BAB-17. TANPA JEJAK.
“Namanya Sahila…” Evron berbicara pelan. “Dia tinggal di sini hampir empat bulan.”
Akhirnya teka-teki itu terjawab sudah. Selama empat bulan ini, Sahila tidak lagi ke kampus. Dia mendadak menghilang begitu saja, bagai ditelan bumi. Sahila tidak pernah ditelan bumi, atau belum. Dia hanya bersembunyi di tempat ini. Dan selama ini Evron tidak tahu akan hal itu.
“Apa yang terjadi?” aku bertanya sambil terus memandangi gadis itu. Empat bulan bukanlah waktu yang singkat. Dia pasti sudah berjuang keras di dalam sana. “Bagaimana kamu menemukannya?”
“Kecelakaan, Bang.” Kembali menegakkan punggung, Evron menghapus air matanya. “Aku memaksa temannya mengatakan di mana keberadaannya. Dia lalu membawaku kemari. Temannya bilang Sahila melarang siapa pun memberitahu keadannya. Termasuk aku.”
Aku bisa membayangkan betapa hancurnya Evron setelah mengetahui kejadian ini. Selama ini Evron ragu-ragu mengungkapkan perasaanya. Siapa sangka, mereka justru berakhir seperti ini.
“Mobil itu seharusnya menghantam temannya. Tapi Sahila justru mengorbankan diri demi bisa menyelamatkan sahabatnya itu. Dan di sini lah dia sekarang.” Evron mengambil napas panjang lalu mengembuskannya. “Awalnya aku menyalahkannya dia, tapi setelah mendengar keseluruhan ceritanya, sekarang aku justru kasihan pada mereka berdua. Persahabatan mereka tidak perlu diragukan lagi.”
Evron lalu berbalik setelah melambaikan tangan pada Sahila. “Ayo, Bang. Kita tidak boleh lama-lama di sini. Besok aku akan ke sini lagi saat jam besuk.”
“Apa kata dokter?”
“Entahlah. Aku tidak pernah mau mendengarnya. Melihatnya seperti itu sudah cukup membuatku hancur.”
Aku mungkin tidak pernah benar-benar memahami bagaimana perasaan Evron. Tapi sebagai orang yang pernah berada di bidang ini, aku tahu betul kalau Sahila mungkin tidak akan pernah membuka matanya lagi.
Kami kembali ke basement. Saat hendak masuk ke mobil, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. “Ram…” aku menoleh, mendapati James berdiri dengan jas dokternya.
“Hei, James!” aku batal masuk. “Vron, bentar ya. Ada temen gue.”
Evron mengangguk, membiarkanku bertegur sapa dengan James.
“Apa kabar, Bro! Astaga, gue kira lo ke luar negeri. Kerja di mana sekarang? Atau lanjut ke mana?”
Aku menggeleng. “Nggak kerja, James. Gue di rumah aja sih.”
“Ih, sayang banget. Padahal lo paling pinter.”
“Ehehehe…” aku hanya meringis mendengar pujian. Aku memandangi James yang gagah dengan baju dinasnya.
“Residen tahun pertama.” James berkata sebelum aku sempat bertanya. “Gue kayaknya mau nyerah aja, Ram. Capek ternyata…”
“Jangan, James. Kelak lo bakal berterima kasih pada diri sendiri kalau udah berhasil melewati fase ini. Cuma empat tahun, kok. Tenang…”
“Gimana kalau gue nggak berhasil selesai tepat waktu?”
“Nggak semua hal baik harus selesai tepat waktu. Kadang harus lebih lama biar hasilnya maksimal. Jangan gampang nyerah, James. Lihat tuh si Dante, semangatnya membara.”
Kami tertawa saat membicarakan Dante. Soal urusan menjadi dokter, Dante bisa dibilang paling ambisius.
“James,” aku teringat dengan Sahila. “Tahu nggak pasien atas nama Sahila. Dia di ICU.”
“Tahu lah…” jawab James cepat. Dia bahkan tidak perlu susah payah mengingat tentang Sahila ini. “Dia di sini udah hampir empat bulan, Ram.”
“Gimana kondisinya?”
“Buruk. Kayaknya nggak bakal bertahan deh. Gue jujur kasihan sama pasien ini. Tapi walinya masih mau mempertahankan pasien ini.” James mendesah pelan. “Mereka masih sangat muda. Pasti berat bagi mereka berdua melalui semua ini. Lo kenal sama pasien ini?”
Aku menggeleng. Lalu menunjuk Evron yang berada di mobil dengan daguku. “Dia adik Dante. Evron yang kenal sama pasien ini.”
“Oh…”James mangut-mangut. “Wajar kalau mereka saling kenal. Mereka satu kampus.”
“Iya.” Aku juga menebak demikian. Sahila dan Evron pasti bertemu di kampus dan jatuh cinta setelah beberapa kali pertemuan. Itu wajar terjadi di kalangan mahasiswa. “J-”
“Sejujurnya gue lebih kasihan lagi sama wali pasien ini, Ram.”
Aku yang awalnya hendak pamit urung karena James justru melanjutkan percakapan. “Sahila anak yatim piatu. Ibunya meninggal seminggu sebelum dia kecelakaan. Menurut cerita, dia berusaha menyelamatkan temannya yang sekarang jadi walinya. Mereka dari kampus yang sama, tinggal bersama karena keduanya yatim piatu. Sejak Sahila jadi pasien di sini, sahabatnya selalu datang ke sini setiap hari. Sahabatnya ini juga yang kekeuh mempertahankan Sahila di ICU meskipun kami para dokter sudah bilang kalau harapan hidupnya tipis. Sepertinya dia merasa sangat bersalah karena membuat Sahila berakhir seperti ini. Selain itu, biaya pengobatan juga tidak murah. Kita berdua tahu itu. Dia harus bekerja dan kuliah demi bisa membayar pengobatan Sahila.”
Cerita itu sungguh mengharukan. Aku bisa membayangkan betapa beratnya beban mental yang harus ditanggung sahabat Sahila ini. Selain rasa bersalah yang besar, dia masih harus bekerja dan kuliah di saat yang bersamaan.
“Menurut lo baiknya gimana, James? Gue mungkin bisa bantu…”
“Bilang aja ke adik Dante untuk menasehati wali Sahila ini. Siapa tahu dengan begitu dia mau melepaskan Sahila. Dia juga harus melanjutkan hidup. Dia masih sangat muda, Ram. Dua puluh tahun, baru memasuki semester empat di kampus kita dulu.”
Usianya kembali mengingatkanku pada Sekar.
“Gue akan coba ngomong sama Evron. Kalau sesuatu terjadi pada Sahila, tolong hubungi gue, James.”
“Oke.” James bangkit dari duduknya. “Gue masuk dulu, ya. Kerjaan gue belum kelar.”
“Oke.” Kami berjabat tangan singkat lalu berpisah sesaat kemudian. Aku kembali ke mobil, Evron sibuk dengan ponselnya. “Ayo, Vron. Kita pulang sekarang.
“Temen kuliah, Bang?” tanya Evron sambil menyalakan mesin mobil. “Gue mau tidur habis ini.”
“Iya. Temen.” jawabku singkat.
Mobil melaju keluar dari lingkungan rumah sakit. Aku memeriksa ponsel yang sejak tadi bergetar. Sekar sudah membalas pesanku. Syukurlah. Dia sampai di kost dengan selamat dan makan dengan baik lalu pamit untuk tidur. Sekar mengirim foto makanan dan fotonya sendiri yang baru saja mandi serta bersiap tidur. Foto itu berhasil membuatku meneguk saliva. Selama aku menginap di sana, dia tidak pernah sekali pun memakai baju seperti itu. Hari ini, saat aku tidak datang, Sekar justru memakai lingerie hitam yang…. menggoda.
Keesokan harinya Evron berangkat ke kampus dari kantor. Dia memintaku untuk menemaninya lagi ke rumah sakit. Aku menyanggupi karena tidak tega melihat raut mukanya yang selalu khawatir dan sedih. Bocah itu sedang tidak dalam kondisi mental yang baik, aku berpikir tidak ada salahnya memenaninya sementara ini.
Bisa datang malam ini?
Aku membaca pesan yang dikirim oleh Sekar. Sebenarnya aku bisa saja datang tapi aku sudah janji pada Evron.
Maaf, aku tidak bisa.
Oke.
Kamu marah? Maaf ya…
Tidak. Selesaikan dulu urusanmu.
Kalau semuanya sudah selesai, aku janji akan langsung ke sana. Mungkin lusa.
Oke.
Aku akan mengirim makanan nanti malam.
Ya.
Malam itu aku tetap mengirim makanan untuk Sekar. Saat dalam perjalanan ke rumah sakit aku menghubunginya. Teleponku tidak diangkat, dia juga tidak membalas pesanku.
Hari itu menjadi hari terakhir Sekar membalas pesanku.
guys, versi AU dan visual bisa langsung ke IG @littleeva93ya