BAB-18. GADIS DI BAWAH RINTIK HUJAN.
“Kak, beneran nggak ada kontak Sekar?” aku kembali bertanya pada perempuan yang dulu sempat bertukar sapa denganku saat aku kemari.
“Nggak ada, Mas. Saya pikir Mas saudaranya. Ternyata bukan, ya?” gadis itu melepas sepatu di depan kamarnya. “Udah seminggu, Mas. Saran saya nyerah aja. Penghuni kost ini juga nggak nyaman ngelihat Mas setiap hari ke sini nyariin Sekar.” ia menatapku prihatin.
Benar. Sudah seminggu lamanya Sekar pergi dari kost ini. Kejadiannya tepat saat dia memintaku untuk datang. Kurasa saat itu Sekar ingin berpamitan atau sesuatu mungkin terjadi padanya. Nomornya tiba-tiba tidak aktif dan motornya sudah dijual kepada penghuni kost yang lain dengan harga rendah.
Aku sebenarnya bisa saja membeli motor itu tapi apa gunanya? Hal itu tidak membuatku bertemu dengannya lagi. Aku marah, lelah, dan frustasi dengan keadaan ini. Setiap hari, aku tidak berhenti menyalahkan diriku karena malam itu aku tidak datang. Andai sekali saja aku mendengar kata hatiku, mungkin saat ini kami masih bersama. Pikiranku semakin kusut setiap harinya.
Ada hari di mana aku berpikir mungkin Sekar memang sengaja mendekatiku dengan wajah polosnya itu demi memanfaatkanku. Dengan wajah cantiknya itu, dia bisa melakukan apa pun. Lagipula statusnya jelas; bersuami. Jadi apa yang salah dengan semua ini? Sejak awal hubungan ini memang dibangun atas dasar transaksional. Dua orang yang saling menguntungkan. Seharusnya aku lebih tahu akan hal itu.
Namun terkadang pikiran buruk itu menguap begitu saja dan aku kembali khawatir dengan keadaannya. Bagaimana dia? Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa dia tiba-tiba menjual motornya? Di mana dia sekarang? Apa dia makan dengan baik? Apa dia tinggal di tempat yang nyaman? Pertanyaan itu berkumpul di kepalau jadi satu. Berjejalan di dalam bak ribuan kupu-kupu yang terperangkap di dalam sana.
“Bang,” Evron menepuk bahuku. Aku menoleh sekilas lalu kembali memandangi jalanan di bawah. Sore itu langit tidak terlalu cerah, sama seperti suasana hatiku saat ini. Buruk.
“Malam ini bisa temani aku ke sana?” Evron lebih buruk lagi keadaanya. Gadis yang dia cintai memburuk kondisinya. Seminggu lalu dia kritis dan saat itu Evron sedang berada di kampus. Tidak banyak yang bisa dia lakukan selain menangis. Kantong matanya semakin hari semakin besar. Bahkan lingkaran hitam di matanya membuktikan kalau dia memang dalam kondisi terburuknya.
“Vron…” lepaskan dia. Dia mungkin juga lelah berada di ICU dengan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya. Dokter sudah berusaha sebaik mungkin agar dia selamat. Tapi, takdir kali ini memang sedang tidak berpihak padanya. Bilang pada temanmu, sudah saatnya dia pergi. Sudah saatnya kalian melanjutkan hidup. “Sabar, ya…” alih-alih mengatakannya, justru dua kata itu saja yang keluar dari mulutku.
Andai Sekar ada di posisi itu, kurasa aku akan lebih gila lagi dari Evron.
Tapi tidak! Sekar tidak boleh berada di posisi itu. Aku yakin dia baik-baik saja saat ini.
Sejujurnya aku ingin sekali mengatakan pada Evron tentang Sekar. Aku juga ingin berbagi cerita dengannya. Bilang kalau gadis itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Tapi melihat wajahnya yang kusut itu, aku jadi tidak tega. Aku memilih untuk memendam semuanya sendiri. Saat Evron bertanya tentang Sekar, aku hanya bisa bilang kalau dia baik-baik saja.
“Dia akan baik-baik saja, Vron.” Aku terus meyakinkannya saat kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. James baru saja menghubungiku, bilang kalau kondisi Sahila memburuk. Wali Sahila tidak bisa dihubungi, ponselnya mati dan pihak rumah sakit tidak punya kontak darurat lain. Meski begitu setiap hari gadis itu selalu datang untuk melihat keadaan Sahila. “Apa sahabat Sahila sudah tahu kondisinya?”
Evron menggeleng. “Aku juga tidak bisa menghubunginya seminggu ini. Saat kami bertemu kemarin di kampus, dia bilang ponselnya hilang dan dia belum membeli lagi.”
Aku mengembuskan napas panjang. Kenapa di saat seperti ini ada saja kejadian yang memperumit suasana?
“Sejujurnya aku takut kalau Sahila kenapa-napa dan dia masih belum bisa dihubungi. Dia pasti akan sangat terpukul, Bang. Kesedihanku, dukaku, masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan miliknya.”
Evron benar, aku setuju soal itu. Di antara ribuan orang yang mungkin kehilangan Sahila, sahabatnya itu lah yang paling tersaiki. Sementara duka Evron, dia masih punya orang lain untuk menghiburnya. Gadis ini sendirian, kehilangan orang yang telah mengorbannya nyawa demi dirinya tentu tidak mudah.
Tiba di rumah sakit, aku membiarkan Evron berlama-lama melihat Sahila. Waktu mereka bersama di dunia ini kurasa tidak banyak lagi. Ini adalah momen yang pas untuk berpamitan dan saling melepaskan. Evron harus tahu, bahwa dunia memang kadang sekejam itu. Tidak peduli betapa besar cinta kita pada seseorang, jika Tuhan sudah berkata ‘pisah’, maka sebagai manusia kita tidak bisa mengelak dari takdir itu.
“Katanya Evron hanya bisa menemuo sahabat Sahila di kampus. Itu pun jarang sekali mereka bertemu karena dia selalu buru-buru.”
“Dia pasti bekerja mati-matian demi Sahila.” James menyodorkan kopi hangat padaku. Di bawah langit mendung malam ini, James menceritakan betapa besar pengorbanan Sahabat sahila selama ini. Dia bahkan hampir berhenti kuliah demi bisa merawat Sahila dengan baik. “James…” pertanyaan itu terhenti di ujung lidahku.
“Tidak lama lagi, Ram.” James yang mengerti maksudku langsung menjawabnya. “Tidak ada keajaiban yang bisa menyelamatkannya.” James meneguk kopinya hingga tandas. “Aku akan mengabarimu saat Sahila pergi.”
“Terima kasih, James.”
James menepuk bahuku pelan. “Hibur adik Dante dengan baik saat itu terjadi. Aku akan menghibur sahabatnya kalau ada kesempatan. Ngomong-ngomong,” bibir James melengkung ke atas. “Dia cantik loh. Banyak dokter mencoba menarik perhatiannya. Sayangnya semua gagal.” ia lalu tertawa di ujung kalimat.
“Kalian pasti gila kalau mendekatinya di situasi seperti ini.” Aku ikut tersenyum. Gadis ini sebenarnya juga membuatku penasaran. Seberapa kuat dia sampai bisa bertahan sejauh ini?
Malam itu, aku melihat satu bintang yang tiba-tiba muncul di balik awan kelabu. Tidak terlalu terang tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa di antara gelapnya malam, masih ada sesuatu yang bersinar selain dari cahaya lampu dan sejenisnya.
Dua hari kemudian, lewat telepon, Evron menghubungiku. Dugaanku benar, Sahila pergi malam itu. Pukul 01.00 dini hari. Saat hampir semua manusia telah terlelap, Sahila memilih memejamkan mata untuk selamanya. Evron sudah dua hari tidak pulang ke kantor, dia memilih untuk tinggal di rumah sakit karena perasaanya tidak enak. Selama itu, aku tidak menemaninya karena banyak pekerjaan yang terbengkalai dan harus segera diselesaikan.
Di bawah hujan yang entah sejak kapan turun begitu derasnya, aku bangkit dari kasur. Meski rasanya tubuh ini lelah dan kantuk terus menggelayut manja, aku tetap mengambil ponsel, mekakai jaketku, dan menyalakan mesin mobil. Menuju rumah sakit.
Tidak ada hambatan dalam perjalanan itu meski hujan semakin deras mengguyur kota. Sebuah mobil berhenti di sisi jalan, membuatku harus mengurangi kecepatan. Aku melihat dua sosok manusia yang tengah berdiri di bawah derasnya hujan. Mereka saling bicara seolah hujan bukanlah penghalang untuk saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Tak lama, Si laki-laki terduduk, menangis pilu, berlutut di hadapan si perempuan. Perempuan itu ikut berlutut, memeluknya erat. Ikut menangis.
Pemandangan itu sungguh mengharukan. Entah sebesar apa cinta mereka sampai harus hujan-hujanan di jam dua dini hari. Yang pasti…
Mataku memicing saat melihat sosok itu.
Tidak salah lagi, wanita yang tengah memeluk laki-laki di bawah hujan deras itu adalah wanita yang selama ini kucari.
guys, untuk visual dan versi AU bisa langsung ke ig @littleeva93 ya
terima kasih