Flashback
"Hah...ini jalan ujungnya ada di mana sih?" keluh Cathabell kecapekan dikarenakan sedari tadi mereka belum juga sampai diujung sungai.
"Yah sabar dong! Dengar Cathabell, di dunia ini tidak ada yang instan, semuanya perlu perjuangan untuk mendapatkan hasil," ucap Kay dengan kosakata bijaknya karena terus mendengar celotehan Cathabell sepanjang perjalanan.
Cathabell melirik kesal, di saat kelelahan seperti ini gadis bersurai lavender di sampingnya saat dengan santainya melontarkan kosakata bijak dengan timing yang sangatlah buruk. "Kau memperburuk suasana dengan kata-kata itu Kay," sahut Cathabell kesal dan Kay terkekeh pelan saat mendengarnya.
Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan dengan keluhan Cathabell yang belum juga berhenti.
"Eh! Kayaknya aku mengijak sesuatu deh," ucap Kay lalu menatap kearah tanah yang dipijaknya, rasanya sangat asing. Kay mengangkat kakinya agar dapat melihat apa yang tengah dia injak barusan.
Sebuah lembaran kertas yang sudah menguning. Lembaran tersebut terlihat sangat tua dan kusam, bahkan terdapat beberapa tulisan yang sudah tidak dapat dibaca.
"Kenapa, Kay?" tanya Cathabell yang tengah berdiri dibelakang Kay.
"Ini kayaknya berhubungan sama ujung sungai ini," ucap Kay menatap lembaran yang tengah dipegangnya.
Cathabell berjalan mendekat kearah Kay agar dapat melihat isi buku tersebut dengan jelas.
"Hmmm..."
"Perbatasan!" ucap Cathabell mengeja tulisan di kertas tua tersebut.
"Itu doang?" tanya Cathabell.
Kay segera membalik kertas tersebut dan terdapat lebih banyak tulisan di baliknya, sayangnya beberapa dari tulisan tersebut terdapat beberapa yang sudah tidak dapat dibaca.
"Berhati-hatilah, hilangkan semua rasa penasaran dan nafsumu, hal tersebut akan mengantarkanmu kepadanya, sang kehidupan dan kematian. Pilihan berada ditempat-" Kay berhenti mengeja dikarenakan lembaran tersebut sobek sehingga bagian selanjutnya tulisan tersebut hilang.
"Yah, tak ada lanjutannya," ucap Kay kecewa melihat kertas tersebut.
"Coba kau lihat Kay. Disini tulisannya 'Hypnos Isidore' berarti kalau tidak salah dia 'kan salah satu saksi gerbang neraka," jelas Cathabell.
Kay mengacungkan jempol, "Kau memang sangat pintar Cathabell".
Flashback end
"Sudah, tak ada lanjutannya?" tanya Calista. Dibalas anggukan oleh Cathabell.
"Kok gantung sih!" kesal Hera seraya membanting guling yang dipeluknya.
"Yah, kertasnya sudah tua ditambah lapuk mau gimana lagi," jelas Cathabell.
"Berarti beneran sudah tak ada tulisannya?"
"Iya"
"Bekas tulisan?"
"Tak ada!"
"Sedikitpun?"
"ITU 'KAN SOBEK CALISTA KU SAYANG!" teriak Cathabell yang sudah habis kesabarannya
"Jangan berisik woy, sudah malam, kalian kira asrama ini milik kalian seorang!" teriak murid yang tinggal disebelah kamar Calista, Cathabell, Hera, dan Kay. Sementara keempat gadis yang menjadi pelaku tersebut hanya dapat menutup mulutnya agar tidak bersuara sangat kencang di malam hari seperti ini.
"Maaf, hehehe."
"Kalau sobek berarti tak keliatan tulisannya sama sekali ya?" tanya Calista.
"Iya, Calista ku sayang. Jangan nanya lagi ya kumohon, aku ini sudah ekstra sabar sama kau loh Callista," mohon Cathabell dengan raut wajah memelas.
"Hem..., apakah kalian bisa antarkan kami berdua kesana gak besok?" tanya Hera.
"Oke besok kita anterin ke sana," setuju Kay, yang entah sejak kapan keluar dari ke galauannya.
Hera, Calista, dan Cathabell menatap bingung Kay namun mereka tidak menghiraukannya.
=====
"Jadi tidak kesananya?" tanya Kay semangat.
"Jadilah," sahut Hera.
"Sebentar, ini 'kan baru habis pulang sekolah bagaimana kalau kita makan dulu?" saran Calista yang tampak sekali niatnya.
"Bilang saja kau laper, tidak perlu menggunakan basa basi tak jelas," ucap Kay lalu berbalik arah menuju asrama.
"Lagian Kau juga laper yah 'kan?" tanya Calista dengan raut wajah datarnya sambil menatap Kay. Gadis bersurai lavender tersebut langsung berbalik sambil memasangkan senyumannya.
"Iya, hehehe."
Keempat orang tersebut berjalan balik ke asrama mereka dan memilig untuk makan terlebih dahulu untuk memperoleh energi lebih. Setelah kegiatan makan sepulang sekolah tersebut usai, dan sudah dipastikan kalau tidak ada yang kelaparan, mereka semua kembali mengambil barang-barang yang akan di bawa oleh masing-masing mereka.
"Nah, sudah pada kenyangkan. Sekarang kita berangkat!" ucap Hera melirik Calista dan Kay yang semakin semangat setelah makan.
Mereka berjalan memasuki hutan dan malah berpapasan dengan Alaric, Undrew, Ken dan Petra. Keempat pria tersebut kebingungan saat melihat gadis-gadis dihadapannya ini mengenakan setelan seperti orang yang akan pergi berpetualang.
Kay yang melihat Ken segera bersembunyi dibalik Cathabell yang berada di paling belakang.
"Kalian ngapain di hutan, terlebih lagi dengan barang-barang aneh itu?" tanya Undrew.
"Kita mau mencari ujung sungai," balas Hera lalu melanjutkan perjalanannya.
"Kita ikut ya," pinta Ken, Kay melotot dan memberikan tatapan tajam pada Ken.
"Atau mungkin enggak," lanjut Ken yang melihat tatapan Kay padanya.
"Gak apa ikut aja, lagian kalau ada cowok kan pasti bakal lebih aman," ucap Cathabell. Kay memukul pundak Cathabell dengan sangat kencang.
"Aww..."
"Bilang aja mau sama Undrew!" kesal Kay.
"Ih, siapa yang mau sama dia," jawab Cathabell memalingkan wajahnya dari Undrew.
Undrew tersenyum senang ketika dia melihat terdapat semburat merah dipipi Cathabell.
"Sudah, ayo berangkat nanti keburu sore," ucap Calista lalu segera berjalan masuk kedalam hutan. Mereka mendapatkan anggota baru yang akan ikut berjelajah dengan mereka dan tentu saja hal tersebut cukup membantu.
"Kalau tak salah sih ada disini," ucap Cathabell seraya menoleh kanan kiri.
"Iya disini kok aku juga masih inget!" ucap Kay membenarkan perkataan Cathabell.
Mereka berjalan-jalan ke sekitar daerah yang ditunjuk Cathabell dan Kay.
"Atau mungkin enggak apa kita jalan lebih kedalam lagi saja?" saran Kay yang kemudian disetujui Cathabell.
Mereka semua berjalan semakin dalam ke arah hutan yang mulai ditutupi kabut tebal.
"Kabut dari mana ini. Semua pegangan tangan!" teriak Hera dengan segera menggandeng tangan orang disebelahnya.
"Kenapa banyak kabut sih!" kesal Calista yang menggandeng tangan orang disebelahnya walau dia tidak tau siapa itu.
"Sudah lari saja yang penting kita harus keluar dari kabut inj!" teriak Cathabell langsung berlari dengan orang yang di gandengnya.
Mereka berlari dengan sangat kencang tanpa memperdulikan apapun, yang ada di pikiran mereka saat ini hanya satu hal yaitu, keluar dari kabut yang tak jelas asal usulnya ini. Tiada satupun dari mereka yang peduli siapa sosok yang tengah di gandeng.
Hingga akhirnya kabut tersebut mulai mereda dan menampakkan pepohonan hutan rindang yang masih sangat asri tanpa campur tangan manusia barang sedikitpun.
"Hah...hah...aku capek!" keluh Kay yang baru saja selesai berlari. Kay lupa jika dia masih menggandeng tangan seseorang.
Kay menoleh kearah orang yang di gandengnya yang ternyata adalah Ken. Kay membelalak dan segera melepaskan tangannya.
"Disini tempatnya aku yakin banget, ya kan Kay?" tanya Cathabell. Kay segera mengangguk dan berpura-pura tidak ada yang terjadi.
"Jadi disini tempatnya," ucap Petra penuh selidik.
Alaric menghadap ke bawah dan berjongkok. Tangannya mengusap tanah dan dibalik tanah tersebut terdapat sebuah pintu besi.
"Eh liat ini!" panggil Alaric dan semua menghadap kearah pintu besi yang dipegang Alaric.
"Coba kita masuk!"