan kaki terluka, dan yang aku temukan hanya wanita tua itu dengan ciri-ciri yang di berikan Edgar"
"Ah cukup. Kau akan mencari kesalahan orang lain. Enak saja mau menyalahkan atasan. Jika saja kau tidak ceroboh semua tidak akan terjadi." Ucap Edgar dengan raut wajah tengilnya.
"Ceroboh ceroboh, yang ceroboh itu kau. Kau menabrak nya bukan??" Tanya Ricko dengan nada ketus. Edgar menatap wajah Ricko dengan tatapan geram.
"Jangan salahkan aku jika aku memukul wajahmu. Hilangkan tatapan wajahmu itu!"
Edgar melongo, "Kau memang tidak bisa di ajak bercanda." Ricko menatap Edgar malas, "Aku muak mas, muak."
Elang dan Ares mendengar itu sontak tertawa ria. Memang kelakuan dua orang itu tidak ada yang bisa menebaknya bahkan sahabat mereka sendiri.
"Siapa suruh kau tidak bertanya kepada ku lagi tentang detail wanita yang aku maksud" cibir Edgar. "Siipi sirih kii tidik birtinyi kipidi ki ligi tinting ditiil winiti ying iki miksid" ejek Ricko dengan wajah datarnya.
"Itu karena kebodohanmu sendiri."
Ricko menatap Edgar serius dengan tatapan tajam. "Kau sangat kejam Tuan. Kau hanya bisa menyalahkan aku" ucap Ricko dan langsung berdiri meninggalkan ruangan rapat itu.
"HAHAHAHAH TANGGUNG JAWAB, KAU SUDAH BUAT DIA KESAL HARI INI GAR" Tawa Elang tak bisa berhenti saat Ricko meninggalkan tempat.
"Gampang, nanti aku akan memberikan satu rumah untuknya." Ucap Edgar. "Aku mau menemui ayahku, Elang, handle semua dengan baik. Dan kau Res, cek kondisi di luar negeri" lanjutnya dan lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Gampang sekali dia bicara, baiklah baiklah, bos bebas memerintah apa saja kepada bawahan" cemooh Ares dan hanya di anggukkan kepala oleh Elang.
****
"Baik cukup sampai disini saja untuk rapat hari ini, terimakasih semuanya" ujar Enzi kemudian keluar dari ruang rapat.
Saat berjalan menuju ruangannya ia melihat Keyla sedang berdiri di depan ruangannya, ia pun menghampirinya
"Key, mengapa kau berdiri disini? bukankah aku menyuruhmu untuk merevisi berkas rapat?" tanya Enzi dengan wajah kebingungan
"Begini Tuan di dalam ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Tuan, ia bilang dia adalah kekasih Tuan" Enzi makin dibuat kebingungan.
"Kekasihku?" Enzi memastikan sekali lagi, dan hanya di angguki oleh Keyla
Enzi pun memutuskan untuk mengintip kedalam ruangannya dan terlihatlah Abrie yang sedang duduk dengan tenang sambil sibuk memainkan hp nya. "Ahh jadi dia kekasihku" lirih Enzi sambil tersenyum malu
"Dia benar kekasihku, kau kembalilah Keyla kerjakan tugas yang sudah ku berikan padamu" Ujar Enzi kemudian pergi masuk kedalam ruangannya.
"Apakah Nona satu ini mengaku-ngaku sebagai kekasihku?" Ucap Enzi sambil terus tersenyum, ucapan Enzi tersebut berhasil membuat Abrie hampir melonjak dari duduknya
"Ah kau membuatku terkejut saja Zi" ketus Abrie yang nampaknya masih terlihat shock
"Hahaha apa benar Nona cantik ini adalah kekasihku?" ucap Enzi yang terus menerus menggoda Abrie yang malu-malu. Abrie memukul pelan lengan Enzi. "Zi, sudahlah kau terus menerus membuatku malu saja" cibirnya.
"Hahaha baiklah... Duduklah Brie" ujar Enzi, Abrie mengangguk dan duduk kembali di sofa yang baru saja ia duduki, begitupun diikuti oleh Enzi di samping nya.
"Ck. Kau tidak diberi minum oleh Keyla?" Tanya Enzi, Abrie menggeleng, "Dia tadi sudah menawarkan minuman padaku, namun tawaran nya sangat tidak menarik, jadi aku menolaknya." Ujar Abrie panjang.
Sebenarnya bukan itu alasannya, namun Abrie sengaja seperti itu. Sangat usil, membuat masalah baru saja!
"Huft lagian bodoh sekali dia tidak menawarkan minuman lain kepadamu. Dan kau juga bodoh Brie, mengapa tidak bilang apa yang kau inginkan tadi?"
"Aku tidak enak hati, dia seperti tidak percaya jika aku kekasihmu, ya sudah aku diam saja, dan menahan rasa haus ku ini"
Enzi mengambil telefon genggam nya, dan menekan beberapa nomor. "Ke ruangan ku sekarang." Lalu di matikan begitu saja oleh Enzi tanpa menunggu jawaban.
"Kau mau minum dan makan apa Brie?" Tanya Enzi langsung, Abrie memasang wajah polos yang tengah fokus berfikir.
"Aku ingin makan gado-gado Zi, lalu minum jus jeruk sepertinya segar"
"Baiklah, kau tunggu ya."
"Eh tunggu. Aku ingin bakso dan pisang goreng yang ada di warung sebelah kantormu itu, sepertinya lezat"
"Kau yakin akan menghabiskan semuanya Brie?"
"Ah ya Zi, dan makanan favorit mu, nasi goreng nugget, aku mau itu"
"Kau kelaparan atau memang rakus? Hahahha"
Abrie cemberut mendengar itu, dan melipat kedua tangannya didepan d**a. Enzi hanya tertawa melihat tingkah Abrie yang random itu.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Enzi pun menyuruh nya untuk masuk kedalam. Dan ternyata Keyla.
"Lambat!" Ketus Enzi, Keyla hanya menundukkan kepala dan meminta maaf. "Kau ini, jangan keras-keras dengan bawahanmu!!" Ketus Abrie juga untuk Enzi.
"Iya honey... Sudah marah nya?" Tanya Enzi, Abrie mendengar itu melotot dan reflek mencubit perut Enzi hingga membuat Enzi meringis kesakitan.
"Sshh sakit Brie. Kau kebiasaan sekali mencubit ku" marah Enzi, Keyla melihat kelakuan mereka berdua hanya bisa menahan tawa, atau dia akan kena sembur dari bos nya itu.
"Belikan gado-gado, bakso, es jeruk, nasi goreng nugget, dan juga pisang goreng yang ada di warung sebelah kantor ku, aku ingin kau cepat karena kekasih ku ini sudah lapar."
"E-ehh t-tidak tidak, bukan aku yang lapar, kau ini!" Sarkas Abrie dan memukul berkali-kali ke Enzi, Enzi pun melindungi dirinya dengan kedua tangannya tak lupa dengan tawa itu.
Keyla sangat terkejut mendengar itu, ternyata Tuan nya yang terlihat datar dan kaku, bisa tertawa juga. Kini Keyla percaya bahwa Abrie adalah kekasih Enzi.
"Ekhem." Keyla sengaja batuk keras agar semua kembali normal, "Kalau begitu Saya permisi dulu Tuan, Nona" pamit nya dan hanya dapat anggukkan dari Enzi.
"Baiklah, ada apa kau kemari?" Tanya Enzi, "Aku lupa aku mau apa" balas Abrie dengan menguapnya.
"Kau mengantuk?" Tanya Enzi, Abrie hanya mengangguk sebagai jawaban. Enzi pun menggendong Abrie layaknya karung beras, Abrie menggeliat seperti ulat namun Enzi tak pedulikan itu.
"TURUNKAN AKUU!!!" Titahnya. Enzi tak menjawab dan menarik satu buku dari lemari nya itu. Tak di sangka lemari itu terbuka dengan sendirinya
Enzi pun masuk dan masih dengan Abrie sebagai karung beras.
Enzi menurunkan Abrie di atas kasur yang empuk. Abrie menatap sekeliling, sangat rapi dan banyak barang-barang antik disitu.
"Kau tidurlah disini hingga menunggu makanan nya datang, aku akan keluar dan tidak akan menganggu tidurmu." Ucap Enzi dan langsung nyelonong keluar b
egitu saja tanpa menjawab jawaban dari Abrie.
Abrie masih bengong melihat yang ia pandang, "Ah sudahlah, aku akan tidur."
****