“Entah apa yang ada di pikiran kamu, Bram. Kamu itu sudah mapan, tampan, dan matang. Kalau mau pasti akan banyak wanita yang senang hati menjadi istrimu. Mau sampai kapan kamu akan melajang?” Tanya Meisya sebelum menyuap potongan daging yang kesekian ke mulutnya.
Brama memalingkan wajah enggan menjawab.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini. Salma sudah bahagia dengan suaminya. Anak mereka sudah berusia lima tahun. Itu berarti sudah tujuh tahun lebih kamu berharap padanya padahal sudah jelas dia menolak kamu,” Lanjut Meisya.
Brama masih juga tidak bersuara. Dalam hati dia mengakui kebenaran ucapan sepupu Salma yang sekarang juga menjadi teman dekatnya.
“Aku rasa sudah saatnya kamu melepas perasaan terhadap Salma dan memikirkan masa depan, Bram. Kamu juga tau betapa besarnya harapan Om dan Tante untuk melihatmu menikah. Cuma kamu harapan mereka,” Kata Meisya yang akhirnya membuat Brama menoleh padanya.
“Sebenarnya aku juga sudah mulai memikirkannya, Mei. Hanya saja mungkin memang belum bertemu orang yang tepat,” Kata Brama.
Meisya mencibir, “Belum bertemu atau memang kamu yang tidak pernah mencari? Sudahlah, Bram. Kita sudah berteman cukup lama. Aku hampir mengenal kamu seperti apa,” Ucapnya.
Brama hanya mengangkat bahu.
“Lagipula bukannya Tante Rina sudah sering mengenalkanmu kepada anak teman-temannya? Masa iya nggak ada satupun yang membuatmu tertarik? Aku rasa mereka tidak ada yang jelek,” Kata Meisya.
Selama ini Brama memang selalu mengirimkan foto wanita yang diminta kencan buta dengannya pada Meisya. Sejak Salma menikah Brama menjadi lebih banyak komunikasi dengan Meisya karena merasa wanita itu bisa menggantikan Salma sebagai teman bercerita.
“Kamu benar, Mei. Semuanya memang cantik. Tapi sayang nggak ada satupun yang punya otak,” Kata Brama yang membuat Meisya langsung tergelak.
“Nggak punya otak gimana maksud kamu, Bram? Bukannya kualifikasi pendidikan mereka juga bagus? Mana mungkin Mama kamu pilihkan yang asal-asalan sebagai calon menantunya, “ kata Meisya.
“Iya sih. Tapi seperti kata Pak Rocky Gerung, ijazah itu adalah bukti seseorang pernah sekolah tapi bukan bukti bahwa seseorang pernah berpikir,” kata Brama.
Meisya lagi-lagi terbahak. Dia baru tahu ada quotes seperti itu dan dia pikir itu memang benar.
“Memangnya bagaimana kamu menilai mereka? Belum tentu juga mereka yang tidak berpikir. Bisa jadi cara kamu berbicara yang terlalu tinggi sehingga mereka sulit memahami,” kata Meisya membela kaumnya. Dia sendiri mengerti bagaimana cara komunikasi Brama. Bisa diakui kalau dia sangat apa adanya sehingga ucapannya memang setinggi ilmunya.
“Itulah yang aku maksud, Mei. Kalau di awal pertemuan saja mereka tidak mampu memahami apa yang aku bicarakan bagaimana mungkin mereka sanggup berkomunikasi denganku seumur hidup,” Brama tidak mau kalah membela dirinya.
“Menurutku kamu tidak bisa menyimpulkan semudah itu tentang mereka, Bram. Sangat wajar kalau di pertemuan pertama seseorang belum menunjukkan diri sepenuhnya. Bisa jadi mereka masih malu atau sedang berhati-hati memilih pasangan. Atau mungkin khawatir menyinggung perasaan orang lain jika terlalu apa adanya,” bela Meisya lagi.
Brama tertawa sinis, “Waktuku terlalu berharga untuk meladeni wanita yang sok-sokan. Lagipula ngapain mereka nggak mau menunjukkan jati diri asli sejak awal? Kalau memang seperti itu berarti mereka memang tidak punya niat baik. Mereka ingin mendapatkanku dengan berusaha terlihat jadi orang baik lalu memanfaatkanku jika aku sudah terlena sama mereka. Begitu maksud kamu, Mei?” Tanya Brama.
“Ya bukannya begitu, Bram. Mungkin mereka- Ahhh malas aku ngomong sama kamu. Bawaannya curigaan aja sama orang,” kata Meisya jengah,
“Bukannya curiga, Mei. Aku cuma waspada. Bagiku menikah itu bukan hal yang mudah. Yah kamu tahu sendiri kenapa. Maka dari itu aku berharap hanya bisa menikah sekali seumur hidup dengan orang yang aku cintai. Tapi karena harapan itu sekarang tidak mungkin terwujud, paling tidak aku ingin menghabiskan hidup dengan orang yang bisa nyaman dan nyambung kalau diajak ngobrol,” Jelas Brama.
Meisya mengangguk mengerti. Dia berusaha mengerti keresahan Brama. Bagi pria seperti Brama komunikasi memang sangat penting. Pekerjaan yang menuntut konsentrasi dan analisa mendalam sebagai dokter spesialis membuatnya jarang berbicara hal yang tidak penting. Bercanda pun pasti masih menyangkut bidangnya sebagai tenaga kesehatan.
“Aku paham. Tapi kamu juga tidak boleh underestimate seperti itu. Jangan bilang kalau harapanmu tidak mungkin terwujud. Siapa tahu Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang lebih baik. Wanita yang akan kamu cintai dan mencintaimu sepenuh hati,” kata Meisya yang terdengar cukup puitis di telinga Brama.
“Ck! Sampai saat ini aku tidak bisa menemukan wanita sesempurna Salma,” kata Brama.
Meisya mengangkat bahu enggan menyanggah.
“Udahlah, Mei. Nggak usah bahas ini lagi. Intinya aku masih belum menemukan orang yang tepat,” lanjut Brama, “Kamu sampaikan itu sama Mama kalau dia mulai bahas.”
“Tante Rina nggak pernah bahas ini secara langsung sih. Beliau cuma sering berharap kamu segera memiliki pendamping. Tapi dari sorot mata beliau sangat terlihat kesedihannya,” kata Meisya mengingat wajah Olla.
Brama memandang Meisya lekat. Dia ikut membayangkan wajah ibunya.
“Kamu sendiri gimana?” Tanya Brama tiba-tiba.
“Aku? Apanya?” Meisya balik bertanya bingung.
“Apanya. Kamu sendiri apa sudah punya pacar?”
Meisya menghela nafas panjang, “Siapa juga yang berani pacaran sama aku, Bram? Baru mau PDKT saja sudah dapat pelototan dari ayahku,” keluhnya.
Ganti Brama yang tergelak, “Aw! Sakit Mei,” ucapnya sembari mengusap lengan yang dicubit Meisya.
“Jangan ketawa!” Kata Meisya memperingatkan, “Kamu kira ini lucu? Aku tersiksa tau, Bram!”
“Hahaha,” Brama kembali terbahak, “Kenapa kamu merasa tersiksa? Bukannya bagus punya orang tua yang sesayang itu. Kamu beruntung lo punya ayah yang selalu siap mengantar kemana saja dan siaga kapan saja,” kata Brama.
Meisya semakin mengerucutkan bibir mendengar pembelaan Brama untuk ayahnya, “Iya sih beruntung. Tapi dampaknya ya gini ini. Sampai umur segini aku belum pernah pacaran sama sekali. Gimana aku bisa menemukan jodoh?,” ucapnya.
“Yah minta dicarikan jodoh lah, Mei. Aku yakin dengan senang hati beliau bersedia melakukannya,” kata Brama.
“Iya sih dengan senang hati. Tapi kamu tau, Bram, seperti apa laki-laki yang dikenalkan padaku?” Tanya Meisya.
“Mana aku tahu? Memangnya kamu pernah cerita?” balas Bram.
Meisya membuang nafas. Bukannya dia tidak mau cerita. Hanya saja dia tidak mau ditertawakan oleh Brama.
“Memangnya pria seperti apa yang dijodohkan sama kamu, Mei?” Tanya Brama lagi.
“Udah Om-Om,” jawab Meisya lirih.
Brama sudah hampir tertawa tapi ditahan karena melihat wajah Meisya yang semakin ditekuk.
“Bukannya bagus kalau kamu menikah sama pria matang? Jadi dia bisa sabar menghadapimu yang dikit-dikit nangis, dikit-dikit marah,” kata Brama menggoda.
“Ihhh kapan juga aku nangis? Kamu tuh yang ditinggal menikah sama Salma sampai nggak keluar kamar satu minggu,” ganti Meisya yang meledek Brama.
“Sssstt, aib itu. Jangan dibahas lagi,” kata Brama.
“Ck! Dasar!” Decak Meisya tidak bisa membalas perkataan Brama.
“Atau…” Brama menjeda ucapannya.
Dia berdiri dan perlahan mendekati Meisya, “Aku aja yang melamarmu ke Om Rehan?” Ucapnya dengan suara pelan namun dalam.
Posisi Brama dan Meisya semakin dekat. Apalagi Brama yang menyandarkan kedua tangan di samping tubuh Meisya sehingga membuatnya tak bisa kemana-mana.
“Memangnya kamu berani?” Tantang Meisya.