Undrew dan Ken segera berlari menyampari Cathabell dan Kay.
Undrew memeluk Cathabell dengan erat, seperti takut kehilangannya lagi.
Sedangkan Ken segera mengapai kedua tangan Kay dan tersenyum senang. Muka Kay sontak memerah sangat merah, bahkan hampir melebihi merahnya tomat.
"Ekhem! Kita kok tiba-tiba jadi nyamuk kayak begini ya!" ucap Petra mengubah suasana menyenangkan itu menjadi sedikit canggung secara tiba-tiba. Tantu saja ucapan perusak suasana tersebut mendapat cubitan dari Hera yang membuat pria tersebut mengernyit seketika.
Undrew segera melepas pelukannya lalu menunduk untuk menutupi semburat merah di pipinya.
"Kay!"
Semua menoleh kearah sumber suara yang terdengar sangat panik. Badan Kay lemas dan kepalanya tertumpu di bahu Ken. Ken sontak langsung memegang dahi Kay dengan telapak tangannya dan terkejut saat merasakan suhu tubuh gadis tersebut.
"Badannya panas, mukanya merah!" ucap Ken panik. Tiba-tiba saja tubuh gadis tersebut oleng dan langsung menimbulkan suara yang membuat semua orang khawatir dengan dirinya.
"KAY!" teriak semua orang dihutan tersebut melihat Kay yang pingsan dan hampir saja terbaring di tanah kalau bukan Ken menahan punggungnya agar tidak terjatuh ke tanah.
"Aku heran, kenapa setiap kali berada di dekat aku kok malah pingsan?" bingung Ken sambil menatap bingung teman-temannya yang memandang kesal kearah dirinya. Tampaknya pria polos ini tidak mengerti apa maksud dari tingkah Kay kepadanya.
"Hm, kau sama tak pekanya dengan Calista," ucap Alaric yang kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan sosok gadis yang menjadi pelaku dari perkataan Alaric dengan wajah kesal dan bingung.
"Maksudmu apa hah?" kesal Calista mengejar Alaric.
"Sudah kau gendong saja tuh si Kay, ini kan salahmu hingga dia menjadi seperti ini," ucap Undrew lalu pergi. Hera, Cathabell, dan Petra juga ikut pergi dan meninggalkan Ken sendirian yang masih meratapi kesedihan dan kebingungannya.
"Salah aku apa sebenarnya?" sedih Ken lalu mengendong Kay di punggungnya, dan mulai berjalan mengikuti jejak teman-temannya yang berjalan mendahului dirinya.
=====
"Hem, dia sudah bangun tuh!" seru Calista melihat Kay yang telah sadar dari acara 'pingsan karena berada di dekat orang yang di sukai' miliknya. Aneh, oh tentu tidak, Calista paham betul bagaimana perasaan Kay yang memiliki pria yang di sukai dengan sifat sepolos warna putih.
"Kay, kau tidak apa-apa?" khawatir Ken sambil menatap intens wajah Kay hingga membuat gadis tersebut merasa ingin pingsan lagi karena kekurangan pasokan udara dari sekitarnya.
"Kenapa?" tanya Kay yang berusaha tetap pada kesadarannya ketika bangun dari pingsannya dan mendapati sesuatu yang mengejutkan seperti ini di depan matanya, semoga setelah ini jantungnya akan baik-baik saja.
"Aku mau bicara empat mata denganmu," ajak Ken. Kay mengangguk mengerti dan bangkit dari posisi duduknya, lalu mereka sedikit menjauh dari yang lainnya untuk saling berbicara satu sama lain.
"Gini, aku penasaran apakah kau punya riwayat penyakit kronis atau mematikan?" tanya Ken berhati-hati dengan tampang khawatir nan tampan yang membuat Kay semakin menyukai pria tersebut.
"Apa? Gi-" belum selesai Kay berbicara Ken memotongnya.
"Aku tau kok kamu mau nyembunyiin ini dari sahabat-sahabat mu, mangkannya oleh karena itu aku berbicara dengan mu menggunakan suara kecil agar mereka tidak dapat mendengarnya," jelas Ken.
"Maksudmu apa?" bingung Kay setelah mendengar semua ucapan Ken yang begitu aneh bagi dirinya.
"Kau punya riwayat penyakit?" tanya Ken sekali lagi.
"Kau mendapat kesimpulan seperti itu dari mana coba? Katakan padaku orang macam apa yang mengatakan hal tidak masuk nalar seperti itu," kesal Kay. Dia bingung bagaimana Ken bisa menyimpulkan kalau dirinya penyakitan.
"Hem, karena kau sering pingsan," jelas Ken. Kay merasa tertujuk oleh pisau saat ini, senyuman tak relanya tiba-tiba tampil di wajah gadis tersebut. Entah mengapa wajah khawatir yang tadi membuatnya jatuh hati langsung malah membuat gadis tersebut ingin meninju tampang khawatir tersebut.
"Gini ya aku bilangin." Kay sengaja menggantungkan perkataannya, dan Ken mendekatkan telinganya karena penasaran.
"AKU TUH GAK PENYAKITAN, DASAR COWOK GAK PEKA!"
Kay pergi meninggalkan teman-temanya dan berlari masuk kearah gedung asrama perempuan. Dia menghentakkan kakinya kencang-kencang kemudian membanting pintu kamar asramanya karena kesal.
"Eh, kau apakan dia hingga menjadi seperti itu?" tanya Cathabell pada Ken. Ken mengangkat bahunya.
"Aku cuma nanya dia penyakitan gak nya," jelas Ken
"Kok bisa?"
"Soalnya dia sering pingsan," ucap Ken to the point.
"ASTAGAA!" teriak semua orang disitu.
"Dia tuh salting tau!" kesal Hera melihat Ken. Dia gak nyangka ternyata Ken sepolos itu.
"Heh? Salting apaan?" tanya Ken bingung.
"Kamu sama kayak Kay ya, lola. Intinya Kay gak penyakitan sama sekali, besok kau harus minta maaf sama dia, oke?" ucap Calista yang juga kesal pada Ken.
Ken mengangguk cepat.
=====
Jam istirahat tengah berlangsung. Kay sedari tadi terlihat melamun sedih.
"Aduh Kay, tak perlu dipikirin terus, makan tuh. Kau belom makan apapun dari tadi pagi lho," ucap Hera khawatir pada kesehatan Kay, karena Kay belum makan apapun sejak tadi pagi.
"Kay!" panggil Ken, dia berjalan mendekat dan duduk di sebelah Kay.
"Kay, aku minta maaf soal kemarin," mohon Ken. Kay tidah merespon ucapan Ken, otaknya masih mengingat dirinya yang di katakan penyakitan karena tingkah laku anehnya.
"Kay aku beneran minta maaf."
"Kalau begitu coba sebutkan kesalahanmu ada dimana!" perintah Kay yang mulai mau mendengarkan ucapan Ken.
"Karena aku mengatakan kalau kau penyakitan."
"Terus?"
"Terus apa lagi, 'kan cuma itu?" tanya Ken bingung dengan maksud Kay.
Kay mendobrak meja dan pergi keluar dari kantin, sedangkan Ken sedang bingung dengan kesalahanya keduanya.
"Salahku apa lagi memangnya?" gumam Ken lirih pada dirinya.
Calista, Cathabell, dan Hera hanya menggeleng kepala melihat kepolosan atau mungkin ketidak pekaan Ken.
=====
"Gimana Ken, berhasil?" tanya Petra. Ken menggeleng lemah.
"KOK BISA!?" teriak Undrew yang sontak membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Jadi gini...." Ken menceritakan tentang bagaimana permintaan maafnya ditolak oleh Kay, dan kembali menciptakan kebingungan luar biasa di otaknya. Dirinya tidak pernah berpikir sekeras ini sepanjang hidupnya.
"Kau ini terlalu polos atau blo'on hah?" kesal Undrew mendengar cerita Ken.
"Kan sudah kubilang, dia tuh sama tidak pekanya sama Calista," ucap Alaric yang sama kesalnya dengan Undrew.
Tanpa Alaric sadari Calista sedang berdiri di belakangnya, dengan tatapan marah, dan kesal.
"Eh, Ric, di belakangmu ada sosok tuh," seru Petra tersenyum kikuk. Alaric menoleh dan
bagaikan ada suara musik horor yang melatar belakangi kejadian mereka saat ini. Dengan gerakan pelan Alaric menoleh kearah belakangnya dan mendapati sosok.
Calista menatap Alaric. Namun tak lama dia pergi tanpa menghiraukan Alaric. Alaric bingung melihat tingkah Calista yang tidak biasa.
"Kau tahu yang tidak peka sama sekali!" gumam Calista dengan suara yang sangat kecil sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mendengarnya.
=====
"Woy, tentang sungai yang kemarin itu. Aku sama Kay nemuin sesuatu yang aneh lho!" seru Cathabell. Hera dan Calista tertarik dengan topik yang sedang dibahas oleh Cathabell, tapi tidak dengan Kay dia tidak tertarik sama sekali.
"Apa itu?" tanya Hera penasaran.
"Jadi begini lho"