"E...eh Cathabell tenang dulu, please," mohon Calista saat sebuah api keluar dari tangan kanan gadis api di hadapannya.
Cathabell tidak memperdulikan perkataan Calista dan tetap menatapnya tajam.
Calista memejamkan matanya erat, dia mengumpat dalam hati, merutuki nasib sialnya yang harus sekamar dengan cewek di depannya. Lagian kemana Hera sama Kay. Berani-beraninya mereka kabur di saat dirinya seperti ini.
"Dasar," gumam Calista kecil. Dia memandang kesal Cathabell, "Padahal aku tidak mau menggunakan hal ini!" Calista mengangkat tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari tangannya.
Serbuk es bertebaran sebagai bentuk peralihan dari Calista dan membuat ruangan menjadi dingin nan buram. Cathabell terbatuk-batuk saat serbuk tersebut masuk ke dalam indra penciumannya.
"CALISTA!" teriak Cathabell kencang.
Calista terkaget saat mendengar teriakan Cathabell. Dia segera lari terbirit-b***t meninggalkan asramanya, dan tak berani berbalik hanya sekedar untuk melihat sosok Cathabell yang akn segera membunuhnya.
Tak lama setelah efek serbuk es menghilang. Cathabell mengedarkan pandangannya, dan tidak melihat sosok Calista di manapun.
"HEI CALISTA KALAU SAMPAI KETEMU AWAS KAU, KU BAKAR HIDUP-HIDUP!"
=====
Calista menghembuskan nafas lega saat sudah berada di kamar asrama milik Hera dan Kay.
"Akhirnya aku bebas dari Cathabell," ucapnya lega.
Hera dan Kay memandang Calista penuh selidik. Mereka melihat Calista dari ujung kaki hingga kepala. Calista yang menyadari hal tersebut memandang bingung tingkah aneh kedua sahabatnya.
"Kalian kenapa?" tanya Calista.
Hera dan Kay tersenyum. "Gak apa-apa kok," ucap mereka cepat. Calista memandang mereka sekejap dan tak lama berjalan ke arah mereka.
"Kalian kok begitu sama aku," ujar Calista dan kemudian tidur di atas kasur milik Hera. Dia kelelahan gara-gara Cathabell.
Lagian salah siapa dia tidak mendengarkan ucapan Bu Linda yang sudah jelas-jelas mengatakan kalau ruang kelas mereka akan dipakai untuk rapat.
"Kau habis main Tom and Jerry bareng Cathabell yah?" Kay berusaha keras untuk menahan tawanya. Jika sampai dia tertawa maka selamat tinggal.
Calista menatap Kay sebentar, "Apa maksudmu Tom and Jerry?" tanya Calista yang kemudian kembali menatap langit-langit kamar.
"Yah, habisnya kalian berdua kejar-kejaran sih. Kayak anak kecil a-. Upss," Kay segera menutup mulutnya saat melihat tatapan tak mengenakkan dari Calista.
"Apa kau bilang?"
"Nggak kok!"
"Dia bilang kelakuan kau mirip seperti anak kecil." Kay menatap tajam sang pemilik suara. Hera hanya tersenyum sembari menggidikkan bahunya.
"Oh, begitu yah!"
Calista tertawa, dia bangkit dari tempat tidur Hera dan berjalan mendekati Kay yang mulai melangkah mundur.
"Mati kau!"
=====
Bel pulang sekolah berbunyi. Sekolah mempercepat waktu pulang untuk persiapan piknik besok.
Mereka membiarkan murid-murid pulang lebih cepat agar mereka dapat mengepak barang-barang yang akan mereka perlukan.
"Jadi sebelum kalian pulang ibu mau mengumumkan sesuatu!" ucap Bu Linda di depan kelas. Dia terlihat sangat antusias menunggu hari esok.
"Besok kalian semua sudah harus berkumpul di Aula jam sepuluh pagi, terus jangan lupa bawa hewan peliharaan. Soalnya kita akan naik pesawat mewah seperti yang kalian bayangkan tapi..."
Anak-anak yang mendengar bahwa mereka tidak akan naik pesawat segera menghela nafas berat.
"Kita bakal naik hewan peliharaan!"
"APA!" teriak kaget murid-murid. Bagaiman bisa mereka berpindah pulau menggunakan hewan peliharaan.
"Cara nyebrangin lautnya gimana bu?" tanya salah seorang murid.
"Bagi yang punya hewan darat bisa berangkat bareng Ibu. Bagi yang punya hewan udara dan air gak usah," jelas Bu Linda.
Anak-anak yang memiliki hewan peliharaan darat menelan ludah mereka dengan susah payah. Berpikir bagaimana nasib mereka jika berangkat bersama Bu Linda.
"Kalau mau bareng sama teman juga boleh kok," ucap Bu Linda di akhir pembicaraan kemudian dia segera pergi dari kelas meninggalkan murid-murid yang berdecih kesal.
Mata Calista terlihat kosong, dia membayangkan bagaimana nasib peliharaan kesayangan jika harus melayani teman-temannya.
"Finix yang malang," gumam Calista.
"Tenang kita pake hewanmu cuma buat pas di laut doang kok," ucap Hera yang entah datang dari mana.
Calista memandangnya, "Benarkah?" tanyanya dengan mata berbinar.
Hera menganggukkan kepalanya. Calista tersenyum lebar, "Oh Tuhan malaikat darimana ini!" senang Calista.
Kay dan Cathabell menghampiri Calista, "Jadi kita boleh ikut kau naik Finix kan?" Calista mengangguk merespon pertanyaan Cathabell.
"Nanti pas di darat kau turunin kita, biar kita naik hewan peliharaan kita sendiri," ujar Kay.
Calista tersenyum, "Ah kalian memang yang paling baik deh!"
=====
"Ric, kita bareng kau yah," ucap Undrew dengan tatapan mata memohon dan berharap.
"Lah, si Ken punya pegasus yang ada sayapnya kok!" keluh Alaric. Bagaimana bisa Griffin kesayangan mengangkat ketiga sahabatnya ini.
Yang ada Griffin bakalan mati penyet seperti Lucifer waktu tertimpa. Kalau Lucifer si dia rela, tapi kalo Griffin ogah!
"Yahh...kalau begitu aku aja deh numpang kamu," mohon Undrew. Alaric menatap Petra.
"Aku bareng sama Ken," ucap Petra. Undrew berteriak senang. Dia memandang sekeliling.
"Kalo gitu ayo kita pulang terus bersiap-siap buat besok!"
"Ayo!"