Hera, Calista, Kay, Cathabell berdiri di depan gedung asrama sembari menatap kepergian kakek tua yang mengantar pulang mereka.
"Ah tadi padahal sudah nyaris sekali, tapi tak apa-apa besok kita ke rumah tua itu lagi, ya," ucap Kay.
"Oke!" balas Calista semangat.
=====
Lonceng bel tanda pergantian mata pelajaran berbunyi. Seluruh murid memasukkan buku materi pelajaran sebelumnya ke dalam tas mereka, kemudian menggantikannya dengan buku mata pelajaran saat ini.
Pintu kelas terbuka, seorang wanita masuk ke dalam ruang kelas mereka dan tidak membawa apapun di tangannya. Murid-murid menatap bingung ke arahnya.
"Satu kelas ikut Ibu ke hutan belakang sekolah," ucapnya singkat dan kemudian berjalan keluar kelas. Jawaban singkat, padat, dan jelas darinya sudah cukup membuat murid-murid mengerti alasan mengapa guru mereka datang dengan tangan kosong.
Namun, satu pertanyaan terjawab, pertanyaan lain kembali timbul di benak murid pangkat Abira. Mereka saling menatap bingung satu sama lain, dan tidak mengetahui alasan mengapa Bu Linda membawa mereka menuju hutan belakang sekolah.
=====
"Anak-anak, kita para guru akan melakukan tes elemen kepada kalian, untuk mengetahui jenis dari kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing diri kalian," ucap seorang pria tua berambut putih, dan mengenakkan kacamata yang tampak cukup tebal.
"Sekarang Ibu harap kalian berbaris dan mengeluarkan kekuatan kalian ke dalam kotak kaca ini," jelas Bu Linda seraya menunjukan kotak bening yang telah terjejer rapi di depannya.
Satu persatu murid melangkah maju dan menunjukkan kekuatan mereka. Raut wajah Kay tampak menunjukkan senyuman senang ketika dia melihat seseorang mengarahkan kekuatannya untuk menarik perhatian seekor kupu-kupu.
"Kekuatannya keren," ucap Kay senang.
"Oke sekarang giliran Hera, Calista, Cathabell dan Kay. Ayo berbaris di sini," ucap Bu Linda.
Sebuah cahaya terang berbentuk bola, melayang dari tangan Hera dan perlahan masuk ke dalam kotak kaca tersebut.
"Wah...lihat itu cahaya, dia ternyata memiliki elemen langka," bisik para murid yang kaget melihat elemen Hera. Namun, tampaknya mereka tidak begitu memperdulikan elemen tersebut karena tidak tampak berbahaya.
"Oke, berikutnya Calista!" panggil Bu Linda.
Calista perlahan melangkah maju mendekati sebuah kaca kosong di barisannya, tangannya terangkat guna menyentuh sisi dari kaca tersebut.
Jari telunjuknya pun tergerak dan menyentuh ujung kaca tersebut.
Dalam sekejap kaca bening milik Calista terselimuti oleh lapisan es tebal, bagian dasar dari kotak kaca tersebut berisikan salju tebal yang amat sangat dingin.
"Wah, Kali ini pemilik elemen terkuat, sudah bahaya, seram lagi," bisik para murid. Calista melirik murid-murid yang bergosip mengenai kekuatan elemennya melalui ekor mata dan berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan teman sekelasnya.
Hampir seluruh murid pangkat Abira membisikkan banyak komentar negatif atas apa yang telah mereka lihat. Yah, setidaknya masih ada beberapa teman sekelasnya yang berpikiran luas dan memuji kemampuan es Calista.
"Bell, kau berikutnya!" panggi Bu Linda kepada Cathabell.
"Baik bu!" ucap Cathabell antusias. Dirinya memejamkan kedua matanya dan berkata dengan suara yang amat pelan. "Pikiranku sudah siap buat dengan komentar pedas mereka."
Kotak kaca bening milik Cathabell pun terisi oleh bola api yang menyala-nyala. Seluruh teman sekelasnya langsung melangkah mundur ketika bola api tersebut membara dengan sangat kuat.
"Astaga! Kali ini api, habis ini mereka mau keluarkan elemen berbahaya apa lagi? Mereka berempat benar-benar ancaman buat masa depan sekolah ini," bisik gadis bernama Ri.
"Cih, untung aku sabar sama kalian yang cuma tau takut sama kekuatan manusia doang! Takut tuh sama Tuhan dan kekuatannya! Jangan sama kekuatan manusia, dasar kalian orang-orang berpemikiran sempit," ucap Calista dengan nada yang sengaja di tinggikan, agar seluruh murid Abira dapat mendengarnya.
Beberapa murid pun diam mendengar perkataan Calista. "Dih, bilang saja kalian tidak mau di anggap berbahaya." Calista mendelik seketika ke arah sumber suara. Ingin rasanya dirinya untuk menggerakkan tangan kanannya ke arah jantung gadis bernama Ri tersebut dan membekukan jantungnya.
Namun, untunglah dirinya bukanlah seorang psikopat gila yang dengan nyamannya membunuh orang lain.
"Sabar.. Sabar," gumam Calista pelan sambil menambahkan hati dan pikirannya.
"Oke, dan yang terakhir Kay ayo maju!" panggil Bu Linda.
Suara petir menggelegar dan membuat murid-murid menutup telinga mereka. Kotak kaca kosong milik Kay seketika penuh dengan sambaran petir kecil.
"Tuh kan mereka berempat berbahaya, semuanya pemilik kekuatan langka," bisik murid-murid yng mulai ramai kembali. Calista yang kembali mendengar ocehan murid-murid kelasnya sudah tak kuasa menahan kekesalannya lagi. Gadis tersebut menemukan ide Bagus untuk mengerjai mereka yang sudah menghina mereka.
"Baik anak-anak nanti setelah istirahat kita akan melakukan pemanggilan hewan peliharaan ya!" jelas Bu Linda.
"Baik bu!" teriak semua murid pangkat Abira.
Guru-guru dan pengawas pun mulai meninggalkan tempat sebelum para murid. Di saat waktunya bagi para murid untuk bubar, Calista berpura-pura tersandung oleh batu yang cukup besar.
"Aduh!" Gadis bersurai putih tersebut terjatuh dengan tangan kanannya yang terangkat, dan dari tangan tersebut tampak banyak balok es kecil yang terbang masuk ke dalam mulut murid-murid yang tadi menghinanya dan sahabat-sahabatnya. Murid-murid tersebut sontak tersedak sambil memegangi tenggorokan mereka yang terasa sangat dingin hingga tak mampu mengeluarkan sepatah katapun hingga rasa dingin di tenggorokan mereka berakhir.
Sementara mereka yang tidak menjadi sasaran pembalasan dendam Calista tertawa melihat murid-murid yang sedang mencoba memarahi Calista namun tak berhasil mengeluarkan suara barang sedikitpun.
"Ayo, kita tinggalin mereka," ucap Calista yang berdiri sambil membersihkan tangan dan kakinya. Cathabell, Hera, dan Kay sangat puas melihat pembalasan dendam Calista.
=====
Keempat sekawan terlihat sedang duduk pada sebuah kursi yang terletak pada pojokkan kantin. Mereka memilih duduk di meja paling pojok, agar dapat menghindari anak-anak yang terus mencemooh dan menatap takut ke arah mereka.
Lagi pula, mereka sangat senang menjauh dari keramaian, jadi tempat terpencil seperti ini merupakan tempat favorite bagi mereka berempat.
Cathabell pov
Setelah tes elemen tadi, kita berempat dijauhi oleh murid-murid di sekolah, dan tentu saja aku tau apa alasan mereka melakukannya. Tapi aku benar-benar takjub dengan seberapa mengerikan murid-murid di sekolah ini. Merka hanya menyaksikan guru-guru dan pengawas yang mengangkut kotak kaca berisi kekuatan elemen dengan name tag nama kami dan sudah dapat mengatakan kalau kami berbahaya.
"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" tanya Hera melihat ke arah sekelilingnya.
Manik matanya berhenti ke arah seorang gadis yang menatapnya. Tatapan mereka bertemu sekejap, dan gadis yang ditatap Hera segera mengalihkan pandangannya.
"Hah, kau tidak tahu alasannya Hera?" kaget Kay. Hera menoleh ke arah Kay dan memberinya tatapan bingung.
"Ya kan kalau aku tau, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Hera kesal.
"Oke kalau begitu aku mulai jelasin dari awal mulanya ya. Jadi gini, dulu di sekolah ini ada tujuh murid berkekuatan langka dan ketujuh murid tersebut memporak-porandakan Negara Erlos, juga terus membunuh orang tanpa ampun. Nah karena itu pemilik kekuatan langka dianggap sangat berbahaya si negara Erlos," ucapku menjelaskan.
"Lalu kenapa sekolah ini menyuruh kita untuk masuk ke sekolah ini?" tanya Hera.
"Tentu saja agar kejadian hari itu tidak terulang lagi," jelas Bu Linda yang entah muncul darimana.
"Ibu sejak kapan disitu?" tanya Calista heran.
"Sejak bel masuk berbunyi. Ayo cepat ke hutan kita akan melakukan ritual pemanggilan hewan peliharaan," tegas Bu Linda.
End Cathabell pov
=====
Bel masuk telah lama berbunyi, murid-murid telah banyak yang sudah selesai memanggil hewan peliharaan mereka.
"Wah selamat yah...," ucap para murid satu sama lain, dan tiba-tiba saja susana menjadi sunyi seketika saat Hera, Calista, Cathabell, dan Kay tiba. Dan tentunya mereka yang terkena efek kekuatan Calista menatap gadis bersurai putih tersebut dengan murka.
"Ayo hanya tinggal kalian berempat yang belum melakukan pemanggilan, sekarang bacalah mantranya," suruh Bu Linda.
"Baik bu!"
"Versueniz yuehasuen wiaxkarlenimos hen karyonistraque!" ucap Cathabell merapalkan mantra. (Temukanlah hewan sejatimu, dan dia akan menemanimu selamanya)
Terlihat cahaya merah dan kabut tebal keluar dari lingkaran pemanggil. Tak lama kemudian tampak seekor hewan yang memiliki api di capit dan ekornya. Seluruh lingkaran pemanggil hewan peliharaan tersebut berubah menjadi api.
Sontak para murid melangkah mundur dari lingkaran tersebut.
"Lihat, itu Fire Scorpion 'kan?" tanya para murid sembari menunjuk ke arah hewan peliharaan milik Cathabell.
"Iya betul, selamat Cathabell kau mendapat Fire Scorpion, dan hewan ini sangat langka, murid yang terakhir kali menjadi pemilik dari hewan ini mungkin sudah lulus dari sekolah ini," ucap Bu Linda.
"Berikutnya Kay!"
Kay berjalan mendekati lingkaran, kedua tangannya terpaut menjadi satu. Gadis tersebut memejamkan matanya.
"Versueniz yuehasuen wiaxkarlenimos hen karyonistraque!"
Timbul cahaya panjang menyerupai petir menyambar dari atas langit dan mengarah langung ke arah lingkaran pemanggilan yang kemudian tertutup oleh kabut tebal. Dan, tak lama terlihat seekor kuda bertanduk warna putih.
"Selamat Kay! kau mendapatkan seekor Lightning Unicorn, menurut buku yang pernah Ibu baca, kau jangan pernah coba-coba untuk memegang tanduknya, atau kau akan mati tersengat petir," ucap Bu Linda memberi selamat sekaligus peringatan. Kay menganggukkan kepalanya mendengar peringatan dari gurunya tersebut.
"Giliran Calista sekarang!" panggil Bu Linda.
"Siap bu," ucap Calista sembari melangkah maju menuju lingkaran pemanggil. Dia pun menutup matanya dan mulai mengucapkan mantra pemanggil tersebut.
"Versueniz yuehasuen wiaxkarlenimos hen karyonistraque!"
Kali ini kabut hampir memenuhi seluruh hutan, dan udaranya terasa amat sangat dingin, namun tidak dengan mereka yang berdiri si sisi kiri hutan, mereka merasakan udara panas yang teramat parah.
Tak lama, seekor burung besar mulai terlihat. Burung tersebut berbulu putih di bagian kanannya, dan oranye di bagian kirinya. Kedua perpaduan warna tersebutlah yang membuat burung tersebut menjadi sangat indah.
"I-itu phoenix bukan, tapi kenapa setengah es?" tanya para murid penasaran. Karena phoenix biasanya hanya berwujud api.
"Itu Phoenix namun setengahnya es. Walaupun elemen dapat mengubah kemungkinan untuk menjadi es. Namun, jika benar seharusnya phoenix yang kau miliki hanya berwarna putih. Tampaknya kau mendapatkan seekor peliharaan yang sangat menarik Calista, dan peliharaan dengan warna berbeda ini sama sekali tidak pernah ada di buku maupun di dunia," puji Bu Linda.
"Terima Kasih bu!" sahut Calista. Gadis tersebut menatap senang hewan peliharaan yang sedang mematuk rumput saat ini.
"Hera, ayo maju," ujar Bu Linda
"Baik!" sahut Hera
Gadis tersebut mengucapkan mantranya perlahan, "Versueniz yuehasuen wiaxkarlenimos hen karyonistraque!"
Timbullah Cahaya yang dapat membutakan siapa saja yang melihatnya. Seluruh orang di hutan tersebut memejamkan mata mereka. Kornea mata mereka tak mampu menerima cahaya yang teramat terang tersebut.
Perlahan, cahaya terang tersebut mulai sirna. Tampak seekor serigala dengan badannya yang terlapisi kristal, dan memiliki taring yang sangat tajam.
"Tunggu, dia cahaya tetapi mengapa hewannya bertubuh kristal," para murid bertanya-tanya. Bahkan Hera pun terlihat kebingungan dengan hewan peliharaannya sendiri.
"Anak-anak harap tenang, kasus seperti ini dapat saja terjadi ketika pemanggilan!" jelas Bu Linda berusaha menenangkan para murid.
"Semua sudah selesai memanggil bukan? Sekarang kalian semua silakan istirahat," ucap Bu Linda yang mempersilakan murid-murid pangkat Abira untuk beristirahat.
=====
Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid berdiri memberi salam dan segera merapikan buku-buku mereka.
"Hera hewanmu aneh," ucap Kay yang saat ini sudah berdiri di depan meja Hera.
"Aku juga pada awalnya tidak mengerti kenapa dia bisa mempunya elemen kristal sedangkan aku elemen cahaya. Tapi tampaknya aku sudah mulai mengerti apa penyebabnya."
"Sudah jangan bahas yang sudah lalu, nanti jadi ke rumah tua itu lagi tidak?" tanya Cathabell sedikit berbisik agar murid yang masih berada di kelas tidak mendengar apa yang dirinya katakan.
"Jadi kok!" ucap Kay, Calista dan Hera menyetujui.
=====
Selagi berjalan menuju rumah tua. Hera, Calista, Cathabell dan Kay memikirkan nama untuk hewan peliharaan mereka masing-masing.
"Hewan ku mau aku kasih nama Thunder, kedengaran keren banget 'kan," ucap Kay dengan senyum senang terpatri di bibirnya.
Hera tampak sedang berpikir kear saat ini, "Kalau punyaku, mau aku kasih nama Kris aja ah...," ucap Hera sambil menatap Kay.
"Punyaku aku Kasih nama Scorfi, walau hewannya seram tapi namanya imut 'kan?" ucap Cathabell yang di balas anggukan dari Hera dan Kay.
Calista menatap langit guna mencari nama yang Bagus untuk hewan peliharaannya. Tanpa memakan waktu lama sudut bibirnya terangkat, "Hewan peliharaan punyaku, aku kasih nama Finix," ucap Calista sembari tertawa bangga. Dia memujinya otaknya karena sudah dapat memikirkan nama sekeren itu.
Tanpa sadar, tujuan mereka telah berada di depan mereka. Keempat gadis tersebut berhenti berbicara dan saling menatap satu sama lain.
"Weh ngapain kita malah tatap-tatapan, kan sudah sampai, jadi ayo masuk!" ajak Cathabell yang melangkah masuk duluan ke dalam gubuk tersebut.
Calista, Hera, dan Kay pun ikut mengambil langkah untuk masuk ke dalam dan menyusul Cathabell.
Merka berempat menelusuri seisi gubuk tua tersebut. Isi dari gubuk tua tersebut dapat dikatakan cukup berantakan, dengan debu di setiap incinya, dan sebuah rak buku tua besar yang berisi sangat banyak buku.
Kay menatap satu persatu judul buku di rak tersebut. Sejauh ini dirinya hanya dapat melihat beberapa dongeng tua yang tentu saja dirinya sudah tau dan beberapa buku dengan judul tak jelas.
Namun, tak memakan waktu lama baginya untuk melihat sekelebat judul buku yang tampak sangat menarik untuk dibaca.
"Eh sini, lihat deh," ujar Kay memanggil teman-temannya sembari menunjuk ke arah buku tua yang berjudul 'The Beginning'.
Cathabell, Calista, dan Hera yang merasa terpanggil akhirnya datang menghampiri Kay dan menatap judul buku yang baru saja ditemukan oleh gadis ini.
"Apa kita cek bukunya?" tanya Kay pada teman-temanya. Mereka mengangguk guna memjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kay.