Seorang pria bertubuh kekar, deng tubuh yang dilindungi oleh pakaian besi dan membawa sebuah pedang terlihat masuk ke dalam suatu ruangan besar.
Dia menunduk hormat ke arah seorang pria tua yang duduk di singgasananya.
"Saya kemari ingin meminta ijin dari Raja," hormat pria tersebut. Sang Raja memperhatikan pria tersebut dengan seksama.
"Kau ingin meminta ijin apa?" tanya Raja.
Pria tersebut mengangkat kepalanya, "pihak sekolah EHS ingin melewati kawasan terlarang. Mohon ijin Raja untuk mengijinkan kami melewatinya," ucap pria tersebut.
Seketika raut wajah Sang Raja berubah menjadi serius. "Apa! Kau tahu di sana puluhan nelayan hilang begitu saja saat perang! Terlebih lagi penyebab utama hal tersebut bahkan belum jelas dan masih sangat misterius, bukankah hal tersebut akan menjadi sangat berbahaya untuk melewatinya?"
Pria yang merupakan salah satu pengurus EHS tersebu menundukkan kepalanya. "Saya mohon Raja!"
Raja negara Erlos menatap orang tersebut. Ia memejamkan matanya, dan memijat pelipisnya yang sedikit pusing akibat dari mengurus sebuah kerajaan sebesar Erlos.
Namun, ia kembali membuka matanya ketika suara dari pintu besar kerajaan tersebut kembali terbuka. Dan tak lama seorang pria muda tampan nan gagah berjalan masuk dengan senyuman hangatnya.
"Ayah!" ucapnya sembari tersenyum lebar.
Sontak perempat siku timbul dikening Raja yang sekarang menjelma menjadi seorang Ayah dan mendapati putranya sang pangeran berjalan masuk sembari tersenyum, dan dengan santainya berkata 'ayah' dihadapan seorang utusan EHS.
"Bukankah sudah kukatakan, kalau ayah sedang berada di ruangan ini, tolong tunjukkan beberapa rasa hormat pada ayahmu ini." Pangeran tersebut terkekeh pelan menanggapi ucapan ayahnya. "Lagi pula ada apa?" tanya Sang Raja.
"Duhh...Ketus amat sih ayah!" Raja memalingkan wajahnya. "Ayah. Biar ayah tidak khawatir, bagaimana kalau aku ikut dengan mereka?"
Sang Raja terkaget dan menatap Pangeran dalam kurun waktu yang cukup lama, tatapan ayah-anak itu bertemu satu sama lain. Kemudian tiba-tiba saja Raja bangkit berdiri dengan wajah terkejutnya. "Kau yakin?" tanyanya dengan suara kencang akibat terkaget dengan keputusan anaknya yang akan jadi penerus.
Sang pangeran mengangguk cepat. Raja segera menggeleng-gelengkan kepalanya, "tidak tidak. Tidak akan pernah kuijinkan, nanti kalau kejadian apa-apa gimana!"
Pangeran melangkah menuju singgasana ayahnya dan menunduk tepat di depannya.
"Ayah tenang saja. Aku! Pangeran Lucas ini sudah dewasa dan dapat menjaga dirinya sendiri! Aku akan membuktikan kalau akau akan menjadi penerus yang baik kerajaan Erlos ini," ucap Pangeran Lucas dengan suara lantang.
Sang raja tersenyum haru, "Aduhh.. Anak ku sudah besar ternyata," ucapnya kemudian menoleh ke arah pria utusan EHS.
"Kalau begitu aku perbolehkan kalian melewati tempat tersebut. Dan anak ku ini akan mengawasi hal tersebut," perintah Raja.
Pria tersebut menunduk kemudian berdiri, "Mari pangeran," ucapnya. Pangeran Lucas tersenyum sembari mengangguk.
"Ayah, sampai jumpa!" ucap Pangeran Lucas dan memeluk ayahnya sekejap.
"Nanti Ayah suruh salah satu pelayan membawakan pakaian mu!" teriak Raja.
"Tidak usah Ayah! Aku sudah bawa pakaian ku kok!" teriak Pangeran Lucas sebelum kemudian menghilang dari pandangan Raja.
"Semoga kau terhindar dari pulau terkutuk itu," gumam Raja.
=====
"Kalau tidak salah lewat sini Phoenix!" ucap Calista yang sedang mengendalikan hewannya.
Entah mengapa Cathabell, Hera, dan Kay tidak bisa percaya pada sahabatnya yang satu ini. Karena sedari tadi Calista terus mengatakan 'Kalau tidak salah!' sungguh tidak meyakinkan bukan?
"Cal ini kau beneran tahu jalurnya gak sih!" keluh Hera.
"Tenang aja, aku tidak menjamin kalian akan sampai dengan selamat kok." Hera tertohok saat mendengar jawaban Calista.
"Kok tidak menjamin sih," kesal Cathabell. Dia mendapat firasat yang tidak baik jika Calista yang memandu perjalanan mereka.
"Yah, be-."
"Halo!" teriak Undrew. Calista terkaget saat perkataannya dipotong oleh suara Undrew. Dia mendelik tajam ke arah pria tersebut.
"Ehh...tatapanmu kok serem Cal." Undrew terkekeh kecil saat melihat tatapan seram dari Calista.
"Lain kali, jangan potong ucapanku!" marahnya. Undrew hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tak lama, Petra dan Ken datang menghampiri mereka. "Halo!" sapa Ken.
"Hai!" sahut Kay membalas sapaan Ken.
"Perjalanan mu lancar?" tanya Ken tersenyum manis.
"Ak.. Ba.. Baik aj.. Aja kok!" gagap Kay. Dia gemas dengan senyum manis Ken yang semanis gula, menurut dia sih.
"Ekhem!" Cathabell berdeham pelan. "Aku kok merasa terlupakan yah."
Kay segera mencubit lengan Cathabell dengan kencang, dia berbisik pelan di telinga Cathabell, "Sudah kalau iri tuh bilang aja"
Cathabell terkejut dan segera mendorong Kay menjauh, "Apaan sih! Aku sama sekali tidak merasa iri tuh," kesalnya.
"Apa itu!" kaget Calista yang menyadari bahwa sebuah angin kencang baru saja menerpa mereka.
"Kau merasakannya?" tanya Alaric. Calista mengangguk cepat, begitu juga Petra yang sedari tadi mengendalikan hewan peliharaan Ken.
"Apaan? Aku tak merasa apa-apa," bingung Hera.
"Kalian tidak kerasa, tapi yang di kursi pengemudi ngerasain itu semua," ucap Petra yang disetujui oleh Calista dan Alaric.
Tak lama, angin kencang kembali menerpa mereka dan membuat para peliharaan sedikit oleng diakibatkan oleh daya angin tersebut yang mendorong mereka untuk bergerak sedikit miring.
"Hey, kalian kenapa?" kaget Undrew saat Griffin Alaric yang ditumpanginya sedikit mengalami kemiringan.
"Angin barusan ada lagi, dan kali ini dayanya lebih kuat," sahut Alaric cepat.
Undrew, Ken, Cathabell, Hera, dan Kay mengerutkan kening mereka. Mereka terkaget dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Kita harus hati-hati! Aku tidak mau kita kembali mengalami bencana lagi," ujar Hera.
"Tenang aja, kita semua pasti sampe dengan selamat kok," ujar Cathabell yang mencoba menenangkan Hera.
"Iya kita pasti baik-baik aja, ya kan Calista?" tanya Kay. Calista menggangguk sembari tersenyum.
"Percaya saja sama kita bertiga," ujar Calista kemudian kembali fokus mengendalikan peliharaannya.
Petra dan Alaric tersenyum, "Kalian pasti selamat kok!"