"Anak-anak!" pekik Bu Linda yang membuat semua orang di ruang makan terkaget.
Mereka memandang Bu Linda yang sedang naik tangga mencari kamar miliknya.
"Siapa itu?" tanya Lucas.
"Ah... Itu Bu Linda, guru paling nyebelin sejagat Raya," jawab Cathabell yang sedang fokus pada makanannya.
Lucas mengangguk mengerti. Dalam sekejap suasana di meja makan kembali hening.
"Kok di sini canggung baget yah," ucap Hera memecah keheningan. Undrew mengangguk setuju.
Sepintas ide lewat begitu saja di otak Undrew, "Ekhem!" Dia berdehem pelan.
"Apa?" tanya Petra yang menyadari kode dari Undrew.
Undrew menyeringai, "Gimana kalau kita nonton film Horor?" tanyanya dengan senyum lebar.
Calista tersedak makanannya saat mendengar kata film horor keluar dari mulut Undrew.
Dengan cepat Alaric dan Lucas yang duduk tepat di sebelahnya menoleh dan memegang punggung Calista bermaksud untuk meredakan rasa tersedak yang dialami gadis tersebut. Namun, mereka malah di hadiahi ekspresi kesal dari gadis yang selalu menjadi korban pertengkaran kedua pria tersebut.
Mereka berdua terkaget kemudian saling memandang tajam satu sama lain.
"Singkirkan tanganmu," ucap Alaric dengan nada seram.
"Gak akan, kau saja yang singkirkan tanganmu!" ujar Lucas tak mau kalah.
Calista menghela nafas panjang kemudian...
"Kalian berdua yang singkirkan tangan! Seenaknya aja megang punggung orang, ini punggungku bukan punggung kalian. Kalau mau pegang punggung, pegang saja punggung masing-masing!" kesalnya.
Alaric dan Lucas meringis kesakitan, memegangi tangan mereka yang memiliki cap lima jari dari Calista.
'Aku heran bagaimana bisa diriku ini jatuh Cinta sama gadis segalak dan sekejam ini, aneh sekali seleraku!' batin mereka berdua yang mengeluh sambil menyalahkan diri masing-masing karena memiliki selera terhadap gadis yang cukup aneh.
"Jadi kita beneran akan nonton film horor ini?" panik Kay.
Undrew mengangguk, "sudah pasti dong! Jangan takut, aku pastikan untuk memilih film dengan baik agar kalian semua tidak ketakutan saat menontonnya kok."
"Tapi dari mana kasetnya? Kita 'kan tidak mempunyai kaset film apapun." Pertanyaan Hera membuat seisi meja hening seketika.
"Gak ada kasetnya 'kan. Berarti kita tidak jadi menonton film horor dong," ujar Calista berpura-pura kecewa dengan ketiadaan kaset film horor tersebut. Padahal jika ditanya apa yang berada di otaknya saat ini, jawabannya adalaha kalau dia merasa sangat-sangat lega karena mereka tidak jadi menonton film horor.
Undrew tersenyum manis saat menanggapi semua hal tersebut, "Ada kok kalian semua tidak perlu kecewa dulu! Aku ada membawa sangat banyak kaset film berbagai genre di dalam tas!" Ucapan undrew sontak menghapus rasa lega yang berada di otak Calista.
Calista mematahkan sendok kayunya menjadi dua, "suatu saat nanti akan ku musnahkan tuh kaset seluruhnya bahkan sampai pemiliknya sekali pun!" ujarnya kesal. Undrew bergidik ngeri mendengar kesadisan di dalam ucapan Calista.
"Santai Cal!" Hera hanya dapat tertawa ngeri saat melihat Calista yang mematahkan sendok kayu miliknya menjadi dua buah. Tenaga gadis es tersebut benar-benar tak tahu dimana situasi seharusnya, jika begini kan jadinya mereka harus membayar kerusakan terhadap properti villa.
"Calista benar, kasetnya itu harus dimusnahkan! Dan pemilik kaset-kaset tersebut harus dipanggang dalam api neraka" ujar Cathabell tak kalah menyeramkannya, di tambah lagi dengan tawa sadis gadis tersebut. Undrew sangat ingin berlari dan kabur dari situasi yang benar-benar menyiksanya saat ini.
Hera ternganga melihat kondisi kedua sahabatnya ini. Dia menoleh ke arah Kay, "Kay tolong jangan ikut-ikutan," ujarnya panik.
Kay menggeleng, "Tuh kaset memang harus dimusnahkan!"
Hera menghembuskan nafasnya panjang. Ternyata memang dia yang paling normal di antara sahabat-sahabatnya.
=====
"Ayo!" Undrew menarik sebuah kaset video dari tasnya. Kaset tersebut bertuliskan 'Pengabdi Lucifer'
Alaric merebut kaset tersebut, "Wah, ternyata si Lucifer terkenal yah.. Sampe masuk kaset," ujarnya terkagum-kagum.
Undrew menatap tajam wajah Alaric, "kau ini pura-pura bego atau memang bego beneran?"
Alaric meringis, "Perasaan tidak ada yang bagus sama sekali." Undrew mengambil kaset dari tangan Alaric kemudian pergi.
Dia lelah mengurus sahabatnya yang benar-benar ketinggalan jaman ini.
Undrew berjalan menuju ruang tamu dan mencolok kabel dvd. Menyalakan TV. "Teman-teman ayo sini!" teriaknya kencang.
"Ayo!" Hera menarik tangan Cathabell dan Calista yang masih berpegang erat pada pintu.
Setelah susah payah memaksa Kay keluar. Kedua gadis di depannya ini ikut-ikutan. Mereka memegang erat pintu dengan alasan tidak mau menonton film horor.
"Woy kalian kok penakut amat sih!" ujar Kay yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Hera.
Kay yang menyadarinya segera menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maaf!" ujarnya kecil.
Hera menarik tangan kedua gadis di depannya, "Ayo kita nonton," ujarnya kesal.
"Gak mau!" teriak Calista yang berusaha keras untuk tetap berpegangan dengan pintu.
"Aku gak mau nonton film horor titik!" kesal Cathabell. Dia tetap gigih bertahan pada pintu.
"Kay bantuin cep...at." Hera menoleh ke belakangnya dan medapati Kay yang sudah berlari menuruni tangga.
"Sial!" umpatnya dan kembali menarik kedua gadis di depannya.
"Kenapa?" tanya Petra yang berjalan menghampiri Hera. Mata Hera langsung berbinar, seperti ada sosok malaikat yang menghampirinya.
"Petra bantu aku tarik mereka!" ujar Hera cepat. Petra menatap bingung Hera, "Apa?"
"Bantu aku tarik mereka!" teriak Hera kesal. Calista dan Cathabell saling memandang kemudian saling mengangguk satu sama lain.
"ARGHHH!"
Undrew, Alaric, dan Ken berkumpul di ruang tamu. Undrew sedang melihat koleksi kacamatanya. Alaric sedang melihat judul-judul kaset yang dibawa Undrew. Dan Ken sedang melamun.
"ARGHH!"
"Argg!" Ken yang tadi melamun tiba-tiba ikutan berteriak kaget.
Undrew terkaget dan salah satu kacamatanya patah, "Apa-apaan itu!" bingungnya.
Begitu juga dengan Alaric yang tadi memegangi sebuah kaset. Seketika, kaset tersebut patah menjadi dua.
Mereka bertiga segera berlari menuju lantai dua. "Kalian ngapain teriak!" kesal Undrew yang memegangi kacamata patah miliknya. Cathabell dan Calista hanya tersenyum kikuk, "Drew, jangan nonton horor yahh..," mohon Cathabell dengan wajah memelas.
Untuk sekejap Undrew luluh dan tak lama dia segera menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gak! Pokoknya kita tetap harus nonton!"
Hera tersenyum simpul, "Jadi.. Gimana?"
Cathabell dan Calista secara perlahan melepaskan pegangan mereka pada pintu dan mulai turun ke bawah.
"Pokoknya kalau sampai aku jantungan, ku pastikan kalian juga kena!" ujar seram Calista sebelum akhirnya pergi.
"Buset! Kalimatnya lebih seram daripada yang di Pengabdi Lucifer," ucap Undrew.