Cangkir itu dituang ke mulutnya oleh Zaviest tapi tak setetes pun keluar dari sana, cangkir itu diletakkan dengan kasar di atas meja olehnya hingga menimbulkan suara yang keras. Wajah Zaviest sudah memerah, dia telah berada di atas ambang minumnya.
“Vizena!” Suara Zaviest meninggi dan berirama tak jelas. Tangannya menunjuk ke arah Vizena yang memandangnya, “Kenapa kau meninggalkanku!” Zaviest meracau.
“Dia sangat mabuk, lebih baik kita bawa kembali ke istana.” Trugeris mengusulkan. Ini pertama kalinya bagi Trugeris, dia belum pernah melihat Zaviest begitu banyak minum hingga kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
“Anda benar,” Moscha sangat setuju, dia merasa kakaknya bisa membuat kekacauan jika dibiarkan, “Saya akan membawanya, kalian bisa melanjutkan.” ujarnya dengan meraih tubuh