Abrie sudah sampai di rumah paman nya, ia menatap jam di handphone nya, 10:23 pm. "Ya ampun ini terlalu malam, jelas saja bibi mencari ku" gumamnya sendiri.
Abrie pun mencoba membuka kenop pintu perlahan dan berharap pintu itu tidak di kunci. Dan Tuhan memberkati nya, pintu itu ternyata belum di kunci oleh bibinya.
"Syukurlah, kau tidak perlu minta bantuan dari Daniel lagi Brie" ucapnya sendiri. Abrie pun berjalan mengendap-endap menuju kamar Daniel yakni kamar dia juga disitu.
Satu ruangan yang terdapat dua kasur. dikarenakan kekurangan ruangan, terpaksa Abrie pun mau satu kamar dengan Daniel yang menurut nya sangat gila!
"Sial." umpat Abrie. Pintu kamar itu di kunci, lalu bagaimana cara ia agar bisa masuk? "Terpaksa aku harus kirim via chat ke Daniel, karna tidak mungkin sekali jika aku mengetuk pintu, bisa bisa paman dan bibi bangun dan bibi akan memarahi ku" ujarnya sendiri.
Ia pun mengirim pesan kepada Daniel, dan tanpa menunggu lama, Daniel membaca pesan dari Abrie.
Pintu terbuka dengan perlahan dan Abrie melihat Daniel yang hanya menggunakan celana boxer nya itu dan rambut kecoklatan nya yang sedikit berantakan.
"Kau darimana sa-" ucapan Daniel terhenti saat Abrie membungkamnya dengan telapak tangan, dan memaksa Daniel masuk kamar.
Abrie menutup pintu dan menguncinya kembali.
"Jangan banyak tanya. Aku mau mandi, dan jangan makan bakso ku atau kau tahu akibatnya!" ancaman kecil dari Abrie untuk Daniel yang sudah di sadari Abrie bahwa ancaman nya tidak akan mengaruh pada Daniel.
Daniel hanya tertawa kecil mendengar ancaman dari Abrie. Ia menatap punggung Abrie hingga punggung itu tak terlihat karena Abrie memasuki kamar mandi.
Daniel duduk di sofa sambil menatap lumayan lama bakso itu, lalu ia berdiri dan keluar kamar.
Tak berlangsung lama ia kembali membawa satu gelas berisi air putih dan satu mangkuk di tangannya.
Daniel menuangkan bakso itu ke mangkuk yang ia bawa tadi, dan memakan satu pentol dan menyusrup kuah nya hingga beberapa kali.
Sadar Abrie yang akan keluar dari kamar mandi, Daniel pun langsung mengunyah cepat pentol itu dan hingga membuat nya tersedak.
UHUK UHUKK ...
Abrie tau itu langsung berlari mendekat dan memberikan air putih yang Daniel bawa tadi.
"Mengapa baksoku sudah berada di mangkuk??" tanya Abrie curiga, "Aku yang menuangkan nya." balas Daniel sembari mengusap bibir nya yang basah akan air yang sudah ia minum barusan.
Abrie menatap Daniel curiga, "Kau makan bakso ku Niel?!!?!"
"Tidak. Mengapa kau menuduh ku seperti itu hum??"
"Lalu kau kenapa tiba-tiba batuk? seperti sedang panik"
"Tersedak nyamuk."
Setelah mengucapkan itu Daniel berdiri dan meninggalkan Abrie di tempat.Abrie menatap punggung Daniel terus menerus hingga tubuh Daniel terjatuh di atas ranjangnya sendiri.
Daniel sadar bahwa Abrie menatap nya terus, namun Daniel meng acuhkan itu. Begitupun sebaliknya, Abrie juga acuh kepada Daniel dan dia lebih fokus makan bakso yang di belikan Enzi tadi.
Bakso itu sudah habis, kini Abrie berjalan menuju ranjang tidurnya, Ia melihat Daniel yang tengah bersandar di headboard ranjang. Abrie menelan saliva nya susah, lirikan mata coklat pekat membuat Abrie salah tingkah!
Abrie berdeham menghancurkan heningan tersebut. "Kenapa kau belum tidur?" tanya Abrie basa-basi agar suasana tidak terlalu mencengkram baginya. Daniel mengangkat satu alisnya, kearoganan terlihat jelas di wajah Daniel.
"Aku?" tanya Daniel dengan nada heran dan wajah kebingungan. Abrie pun ikut memasang wajah bingung. "Apa aku salah bicara??" ujar Abrie.
Daniel menggeleng, Ia pun melepas kaos nya dan membuangnya di sembarang tempat. Abrie melihat itu panas dingin rasanya.
Ntah kenapa ia sangat merasa sangat gugup saat melihat badan Daniel. Memang di akui, badan Daniel sangatlah kekar, seksi dan menggoda iman wanita. Terkadang saja Abrie hampir tergoda karena postur tubuhnya.
Mungkin Abrie sudah gila!
"Kau tadi darimana saja?" tanya Daniel dan duduk di tepian kasur yakni di dekat Abrie.
"Itu bukan urusanmu!" ketus Abrie. Daniel merasa aneh dengan jawaban yang di beri Abrie, "Kau sedang datang bulan? sinis sekali."
"Hah? a-aku? t-ttidak!!" balas Abrie gugup. 'Ini bukan soal datang bulan, tapi karena aku gugup di tatap olehmu sedekat ini!' batin Abrie sangat keras.
"Mengapa kau gugup seperti itu? apa karena melihat wajahku yang tampan?"
"Buang jauh-jauh kepercayaan dirimu itu!" ucap Abrie dan langsung tidur di tempat tidur nya dan menarik selimut agar menutupi setengah badannya.
"Dasar. Selalu saja tidak mau mengakui bahwa sepupunya ini tampan" celoteh Daniel sendiri. Abrie mendengar itu langsung membuka matanya yang tadinya tertutup rapat.
"Maksudmu apa mengucapkan itu?" tanya Abrie sembari miring kan badan nya agar dapat melihat Daniel.
"Memang benar kan yang aku ucapkan? Kau selalu tidak mau mengakui ke tampananku!"
"Enak saja kalau bicara. Kau itu tidak tampan Niel"
"Sudahlah Brie mengaku saja, aku tahu dari tatapan mu kepadaku"
Abrie terkejut mendengar itu, dia tahu? bagaimana bisa? apa dia mempunyai mata batin? Kini pikiran Abrie tak karuan. "K-kau tidak tampan!!" ucapnya sekali lagi dan langsung menutupi badan nya penuh.
Daniel tertawa melihat tingkah Abrie yang terlihat jelas bahwa dia gugup. "Good night girl." ucap Daniel yang kemudian mematikan lampu tidur mereka. Daniel pun ikut tidur.
Abrie mendengar ucapan itu, namun ia tetap memejamkan matanya agar esok hari ia bisa mencari pekerjaan dan bisa beli rumah sendiri, lalu pergi dari rumah neraka ini.
***
"Pagi Paman, Bibi" sapa Abrie kepada mereka berdua di tempat makan. "Selamat pagi Brie ayo kita sarapan bersama" ajak Samuel, paman Abrie.
"Ah tidak perlu paman, aku hari ini ingin mencari pekerjaan, lagipula tadi aku sudah sarapan sebelum kalian bangun" balas Abrie, Samuel mengangguk paham.
"Kau yakin tidak mau sarapan bersama?" tanya Samuel kembali. Desi mendengar itu sangat geram kepada suaminya. "Mas, dia itu tidak boleh makan satu meja sama kita!" tegas Desi kepada Samuel.
"Mengapa? Dia keponakan ku, dia berhak makan disini juga" ucap Samuel membela Abrie. "Tapi ini rumahku. Aku yang berhak memberi peraturan disini!" ucap Desi.
"Tidak bisa seperti itu. Lantas apa kamu tidak menghargai keputusan suami mu?!?!!"
"Mereka ribut karena aku, ya tuhan aku harus bagaimana ini" batin Abrie bingung.
"Paman, Bibi sudah jangan bertengkar. Aku berangkat dulu, sampai jumpa" ucap Abrie dan langsung pergi begitu saja tanpa menunggu balasan dari keduanya.
"Lihat keponakan yang kamu sayang itu?? Tidak punya sopan santun! pamit seperti apa itu? dasar perempuan bodoh!!"
"Hentikan ucapan jelek mu tentang Abrie. Jangan mentang-mentang kau yang punya rumah ini, kau bisa seenaknya mengatur semua orang yang ada di rumah ini." ujar Samuel tegas dan memukul meja dengan keras.
Tangan Samuel mengepal keras. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang suami di injak-injak oleh istrinya sendiri.
"Kalau saja bukan demi Daniel, mungkin aku sudah lama menceraikan mu!" ucap Samuel penuh dengan tekanan. Samuel pun memutuskan untuk langsung berangkat kerja tanpa harus berpamitan dengan Desi.
"Mas.. jangan pergi dulu. Habiskan sarapanmu..." ujar Desi, namun Samuel tak mendengarkan ucapan istrinya itu.
"Semua ini gara-gara Abrie. lihat saja nanti, kau akan tau akibatnya karena telah membuat ku bertengkar dengan suamiku."
***
"Sudah siang seperti ini namun aku belum mendapatkan pekerjaan sama sekali." gumam Abrie lelah. Ia pun memutuskan untuk istirahat sejenak di halte seberang.
Saat sedang enak-enak duduk di bangku halte fokus Abrie terfokus kepada mobil diseberang yang sedang berhenti di lampu merah.
'Bukankah itu mobil yang menyerempet ku pada saat itu, apa laki-laki tersebut ada didalam mobil itu?' gumam Abrie dalam hatinya.
Tiba tiba Abrie terfikir untuk menghampiri mobil tersebut untuk mengembalikan kartu kredit laki-laki yang ia temui kemarin.
Namun belum sepenuhnya Abrie berdiri dari duduknya lampu jalan menunjukkan tanda hijau dan mobil tersebut sudah terlebih dahulu melaju dengan cepat.
"Ah sial aku terlambat" Kesal Abrie, kemudian Abrie tidak sengaja melihat plat nomor mobil laki-laki tersebut.
"B 7 EDG"
'Ah aku akan mencatat plat nomornya dan bertanya ke Enzi'.
Abrie pun memutuskan untuk menemui Enzi di kantornya, sekitar 30 menit Abrie berjalan menuju kantor Enzi ia pun langsung menuju resepsionis
"Maaf apa Enzi ada di kantor?" tanya Abrie. "Saya lihat kan terlebih dahulu ya nona" ucap resepsionis itu dan hanya dibalas anggukan.
"Non, tuan Enzi ada di ruangannya dilantai 6, apa anda sudah membuat jadwal dengannya?" Abrie nampak kebingungan karna dia kesini dengan keadaan dadakan
'Apa aku bilang sudah saja ya, Enzi tidak akan mempermasalahkan hal ini, bukan?' gumamnya dalam hati.
"Saya sudah membuat jadwal".
"Baik silahkan masuk nona", "Ya, terimakasih".
Setelah itu Abrie langsung menuju lift untuk segera menemui Enzi, "Ya Tuhan liftnya ramai sekali akan memakan waktu banyak kalau aku menunggu lift, memakai tangga pun akan makin lama"
Abrie berfikir keras bagaimana caranya ia untuk bisa menuju ke ruangan Enzi hingga sorot matanya tidak sengaja tertuju ke pintu darurat
"Ya aku akan lewat tangga darurat saja" Semangat Abrie kemudian segera menuju pintu darurat
Dengan berlari Abrie pun berhasil sampai di lantai 6 dan langsung menuju ruangan Manager 'Semoga saja Enzi masi ada di ruangannya'.
Dengan nafas tersengal-sengal Abrie mengetuk pintu tersebut dengan tersenyum
toktoktok
Pintu pun dibuka namun bukan Enzi yang keluar, "Maaf nona, apa anda mencari tuan Enzi?" tanya wanita cantik dihadapan Abrie
Abrie sedikit melongo melihat wanita didepannya yang begitu cantik 'Dia cantik sekali', ia terpesona dengan kecantikan sekertaris kekasihnya itu
"Nona apa anda baik baik saja?" tanya sekertaris itu sambil melambai pelan tangannya didepan Abrie
"A-ah i-iiya iya aku baik! apa aku bisa bertemu dengan Enzi? ada sesuatu yang perlu aku tanyakan padanya" ucap Abrie terbata bata
Sekertaris itu tersenyum kemudian memerintahkan Abrie untuk masuk dan duduk. "Tuan Enzi saat ini sedang ada rapat dengan client maka dari itu anda tunggu lah di dalam dan duduklah" ucap sekertaris itu dan diberi anggukan oleh Abrie.
Abrie meneliti keseluruhan ruangan Enzi tersebut lagi lagi ia dibuat tercengang dengan apa yang ia liat.
'Ada seorang wanita yang ingin menemui tuan Enzi, apa dia sudah memiliki janji dengannya?'
'Sudah saya tanya dan katanya sudah memiliki janji Bu key'
'Tapi ditatanan jadwalku tidak ada sama sekali janji dengan orang, hanya jadwal rapat yang ada'
'Mungkin janji pribadi Bu, kenapa anda tidak tanyakan langsung saja'
'Ah ya bisa jadi, baiklah terimakasih Clara'
Keyla memutuskan untuk pergi bertanya kepada Abrie untuk meyakinkannya bahwa Abrie bukan penyusup
Keyla mendekati Abrie yang masih terlihat terpana dengan ruangan Bosnya itu. "Maaf nona, apa saya boleh bertanya sesuatu kepada anda?"
Abrie yang semulanya sedang tercengang langsung terkejut mendengar panggilan dari Keyla. "Ah iya boleh, bertanyalah" jawab Abrie.
"Maafkan saya sebelumnya, anda siapanya tuan Enzi?" pertanyaan yang dilontarkan Keyla berhasil membuat Abrie shock
'Harus ku jawab apa ya, aku dan Enzi tidak ada hubungan apa apa'
"Aku kekasihnya!".