"Ini tidak mungkin!" kesal Alaric. Ia berteriak melepaskan kekesalan di hatinya kepada samudra yang senantiasa menyaksikannya tanpa kenal rasa lelah. Pantulan cahaya rembulan di atas lautan yang tenang tersebut membuat sedikit kekesalan di hati pria air itu sedikit berkurang.
Tak lama kemudian ia duduk di atas pasir putih yang juga menjadi saksi kekesalan dan kesedihan mendalam milik Alaric, ia kemudian menengadahkan kepalanya memandang langit tepat kepada sang rembulan tanpa berkedip, raut wajah berkerut yang dipasangnya perlahan melembut dan menampilkan ekspresi sedih.
"Bulan Purnama, bintang-bintang dan lautan, bagaimana di tengah begitu banyak kejadian buruk yang melanda seperti ini kau masih dapat terlihat sangat tenang. Memandangmu seperti ini, aku merasa sangat tenang dan damai,