BAB-20. CEMBURU.
“Mau pergi kemana kamu?” Aku meraih pergelangan tangan Sekar sebelum dia benar-benar pergi lagi.
Siang ini, aku memutuskan bertemu dengan James di dekat kampus kami dulu. Ada hal yang harus diurus oleh James di kampus dan karena aku sedang tidak ada rencana, aku menyanggupi. Kami berjanji bertemu di cafe pukul sebelas tetapi James tiba-tiba membatalkan pertemuan karena ada pasien yang kritis. Sekarang, di sini lah aku sekarang. Duduk di cafe sendirian sambil memandangi anak-anak muda yang sedang berkencan. Sungguh sial nasibku.
Kurang dari lima menit, seorang pelayan datang menghampiriku. Suara yang cukup familiar itu menyapaku lebih dulu, membuat bulu kuduknya meremang. Bak adegan di film horor, jantungku berpacu menggila. Mata itu, masih sama seperti saat terakhir aku melihatnya. Dan suaranya…. astaga. Tidak ada yang berubah. Aku menyukainya, bahkan setelah dia pergi meninggalkanku begitu saja.
“Ma-” Sekar menarik tangannya. Membuatku semakin kencang menggenggamnya. “Maaf, aku harus bekerja.”
“Oh, jadi ini tempat kerjamu yang baru?” Aku menatapnya dingin. “Ada yang harus kita bicarakan!” ucapku ketus. Seharusnya aku memeluknya karena kerinduanku padanya yang sangat besar itu. Tapi alih-alih mengucapkan rindu, aku justru ingin memarahinya. Aku ingin dia tahu betapa lelahnya dan khawatirnya aku selama ini.
“Aku harus bekerja.” katanya lagi dengan suara parau. “Tolong lepaskan!”
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita bicara! Mau bicara baik-baik atau kubuat kamu dipecat dari tempat ini?”
“Rama…” Sekar memohon lewat tatapan matanya. Dia hampir bisa membuatku luluh.
“Tidak. Kalau kamu tidak mau bicara denganku sekarang,” aku melihat sekeliling. Siang ini tidak banyak pengunjung di cafe. Beberapa orang sudah meninggalkan meja mereka. “Aku akan bilang pada teman-teman kerjamu di sini kalau kamu sudah menipuku. Kamu membawa kabur uangku dan menghilang begitu saja. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan mengadu pada atasanmu? Membuatmu dipecat dari sini atau…”
“Tolong jangan lakukan itu.” Ia kembali memohon. “Aku butuh pekerjaan ini.”
“Maka dari itu,” Aku mengeratkan cengkeramanku. “Bicara padaku! Aku butuh penjelasan! Bicara atau dipecat. Kamu hanya punya dua pilihan itu.”
Sekar menelan ludah. Dari tatapan matanya aku bisa melihat keputusasaan dan kesedihan yang mendalam. Aku ingin tahu, seberapa besar rasa sakit itu hingga tidak ada lagi semangat di matanya.
“Baiklah. Kita bicara di luar,” Sekar meletakkan buku menu di meja. “Ijinkan aku bicara dengan teman-temanku dulu. Aku akan meminta waktu pada mereka.”
“Kalau kamu tidak menemuiku dalam lima menit,” kutatap dingin pekerja yang berdiri tak jauh dari kami. “kupastikan besok kamu tidak lagi bisa bekerja di sini.”
Sekar hanya mengangguk, pasrah dengan ancamaku.
Lima menit kemudian dia benar-benar kembali ke mejaku. Aku meraih tangannya, menyeretnya keluar dari cafe menuju area outdoor dari cafe itu. Sekar berkali-kali melepaskan diri cengkeraman tanganku tapi semakin dia mencoba kabur, semakin erat pula aku menahannya.
“Ram… lepaskan!”
“Kenapa? Kenapa aku harus melepaskanmu!” aku membentaknya dengan nada tinggi. Kemarahanku memuncak, teringat dia berpelukan dengan laki-laki lain di bawah hujan deras. “Kamu takut ada yang melihat kita, hah? Takut menyakiti hari orang lain? Sialan!” Aku hampir melempar tubuh mungil Sekar ke tanah. Pemandangan itu makin hari makin menyakiti perasaanku. Sekarang kenangan itu bahkan berani muncul di mimpi-mimpiku.
Belum genap kuungkapkan kekecewaanku padanya. Tiba-tiba dari belakang muncul sosok laki-laki yang mengiterupsi pertemuan kami.
“Sekar!” sosok itu meraih tangan Sekar, merebutnya dariku. “Kamu nggak papa?” Dia meletakkan kedua tangan di bahu Sekar, memeriksa apakah Sekar baik-baik saja atau tidak. “Siapa pria ini?” tanyanya dengan nada khawatir,
Siapa? Siapa katanya?
Entah mengapa sosok ini justru mengingatkanku pada laki-laki yang dipeluknya waktu itu. Posturnya yang tinggi, tubuhnya yang atletis, dan potongan rambutnya. Semuanya mirip. Mungkinkah dia orang yang sama? Mungkinkah karena laki-laki ini Sekar meninggalkanku.
Dikuasai oleh kemarahan, aku meriah kerah baju pria itu dan langsung meninju wajahnya, membuatnya oleng ke belakang. Tak sampai di sana, aku kembali melayangkan tinju yang telak menghantam perutnya. Pria itu tersungkur ke tanah, memegangi perut dan wajahnya yang terluka.
Melihat hal itu, Sekar langsung menghampirinya. “Kamu baik-baik saja?” ia bertanya sambil memeriksa wajah laki-laki yang kini dipegangnya erat.
“Apa yang kamu lakukan?” Sekar bangkit dan berteriak marah padaku. Belum sempat aku membalas ucapannya, seseorang lebih dulu menendang punggungku. Kini giliran aku yang tersungkur ke tanah. Poin kami 1-1. Baiklah, aku akan mulai serius sekarang.
“Sudah! Sudah!” Kini giliran Sekar yang mencegah pria itu menyerangku. Aku bangkit dan melayangkan tinju ke wajah laki-laki yang masih sibuk memandang wajah Sekar itu. Dia sama sekalin tidak menduga dengan serangan balasanku. Kembali tersungkur dengan wajah menempel pada rumput taman.
Aku memakai kesempatan itu untuk menduduki tubuhnya. Tinjuku melayang di udara. Kapan pun dia berbalik menatapku, aku kupastikan wajahnya remuk karena hantaman tinjuku.
Dan tepat saat dia berbalik, gerakan tanganku terhenti. Pukulanku hanya menghantam udara kosong.
Anak ini…
Berbeda dengannya, dia justru membalas tinjuku bertubi-tubi. Membuat wajahku seketika babak belur karena tinjunya. Satu… pipi kanan… dua… pipi kiri… dan tiga, tinjunya telak mengenai ujung bibirku. Demi menyelamatkan harga diriku, aku berteriak keras memanggil namamya. “Evron! b******n! Apa yang kau lakukan, Bocah!”
Evron berhenti, untunglah dia mendengarku di saat-saat terakhir. Kami sibuk melempar serangan sampai lupa memperhatikan siapa lawan kami. Aku yang memakai topi dan jaket kulit serta Evron yang menutup wajahnya dengan masker membuat kami tidak saling mengenal satu sama lain.
“Bang?” Evron yang masih duduk di atas perutku ragu-ragu menjawab. “Bang Rama?”
“Sialan! Menyingkir dari tubuhku, Bocah!”
Evron turun dari perutku dan berbaring di sisiku. Aku meludah, membuang darah yang entah sejak kapan memenuhi mulutku.
“Aku akan membuat perhitungan padamu!”
Bukannya takut, Evron justru terkekeh. “Aku tidak sengaja melakukannya. Kukira Bang Rama orang jahat yang mau menyakiti Sek-” Evron bangkit dan duduk di atas tanah. “Sekar.”
“Kamu baik-baik saja?” Sekar berjongkok di sisi Evron. “Aku minta maaf,”
Aku ikut duduk dan melihat interaksi manis di antara mereka berdua. Dadaku memanas, seolah ada seseorang yang sengaja meletakkan bola matahari di dalamnya. Sekar melirik sekilas padaku dengan tatapan tajam.
“Aku baik-baik saja. Aku masih bisa mengalahkan bandit sialan ini!”
“Apa lo bilang?” Aku menjambak rambut Evron dengan sebelah tangan. “Katakan sekali-”
“Kalau kamu khawatir padaku, temani aku makan malam ini. Aku akan menjemputmu sepulang kerja. Bagaimana?”
Mengabaikan ancamanku, Evron justru terang-terangan mengajak Sekar kencan. Sialan anak ini!
Sekar tidak menjawab. Ia justru menepuk tanganku yang masih menjambak rambut Evron. “Lepaskan!”
“Tidak!” ucapku ketus.
“Lepas!” katanya galak. “Atau aku teriak maling-”
“Sekar, tenanglah. Aku baik-baik saja. Aku kenal orang ini.”
“Hei, aku lah yang dihajar oleh pacarmu ini! Kenapa kamu malah mengkhawatirkannya!” Aku melotot pada Sekar yang sama sekali tidak peduli padaku.
“Tapi aku yang paling terluka…” Evron batuk-batuk, sengaja membuat situasi tambah panas. “Sekar… aku sekarat!”
Cengeraman tangaku di rambut Evron semakin menguat. “Dia hanya acting!”
“Masuklah!” Evron meyakinkan Sekar dengan tatapan matanya yang lembut. “Aku kenal orang ini. Dia tidak akan berani menyakitiku. Lagipula, aku jauh lebih kuat darinya. Kembalilah bekerja!”
“Ta-”
“Pergi, Sekar!” Evron membuat gerakan seperti mengusir ayam. “Aku akan menemuimu setelah urusan kami selesai.”
guys, versi AU dan visual bisa langsung ke IG at littleeva93