BAB-11. MARAH.
Pagi harinya, aku terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan sebelum mataku benar-benar terbuka, senyumku sudah selebar pintu surga. Aku menggeliat sambil terus meregangkan kedua tanganku. Seumur hidup, rasanya baru kali ini aku benar-benar hidup.
Eh… jadi selama ini aku mati suri?
“Ciye….”
Aku terperanjat mendengar suara itu. Mataku seketika terbuka lebar dan tanganku reflek melempar guling di pelukanku. “Sialan!”
“Ciye…” Evron kembali menggodaku.
Aku mengambil jam di atas meja, memeriksa jam berapa sekarang. Pukul 07.30 WIB. Masih terlalu pagi untuk bangun.
“Jatuh cinta ya…” Evron kembali menggodaku. “Lebar amat senyumnya, Cok!”
“Ngapain lo ke sini.” sewotku sambil mengambil kaus dan memakainya. “Ini masih pagi, Vron.”
Evron mengambil napas panjang. “Iya. Aku nggak bisa tidur, Bang.”
Melihat wajah sedih Evron, aku jadi tidak tega mengusirnya. “Bang, kalau ada cewek yang udah menghilang selama tiga bulan padahal awalnya dia deket sama kita, itu tandanya apa, Bang?”
“Cewekmu?” tanyaku sambil meraih kopi instan. “Mungkin dia bosen sama lo, Vron.”
Evron lagi-lagi mengambil napas panjang. “Belum jadian, Bang. Kami lumayan deket dulu. Lalu dia tiba-tiba ngilang gitu aja. Nggak pernah ke kampus lagi. Aku tanya temennya, katanya dia lagi istirahat.”
“Kamu percaya?”
“Iya, Bang. Temennya nggak mungkin bohong.” Tatapan mata Evron kosong. Dia lagi-lagi mengambil napas panjang lalu menghelanya. “”Jujur aku takut, Bang. Aku takut dia kenapa-napa. Mustahil dia nggak ngampus selama tiga bulan kalau dia baik-baik saja.”
“Ada temen lain yang bisa ditanyain?”
Evron menggeleng. “Kami beda fakultas. Aku jarang ke kampusnya sih.”
“Coba tanya ke yang lain, Vron. Ke dosen sih kalau perlu. Perlu gue bantu?”
Evron menggeleng. Ia justru tersenyum optimis. “Aku cobas sendiri dulu deh, Bang. Nanti kalau nggak ada kemajuan baru aku minta tolong ke Bang Rama.”
“Cantik banget ya, Vron?”
Pemuda itu mengangguk. Senyumnya mengembang saat kami mulai membicarakan gadis yang sedang ditaksirnya. “Cantik, Bang. Lembut, lucu, dan baik pula. Kayaknya baru pertama kali aku ketemu orang kayak dia deh.”
“Kenapa nggak coba ungkapin perasaan lo?”
“Nggak berani, Bang. Kami masih terlalu kecil sih. Aku aja baru 21 tahun. Dia 20, Bang. Nanti kalau salah langkah malah jadi kami yang rugi.”
“Salah langkah gimana, Vron? Pergaulan bebas?”
Bahu Evron merosot. “Nggak gitu juga, Bang. Aku takut kalau ini cuma perasaan sesaat doang. Terus kalau dipaksain sama-sama, nanti kamu putus malah nggak baik kan ke depannya. Lagian masa depan belum juga jelas, Bang. Pendidikanku belum selesai. Aku mau datang ke dia kalau beneran udah pantas.”
Sifat ini yang paling aku suka dari Evron. Masa depannya jelas. Terang benderang seperti kakaknya. Evron ahli dalam hal finansial, dia juga rajin belajar, dan bahkan mulai bergabung dengan perusahaan kakeknya sejak masih SMA. Apa lagi yang kurang darinya? Tapi bagi Evron yang realistis itu, warisan saja tidak cukup. Dia butuh lebih banyak ilmu, pengalaman, dan relasi agar masa depannya benar-benar terjamin.
Dalam segala hal, Evron jauh lebih baik dariku.
Bahkan dalam hal romansa sekali pun, dia tetap memikirkan usia mereka. Berbeda denganku. Aku tetap egois mendekati Sekar meski tahu dia sudah bersuami. Meski tahu dia masih berusia 20 tahun.
Berbicara soal masa depan, aku sama sekali tidak memikirkannya. Saat ini aku bahkan kabru dari rumah karena merasa terus dikekang oleh orangtuaku. Sementara Evron? Dia patuh mengikuti perintah orangtua dan keluarga besarnya demi membangun masa depannya sendiri.
Astaga, bocah ini bukan sembarang bocah.
“Aku harus gimana ya, Bang?”
“Kalau lo emang ngerasa belum pantas, ya wajar aja sih. Namanya juga manusia, kadang kita memang pengen terlihat sempurna di depan orang yang kita suka. Tapi bukan berarti menjauh, Vron. Kalau emang lo suka sama dia, tetap di sampingnya selama kalian berproses. Gue rasa itu yang paling tepat ya. Kita nggak akan pernah tahu, sampai sejauh mana Semesta akan mengijinkan kita melihat orang yang kita suka. Nah, selama ada kesempatan, jangan buang kesempatan itu. Kalau lo beneran pengen lihat dia, coba cari tahu lebih dalam. Mungkin setelah kalian bertemu lagi, lo bisa memutuskan. Apakah lo beneran pengen sama dia. Atau lo memang harus menunggu sampai benar-benar pantas.”
“Gimana kalau dia nggak mau ketemu sama aku, Bang?”
“Coba aja dulu, Vron.”
“Kalau ditolak?” Evron tampak cemas.
“Vron, lo ganteng. Serius. Nggak kalah sama Dante. Kalau ditolak, bukan berarti lo buruk. Itu artinya dia emang nggak ada rasa. Katanya, cinta tidak harus memiliki, Vron. Jadi menurut gue, selama dia bahagia dan sehat, seharusnya lo bersyukur meski tidak bisa memilikinya.”
“Gitu, ya?” Evron ikut mengambil kopi instan, meneguknya. “Kalau Bang Rama sendiri gimana?”
“Gue akan berusaha. Kalau pada akhirnya kami nggak bersama, artinya nggak jodoh.”
“Pantesan…” Evron nyeletuk. “Pacaran tujuh tahun tetap slay aja pas udah putus.”
“Heh!” Aku melotot pada Evron.
“Tapi dia selingkuh kan, Bang. Wajar aja Bang Rama gampang move on.” Evron menatap langit-langit kamar.
Nyaris semua orang yang mengenalku tahu kisah percintaanku di masa lalu. “Dia udah bahagia, Vron. Setidaknya itu yang buat gue tenang.”
“Dia ambil spesialis katanya, Bang. Dante pernah ketemu.”
“Iya.” Aku metakkan kaleng kosong di atas meja.
“Cantik, Bang?” celetuk Evron lagi. “Cewek barunya?”
Aku melotot, kali ini melempar biskuit ke arahnya. “Heh! Jangan ikut campur!”
Evron bangkit dari duduknya. “Syukur deh kalau Bang Rama udah move on. Semoga langgeng sama yang ini, Bang. Aku mau ke kampus.” Ia membuka pintu lalu menutupnya dengan cepat. Evron… meski terkadang menyebalkan, anak itu selalu jujur padanya. Evron juga tempat curhat yang menyenangkan.
Sepeninggal Evron, ponselku bergetar. Aku buru-buru mengambilnya, melihat id pemanggil. Sekar.
Sebelum menjawab telepon, tanganku reflek mengusap d**a yang entah sejak kapan berulah.
Hallo… terdengar suara Sekar dari seberang.
Iya… jawabku dengan suara setenang mungkin.
Tadi malem hpku mati. Jadi aku nggak bisa langsung hubungi kamu.
Iya, nggak papa. Udah beli charger?
Udah. Sejam yang lalu dan konter depan gang.
Baguslah. Ada yang bisa aku bantu?
Nggak ada. Hmmm… jadi aku boleh telepon kalau butuh bantuan aja? Kalau lagi nggak ada perlunya nggak boleh, ya?
Eh? Nggak gitu juga. Kamu boleh kok telepon kapan aja. Selama aku nggak sibuk, pasti aku angkat.
Rama…bisa kita ketemu lagi hari ini?
Bisa. Mau ketemu jam berapa?
Malam aja. Aku pulang malam kayaknya.
Oke.
Aku mau balikin uang kamu. Ram, aku memang lagi butuh duit. Tapi aku nggak mau ngrepotin kamu.
Aku tertegun… kukira aku akan menerima ucapan terima kasih karena memberinya uang. Sebaliknya, dia justru marah padaku.
Kalau kamu nggak mau nerima uang ini lagi, aku nggak mau ketemu sama kamu.
Panggilan telepon terputus. Dari nada suaranya, aku tahu persis Sekar marah besar padaku.
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93