BAB-12. HADIRMU.
Sepanjang hari itu aku tidak bisa fokus dengan apa pun. Hubunganku dan Sekar baru saja membaik. Maksudnya… kemarin-kemarin dia selalu menghindar. Saat aku sudah berhasil mendekatinya, sekarang dia malah marah dan mengancam tidak mau bertemu. Aku lebih takut Sekar pergi daripada …
“Malam, Mas.” sapa salah satu penghuni kost. Malam ini aku memutuskan menunggu Sekar di depan gerbang. Sejak siang dia tidak membalas pesanku, aku takut dia tiba-tiba menghilang begitu saja.
“Malam, Kak.”
“Nungguin siapa?”
“Sekar. Udah balik belum, ya?”
“Oh… satu jam lagi kayaknya, Mas. Dia biasa sampai rumah jam 20.00 WIB. Atau lebih dikit kalau macet.”
“Gitu ya?”
“Iya…” gadis itu tersenyum ramah. “Masuk dulu aja, Mas. Tunggu di depan kamarnya.”
“Eh… nggak papa?”
“Nggak papa. Aman, Mas.” Gadis itu membuka gerbang, menyuruhku masuk. “Motornya dimasukin ke dalam nggak papa.”
Aku mengangguk. Bergegas membawa motorku ke dalam dan memarkikannya dengan rapi. “Terima kasih, Mbak.”
“Mas ini siapanya Sekar? Saudaranya, ya?”
Aku hanya mengangguk. Tidak tahu harus menjawab apa.
“Pantesan. Sama-sama cakep.”
“Ehehehe….”
“Kalau Mas bilang pacarnya, saya nggak akan percaya. Makanya saya langsung nebak kala Mas ini saudaranya. Bener kan tebakan saya.”
“Pacar Sekar pernah ke sini?” tanyaku pura-pura polos. Baguslah kalau aku bisa dapat informasi dari tetangganya.
“Boro-boro pacar,” gadis itu terkekeh. “Sekar mana pernah pacaran sih. Dia tuh pemalu banget. Tuh, kost depan sering banget cowok-cowok nanyain Sekar. Tapi Sekar nggak pernah mau nemuin mereka. Aku aja gemes sendiri lihatnya.”
“Wah… bagus kalau gitu. Nggak sia-sia kami mendidiknya selama ini.” Aku berdeham. Syukurlah informasi ini tidak mengecewakanku.
“Dia sibuk kerja, Mas. Katanya nggak mau pacaran dulu. Takut dosa.”
Eh…. yang terakhir itu sungguh tidak terduga.
Sekar menghindari pacaran karena takut dosa. Tapi kami…
Tuhan… biar aku saja yang menanggung dosanya. Sekar jangan!
“Iya…” aku duduk di salah satu kursi khusus tamu.
“Mas, saya masuk dulu, ya. Semoga Sekar nggak lama pulangnya.”
“Iya, Kak.”
Tidak sampai satu jam, pintu gerbang terbuka separuh. Suara motor terdengar memasuki komplek kost-kostan. Seorang wanita dengan helm pink terlihat sedang memarkirkan motornya. Aku mengamati orang itu, jika dilihat sekilas, dia memang mirip dengan Sekar.
“Udah lama?” tanyanya yang berhenti tepat di hadapanku. Sekar memakai helm dan masker. Hanya bagian matanya saja yang terlihat. “Udah…” jawabku setengah kebingungan.
“Masuk!” ucapnya ketus sambil membuka pintu.
Tahu dia sedang marah, aku hanya bisa membuntutinya dari belakang.
“Tutup pintunya!” Sekar kembali berkata ketus. Aku menurut, patuh. Tidak baik memang berdebat dengan perempuan yang sedang marah.
Setelah pintu tertutup, Sekar langsung melepas helm dan masker lalu mengambil handuk. Tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku lagi-lagi hanya bisa melongo. Sungguh menakutkan melihat dia marah.
Lima belas menit berlalu, Sekar keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai bathrobe. Handuk yang tadi dia ambil rupanya untuk membungkus kepalanya yang basah. Ia lalu membuka laci, mengambil lembaran uang aku yang tinggalkan kemarin malam. “Nih!”
“Hei,” Aku mencoba meraih tangannya dan langsung ditepis. “Jangan marah! Aku nggak bermaksud-”
“Kita nggak perlu ketemu lagi mulai sekarang!” Sekar bahkan enggan menatapku.
“Sekar, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu.”
“Terus maksudnya apa?”
“Aku cuma mau mastiin kamu makan dengan baik. Siapa tahu kamu bisa pakai uang ini untuk keperluan kamu.”
“Aku kerja! Aku punya uang sendiri!” Saat mengucapkannya, mata Sekar berkaca-kaca. Aku reflek menariknya dan membawanya ke dalam pelukanku.
“Hei… aku bersumpah tidak ada maksud apa-apa. Aku tidak bermaksud menghina atau yang yang lainnya.”
“Kalian selalu seperti itu.” Sekar berontak, mencoba lari dari pelukanku. Tapi aku terus menahannya kuat-kuat. “Kalian sama saja!”
Saat merasa usahanya sia-sia, Sekar tidak lagi melawan. Dia hanya menangis di pelukanku sambil terus mencekeram erat lenganku. Sekar membenamkan seluruh wajahnya di dadaku. Mungkin dia berharap dengan begitu tidak ada yang mendengar tangisannya.
Tiga minggu aku mengenalnya, ini kali pertama aku melihat dia menangis seperti ini. Seolah selama ini dia memang menanggung beban yang cukup berat sendirian dan beban itu kebetulan meledak saat dia sedang bersamaku. Dan saat aku membuat masalah.
Tangis Sekar berhenti setelah lebih dari tiga puluh menit. Aku segera mengangkat dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanganku meraih selimut tebal, menutup tubuhnya yang masih terbalut bathrobe.
“Maaf, ya.” Aku melepas jaket dan kaus kaki, melemparnya ke sembarang tempat. “Aku beneran nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu. Aku cuma khawatir kamu nggak makan dengan baik. Kamu sakit atau kamu kenapa-napa. Itu aja.”
“Nggak ada maksud lain?” tanyanya masih dengan mode waspada.
“Enggak. Nggak ada sama sekali.”
“Sungguh?”
“Aku bersumpah.” ucapku penuh percaya diri. “Capek banget ya…”
Sekar mengelap air matanya dengan punggung tangan. “Apanya?”
“Capek banget direndahkan laki-laki dengan uang yang tidak seberapa. Selama ini pasti banyak yang kayak gitu. Banyak yang tiba-tiba ngasih uang lalu berharap lebih dari kamu.”
Ia mengangguk. “Ya.”
“Itukah alasan kamu nggak pernah pacaran?”
Sekar mengangguk lalu. Saat menyadari gerakannya, dahinya terlipat. Menatapku penuh curiga. “Tahu dari mana?”
“Tetangga kostmu. Dia pikir aku saudaramu karena kamu tidak mungkin membawa laki-laki ke sini. Mereka bilang kamu nggak pernah pacaran.”
Bibirnya terkatup rapat. Sorot matanya menyiratkan ada banyak rasa bersalah di sana. Aku tahu maksudnya… Sekar mungkin ingin mengungkapkan tentang suaminya tetapi dia tidak punya cukup keberanian untuk itu. “Sudah makan?” tanyaku seraya melepas handuk di kepalanya.
“Belum.”
“Mau pesan makanan? Aku juga belum makan.”
Sekar menggeleng. “Tidak perlu. Lagipula ini sudah malam. Pulanglah! Aku tidak mau tetangga berpikir yang tidak-tidak.”
“Mau kubantu keringkan rambutmu?”
Sekar kembali menggeleng. Ia menyibak selimut lalu turun dari ranjang. “Aku akan ganti baju.”
“Haruskah aku keluar?”
“Mau pulang?” ia bertanya sambil membawa pakaian ke kamar mandi. “Jangan lupa bawa uangnya!”
“Kalau begitu, aku tunggu saja di sini.”
Sekilas kulihat Sekar mengulum senyuman.
Sambil menunggu, aku memesan makan malam untuk kami berdua. Sekar kembali lima menit kemudian, dengan rambut yang tersisir rapi.
“Bagaimana pekerjaan hari ini?” tanyaku saat kami duduk bersandar di ujung ranjang. “Lancar.”
“Seperti biasa.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku tidak fokus,” ucapku jujur. “Aku terus memikirkanmu. Bagaimana kalau kamu benar-benar marah dan tidak mau bertemu denganku?”
“Alay!” Sekar mencubit lenganku. “Terima kasih, ya.”
“Untuk apa?”
“Entahlah… hari ini kacau. Setelah bertemu denganmu, aku merasa lebih baik.”
“Sungguh?”
Sekar mengangguk. “Akhir-akhir ini, aku nyaris menyerah dengan hidupku. Saat kamu datang, entah mengapa rasanya aku belum boleh mengakhiri semuanya. Aku hampir kehilangan arah, ketakutan, sendirian, dan….” kata-katanya terhenti. Air mata kembali jatuh dari pelupuknya. “Sampai-sampai aku berpikir, apakah dulu aku benar-benar memilih dilahirkan karena kurasa hidupku sama sekali tidak ada artinya.”
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93