BAB-14. MEMELUK KENANGAN.
Gue: Vron, malam ini gue nggak balik ke kantor.
Evron: Kenapa, Bang?
Gue: Nggak papa. Suruh satpam standby di pos. Kalo lo mau pergi, kamar gue kunciin.
Evron. Pulang ke rumah?
Gue: Kaga.
Evron: ke rumah Si cantik maksudnya. Ciye…..
Chat terakhir Evron tidak kubalas. Jika diteruskan, dia akan semakin mengejekku. Tatapanku beralih pada Sekar yang masih tidur dalam posisi duduk. Aku sengaja membiarkannya begitu karena dia baru saja makan. Tidak baik langsung berbaring setelah makan.
Aku beringsut naik ke ranjang dan duduk di sisi Sekar. Kuletakkan kepalanya di bahuku agar dia nyaman. Sudah kuputuskan kalau malam ini aku akan menginap di sini. Jika besok Sekar marah, aku tidak peduli. Itu bisa dipikirkan nanti-nanti. Yang paling penting saat ini aku bisa terus di sisinya. Percakapan tadi terus berputar di kepalaku. Aku takut dia benar-benar nekat mengakhiri semuanya. Sampai kapan pun takkan kubiarkan itu terjadi.
Setengah jam kemudian, aku membaringkan Sekar di ranjang dan ikut tidur di sebelahnya. Tangaku melingkar di perut Sekar, memeluknya erat seolah ini akan menjadi momen terakhir kami. Padahal ini baru keempat kalinya kami bertemu, tapi entah mengapa aku selalu membayangkan tentang perpisahan.
Tak sampai sepuluh menit, akhirnya aku terlelap. Dan sebelum aku benar-benar tidur, aku sungguh-sungguh berdoa semoga malam ini tidak ada yang menggrebek kami.
Paginya aku bangun lebih dulu. Semalaman aku berkali-kali bangun karena takut ada yang tiba-tiba mendatangi kamar ini dan menggrebek kami. Sementara Sekar, astaga dia tidur seperti orang mati. Sepanjang malam dia sama sekali tidak bangun. Jujur saja, melihat hal itu aku jadi meragukan ceritanya yang katanya tidak bisa tidur nyenyak.
Tapi di sisi lain, aku cukup percaya diri untuk mengatakan kalau nyenyaknya tidur Sekar adalah berkat pelukan hangatku.
“Hmmm….” Sekar menggeliat saat aku masih memeluk tubuhnya. “Belum pulang juga?”
Eh? Dia tahu aku semalaman tidur dengannya?
“Kamu tahu aku siapa?”
“Rama. Siapa lagi?”
“Kok nggak kaget?” Aku melepaskan diri darinya tetapi langsung ditarik lagi oleh Sekar. “Kenapa?”
“Hangat.” Jawab Sekar polos. “Kenapa nggak pulang? Malah tidur di sini?”
Karena dia yang menarikku, sekalian saja kupeluk erat-erat tubuhnya. “Nggak papa. Aku khawatir ninggalin kamu sendiri di sini.”
“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, Ram.” Sekar membuka matanya perlahan. Ia mendorongku agar menjauh darinya. “Karena kamu masih di sini, jangan pulang sekalian sebelum jam sembulan.”
“Loh, kenapa?” Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Masih pukul 07.00 WIB. “Aku harus ke kantor.”
Sekar menguap lebar. Aku segera menutup mulutnya dengan tangan. “Kost akan ramai sampai jam setengah sembilan. Jadi tetaplah di sini untuk mengindari pertanyaan netizen.”
Kantor? Ah… itu hanya alasan. Ke sana atau tidak, bukan masalah besar. Kantor itu milik keluarga Dante, bahkan tanpa perlu bekerja di sana pun, Dante maupun Evron akan tetap memberiku uang tanpa banyak bertanya. Mereka adalah saudara yang sangat royal padaku.
“Bagaimana pekerjaanku?”
“Ya mana aku tahu. Aku nggak nyuruh kamu nginep. Ngapain juga kamu nginep di sini. Kurang kerjaan amat.” Sekar menguap untuk kedua kalinya. Ia meregangkan kedua tangannya ke atas seolah baru saja menyelesaikan lari marathon.
Rambut Sekar berantakan, tapi entah mengapa aku justu menyukainya. Dia yang selalu polos dan apa adanya di depanku justru membuatku tertarik lebih dalam. Sering kali aku bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya kenapa aku kemari? Kenapa aku selalu ingin bersamanya? Dan kenapa aku tidak mengakhiri hubungan ini sejak lama? Sebaliknya, aku justru memilih melangkah semakin dalam padahal aku tahu betul ini sama sekali tidak benar.
Apakah aku mulai tertarik padanya?
“Ram…” Sekar berbalik ke arahku. Tatapan kami saling bertabrakan, membuat jantungku kembali berulah. “Jangan nginep di sini lagi.”
“Kenapa”? tanyaku sambil terus memandangi wajahnya. “Kamu takut ada yang cemburu?”
Ujung bibir Sekar terangkat, membentuk senyum simpul yang cukup untuk merontokkan hatiku. “Tidak. Eh… pacar kamu mungkin. Atau istri…”
“Aku jomblo…” sahutku buru-buru. Ingin sekali aku bertanya tentang suaminya. Tapi lagi-lagi lidahku terasa kelu.
“Aku takut…” Sekar menjeda ucapannya. Ia memiringkan kepala, melihat dengan seksama wajahku. “Aku takut terlalu nyaman bersamamu. Selama ini aku sudah cukup ketakutan karena tiba-tiba kehadiranmu memberiku rasa yang tidak biasa. Yang belum pernah kurasakan sebelumnya.”
“Kalau aku menghilang sekarang, apa yang akan kamu lakukan?”
“Memeluk kenangan tentangmu.”
“Apa itu? Kenangan macam apa?”
“Apa saja. Kecuali pertemuan pertama kita mungkin.”
“Kenapa harus dipeluk? Bukannya seharusnya dilupakan ya?”
Sekar kembali tersenyum. Manis sekali sampai rasanya aku tenggelam dalam lautan gula. “Tidak semua kenangan harus dilupakan, Ram. Beberapa justru harus dipeluk kuat-kuat agar kita lebih mudah melupakannya. Kadang, otak kita justru menyimpan rapat-rapat apa-apa saja yang ingin kita lupakan. Sebaliknya, hal-hal yang tidak ingin kita lupakan justru akan menghilang begitu saja dari ingatan kita. Sesederhana itu.”
“Jadi, kalau kamu berniat memeluk semua kenangan baik dan melupakan pertemuan pertama kita, itu justru akan jadi berita buruk buat kamu.”
Sekar tahu maksudku. Dia tidak bermaksud menyela.
“Itu artinya kamu akan terus mengingatku lewat kenangan yang ingin sekali kamu hapus dari ingatanmu. Benar kan?”
Ia mengangguk. Lucu sekali melihat wajahnya yang polos itu berkata bijak. Benar… Sekar masih terlalu kecil. Dia bahkan tidak tahu bagaimana cara mencintai atau melupakan. Tapi anak kecil ini… menjatuhkanku. Telak!
“Jadi sekarang bagaimana?” aku bertanya seraya memperbaiki rambutnya yang menutupi sebelah matanya. “Kamu mau aku menghilang sekarang? Atau kamu lebih takut kalau aku terus di sini dan membuatmu nyaman? Aku belum tentu pergi setelah kamu nyaman denganku.”
Lengang sejenak. Sekar hanya menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti. Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa rasanya sulit sekali memahami gadis ini?
“Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan menyuruhmu tetap tinggal. Tidak peduli bagaimana akhirnya, aku akan akan tetap menyuruhmu untuk di sini. Akan kuhadapi rasa takut itu nanti. Selama kita pernah melaluinya bersama, senang dan sedih, tawa dan canda, itu cukup untukku. Kalau pada akhirnya kita berpisah, setidaknya kelak aku tidak menyesal karena telah melewatkanmu.”
“Duh!” Sekar justru menyentil jidatku keras. “Kenapa jadi melow sekali?”
“Apanya?” aku menatapnya cemberut.
“Suasananya.”
“Kamu yang mulai.” Aku mengubah posisi, berbaring menatap langit-langit. Diikuti Sekar. “Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“Aku belum tahu.” Jawab Sekar jujur.
“Kalau kamu berniat memeluk erat tentangku,” tiba-tiba ide itu terlintas begitu saja. “Maka aku akan meninggalkan sebuah kenangan yang bisa kamu peluk kalau seandainya nanti kita berpisah.”
“Oh, ya? Apa itu?” tanyanya dengan suara polos. Lagi.
Aku mengambil napas panjang lalu beringsut mendekati Sekar. Kutatap wajahnya yang penuh dengan tanda tanya dan rasa penasaran itu. Tepat saat Sekar ingin melempar pertanyaan, aku membungkam mulutnya dengan bibirku.
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93