"Ini semua gara-gara kamu, Bram. Kamu memang gila!" kata Meisya jengkel.
"Kamu kenapa nyalahin aku? Kamu sendiri yang provokatif. Bisa-bisanya menantangku mendatangi ayahmu," kata Brama membela diri.
"Ya jelas memang kamu yang salah! Masa omongan aku kaya gitu dianggap serius," Meisya tetap tidak terima dengan alasan Brama.
"Ya iyalah. Ketika nyaliku diremehkan, itu ibarat api disiram bensin. Bisa langsung bikin aku jadi panas," lanjut Brama.
"Ka-"
"Bram! Mei! Kenapa kalian tidak segera kembali. Sudah banyak tamu yang datang dan acara harus segera dimulai," Suara Rina menghentikan perdebatan mereka.
"Mei ini, Ma yang marah-marah aja dari tadi," kata Brama mengadu pada sang ibu.
"Bohong, Tante. Aku nggak marah-marah kok. Cuma konfirmasi aja," Meisya membela diri.
"Eh, Meisya..." Rina menginterupsi dan mengangkat telunjuk di hadapan Meisya.
"Kenapa masih panggil Tante? Kamu sudah sah jadi istri Bram sekaligus anak menantu Mama. Jadi biasakan panggil Mama," Titah Rina.
Wajah Meisya memerah mendengar kata istri dan menantu. Antara malu dan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Em... Om Rehan. Kalau seandainya aku melamar Meisya jadi istriku apa Om akan menyetujui?" tanya Brama kala itu.
"Memangnya kamu sanggup jadi suaminya Meisya?" tanya Rehan.
Rehan yang selama ini selalu antar jemput Meisya kemanapun dan Rehan yang pasti selalu ada saat Meisya bersama Salma membuat hubungan kedua pria itu tanpa sengaja menjadi dekat. Sehingga pembicaraan yang terjadi diantara mereka tidak lagi kaku seperti orang tua dan pemuda tapi lebih seperti teman main.
"InsyaAllah sanggup, Om. Kita sudah lama berteman. Aku merasa sudah memahami buruk baiknya Meisya," jawab Brama percaya diri.
"Kamu yakin?" tanya Rehan menaikkan satu alis tanda ragu.
"Sangat yakin, Om," kata Brama mantap.
"Kalau kamu memang sudah yakin, Om tunggu kedatangan orang tuamu secepatnya," kata Rehan.
"Tapi, Om-" Brama bukannya menyanggupi tapi justru terlihat panik.
"Kamu kenapa, Bram? Ayah bahas apa sama Bram?" tanya Meisya yang keluar dari balik tirai membawa nampan berisi kopi dan gorengan.
"Kalian diskusikan dulu kelanjutannya. Ayah ngopi di dalam saja," kata Rehan mengambil secangkir kopi yang dari nampan Meisya dan membawanya masuk ke ruang tengah.
"Kelanjutan apa, Yah?" tanya Meisya bingung sambil terus memandang punggung Rehan sampai hilang di balik tirai tempatnya keluar tadi.
"Ada apa ini, Bram? Apa maksud ayahku? Apa sebenarnya yang kalian tadi bicarakan?" tanya Meisya penuh rasa penasaran. Sampai-sampai dia lupa menyuguhkan cangkir kopi kepada Bram dan meletakkan nampan begitu saja ke atas meja.
"Om Rehan... Em... Om Rehan minta aku mengajak orang tuaku kemari," jawab Bram terbata.
"Hah?! Maksudnya? Untuk apa? Kamu bilang apa tadi sama ayah? Jangan bilang kalau kamu beneran ngomong mau nikah sama aku?" cecar Meisya.
Brama menggaruk tengkuk dan hanya mengangguk kikuk.
"Ya ampun, Brama!!!" Meisya tersandar lemas. Dia paling tahu kalau ayahnya tidak pernah bercanda untuk masalah seperti ini.
"Yah... gimana dong, Mei. Aku tadi sebenarnya cuma coba-coba. Ternyata Om Rehan malah serius," kata Brama membela diri.
"Kamu itu kayak nggak tahu ayahku seperti apa. Kalau sudah kayak gini kita harus gimana?" tanya Meisya kesal karena Brama terlihat tidak serius.
Brama hanya mengangkat bahu dan hendak mengangkat cangkir kopi di depannya. Namun belum juga cangkir tersentuh Meisya sudah menahan lengannya.
"Mending kamu sekarang pulang, Bram. Biar nanti aku yang jelaskan sama ayah kalau orang tua kamu tidak bisa kesini," kata Meisya dengan tangan masih berada di pergelangan tangan Brama.
"Sabar dong, Mei. Belum juga aku minum ini kopi udah disuruh pulang aja. Nggak sopan itu namanya," tolak Brama.
"Ck! Ngrepotin aja," kata Meisya. Dia kemudian mengambil cangkir kopi dan mendekatkan langsung ke bibir Brama.
"Ini cepat habiskan! Habis itu langsung pulang," kata Meisya galak.
Akan tetapi, baru juga bibir cangkir bertemu bibirnya, Brama justru mendengar Meisya memanggil ayahnya.
"Ayah! Brama mau pamit pulang," panggil Meisya dengan suara lantang.
"Kenapa buru-buru, Bram? Baru juga Om duduk tadi di dalam," tanya Rehan yang keluar tidak berselang lama dari panggilan Meisya.
"I-Iya, Om. Saya juga kaget karena tiba-tiba disuruh pulang. Eh... maksudnya harus buru-buru pulang," kata Brama yang segera meralat ucapannya setelah mendapat pelototan Meisya.
"Iya, Yah. Kita sudah selesai ngobrolnya," timpal Meisya.
"Oh, jadi kelanjutannya gimana? Kapan kira-kira orang tua kamu diajak kemari?" tanya Rehan memastikan.
"Emmm... sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat, Yah. Karena Om Aji dan Tante Rina masih ada keperluan di luar kota. Iya kan, Bram?" tanya Meisya memberi kode kepada Brama.
"Idih kata siapa? Orang mereka ada di rumah," jawab Brama polos dan sengaja membuat Meisya semakin kesal.
"InsyaAllah nanti sampai rumah aku akan langsung sampaikan ke Papa, Om. Untuk waktunya nanti aku akan langsung menghubungi Om saja," kata Brama yang membuat Meisya hanya bisa melongo.
Selang dua hari kemudian orang tua Brama benar-benar datang ke rumah Meisya tanpa sepengetahuan keduanya. Aji memang langsung meminta kontak Rehan saat Brama menceritakan apa yang terjadi di rumah Meisya. Awalnya Brama menolak karena khawatir papanya akan mengatakan sesuatu yang buruk pada Rehan karena pria itu hanya diam saat Brama bercerita.
Hingga tiga minggu kemudian Meisya dan Brama hanya bisa shock saat kedua orang tua mereka, di rumah masing-masing, menyampaikan bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan dalam waktu dua hari. Semua persiapan pernikahan mulai dari tempat, pakaian, hidangan, dan mas kawin sudah disiapkan oleh orang tua. Bahkan undangan pun sudah disebarkan pula oleh mereka.
Baik Brama maupun Meisya tidak ada lagi kesempatan untuk berkilah. Meisya hanya bisa mengumpat sendiri akibat dari perbuatan Brama. Demikian pula Brama yang hanya bisa meratapi kekonyolannya. Apalagi selama masa dua hari ini entah kenapa seperti tidak ada waktu bagi mereka berdua untuk saling menghubungi apalagi bertemu. Mereka harus menyelesaikan tugas masing-masing sebelum menjalani cuti menikah.
Hingga di saat inilah mereka baru mendapatkan kesempatan bicara. Waktu dimana Brama sudah melantunkan akad nikah dan mereka sudah menjadi pasangan yang sah.
"Ayo kita keluar. Semua tamu pasti sudah menunggu. Apalagi nenek dan kakek Brama yang sangat ingin bertemu kamu, Mei. Mereka penasaran seperti apa wanita yang bisa membuat Brama yang keras kepala ini menjadi luluh," kata Rina.
Dia menggandeng lengan Meisya dan berjalan mendahului Brama.
"Iya, Ma," kata Meisya denga sebisa mungkin menampilkan senyum tulus. Meskipun dalam hati sebenarnya dia ingin menangisi nasibnya. Dia kemudian menoleh kepada Brama yang berada di belakangnya dengan sendu. Akan tetapi emosinya justru tersulut karena Brama hanya mengangkat bahu dan memajukan bibir bawah seolah tidak peduli dengan keadaan mereka.