"Selamat datang di pulau Sthyn. Silakan menikmati pemandangan di pulau kami." Suara tersebut berbunyi saat pintu gerbang pulau Sthyn terbuka.
Mulai dari lebah raksasa hingga hewan mitologi terkenal seperti naga berebut masuk ke dalam gerbang tersebut.
Yap, itu pertanda bahwa murid-murid EHS telah sampai di tujuan mereka. Dan saatnya mereka untuk berhenti pada sebuah pegunungan yang terletak di pulau Sthyn.
Sthyn adalah sebuah pulau kecil yang terletak di antara dua pulau besar, yaitu Lech dan Levon.
Pulau Sthyn dilindungi oleh gerbang besar dan sebuah pelindung tak terlihat. Pulau tersebut dilindungi oleh rakyat negara Erlos dikarenakan legenda mereka.
Sebuah perpustakaan yang berdiri tepat di tengah-tengah pulau tersebut, konon memiliki berbagai jenis buku legenda yang benar keberadaannya.
Satu persatu murid menghentikan peliharaan mereka tepat di tengah hutan tersebut.
"Untung kita selamat..." Undrew membuang nafas lega saat telah berhasil sampai ke pulau Sthyn dengan selamat.
Alaric mendengus kesal, "Siapa suruh kau tidak percaya sama kita!" marahnya.
"Sudah-sudah kok kalian malah berteman sih!"
"Bertengkar Ken!" teriak Undrew dan Alaric bersamaan. Ken tersenyum kikuk, menyadari kesalahannya.
"Oy, kalian gak mau baris hah?" ujar Petra sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana miliknya dan berjalan santai ke arah barisan.
"Dih, sok keren dia," kesal Undrew kemudian mengikuti gaya Petra tadi.
Alaric dan Ken tertawa kecil, kemudian Alaric mendekati Undrew, "kalau sirik bilang aja!"
"Apa!"
=====
"Woy! Aku gak bisa turun!" teriak Kay dari atas Finix. Dia tidak berani turun karena jaraknya yang cukup jauh dari tanah.
"Kenapa lompat saja susah sekali untukmu!" teriak Hera. Kay tidak mendengarkan ucapan Hera dan tetap merengek.
"Kau ini bagaimana sih! Masa bisa naik ke atas tapi tidak bisa turun!" keluh Cathabell melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.
"Kay! Kau lompat biar kita tangkap!" teriak Calista yang pada akhirnya menemukan ide untuk menurunkan Kay.
"Gak mau ah!"
Calista mendesah kecewa, seketika muka dia menjadi sok dramatis. "Berarti, ah, rupanya kau lebih memilih untuk ditangkap sama Ken dibandingkan oleh sahabat-sahabatmu ini yah," ujar Calista dengan nada bicara yang berpura-pura kecewa.
Tiba-tiba saja Calista merasa tangan yang ia sodorkan agar dapat menangkap Kay tersebut terasa berat. Gadis es tersebut menoleh ke arah tangannya dan menatap gadis tersebut telah memijak tanah.
Rupanya setelah Kay mendengan ucapan Calista, dengan cepat Kay melompat dari tubuh Finix. "Tuh kan, giliran dibilang seperti itu baru mempan," ucao Cathabell yang menyaksikan kelakuan gadis tersebut. Calista, Cathabell, dan Hera tertawa terbahak-bahak melihat Kay yang segera melompat begitu membahas tentang Ken.
"Kalian yah!" keluh Kay sembari membersihkan celananya yang kotor akibat terjatuh barusan.
"Kita kenapa memangnya? Kabur!" teriak Hera. Calista, Hera, dan Cathabell segera lari menuju barisan agar terhindar dari Kay.
"Awas kalian!"
=====
Seekor Naga dengan tubuhnya yang berwarna putih dan seekor burung Rajawali raksasa tiba-tiba saja turun di tengah-tengah acara pidato dari Kepala sekolah. Pria tua dengan tampang awet muda tersebut pun menghentikan pidatonya untuk sementara dan pergi melihat sosok yang berani-beraninya membuat dirinya menghentikan acara pidatonya.
"Siapa kau? Ada urusan sepenting apa sehingga kau harus menghentikan pidato ku," kaget Kepala Sekolah.
"Ini saya pak," ucap seorang pria yang tadi berada di Istana Negara Erlos.
Kepala Sekolah menatapnya sekejap dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian tatapannya beralih menatap sesosok pemuda yang berdiri di belakang utusan EHS tersebut. "Kemudian siapa dia?"
Pangeran Lucas tersenyum kemudian berjalan mendekati Kepala Sekolah. Ia membungkukkan badannya dengan tangan kanan berada di perutnya. "Perkenalkan saya Pangeran Lucas. Saya kemari diutus oleh Sang Raja," ucapnya dengan nada bicara yang berkelas..
Murid-murid terkejut melihat Pangeran Lucas secara langsung, mereka hanya pernah mendengar beberapa berita mengenai kehebatan dan ketampanan pangeran Lucas, namun mereka tak pernah menyaksikannya secara langsung bagaimana rupa dari pangeran Lucas yang didambakan hampir oleh seluruh wanita di negara kerajaan Erlos. Bahkan, saat ini pun tampak beberapa murid perempuan EHS sedang bergosip ria kepada teman-teman mereka sambil menatapi betapa tampan dan gagahnya pangeran tersebut.
"Ganteng banget gila! Kalau dia masuk ke sekolah EHS, terus masuk di kelompok Alaric pasti hebat! Setiap hari di kantin kita jadi berasa di surga!" pekik salah seorang gadis yang bersekolah di EHS sambil membayangkan Lucas, Alaric, Undrep, Ken, dan Petra yang sedang berjalan memasuki kantin berbarengan.
"Menurutku, kalau itu benar-benar terjadi. Bakal semakin sulit buat aku milih mau sama Alaric atau Lucas huhuhu," sahut temannya yang sedang memegang pipinya sambil membayangkan kalau Lucas dan Alaric memperebutkan dirinya. Walau sebenarnya tidak mungkin hal tersebut terjadi karena Alaric sudah mempunyai gadis yang ia sukai.
Kepala Sekolah mendengus pelan saat anak muridnya mulai ribut, "Kalau begitu kau diminta Raja untuk mengawasi acara kami?" tanyanya.
Pangeran Lucas mengangguk sambil memasang senyuman berwibawanya, "Betul sekali, itulah alasan kedatangan saya kemari saat ini," ucapnya dengan nada suara yang masih sama seperti sebelumnya.
Murid perempuan EHS terpana dengan betapa berkelasnya pangeran Lucas tersebut, setiap gerak yang dilakukan oleh pria tersebut tampak seperti seseorang yang memiliki peran penting. Tapi tampaknya pesona tersebut tidak berpengaruh pada Kepala Sekolah. "Kalau begitu kau masuk ke barisan di sana!" tunjuk Kepala Sekolah pada barisan paling pojok, dan jari pria tua tersebut menunjuk ke arah tempat yang berada di belakang Calista. Pangeran Lucas terbelalak dan melirik Kepala Sekolah dengan tatapan sinis. "Tunggu, apa ini maksudnya anda menyuruh saya juga ikut berbaris?" kagetnya.
Kepala Sekolah memandang malas Pangeran Lucas, "Terus maumu apa? Kalau kau tidak ingin mengikuti aturan sekolah ini maka jangan berada di sini," ujarnya.
"Hm, ternyata Kepala Sekolah EHS sangat luar biasa sekali, dia tidak membeda-bedakan," gumam Pangeran Lucas kemudian berjalan ke arah belakang Calista.
Dia melirik ke arah Calista sekejap dan menatap gadis es tersebut. "Halo nona muda, kalau boleh saya tahu nama anda siapa?"
"......." Calista yang sedang memandang lurus ke arah Kepala Sekolah yang sedang berpidato tersebut melirik sekejap dan menatap Pangeran Lucas kemudian kembali memperhatikan pidato Kepala Sekolah.
Pangeran Lucas menatap ke arah Calista, dia terus berpikir. Apa barusan gadis ini tidak menjawab pertanyaannya, dan bukankah itu yang dinamakan penolakan? Lucas mengerutkan dahinya, hari ini banyak terjadi hal baru di dalam hidupnya.
"Astaga!" Pangeran Lucas tertawa kecil, ia memegangi jantungnya yang berdegup kencang dan rasa aneh di otaknya. Baru pertama kali ini ia dapat merasakan rasa kesal, kecewa dan marah yang serasa ingin melonjak dari tubuhnya, rasanya seperti barusan dia dicampakkan oleh gadis yang berstatus hanya seorang warga. "Menarik," ucapnya.
=====
Pidato Kepala Sekolah telah usai. Murid-murid EHS diminta untuk segera menuju ke villa yang telah disewa Kepala Sekolah.
Dan ini adalah kesempatan bagi Pangeran Lucas. Pria tersebut menatap gadis bersurai putih yang ia tidak kenal namanya sedang berdiri sendirian dengan membelakanginya sambil menatap bengong ke arah sekelilingnya. Dia berjalan ke arah Calista dengan langkah kaki berwibawanya, ia sadar bahwa banyak pasang mata gadis-gadis murid EHS yang saat ini sedang menatapinya, namun ia tidak peduli, ingin rasanya dirinya menghilangkan rasa kesal yang sedari tadi menetap di dirinya
"Calista!" teriak Kay yang kemudian berlari mendekati Calista diikuti oleh Cathabell dan Hera.
Dan sekali lagi dengan mulusnya Pangeran Lucas memutar balik langkahnya dan berpura-pura tidak memiliki niat apapun. Dia terus menerus mengumpat kesal, sepertinya sepanjang sejarah hidupnya, ia tidak pernah merasakan emosi separah ini.
"Kalian berada di villa berapa?" tanya Calista.
Cathabell, Kay dan Hera membuka gulungan kertas mereka. Mereka juga melirik kertas satu sama lain.
"Kita satu villa!" pekik Kay senang.
Cathabell tersenyum lebar, "Akhirnya kita semua satu villa..," ujarnya lega.
"Hey! Kalian berada di villa nomor berapa?" ujar Undrew yang sudah berdiri tepat di belakang Cathabell.
Dia melirik sedikit ke arah kertas milik Cathabell kemudian tak lama matanya berbinar, "Asik! Aku sama Cathabell satu Villa!"
Cathabell terbengong, "Ka-kalian berempat satu villa sama kita?" kagetnya, ia mengucek matanya dan menatap ke arah gulungan yang sedang ia pegang.
Undrew semakin terkejut setelah mendengar Cathabell mengatakan kalau mereka berdelapan berada di dalam villa yang sama. "Apa kita semua satu Villa!" pekik Undrew kencang dia merasa sangat senang.
"Eh coba aku cek siapa pembinanya," ujar Hera dia berjalan menuju papan pengumuman dan memperhatikan daftar nomor Villa.
Di sini terdapat sekitar enam puluh Villa yang telah disewa selama dua minggu oleh Kepala Sekolah. Dan mata Hera terhenti pada Villa bernomor tiga belas.
'Anggota:
- Cathabell Oxy
- Calista Chloe
- Priscillia Hera
- Stevia Kay
- Undrew Rixon
- Alaric Zeroun
- Petra Herlyon
- Ken Fernando
Pembina: Bu Linda'
"Sial!" umpat Hera kecil saat melihat bahwa Bu Linda menjadi pembina mereka. Dia merutuki nasibnya yang selalu bersama Bu Linda.
"Permisi!" seorang pria yang terlihat seperti salah satu pengurus dari sekolah EHS menambahkan nama seseorang pada kertas.
Hera memandangnya dengan bingung. Tak lama pria tersebut pergi, Hera segera melihat siapa yang ditambahkan oleh pria tadi.
'Tambahan anggota: Villa 13 - Zen