Mereka semua masuk ke dalam ruangan tersebut dan langhak kaki mereka terus melangkah melewati lorong-lorong gelap dibantu dengan dua buah bola cilik yang menjadi satu-satunya sumber pencahayaan saat itu.
"Makasih Hera cahayanya," ucap Calista tertawa melihat kekuatan Hera yang ternyata dapat berguna disaat situasi seperti ini. Yah, walaupun itu sebenarnya sangatlah membantu mereka berdelapan.
"Jangan diketawain napa!" kesal Hera lalu fokus pada bola cahayanya.
Setelah keluar dari lorong-lorong gelap tersebut mereka akhirnya menemukan sebuah ruangan kecil, kedua bola kecil tersebut beralih ke sisi ruangan dan memberikan kedelapan orang yang berada di situ akses cahaya untuk dapat melihat ruangan tersebut lebih jelas.
Mereka mengernyit heran ketika melihat begitu berantakannya ruangan tersebut, kertas bertebaran dimana-mana, sebuah meja kecil dengan sebuah peti diatasnya dan sebuah lampu pijar yabg tampak seperti telah beribu tahun tak digunakan, rak kecil yang menempel di dinding kayu dan didalamnya berisi botol-botol kecil yang berisi cairan warna warni.
"Ini bekas lab tidak sih?" tanya Petra menatap sekeliling ruangan yang kecil tersebut.
Ken berjalan maju, tangannya mengusap pelan drbu di dinding ruang tua tersebut dan ia berhenti diatas sebuah peti kayu yang berada tepat diatas meja, tangannya memegang secarik kertas yang sudah menguning akibat termakan waktu dan berada diatas peti tua tersebut.
"Di balik air, warna oranye dan hijau untuk matahari dan bumi dan sebuah warna asing yaitu, merah yang melambangkan gerbang 'nya'. Di sanalah aku dapat menemui 'istriku' dan merelakan raga seseorang untuk menjadi wadahnya," ucap Ken membaca kata demi kata yang terdapat pada secarik kertas yang dipegangnya.
Semua memperhatikan Ken yang baru saja selesai mengeja suatu lembaran.
"Jadi maksud dari kata 'istriku' itu apa?" tanya Petra bingung. Suasana sunyi senyap, mereka tidak menjawab pertanyaan Petra dan memilih untuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan Petra.
"Ah aku mengerti," ucap Hera tiba-tiba, "itu berarti yang nulis itu sang suami yang ada di cerita legenda EHS dong!" ujar Hera sontak membuat semua orang terkaget.
"Jadi ini lab rahasia yang selama ini digunain dia buat meneliti soal gerbang neraka!" ujar Alaric terkagum pada lab kecil tersebut.
"Hah, kau tahu darimana?" bingung Calista, karena dia tidak pernah mendengar kalau sang suami melakukan penelitian gerbang neraka.
"Di Orion Legenda ini terkenal ya 'kan?" ucap Alaric yang disetujui Undrew, Petra, dan Ken.
Mereka menghabiskan waktu mereka untuk menelusuri segala hal mengenai legenda-legenda dari negara Erlos, dan menghubungkannya dengan legenda di setiap pulau. Karena masing-masing pulau di Erlos memiliki legenda masing-masing, dan mereka baru saja menyadari kalau setiap legenda tersebut saling berhubungan satu dengan lainnya.
"Kalau gitu kita keluar dulu yuk! Kelihatan sudah malam," ajak Cathabell lalu beranjak pergi.
"Ya sudah ayo!" sahut Undrew. Mereka memilih untuk kembali ketempat semula mereka. Di sana rupanya sang Ratu malam telah menanti mereka dan langit telah berganti warna menjadi gelap.
"Hari ini malam Bulan Purnama ya?" ucap Cathabell menatap langit gelap yang disinari cahaya Bulan Purnama tersebut. Awan-awan tampak minim di langit, menandakan kalau cuaca saat ini tengah bagus.
"Wih, keren!" senang Kay hingga melompat-lompat.
"Purnama yah, kok sepertinya aku mengingat sesuatu tentang bulan purnama," ucap Calista mencoba mengingat-ingat sesuatu, tapi hal tersebut tak bertahan lama saat tiba-tiba Indra pendengarannya teralihkan ke sebuah suara aneh.
"Suara apa itu?" tanya Petra yang mendengar suara seperti air yang tengah mendidih.
Mereka menoleh ke arah sungai di samping mereka dan terpaku di suatu daerah sungai dimana daerah tersebut terus mengeluarkan gelembung angin yang entah berasal darimana angin tersebut.
"I-itu, apa itu?!" kaget Hera seraya menunjuk ke arah sungai yang mendidih.
"Airnya mendidih, kok bisa?" ucap Alaric yang juga terkaget dan segera mendekati air mendidih tersebut.
"Alaric, hati-hati bahaya!" teriak Calista. Alaric menyeringai kecil medengar ucapan Calista.
"Hm, jadi kau khawatir!" goda Alaric menyeringai, menggoda Calista. "Ric, kalau kau bercanda tolong tahu waktu dong ah!" kesal Undrew mendengar Alaric becanda disaat yang sama sekali tidak tepat.
"Yah maaf hehehe."
"Jadi apa kita selidikin?" tanya Kay. Yang dibalas anggukan kepala oleh Ken.
Alaric menggerakkan tangannya. Mengangkat air yang terlihat mendidih tersebut.
"Coba kita lih-"
"STOP!" teriak Cathabell tiba-tiba. Semua memandang bingung kearahnya.
"Kay kamu inget tentang kalimat 'hilangkan rasa penasaran dan nafsu'?" tanya Cathabell yang dibalas anggukan oleh Kay.
"Coba kita lempar Batu ini"
Cathabell melempar Batu ke arah sungai dan ternyata batu tersebut menghilang dalam sekejap mata, air melepuh yang ditahan Alaric ternyata masih pada sungai tersebut.
Kejadian tersebut sontak membuat kaget semua orang yang melihatnya.
"Batu itu melepuh dan menghilang dalam sekejap!" kaget Alaric yang sedang berkonsentrasi pada air yang sedang ditahannya.
"Kau mengangkat ilusi, Alaric!" ucap Cathabell lalu melempar batu yang memiliki ukuran lebih besar kearah air yang ditahan Alaric.
Setelah batu tersebut terlempar. Air yang ditahan Alaric ikut menghilang.
"Sekarang kita harus pergi gimana?" bingung Petra terkaget pada semua kejadian yang dilihatnya sedari tadi.
"Betul, bercermin. Kita harus bercermin pada sungai," ucap Calista mengingat salah satu halaman buku di rumah tua.
Calista mendekati air sungai dan bercermin. Dia fokus pada pantulan di air.
Hanya pantulan cahaya Bulan dan Bintang juga wajahnya yang tampak pada air tersebut.
"Gak ada hasil apapun, kita balik ke asrama aja," saran Hera, Calista bangkit lalu pergi.
"Hah, kayaknya cuma legenda deh" sedih Ken.
"Sebentar-sebentar!" ucap Calista terkaget-kaget. Dia menatap ke arah langit malam lalu mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Alaric.
"Cahaya Bulan gak pernah berwarna hijau kan?" tanya Calista
"Gak mungkinlah cahaya Bulan warna hijau," ujar Undrew memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.
"Balik kita harus balik!" teriak Calista kembali kearah sungai tadi.
"Ada apa emangnya?" tanya Kay.
"Ada sesuatu, pokoknya kita harus balik ke sungai tadi, cepet!" ucap Calista terburu-buru kembali ke arah sungai.
Mereka berjalan cepat ke arah sungai mengikuti Calista.
"Disini!" ucap Calista.
Dengan segera Calista mengaca pada sungai, dapat dilihat olehnya apa yang terpantul oleh sungai tersebut.
Wajahnya, pepohonan diatas sungai tersebut, Bintang-bintang yang menghiasi langit malam, dan sebuah Bulan. Bulan tersebut berwarna oranye dan hijau, tapi terdapat satu warna yang sangat samar nyaris tak terlihat.
Calista mempertajam pengelihatannya. Mendekatkan wajahnya ke arah sungai. Bulan tersebut berwarna hijau dan oranye, dan setitik warna merah.
Calista terkaget dan segera bangkit dari posisinya tadi.
"Jadi gimana?" tanya Hera khawatir melihat tatapan mata Calista yang kosong.
"Gerbangnya, gerbangnya dia..." Calista menunjuk ke arah tempat dia mengaca.
"Di dalam sana," lanjut Calista. Semua orang yang berada ditempat tersebut terkaget dan melangkah mundur.
"K…kau ya…yakin, Cal?" tanya Petra yang dibalas anggukan kepala oleh Calista.
"Jadi sekarang kita harus bagaimana?" bingung Ken.
Entah mendapatkan tarikan darimana. Calista yang berdiri paling dekat dengan sungai tertarik ke dalam sungai tersebut.
"CALISTA!" teriak Alaric segera ikut masuk ke dalam sungai.
"RIC!" teriak Undrew segera berlari masuk ke dalam sungai.
Yang lainnya ikut masuk untuk menyelamatkan ketiga sahabat mereka.
Alaric mengatur pernapasannya, dia hampir saja mati jika bukan karena Undrew yang menariknya dan Calista untuk kembali ke permukaan.
Calista yang baru sadar pun mencoba mengatur pernapasannya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Calista, kok kau bisa masuk ke dalam sungai itu sih?" tanya Cathabell.
"Aku ngerasa kakiku seperti ditarik oleh sesuatu!" jelas Calista dengan raut wajah takut.
"Aduh, jangan bahas itu lagi!" takut Hera segera menutup kupingnya.
"Dasar penakut," ejek Petra.
"Bilang apa ta-!" Hera tidak menyelesaikan perkataannya ketika melihat ke arah sungai yang suhunya semakin memanas.