Cathabell, Calista, Kay, Hera, Ken, Alaric, Undrew, Petra menarik koper mereka menuju ke arah sebuah rumah besar yang berada tidak jauh dari tempat di mana mereka mendengar pidato Kepala Sekolah tadi.
Tidak seperti biasanya, kali ini mereka hening seribu bahasa tanpa mengeluarkan sepatah katapun, rasanya seperti mereka saling canggung satu dengan lainnya dan benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya di mana setiap kali mereka berkumpul pasti akan terjadi keributan.
Dan rupanya kejadian langkah seperti itu memiliki alasan di baliknya. Apa alasannya? Oh, tentu saja semua itu terjadi karena Pangeran Lucas yang berada dekat mere--. Ah, Ralat! Lebih benar jika mengatakan dekat Calista, ia berada di dalam villa yang sama dengan yang akan ditempati mereka, atau dalam kata lainnya adalah mereka akan tinggal di villa yang sama selama berhari-hari.
Dia terus saja berbicara sendiri dengan menanyakan Calista beribu-ribu pertanyaan, tampaknya pria bergelar pangeran tersebut sudah lumayan kehilangan rasa kesalnya akibat kejadian tadi. Walau sebenarnya Calista tidak menjawab satupun pertanyaan yang dirinya utarakan. Sakit banget 'kan?
Tapi tetap saja Lucas terus menanyakan pertanyaan tanpa peduli dijawab atau tidaknya. Mungkin kepala pria tersebut sudah tidak normal setelah mengalami gejolak perasaan yang melambung tinggi di sepanjang hidupnya. Dan baru pertama kali pula baginya diperlakukan layaknya seorang manusia biasa tanpa keistimewaan sama sekali.
Cathabell menyenggol bahu Calista, "Eh, itu Pangeran Lucas dari tadi kau kacangin, nanti kalau misalnya dia mengadu kepada Ayahnya bagaimana, 'kan bisa saja kau dihukum bunuh diri nantinya," ucapnya berbisik.
"Calista mendengarkan ucapan Cathabell dan kemudian membalasnya dengan berkata, "memangnya Ayah Lucas itu siapa? Raja atau Tuhan? Aku tidak akan pernah takut jika pada Raja, tapi aku takut kepada Tuhan. Raja itu manusia Cathabell, sama sama kita, atas hak apa mereka mau sembarangan bunuh kita coba," ucao Calista menatap malas Lucas yang masih sibuk berceloteh.
Calista mendengus pelanggan dan berhenti melangkah, seketika waktu terasa berhenti tanpa ada satupun yang bergeming.
"Kenapa?" kaget Lucas.
Calista membuang nafas panjang. Dia menatap tajam Pangeran Lucas, "Yang mulia Pangeran Lucas, tolong berhentilah mengganggu saya, jika anda ingin saya perlakukan istimewa seperti status anda, mungkin anda tidak akan pernah mendapatkannya seumur hidup, karena saya tidak takut pada sosok manusia yang hanya tinggi statusnya saja," ucap Calista dengan gagah berani.
Untuk sekejap Pangeran Lucas terbengong. Barusan dirinya dibilang mengganggu! Bahkan yang mengatakan hal tersebut bukan Ayahnya tapi adalah seorang gadis biasa!
Merasa ada kupu-kupu terbang mengitari Calista. Lucas segera menatap Calista dengan mata yang berbinar-binar.
"A...apa?" kaget Calista saat ditatap seperti itu oleh Lucas.
"Ekhem! Kalian menghambat perjalanan tahu!" ujar Alaric yang tiba-tiba menyela. Dia menyeret kopernya dan berjalan melewati Lucas dan Calista.
Undrew terlihat gelagapan, "Eh, Alaric tunggu!" dia segera berlari menyusul Alaric dan berhenti sebentar di depan Cathabell. "Dahh... Bell ku," ujarnya.
Petra dan Ken juga menyusul Alaric. Petra berhenti di depan Hera dan berbisik kepadanya, "Perhatiin Calista, Alaric keliatannya cemburu tuh!"
Hera tertawa kecil kemudian mengangguk mengerti.
"Jadi kau Calista yah?" tanya Lucas yang masih dengan mata berbinarnya.
Calista memijat pelipisnya, "Hahh... Iya aku Calista, jadi sekarang stop nanya terus lanjutkan saja perjalanannya, oke?"
Bagaikan seekor peliharaan yang menuruti tuannya. Lucas yang seorang Pangeran negara Erlos dan akan menjadi Raja berikutnya tersebut mengangguk kan kepalanya dengan cepat dan mengikuti apa yang dikatakan Calista.
=====
"Wah gila!" pekik senang Hera. Matanya menatap bangunan besar di tengah hutan.
Walaupun berada di tengah hutan. Rumah tersebut tetaplah bergaya sangat modern.
"Memang gak salah kok kita memilih rumah yang kayak begini," ujar Cathabell kagum.
"Ladies, kalian harus berterima kasih pada saya, Pangeran Lucas yang telah meminta Villa semewah mungkin," ujar Lucas.
Calista memutar matanya malas, "Terima Kasih Pangeran," ucapnya malas.
"Jadi Lucas yang minta Villa sebesar ini! Makasih yah!" senang Kay.
"Sudah masuk saja," ketus Alaric. Petra, Undrew, dan Ken merasa pusing mengurus sahabatnya yang sedang kena penyakit cemburu ini.
=====
Masuk ke dalam Villa mewah tersebut. Kesembilan anak ini ditakjubkan oleh furniture Villa tersebut.
Walaupun sebenarnya cukup menakutkan. Karena ruang tamu yang lumayan terbuka untuk alam, dan hal itu menakutkan.
"kalau malam pasti seram," ujar Kay terbengong menatap kaca yang mengelilingi ruangan tersebut.
"Jangan dipikirin. Sebaiknya, kita cari kamar dulu!" Hera menapaki tangga menuju lantai dua.
Dia bergerak mengecek setiap pintu, dan melihat yang mana kamar paling besar juga nyaman.
Matanya terhenti pada sebuah kamar yang sangat Indah menurutnya. Sebuah kamar bernuansa cerah. Dengan sebuah jendela raksasa yang terhubung ke taman kecil.
Dan untungnya kamar tersebut memiliki dua tempat tidur berukuran King size.
"CATHABELL, KAY, CALISTA SINI!" teriak Hera kencang.
Tak membutuhkan waktu lama, ketiga gadis tersebut segera berlari dan berhenti di depan pintu kamar tersebut.
Mata mereka menatap kamar Indah tersebut dengan mata berbinar. "Ini sungguhan kamar?" takjub Cathabell.
Calista menggeleng tak percaya, "Pokoknya kamar ini bakal jadi kamar kita!" ucapnya dan tanpa babibu lagi gadis tersebut menyeret kopernya masuk ke dalam kamar tersebut.
"Aku tidur di sini!" teriak Kay yang segera berlari menuju kasur yang berada di sebelah kiri ruangan.
"kalau gitu kita tukeran, aku barengan sama Kay," ujar Cathabell dan segera meletakkan tasnya di kasur yang ditempati Kay.
Hera menatap kosong ruangan tersebut. Dia tahu alasan Cathabell menghindari Calista.
Tidurnya yang tidak bisa diam!
Hera menghembuskan nafas panjang kemudian meletakkan tasnya di sebelah kasur Calista.
=====
"Mereka sudah nemuin kamar tuh," ujar Petra yang mendengar suara teriakan Hera.
Alaric sembarang membuka ruangan dan segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Raut mukanya terlihat tidak mengenakkan sama sekali.
Ken melirik kamar Alaric, "Ternyata seleramu Bagus juga Ric," ujar Ken dengan sering di bibirnya.
"Pokoknya aku gak mau tidur bareng Alaric!" teriak Ken yang berlari meninggalkan Alaric.
Alaric yang bingung mendengar ucapan Ken segera mengedarkan pandangannya menuju kamarnya. Tak lama, matanya membulat.
"Kamar apaan ini!" kagetnya.
Kaca berada di mana-mana yang membuat Alaric dapat melihat jelas suasana di luar. Mungkin Bagus untuk hari terang, tapi tidak untuk malam.
Dan bisa saja Alaric melihat jika ada makhluk halus yang tak kasat mata lewat di depannya.
Undrew yang mendengar teriakan Ken segera mengecek kamar yang diambil oleh Alaric.
"Seram nih kalau malem!" ujarnya kemudian mengedikkan bahu dan pergi begitu saja.
Tak lama, Lucas masuk ke dalam kamar tersebut. Dia terkaget saat melihat sosok Alaric di dalamnya.
"Loh! Mengapa kau berada di sini, ini kan kamarku! kau tidak lihat tuh koperku semua sudah aku taruh di situ!"
Alaric segera menoleh ke arah sudut kamar tersebut, "Tapi aku dari tadi sudah di sini!" balasnya.
"Tetep saja aku dulu yang taruh barang-barangku!"
"Aku gak mau salah satu yang harusnya kepunyaanku diambil lagi sama kamu!" ucap Alaric yang tak mau kalah.
"Apa maksudmu! Pokoknya ini kamarku!" teriak Lucas.
Dan tak lama Petra memasuki ruangan tersebut. Dia menatap kedua orang yang sedang beradu mulut.
"Berisik! Daripada begini mendingan kalau kalian..."
=====
Oke, saat ini suasana ruangan terlihat sangat sunyi. Karena matahari telah terbenam, suara jangkrik yang menjadi latar belakang suasana saat ini.
Alaric dan Lucas duduk di tepi kasur dengan posisi Lucas yang berada di tepi kanan dan Alaric yang berada di kiri.
Setelah paksaan dari Petra yang pusing melihat mereka berdua bertengkar. Pria tersebut meletakan mereka berdua dalam satu ruangan.
"Jamnya mak-" Calista tidak melanjutkan ucapannya saat suasana canggung yang sangat terasa mengusiknya.
"Nuansa macam apa ini," gumamnya kecil.
Tak lama Lucas berdiri, "Nona muda telah memanggilku untuk makan," ujarnya.
Alaric yang geram segera berdiri tegak, "Dia manggil aku tahu!"
"Dih siapa bilang!"
"Beneran kok!"
Calista yang kesal dengan dua orang di depannya segera mengumpulkan energinya. Dia menarik nafas dalam-dalam.
"WOY KALIAN BERDUA PERGI MAKAN ATAU GAK USAH MAKANAN SAMA SEKALI!"
"Siap bos maaf!" ujar spontan Alaric dan Lucas serampak kemudian segera lari terbirit-b***t menuju ruang makan.
'Nih cewek seram gila!' benak Alaric dan Lucas