Ken segera meraih telapak tangan Kay dan bergegas menjauh dari sungai tersebut begitu merasakan getaran aneh yang tiba-tiba timbul di tempat mereka.
Begitu juga dengan Cathabell, Undrew dengan segera berlari dan menarik Cathabell menjauh dari sungai tersebut agar Cathabell tidak tertimpa pepohonan yang tampak akan segera tumbang berkat getaran aneh yang tiba-tiba muncul.
Alaric segera bangkit dari posisi duduknya, ia menatap Calista yang tampaknya masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tak mau memakan lebih banyak waktu Alaric langsung menggendong Calista tanpa persetujuan gadis tersebut, walaupun tidak sopan tetapi tiada pilihan lagi untuk keselamatannya. Calista yang sedang bengong menatap sungai terkejut dengan perbuatan tiba-tiba Alaric dan segera menatap pria tersebut tepat ke arah sepasang iris birunya.
"Cal, jangan bengong, sekarang bukan waktunya buat bingung!" teriak Alaric seraya berlari menjauhi sungai. Calista masih diam menatap manik biru pria di depannya ini, dan sekarang entah apalagi yang gadis itu pikirkan. Alaric menghela nafas panjang mengguncang pelan tubuh Calista yang masih saja bengong.
"Hah, m-maaf!" ucap Calista yang langsung tersadar. Gadis tersebut baru tersadar dan langsung menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan bingung yang semakin jadi. "Ini kenapa tanahnya bergetar terus pohon banyak yang tumbang?" Alaric mendengus kesal karena Calista baru menyadari situasi.
"Her, ayo lari!" teriak Petra segera menggandeng tangan Hera. Hera terkaget dan langsung ikut berlari dengan Petra. Namun, karena kaki Hera yang entah sejak kapan terkilir dan membuatnya berlari sedikit lambat.
"Kakimu terkilir mengapa tidak kau katakan dari tadi!" Petra merasa kesal, dan segera membungkukkan tubuhnya tepat di depan Hera. Gadis cahaya itu langsung kebingungan dengan sikap spontan Petra yang menyodorkan punggungnya.
"Eh, kenapa?"
"Naik!"
"Buat apa?"
"Sudah naik saja!" tegas Petra. Hera terkaget dan cepat-cepat naik ke punggung Petra. Setelah merasa Hera telah naik ke punggungnya, Petra langsung bangkit berdiri dan berlari menjauhi sungai.
=====
"Gempa apa ini!" kaget Kepala Sekolah yang tengah memeriksa berkas-berkas di ruangannya. Tangannya yang tadi ingin mengambil secangkir teh di pinggir meja langsung beralih memegang sudut meja sambil berdiri.
"Sepertinya ada yang membangkitkan 'makhluk itu'," ucap Sekertaris Kepala sekolah.
Kelopak mata pria tersebut langsung melebar begitu mendengar sekertarinya berkata seperti itu. "Tidak, Itu tidak boleh terjadi!" teriak Kepala sekolah dan segera meninggalkan ruangannya.
=====
"Apa yang harus kita lakukan sekarang," sedih Hera mengetahui fakta kalau mereka semua membangkitkan gerbang neraka yang sangat ditakuti oleh seluruh rakyat di negara Erlos dan bangkitnya gerbang tersebut akan mengambil hidup banyak orang.
"Mau apa lagi, tentu saja kita harus tanggung jawab," pasrah Cathabell.
"Kita harus melawan mereka dengan segenap kekuatan kita, tidak ada kata mundur saat ini, segalanya sudah terjadi!" semangat Kay, yang lain menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Kau kira gampang apa ngelawan Raja iblis, tapi ucapan mu itu memang ada benarnya. Tetapi, memangnya apa yang dapat kita lakukan?" pasrah Cathabell, gadis tersebut mengacak-acak rambutnya karena kesal.
"Anak-anak!" panggil seseorang sontak membuat semua menoleh kearahnya.
"KEPALA SEKOLAH!" kaget mereka semua menatap Kepala Sekolah yang tengah berdiri dihadapan mereka.
"Kalian tak apa-apa?" tanya Kepala Sekolah Khawatir.
"Kita tidak apa-apa, Pak. Bapak kok bisa disini?" tanya Ken.
"Kalian, apa kalian yang membuka gerbang neraka?" tanya Kepala sekolah dengan raut wajah serius, Undrew menelan ludah.
"Ma-maafkan kami pak!" teriak Undrew seraya menundukkan wajahnya. Dirinya takut.
"Kalau begitu segera kembali ke sekolah, kita akan bersiap-siap pada perang yang akan terjadi di esok hari!" ucap Kepala Sekolah.
"Perang apa Pak?" tanya Petra.
"Bapak beritahu besok, sekarang kalian segera kembali ke tempat kalian masing-masing!" perintah Kepala Sekolah, pria tersebut mengambil langkah menuju ke sekolah. Petra dan yang lainnya segera berlari kembali ke sekolah mengikuti Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah memanggil semua murid untuk berkumpul di aula sekolah.
"Para murid sudah berkumpul Pak," ujar sekertaris Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah naik ke atas panggung aula dan meminta para murid untuk tenang.
"Begini, gerbang neraka telah terbuka!" ucap Kepala sekolah. Para murid yang tadinya hening mulai ada yang menangis dan ketakutan.
"Mohon tenang, Bapak mohon. Bapak tahu kalian semua sudah mengetahui berguncangnya tanah kita ini di sebabkan oleh apa, dan bapak juga mengetahui kalau kalian semua merasa sangat takut saat ini."
"Sejujurnya Bapak juga takut, tapi demi Negara ini, demi tempat dimana kita semua lahir, jadi Bapak mohon partisipasi kalian!" jelas Kepala Sekolah. Beberapa murid mulai merasa tenang mendengar pidato Kepala Sekolah dan menerima berkorban demi Negara.
"Saya bersedia, demi Negara ini!" teriak salah seorang murid.
"Saya bersedia, Pak!" teriak semangat para murid yang rela berkorban demi Negara mereka.
"Terima Kasih para murid yang bersedia. Demi Negara ini mari kita berkorban!" teriak Kepala Sekolah disertai sorakan para murid.
"Aku minta maaf, semua sampai harus ada yang mati demi kesalahanku," tangis Kay ketika melihat para murid bersedia berkorban demi hal yang diperbuat dirinya dan ketujuh sahabatnya.
"Aku yang membuka gerbang neraka, ini kesalahanku, aku yang seharusnya mati demi hal ini," ucap Calista mengingat bahwa dirinya yang terdorong jatuh mendekati gerbang neraka hingga terbuka.
"Kita harus semangat, jangan menyalahkan diri sendiri!" ucap Hera menyemangati.
"Iya Hera betul, kalian jangan nyalahin diri sendiri. Sekarang sebaiknya kita fokus pada penutupan gerbang neraka," ucap Cathabell. Pengumuman di aula tersebut pun selesai, murid-murid sudah dapat kembali ke kamar asrama mereka masing-masing kecuali beberapa.
Di sebuah ruangan putih dengan meja bundar besar, Alaric dan beberapa murid dengan latar belakang keluarga yang elite lainnya berkumpul di ruangan Kepala Sekolah mereka duduk pada kursi yang mengitari meja bundar tersebut dan diam seribu bahasa, masing-masing dari mereka adalah murid sangat berprestasi dan tentu saja alasan mereka diam saat ini karena memikirkan apa yang akan dilakukan kedepannya.
Sebuah suara pintu dibuka menganggu pikiran mereka, sang pembuka pintu, Kepala Sekolah langsung menarik perhatian mata murid-murid yang berada diruangan tersebut pada saat ini. "Jadi, bagaimana pak?" tanya Alaric kepada Kepala Sekolah yang baru saja memasuki ruangannya.
"Kita akan segera melakukan persiapan, pertama keluarga Zeroun, Bapak mohon partisipasinya," mohon Kepala Sekolah pada Alaric sebagai wakil keluarga Zeroun.
"Apa yang dapat keluarga kami lakukan?" tanya Alaric.
"Maaf bapak terpaksa memberi tahu ini, dan baru memberitahukannya sekarang ini. Sebenarnya keluarga Zeroun adalah keluarga pembuat gerbang neraka yaitu keluarga dari Raja pertama Erlos, dan kau adalah anak dalam angka keturunan yang sudah dituliskan dalam perjanjian," jelas Kepala Sekolah pada Alaric.
"Anak perjanjian?" bingung Alaric.
"Iya, anak perjanjian. Dahulu buyutmu membuat perjanjian gerbang neraka dengan iblis, isi perjanjiannya terdapat pada kertas yang sudah lama kusimpan ini," ujar Kepala Sekolah menyodorkan secarik kertas tua.
"Baik kita lanjutkan untuk keluarga Galen," lanjut Kepala Sekolah.
Alaric memandang surat yang dipegangnya dan membacanya.
'Satan, demi istriku aku akan melakukan sebuah perjanjian denganmu.
Aku akan merelakan keturunanku yang ketujuh untuk kau tinggali tubuhnya, dalam artian kau dapat menguasai sebagian dari dirinya.
Kumohon, jangan menguasai seluruhnya. Hanya sebagian dari dirinya dapat kau tinggali. Biarkanlah dirinya memiliki kesadar sendiri dan janganlah engkau mengekangnya dalam melakukan hal yang ingin dirinya lakukan.
Dengan begini perjanjian kita akan terjadi'
Alaric melipat kertas yang baru saja dibacanya, dia secara tiba-tiba teringat dengan kejadian saat di gunung Orion, ketika Calista terbawa arus sungai. Segala hal samar yang terus menghantui otaknya perlahan membentuk rangkaian memori samar yang membuat dirinya merasa sangat buruk saat ini.
Alaric segera berlari keluar dari ruangan Kepala Sekolah, dan mencari sahabatnya.
=====
"Ric, kau dar-!" Calista berhenti berbicara ketika melihat mata Alaric menjadi merah.
Undrew, Perta, dan Ken segera pasang mode bersiaga.
"Kalian sudah tahu kalau aku adalah makhluk setengah iblis?" tanya Alaric tegas.
"Begini, Ric se-"
"JAWAB!" teriak Alaric. Suaranya menggema di lorong sekolah tempat mereka berdiri saat ini dan membuat Calista yang tadinya ingin menjawab pertanyaan Alaric langsung diam.
Kay menarik Calista mundur beberapa langkah dari Alaric, dan memegangi tangan Calista. Gadis es itu merasa sangat terkejut dan tanpa sadar membuat dirinya sendiri menjadi lebih dingin dari sebuah es saat ini. Kay yang menyentuh tangan Calista langsung tersentak kaget dan melepaskan pautan tangannya. "Calista apa yang kau lakukan?" teriak Kay. Tangannya mencoba meraih telapak tangan Calista namun tak bisa, tangan gadis itu terlalu dingin hingga membuat Kay berpikir jika ia menyentuh Calista sekali lagi maka dirinya dapat beku pada saat itu juga.
"Iya, kau memang setengah Iblis. Dan saat disungai memang kau yang menyerang kita," ucap Petra tegas, walaupun sebenarnya kata-kata itu merupakan hal yang paling tidak ingin ia utarakan di sepanjang masa hidupnya.
Alaric melangkah mundur perlahan, dan segera pergi meninggalkan mereka, keluar dari sekolah.
"Apa tak masalah kita kasih tahu dia?" tanya Ken khawatir melihat Alaric yang terlihat sangat depresi. Bahkan pria tersebut sekarang menoleh ke arah Calista dan Kay dan melihat Calista yang sangat pucat, tampaknya gadis tersebut mendapat tekanan batin dari despresi yang dirasakan oleh Alaric.
"Sudah sebaiknya kita balik ke aula lagi!" ucap Undrew lalu pergi.
"Cal, tenang saja dia pasti tak kenapa-napa kok," ucap Hera menenangkan Calista yang terlihat sangat khawatir pada Alaric.
Calista mengangguk menganggapi ucapan Hera, ia mentap kosong langit malam, entah apa yang ada dipikirannya pada saat ini.
=====
"Bapak sudah berbicara pada para petinggi, dan keluarga-keluarga elite. Mereka bersedia membantu kita," ucap Kepala Sekolah.
"Sekarang mari kita persiapkan. Perang tidak dapat dihindari lagi!"