BAB-13. HARGA SEBUAH KEPERCAYAAN.
“Aku lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak. Lupa kapan terakhir kali menikmati makananku, dan bahkan sepertinya sebagian dari diriku sudah mati. Setiap hari, saat bangun di pagi hari, aku selalu menyalahkan diriku. Bertanya, apakah aku masih boleh hidup setelah apa yang kulakukan? Apakah sebaiknya aku mengakhiri semua ini secepat mungkin atau sampai kapan lagi aku harus bertahan?”
Aku merengkuh bahu Sekar, menepuk-nepuknya pelan sambil terus berusaha menenangkannya. Selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana perasaannya dan apa yang dia alami. Sekar tetap ceria di hadapan orang lain. Bahkan di saat terapuhnya, dia masih bisa merasa bersalah dengan hubungan kami.
“Kamu tahu apa yang lucu dari semua ini?” tanyanya sambil tersenyum kecil.
“Apa?” tanyaku sambil mengerutkan kening dalam-dalam. Benarkah ada yang lucu? Atau itu hanya caranya menghibur diri?
“Saat aku merasa sangat lelah, aku teringat dengan hutangku.” Sekar lalu tertawa, ia sempat menatapku sekilas lalu kembali bersandar pada tembok. “Aku tidak boleh mati sebelum membayar semuanya. Dan aku juga tidak boleh mati sebelum menyelesaikan semuanya. Maka dari itu, aku bekerja hingga larut setiap hari.”
Cerita itu berakhir dengan cepat. Aku tidak tahu bagaimana harus menghiburnya karena sejatinya aku juga tidak tahu bagaimana hidupnya selama ini. Hari ini adalah pertemuan keempat kami, jika di pertemuan sebelumnya kami sempat mengobrol, aku mungkin bisa mengenalnya lebih dalam.
“Nanti, kalau urusanku sudah selesai. Aku akan menjual motorku dan mengembalikan uangmu.”
“Kenapa dikembalikan? Kita sudah membahasnya sebelumnya, Sekar. Kita impas. Tidak ada hutang-piutang lagi di antara kita berdua.”
Sekar mengembuskan napas panjang. “Kalau kamu tidak sebaik ini, kalau itu bukan candaan maka kurasa aku bisa mengangapnya demikian. Aku akan berpikir kamu orang yang cukup licik, urusan kita selesai sampai di situ.”
“Jadi, kamu mau aku yang seperti apa? Aku harus terlihat jahat? Agar kamu melupakan semua itu?”
“Entahlah…” Sekar hanya bisa menatap sedih ke depan. “Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang? Kapan kamu pulang?”
“Hei, dengarkan aku!” Aku meraih meletakkan kedua tangan di bahunya dan menatap Sekar intens. “Apa pun masalahmu, bagaimana pun perasaanmu, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri semuanya. Aku memang tidak tahu apa yang kamu alami saat ini. Tapi aku yakin, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Orang bijak bilang, ini akan berlalu. Maka, tolong… sekali saja. Percaya pepatah itu. Jika di dunia ini tidak ada seorang pun yang kamu percayai, setidaknya kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Percaya bahwa kamu bisa melewati semua ini. Bahkan kamu harus hidup lebih lama hanya untuk mematahkan takdir konyol itu. Kamu harus melawannya, membuktikan pada Semesta ini kalau kamu tidak kalah.”
Tatapan kami beradu cukup lama. Sekar kembali menitikkan air mata. “Kenapa kamu baik padaku? Aku sudah memanfaatkanmu.”
“Kalau kamu butuh teman, kalau kamu butuh sesuatu, datanglah padaku. Aku akan selalu ada untukmu. Hidupmu berarti… bahkan jika tidak ada yang benar-benar menginginkanmu, anggap saja aku orang yang paling membutuhkanmu di dunia ini. Jika kamu pergi, aku lah orang pertama yang akan menyusulmu. Jika kamu pergi, aku lah orang yang paling terluka. Jadi, tolong… tolong jangan kemana-mana. Karena mulai sekarang, aku di sini membutuhkanmu.”
“Kita bahkan tidak saling mengenal. Bagaimana jika kelak aku menyakitimu?”
“Tidak masalah.” Aku mengusap air matanya. “Tidak masalah jika pada akhirnya kita harus berakhir dan menjadi orang asing. Tidak masalah jika pada akhirnya kamu menyakitiku, meninggalkanku, atau mengecewakanku. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin ada untukmu. Aku ingin menjadi orang yang paling membutuhkanmu. Agar kamu bisa bertahan hingga akhir. Itu saja…”
“Kenapa kita harus bertemu dalam situasi seperti ini? Ini sama sekali tidak adil untukmu.”
“Aku tidak membutuhkan keadilan. Jika itu berhubungan denganmu… takdir apa pun itu, aku sama sekali tidak peduli. Aku tidak akan menyalahkanmu jika suatu saat nanti kita tidak lagi bisa saling menyapa. Apa kamu mau bertahan sebentar lagi demi aku?”
Ujung bibir Sekar terangkat sedikit, membentuk senyum yang tidak terlalu lebar. “Aku harus bertahan… cicilanku masih delapan kali.”
Aku tertawa mendengarnya. “Itu juga boleh. Mau jalan-jalan besok?”
Raut kekecewaan terpancar jelas di mata Sekar. “Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Baiklah. Pulang jam berapa?”
“Semoga sebelum jam delapan malam.”
“Kalau begitu aku akan tiba di sini jam tujuh. Bolehkah?”
Sekar mendorong dadaku dengan sebelah tangan. “Kenapa? Kok kamu malah ke sini setiap hari? Kukira urusan kita sudah selesai.”
Aduh! Bagaimana ini? Aku tidak bisa lagi memakai alasan angsuran, kan?
“Urusan kita baru saja dimulai dua menit yang lalu. Karena sekarang kita berteman.”
“Ught!” Ia mengerucutkan bibir. “Hanya teman.”
“Iya.”
Sekar mengambil ponselnya. Ia memeriksa pekerjaan dan membalas pesan yang masuk. “Jangan sampai kita saling jatuh cinta.”
“Kenapa?” aku bertanya penasaran. Bersiap kalau-kalau dia membahas tentang suaminya. “Aku… jomblo btw…”
Ucapanku membuatnya tertawa renyah. “Aku nggak nanya tuh.” Ia menatap serius ke arahku. “Entahlah… aku tidak bisa memikirkan hal lain selain pekerjaan dan belajar. Lagipula, aku masih terlalu kecil untuk jatuh cinta.”
“Heh!” aku mengacak-acak rambutnya. “Anak SD aja udah banyak yang cinta-cintaan! Kamu udah nggak sekecil itu juga kali!”
“Iya… iya…”
Ponselku bergetar keras di dalam tas. Aku segera mengambil benda pipih itu lalu melihat siapa yang menghubungi. “Aku keluar bentar,” ucapku sembari turun dari ranjang.
“Mau pulang?”
“Nggak. Bentar aja.”
Setibanya di luar, aku segera melambai pada ojol yang membawa pesanan makananku. Dia segera melangkah masuk dengan senyum lebar.
“Maaf, Pak. Tadi agak macet.”
“Nggak papa, Pak. Santai aja.” Aku menyodokan satu bungkusan padanya. “Buat Bapak, ya. Jangan lupa dimakan.”
“Tapi tipsnya udah gede loh, Pak. Saya ga enak nerima ini.” Bapak ojol berusaha menolak dengan menyodorkannya padaku.
“Enakin aja, Pak. Selamat makan, ya.”
Pria paruh baya itu akhirnya menerima sambil tersenyum tulus. “Buat anak saya di rumah aja, Pak. Terima kasih ya…”
“Hati-hati di jalan, Pak.”
Aku bergegas masuk lagi ke kamar Sekar karena takut ada tetangga yang melihat. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak mau bertegur sama dengan mereka. Urusan dengan tetangga bisa jadi asngat panjang.
“Siapa?” tanya Sekar yang kini sudah duduk di kursi sambil membaca buku. “Aku harus belajar.”
“Ikut kursus online ya? Atau kursus lain.”
“Seperti itu.” sahutnya singkat. Sekar lalu kembali asyik dengan buku-buku di mejanya. Aku tidak terlalu memerhatikan karena harus membalas pesan Evron yang sejak tadi cerewet minta ditemani. Evron memang sedang galau, di saat seperti ini dia jadi mudah tantrum.
Setengah jam kemudian, Sekar mendongak. Ia melihatku masih asyik membuka bungkusan makanan. “Apa itu?” tanyanya sambil menutup buku dan memasukkan ke laci.
“Makan malam kita. Kebetulan aku belum makan.”
“Oh… Mau ditemani lagi?”
Aku meringis. “Boleh kan aku makan di sini?”
“Boleh kok.” ia lalu bergabung denganku di atas karpet. Tidak banyak tempat yang bisa kami pakai untuk makan. Tapi di atas karpet ini sudah lebih dari cukup.
Sekar bercerita tentang pekerjaannya sebagai host live di sebuah toko online. Dia tidak harus menunjukkan wajah, cukup menjelaskan produknya dan menjawab pertanyaan pembeli. “Tapi bulan depan kayaknya aku mau resign deh.”
“Loh, kenapa?” tanyaku penasaran. Piring kami hampir tandas. Nasi padang di perempatan jalan itu ternyata enak juga.
“Aku mau cari yang gajinya lebih gede.”
“Di situ ngggak terlalu gede ya?”
Sekar mengangguk. Isi piringnya tandas. Ia mengambil minum lalu menyingkirkan sampah bungkus makanan. “Berapa?”
“Apanya?”
“Nasi padangnya. Juga camilan ini.” ia menunjuk bungkusan yang belum terbuka. “Juga yang kemarin.”
“Bayar kapan-kapan aja kalau pas gajian.” Aku menjadi kikuk sendiri. Sebelumnya aku tidak pernah menagih uang makan dari teman atau pasanganku. Baru kali ini ada yang inisiatif bertanya. “Nanti aku kirim rinciannya.”
“Ngutang lagi dong jadinya…”
“Yaudah, gratis aja.”
Sekar menggeleng sambil menguap lebar. Ia lalu naik ke kasur, menyandarkan kepala di tembok, mencari posisi ternyaman. “Jangan. Nanti uang kamu habis. Jangan lupa nabung buat masa depan.”
“Ya…” ucapku sembari berjalan menuju kamar mandi. Aku mencuci tangan karena terkena cipratan minyak saat makan. Saat kembali ke kamar, kulihat Sekar sudah terlelap dengan posisi duduk.
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93