Cathabell menutup kopernya yang luar biasa penuh. Walau tidak sepenuh koper Calista. Jika punya Calista itu sudah overdosis. Bahkan dia membawa banyak sekali cemilan untuk dimakan sendirian.
"Kau ngapain sampai membawa satu koper besar, sama dua tas seperti gitu. Mau minggat dari asrama EHS?" tanya Cathabell melihat tas-tas Calista yang bertumpuk-tumpuk.
Calista tersenyum, "Ini 'kan dua minggu, jadi harus jaga-jaga dong!" ucapnya dan melanjutkan kembali acara packing barangnya.
=====
"Astaga Kay!" kaget Hera saat melihat hanya menyiapkan sebuah tas cukup besar yang berisi pakaian untuk tiga hari.
"Kenapa?" tanya Kay terus terang. Hera menatap Kay dengan pandangan kesal.
"Masa kau cuma bawa tas segini yang isinya buat tiga hari," kesal Hera.
"Idih, siapa bilang aku cuma bawa ini. Liat tuh!" Kay mengarahkan jari telunjuknya ke arah tumpukan tas yang bermodel sama.
"Setiap tas buat tiga hari, jadi kalo dua minggu aku bawa lima tas," ucap Kay disertai senyuman manis yang membuat Hera merasa sedang berhadapan dengan gadis paling aneh seantero asrama perempuan EHS.
Hera memandang aneh Kay, "Gila!" gumamnya sebelum meninggalkan Kay yang masih tersenyum.
"Kayaknya di sini cuma aku yang waras," gumam Hera.
=====
Suara peluit terdengar. Kepala sekolah tengah mencoba menertibkan para murid.
"Anak-anak! Mohon tenang!" teriak Kepala Sekolah. Anak-anak yang tadinya bercengkrama dengan teman-teman mereka mulai diam dan berbaris.
Kepala Sekolah tersenyum melihat ketertiban murid-murid EHS.
"Apa semua sudah di sini?" tanya Kepala Sekolah.
"SUDAH PAK!" sahut para murid-murid serentak.
"Bagus kalau begitu. Kalian semua tunggu sebentar yaa..." Kepala Sekolah pergi dan menghampiri guru-guru EHS.
"Apa tempat tujuan sudah siap semua?" tanya Kepala Sekolah. Para guru-guru pun menganggukkan kepala mereka.
"Oke!" Kepala Sekolah kembali berdiri di depan mic.
"Bapak akan menjelaskan peraturannya selama perjalanan. Dengar baik-baik yah!"
"Satu, Tidak boleh keluar jalur! Kalau sampai ketahuan ada yang keluar. Kalian akan dihukum!"
"Kedua, Tertib dan sampai tepat waktu! Jadwal sampainya adalah nanti malam pukul tujuh hingga delapan! Artinya, kalian sudah harus sampai di tujuan pada pukul tersebut!"
"Ketiga, Gak ada namanya pacaran!" Kepala Sekolah menatap tajam Petra dan mengingat kejadiaan dimana saat itu pria tumbuhan tersebut ketahuan sedang menggendong Hera.
"Keempat, selama piknik akan ada beberapa pelajaran dan kalian harus dengerin pelajaran dengan baik!" kali ini Kepala Sekolah menatap Undrew yang saat perang ketahuan tidak pernah memperhatikan pelajaran.
Undrew hanya tersenyum kikuk saat mendapat tatapan tajam dari Kepala Sekolah.
"Sudah, untuk peraturan lengkapnya akan bapak jelaskan begitu sudah sampai!" ucap Kepala Sekolah mengakhiri penjelasannya mengenai peraturan.
Murid-murid bertepuk tangan saat Kepala Sekolah mengucapkan terima kasih.
"Kalau begitu tunggu apa? Ayo kita berangkat!" Murid-murid berteriak senang saat Kepala Sekolah mulai turun dari Aula.
Rata-rata dari mereka mulai berjalan ke lapangan dan memanggil hewan peliharaan.
=====
"Calista kita nanti numpang hewan mu yah," ucap Hera dan mulai menaiki serigala peliharaannya.
Calista yang sedang mengelus kepala Finix tersebut menoleh dan menganggukkan kepalanya.
Cathabell sudah menunggangi peliharaan scorpionnya. Dia menatap ketiga sahabatnya yang juga sudah meniki peliharaan mereka masing-masing.
"Semua sudah siap?" tanyanya.
Calista mengacungkan jempolnya, Kay menganggukkan kepalanya. Hera tersenyum.
"Ayo kita tunggu aba-aba dari Kepala Sekolah," ucap Cathabell.
=====
"Drew! Jadi naik gak?" teriak Alaric.
Undrew menoleh, "Gak sekarang lah Ric! Nanti pas nyebrang lautan!" ucap Undrew.
Alaric mengangguk mengerti. Undrew sedang mengelus kuda kesayangannya. Menurut dia kuda Undrew itu keren, mata, rambut bahkan bulunya yang berwarna logam abu. Keren bukan.
Hewan miliknya merupakan ras Griffin, yaitu makhluk mitologi yang memiliki badan singa, kepala dan sayap elang. Berbulu putih dengan ukurannya cukup besar.
Sedangkan Petra memiliki hewan harimau, mengerikan. Bahkan kadang sahabat-sahabatnya takut ketika dia memanggil hewan peliharaannya.
Dan Ken. Dia memiliki hewan paling indah dari antara ketiga sahabatnya. Yaitu seekor pegasus. Namun, Ken memiliki elemen tanah, dan itu berefek pada peliharaannya yang berbulu coklat tanah.
"Kalian semua sudah siap 'kan?" tanya Petra yang sudah bersiap dan memegang tali kendali harimaunya.
"Kita sudah semua!" ucap Undrew semangat.
"Oke"
=====
"Anak-anak sudah panggil hewan peliharaannya masing-masing?" tanya Kepala Sekolah.
Dia menunggangi hewan peliharaannya yang merupakan seekor naga raksasa berwarna cokelat bercampur hitam.
Para guru-guru juga memiliki hewan peliharaan yang beragam. Ada yang seekor ular, serigala hingga kingkong. Unik sekali.
Namun yang paling mencolok adalah milik Bu Linda. Peliharaannya adalah seekor.....
Kucing raksasa?
Yah, cukup lucu untuk mengetahuinya. Tapi, itu benar-benar seekor kucing. Bahkan dia beberapa kali mengucapkan kata 'Meong'.
Namun, bukankah tidak sopan jika mentertawakan peliharaan orang lain. Dan para murid pun berusaha menahan tawa mereka.
"Jadi apa kalian semua sudah ingat peraturan-peraturannya?" tanya Kepala Sekolah.
"SUDAH PAK!" Kepala Sekolah tersenyum melihat kekompakan murid-muridnya.
"Kalau begitu mari kita berangkat!"