Semua hewan yang tadinya berbaris, satu persatu mulai pergi menghilang di dalam rimbunnya pepohonan.
Mereka bergerak mengikuti perintah tuannya untuk mengantarkannya sampai ke tujuan.
=====
"Hei, apa kalian mendengar suaraku?" tanya Calista dengan suara kencang karena posisinya yang saat ini sangat jauh dari ketiga sahabatnya yaitu, dari atas pepohonan.
Cathabell mendongak, "tidak perlu teriak kencang begitu. Kita bisa denger kok," sahutnya.
Calista mengangguk paham, "bagaimana kalau kita balapan?" ucap Calista dengan nada suara yang sedikit diturunkan dari yang sebelumnya.
"Kau gila! Orang lagi seperti ini malah diajak balapan!" marah Hera yang masih fokus mengendalikan peliharaannya.
"Sudah jangan berisik kalian, ternyata ngendarain hewan peliharaan ini butuh konsentrasi yang luar biasa, kalau tahu sesusah ini aku mending numpang Calista," kesal Kay. Sementara Calista melirik Kay dengan tatapan malasnya.
=====
Undrew mempercepat gerak laju kudanya. Dia dan Petra berlomba, dan siapa yang sampai di tebing perbatasan adalah pemenangnya. Bagi keempat pria ini, mengendalikan dan mengendarai makhluk peliharaan mereka tidaklah susah karena mereka memang sudah handal sejak kecil.
Alaric menunduk, memperhatikan teman-temannya yang sedang berlomba. Dia tampak tertarik dengan kegiatan kedua sahabatnya dan bertanya, "kalian taruhan apa?" tanya Alaric sedikit berteriak.
Petra yang fokus berlomba, melirik sedikit kearah Alaric, "yang kalah nanti di suruh nari ballet di depan orang yang di sukai!" ucapnya dengan nada suara datar. Petra tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya apabila dia kalah di perlombaan ini, hancur semua imej miliknya.
Alaric menyeringai mendengar taruhan gila kedua krang tersebut, sementara Ken mendengar hal tersebut dan langsung tertawa terbahak-bahak, "untung aku gak ikutan lombanya," ujar Ken yang tidak dapat menahan tawanya.
=====
Kepala Sekolah kembali meniupkan peluitnya. Ini sudah kesepuluh kalinya Kepala Sekolah meniupkan peluit selama mereka sudah sampai di tebing perbatasan, atau area dimana jalur yang akan mereka lewati selanjutnya adalah lautan.
"Semua berhenti di sini!" teriak Kepala Sekolah.
Murid-murid mulai berhenti pada sebuah tebing batu luas, dan memiliki sebuah jurang amat terjal yang mengarah langsung ke lautan lepas.
Jika terjatuh ke dalam tebing tersebut, maka nyawa akan melayang ke surga dalam sekejap.
"Pak, kita mau ngapain?" tanya Undrew pada Kepala Sekolah yang sibuk mengatur murid-murid.
Kepala Sekolah tidak menjawab pertanyaan Undrew sangking sibuknya, "pak! Kacang itu gak enak tahu!" teriak Undrew sekali lagi.
Kepala Sekolah mendelik kesal, "berisik kau Drew!"
Ngeri melihat tatapan tajam Kepala Sekolah. Undrew segera berdiri tegap dan menunduk sembari mengucapkan 'Maaf'.
Setelah memastikan semua murid telah sampai di tebing tersebut, Kepala Sekolah mengambil sebuah toa besar dan memegangnya. Ia mengarahkan toa tersebut di depan mulutnya dan mulai berucap.
"ANAK-ANAK SEMUANYA! MULAI DARI JALUR INI KITA SEMUA AKAN MENGGUNAKAN PELIHARAAN YANG BERGERAK DI UDARA!" ucap Kepala Sekolah dengan Toanya.
Mungkin suara itu terdengar untuk anak-anak yang berada pada baris belakang. Namun, tidak dengan mereka yang terdiri dekat Toa milik Kepala Sekolah. Kuping mereka seakan-akan ingin copot begitu saja dari tempatnya saat mendengarnya.
"Pak! Jadi sekarang kita semua numpang bareng teman?" Kepala Sekolah menganggukkan kepalanya, guna menjawab pertanyaan tersebut.
Para murid yang mengerti mulai berpindah kearah hewan peliharaan teman mereka. Beberapa murid juga ada yang menumpang pada guru wali kelas mereka.
"Cal, aku numpang ya!" ucap Cathabell seraya menaiki Phoenix milik Calista tersebut.
"Aku juga numpang!" Hera tersenyum ramah kearah Calista.
"Aku juga, hehehe," ujar Kay dan segera naik.
Calista menatap kosong langit, dia terus memikirkan betapa sakitnya punggung Finix kesayangannya karena harus menampung beban yang sangat berat di usia mudanya.
Sekarang mari kita beralih pada kondisi, Petra, Alaric, Ken, dan Undrew. Dari kejauhan, keempat pria tersebut tampak berada di satu titik yang sama dan ekspresi mereka tidak ada satupun dengan raut yang menyenangkan.
"Aduh! Undrew bulunya jangan ditarik nanti copot!" kesal Alaric melihat bagaimana kasarnya Undrew saat ingin menaiki Griffinnya.
Dimulai dari, Undrew menjambak bulu Griffin hingga beberapa bulunya putih bersihnya ada yang terlepas. Kemudian, ditambah lagi dia menginjak sayap Griffin sehingga mengakibatkan makhluk tersebut mengepakkan sayapnya dan membuat Undrew jatuh.
Alaric sudah cukup kesal dengan sahabat satunya ini. Lama-lama Griffin kesayangannya bisa mati dibuat oleh ulah sahabatnya ini.
"Pet! Kau saja yang bareng aku yuk!" ucap Alaric pada Petra yang sudah duduk dikursi belakang pegasus Ken.
Undrew mendelik kesal, "duh Ric! Aku pasti bisa naik kok!" ujar Undrew yang terus menerus menarik bulu Griffin.
Alaric mendengus kesal menanggapi ucapan Undrew, "bisa-bisa mati beneran peliharaan ku," gumam kecil Alaric.
"Sudah kau berdiri di sana, biar aku bantu kau naik!" kesal Alaric, jika ia tidak berpikir dengan cepat maka Undrew benar-benar akan merusak hewan peliharaan kerennya ini. Jari telunjuk pria air tersebut menunjuk kearah tanah dan bulir air pun mulai terbentuk membentuk sebuah papan seluncur yang terbuat dari air.
"Kau naik itu cepat!" Undrew menatap kagum papan selancar air yang biasa digunakan Alaric untuk terbang, ia tidak percaya kalau Alaric yang tidak suka berbagi hal dengan orang lain, mau membiarkan Undrew menaiki papan seluncur yang berbasiskan kekuatan airnya. Sedangkan Alaric menatap malas kearah wajah terharu yang diberikan oleh Undrew.
Namun, sekagum apapun Undrew dengan papan tersebut. Rasa takutnya tetap tidak dapat ditutup tutupi, kakinya gemetar dan hal tersebut membuat papan seluncur tersebut juga bergetar hebat.
"Aduh...Ric ini papannya tidak bisa seimbang!" teriak Undrew kencang. Alaric memijat pelipisnya pelan. Pikirannya mungkin sudah melafalkan ribuan kata 'sabar' sejauh ini.
"Kau gemetaran seperti itu! Cobalah untuk seimbang agar aku juga lebih mudah mengangkatmu," kesal Alaric.
"Aduh sakit!" teriak Undrew saat terjatuh dari papan seluncur milik Alaric. Petra dan Ken yang melihat kejadian tersebut tersenyum kikuk.
"Nih anak harus kita apain yah?" tanya Ken. Petra menggidikkan bahunya acuh tak acuh pada sikap Undrew yang memang sudah bawaan lahir seperti itu dan tidak pernah berubah menjadi lebih dewasa di usianya yang menginjak tujuh belas tahun.
"Dijadiin hadiah buat Lucifer saja kali ya," ujar Petra.
"Duh, Lucifer juga pasti gak bakal mau terima. Bisa pingsan dia kalo ada Undrew di tempatnya," sahut Ken. Undrew yang dapat mendengar hal tersebut segera menatap tajam Petra dan Ken.
"Drew Kepala Sekolah udah mau berangkat tuh! Cepet naik!" teriak Alaric.
Undrew segera berdiri dan kembali menaiki papan seluncur milik Alaric. Namun, kali ini Alaric menambahkan pegangan di sisi papan tersebut agar Undrew tidak terjatuh lagi.
"Nah, dari tadi dong tambahin pegangannya!" kesal Undrew kemudian mulai memegang pegangan di papan seluncur milik Alaric.
Alaric mengangkat tangannya, secara bersamaan papan tersebut juga terangkat dari tanah. Ia memincing kearah Undrew dan menyeringai kecil. Ketika matanya menatap papan seluncur tersebut untuk menerbangkan Undrew, pria air tersebut sengaja menghapuskan fokusnya sejenak sehingga papan Undrew seperti akan jatuh ke bawah. Walaupun sebelum hl tersebut terjadi Alaric sudah kembali menerbangkan papan tersebut.
"Alaric, kau sungguh..." Undrew menatap tajam Alaric yang sedang tersenyum puas melihat tampang kesal yang disuguhkan Undrew. "Awas saja kau," ucap Undrew yang pada akhirnya berhasil sampai di pundak Griffin.
"Akhirnya..." Undrew membuang nafas lega.
Dia merasa sangat lega dikarenakan telah dapat naik ke atas peliharaan Alaric yang raksasa ini. Walaupun, agak menyisakan sedikit kekesalan pada kejahilan Alaric tersebut.
Tak lama, bunyi peluit kembali terdengar. Murid-murid segera menoleh ke arah Kepala sekolah.
"Sekarang kita semua akan melanjutkan perjalanan. Apa semua sudah siap?" tanya Kepala Sekolah.
"Siap Pak!"
"Kalau begitu ayo kita lanjut perjalanannya!"